
Kondisi Rei mengkhawatirkan, demam tinggi bahkan membuatnya menggigil kedinginan. Ardan tidak tega untuk meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti itu.
Alhasil semua pekerjaannya harus dipindah ke rumah sakit sementara waktu selama kondisi Rei belum stabil.
Dokter dan perawat terus memantau keadaan pasien, yang semakin hari semakin menurun. Dengan kondisi seperti ini ada banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Tapi dokter tidak mau asal menebak apalagi memberikan asumsi sebelum jelas hasilnya. Mama dan papa Ardan pun sudah memberitahukan pada keluarga Rei tentang kondisinya.
Bukan hanya itu kabar tentang kondisi kesehatan Rei juga sampai ditelinga sahabat-sahabatnya. Bahkan pak Hadi papa mertua Rei juga langsung berangkat menuju rumah sakit begitu mendengar.
Pak Hadi dan istrinya bahkan meminta pembantu nyentrik mereka untuk segera menengok Rei sebelum mereka sampai disana.
Mereka berdua begitu khawatir, karena selama ini belum pernah mendengar Rei sakit, dan sekarang malah tergolek lemas di rumah sakit.
Ibu Suci, istri pak Hadi menangis karena dia sangat tahu keadaan menantunya. Rei tidak pernah sekalipun mengeluh sakit, apalagi sekarang Rei sedang hamil.
Pikiran buruk mulai menghantuinya, pikirannya kacau memikirkan nasib Rei dan janin yang dikandungnya.
"Ma, tenang. Rei pasti baik baik saja." pak Hadi mencoba menenangkan istrinya.
"Bagaimana mama bisa tenang pa, anak itu tak pernah sekalipun mengeluh sakit. Tapi sekarang dia terbaring diranjang pesakitan, pa"
Masih dengan isak tangisnya, bu Suci mengeluarkan semua isi hatinya. Dia membayangkan kondisi Rei.
"Sudah, tenang. Istighfar, kita doakan semoga Rei kuat."
Pak Hadi mengelus punggung istrinya, mendekap erat memberikan ketenangan. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama, kuatir dengan kondisi menantunya itu tapi mencoba tenang, agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.
Mobil mereka melaju membelah jalanan, sopir pak Hadi yang juga mengenal Rei, juga ikut berdoa semoga kondisi menantu majikannya itu segera membaik.
Sementara itu dirumah sakit, setelah visit dokter kedua, wajah Rei makin pucat. Dokter yang memeriksanya pun kemudian mengajak Ardan untuk berbicara empat mata.
Hasil pemeriksaan menunjukkan jumlah trombosit dalam tubuh pasien berkurang, karena ternyata sel darah putih lebih banyak.
Dan itu mengharuskan pasien untuk mendapatkan transfusi darah, setiap harinya. Hari ini sudah empat kantong darah yang dipakai, untuk menaikkan sel darah merahnya.
Hal ini tentu berpengaruh pada janin dalam kandungan, karena bagaimana pun penggunaan obat kimia dalam jumlah banyak dan jangka waktu tertentu akan mempengaruhi pertumbuhan janin.
__ADS_1
Dan dokter memberikan pilihan pada Ardan, sebagai suami pasien dan juga calon ayah. Jika terjadi kemungkinan terburuk, manakah yang akan Ardan pilih untuk tetap bertahan.
Istrinya atau calon bayi mereka, seketika Ardan merasa lemas. Tubuhnya seperti tak bertenaga, dia hampir saja jatuh seandainya tidak berpegangan pada kursi disampingnya berdiri.
Dokter membantu Ardan untuk duduk, dia sangat paham jika ini adalah pilihan yang sulit bagi suami pasien.
Dokter memberikan saran agar Ardan membicarakan masalah ini dengan seluruh keluarga, karena nyawa pasien dan janin dalam kandungan nya jadi taruhan.
Setetes air bening jatuh dipipinya, Ardan tak dapat lagi menyembunyikan luapan kesedihannya. Setelah dokter mengatakan hal itu dokter meninggalkan ardan untuk melakukan visit pada pasien lainnya.
Lama Ardan termenung sendiri di kursi tunggu di depan kamar pasien, dia sama sekali tidak ingin menemui istrinya, karena masih terasa berat.
Terngiang lagi pembicaraannya dengan dokter yang merawat istrinya beberapa saat lalu.
#Flashback on
Ardan : Dok... Dokter bagaimana kondisi istri saya?
Jordan bertanya sesaat setelah dokter melakukan pemeriksaan pada Rei, Eri masih belum sadar karena kondisinya yang lemah.
