Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
116. Give a reason


__ADS_3

Hari berlalu, dan hubungan suami istri itu masih belum bisa dikatakan baik baik saja.


Meski masih tinggal di atap yang sama, baik Rei maupun Ardan seperti memberi jarak satu sama lain.


Mereka masih tidur dikamar yang sama, dan ranjang yang sama. Dan meski melakukan hubungan intim seperti beberapa hari lalu, tapi sepertinya terasa hambar.


Keduanya hanya melakukan hubungan suami istri hanya sekedar kewajiban dan pemenuhan nafkar batin saja.


Bukan ini yang mereka mau sebenarnya, tapi disaat keadaan tidak lagi hangat, mereka berdua memang harus mendinginkan hati agar bisa berbicara tanpa emosi.


Bisakah?


Satu sisi, Rei merasa Ardan tidak mau terbuka padanya, sedangkan dia sudah tahu hampir seluruh kisah cinta Rei lalu dengan lika likunya.


Meski Ardan sudah pernah menceritakannya, tapi Rei merasa masih ada yang mengganjal pikirannya.


Rei tahu ini berlebihan, tapi salahkah dia jika menjadi posesif pada suaminya sendiri. Apalagi dengan kejadian di masa lalunya yang tanpa dia sadari kehadiran orang ketiga dalam rumah tangganya benar benar mengusik ketenangan batinnya.


Sedangkan di sisi lain, Ardan sang suami masih menyimpan rahasia yang sampai saat ini bahkan tidak pernah mau dia ungkapkan pada siapapun tentang Anggita.


Perempuan itu benar benar membuat emosinya naik akhir akhir ini. Tapi semakin lama dia simpan, maka hubungannya dengan sang istri akan semakin renggang.


###


Di dalam kamar kedua insan itu masih terdiam, tidur dengan posisi saling memunggungi. Baik Rei maupun Ardan seperti sibuk dengan jalan pikiran masing masing.


"Jika memang akhir kisah cintaku harus seperti ini, aku akan terima dengan lapang dada. Paling tidak biarkan aku berusaha lebih dulu mempertahankannya." batin Rei

__ADS_1


Tapi sisi hatinya yang seolah tidak rela jika dia harus merasakan lagi kemelut dalam rumah tangganya.


"Sanggupkah aku jika harus menyandang status itu lagi, menjadi janda untuk ketiga kalinya hanya karena masa lalu."


Hati kecilnya berkata, jika pun harus berpisah harus ada alasan yang jelas dan tidak menggantung seperti ini.


Sedangkan hatinya berperang, emosinya pun naik turun, air mata yang sejak tadi ditahannya lolos juga.


Sebisa mungkin Rei menahan isak tangisnya meski mustahil suaminya tidak akan peduli.


Dan isak tangis yang tertahan itupun didengar oleh orang disamping Rei yang tak lain adalah suaminya.


Merasa terusik dengan gerakan kecil itu, meski ditutupi tapi Ardan sudah terlanjur hafal dengan tingkah istrinya.


Ardan membalikkan badannya menghadap istrinya, rasa bersalah jelas masih menghantuinya. Istrinya tak seharusnya menerima perlakuan ini.


Ardan jelas tidak ingin melepaskan Rei, apapun alasannya. Baginya Rei adalah hidupnya, Rei adalah segalanya.


Ardan membalikkan tubuh Rei dan membiarkannya masuk dalam dekapan tubuhnya. Air matanya ikut turun, Ardan tak kuasa membendungnya.


Rei hanya diam pasrah, tak ada niat membalas pelukan suaminya. Tangisnya pecah saat itu juga, kedua insan itu masih diam dan membiarkan pelukan itu sejenak.


Tak lama setelahnya, keduanya sudah kembali tenang. Ardan lalu mengajak istrinya bicara.


"Sayang, maafkan aku. Aku tahu rasa percayamu padaku pasti berkurang karena hal ini. Tapi aku sengaja menutupinya agar tidak semakin membuatmu marah dan sakit hati.


Bukan maksudku menyimpannya sendiri, tapi biarkan aku mengatasinya sendiri."

__ADS_1


Ardan tahu sulit bagi Rei untuk menerima, setelah kecewa itu datang.


"Beri aku alasan, give a reason why. Jika kamu harus memilih antara mempertahankan aku atau melepasku pergi."


Kalimat Rei tadi sukses membuat Ardan tercekat, dia tidak bisa membayangkan istrinya tiba tiba menohoknya dengan pilihan yang tak masuk akal.


Tapi Ardan harus punya alasan yang jelas agar Rei tak lagi memberinya pertanyaan konyol semacam itu.


"Karena aku mencintaimu segenap jiwaku, karena aku butuh kamu, karena aku tak ingin jauh dari ibu anak anakku."


Ardan memberikan alasannya, tapi Rei masih tak bergeming.


"Aku masih ingin satu alasan spesifik yang akan aku pertimbangkan seandainya kita sudah tidak bisa menjadi satu."


Lagi lagi Rei membuat opsi yang tak kalah menyudutkan Ardan, kurang apalagi coba.


Meski masih dalam keadaan tenang tapi siapa sangka dalam hati keduanya sama sama bergejolak.


Perdebatan mungkin tak bisa dielakkan hingga akhirnya Ardan mengalah untuk membuka rahasia yang selama ini disimpannya.


"Karena Anggita lebih memilih kekasih gelapnya yang telah menodainya dan pergi dengan alasan karir."


Rei tercengang, penuturan suaminya tentang Anggi memang tak pernah masuk dalam pikirannya.


"Dia menerima perkenalan kami dengan alasan ingin memberikan kesempatan padaku dan pada dirinya sendiri untuk melupakan masa lalunya, tapi nyatanya itu hanya bualan."


"Dan setelah kepergiannya, aku juga baru tahu jika laki laki yang pernah merenggut kesuciannya adalah orang yang telah membuat wanitaku terluka."

__ADS_1


Deg


Siapakah dia, kenapa Rei seolah tahu .


__ADS_2