Dokter lalu keluar, Ardan menoleh kearah papa dan mamanya, mereka mengangguk dan Ardan pun menyusul dokter. Setelah Ardan keluar dokter pun menjelaskan kondisi Rei.
Dokter : pak Ardan, kondisi pasien saat ini sedikit mengkuatirkan, karena tensi darahnya semakin menurun. Baru saja 90/50 dan itu menyebabkan pasien lemas, belum lagi jumlah trombosit dalam darah semakin berkurang disebabkan banyaknya sel darah putih yang mulai menyebar.
Ardan : Terus bagaimana sebaiknya dok?
Dokter : Kami sudah mendapatkan donor darah yang cocok dengan pasien, sementara ini stok di rumah sakit ini masih memadai. Suster sudah memasang kantong darah untuk pasien, jika nanti habis segera tekan tombol agar secepatnya diganti dengan yang baru.
Ardan : lalu bagaimana dengan bayi kami dok, apakah tidak berpengaruh pada kandungannya? karena pemakaian obat secara terus menerus.
Dokter : untuk itulah saya meminta anda keluar karena ini sangat pribadi, dan bisa saja pasien mendengar. Dan akan berpengaruh pada kondisi mentalnya.
Ardan : maksud dokter?
Dokter : begini, sebelumnya saya minta maaf. sebagai petugas medis kami tentu melakukan yang terbaik bagi kesembuhan pasien. Tapi itu juga tergantung dari daya tahan tubuh dan juga takdir.
Pada kasus ibu Rei tentu akan sangat berpengaruh bagi janin yang dikandungnya, karena pemakaian obat kimia secara terus menerus tentu akan membahayakan janin.
__ADS_1
Dan dengan kondisi pasien seperti ini kita tidak bisa berharap banyak, hanya doa yang bisa lakukan. Janin yang ada dalam kandungan pasien mengalami gangguan perkembangan.
Kami sebagai tim dokter harus berdiskusi lebih dulu demi keselamatan pasien. Dan kemungkinan terburuk adalah janin harus dikeluarkan dengan kuretase.
Karena jika dibiarkan akan menjadi tumor dalam rahim, dan membahayakan pasien. Tapi kita berdoa yang terbaik, semoga kondisi pasien membaik, dan tidak ada pendarahan lagi.
Sekarang bapak sebagai suami pasien harus siap jika memilih salah satu dari mereka untuk dipertahankan. Bapak bisa membicarakan masalah ini dengan seluruh keluarga.
Saya permisi dulu, karena masih harus visit ke pasien lainnya.
Ardan : terima kasih dok.
Ardan menyalami dokter dan dokter pun pergi meninggalkannya sendiri. Bagai disambar petir tubuh Ardan lunglai seketika, tak ada yang mampu dia ucapkan selain berdoa semoga diberikan yang terbaik bagi mereka.
Flashback off
Lama Ardan terdiam seorang diri, hingga tangan kekar menepuk pundaknya. Ardan menoleh, papanya tersenyum seolah tahu apa yang menjadi pikiran Ardan.
Tak ayal lagi, Ardan langsung memeluk papanya, dia kembali menangisi keadaan istrinya.
Papa tahu ada yang tidak beres dengan kondisi Rei karena sejak masuk ke ruang perawatan kondisi tubuh Rei semakin menurun, terlebih demam tinggi yang dia alami.
Demam berdarah memang sedang mewabah, terbukti banyak pasien DBD yang sedang dirawat dirumah sakit ini, mulai dari bayi hingga yang sudah lanjut usia.
Sejak tadi pasien terus berdatangan, bahkan sejak pertama kali masuk ke ruang IGD kamar inap banyak yang dipenuhi pasien DBD.
Ardan menceritakan bagaimana kondisi istrinya, untuk itu dia meminta saran papa, mama dan juga mertuanya.
Ardan dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, dan dia dipaksa untuk memilih. Jika memang Ardan harus memilih antara istrinya dan janin yang dikandung, Ardan lebih memilih istrinya.
###
Maaf jika di part ini banyak typo, apalagi tentang masalah kesehatan yang otor sangat awam.
Hanya mengingat pengalaman pribadi, adik otor pernah mengalami DBD dan harus mendapatkan darah tambahan karena sel darah putih yang menyerang darah merah sehingga kondisinya lemah akibat kekurangan darah merah.
Sampai sekarang Otor masih trauma jika ada anak otor yang panas tinggi, buat teman - teman yang sekarang dirawat di rumah sakit karena DBD, semoga cepat sembuh ya.
__ADS_1