Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
51. Tamu istimewa


__ADS_3

Keesokan harinya, saat Rei kembali ke aktifitasnya sebagai seorang teller, disebuah rumah tampak beberapa kesibukan.


Sambil menunggu tamunya datang, Papa dan mama Ardan menyiapkan beberapa bingkisan yang akan dibawa ke rumah calon besannya.


Ya hari ini sesuai janji, mereka akan melamar Rei pada orang tuanya. Sembari menunggu tamu istimewanya datang, papa dan mama duduk menikmati teh hangat.


Ting tong


Bibi tampak menuju pintu dan melihat siapa yang datang, kemudian menemui majikannya.


"Pak, bu, di depan ada tamu suami istri. Kelihatannya dari jauh." ucap bibi


"Iya,bi. Mari pa, kita temui tamu kita." mama dan papa akhirnya keluar.


Seperti dugaannya tamu jauh yang diharapkan sudah datang, mereka menyambutnya. Maklum sudah lama sekali pak Hadi dan istri tidak berkunjung kemari, bahkan pertemuan terakhir pun saat ada acara pernikahan putri salah satu koleganya, mereka tidak sempat bertemu.


"Akhirnya datang juga, apa kabar pak, lama kita tidak main golf bersama." ucap papa, menjabat tangan pak Hadi dan istri.


Begitupun sebaliknya, mama dan bu Suci terlibat pembicaraan. Dua pasang orangtua yang masih terlihat enerjik di usia yang tidak muda lagi.


Mereka lalu berbincang mengenai rencana hari ini, juga tentang Ardan yang datang tiba-tiba dengan alasan ingin mengajak kerjasama padahal maksud utamanya adalah ingin meminta restu pada pak Hadi dan istrinya.


Mereka terlihat tertawa saat tahu Ardan bisa berbuat nekat begitu karena ulah seorang wanita yang dicintainya.


Ardan memang tak menyembukan apapun dari kedua orang tuanya tentang Rei, tentang bagaimana dia begitu berharap Rei mencintainya seperti dia.


Mereka juga sempat mengatakan bahwa Rei kembali bertemu dan berada di satu kantor yang sama dengan mantannya.


Dan itu yang membuat Ardan terusik sehingga nekat meminta restu dan meminta orangtua nya untuk segera melamar Rei.


Setelah puas berbincang, papa melirik jam tangan nya dan mengajak pak Hadi dan juga istri untuk berangkat ke rumah orang tua Rei.


"Baiklah kita sambung nanti disana, sebaiknya kita segera berangkat karena sebentar lagi jam makan siang, jalanan pasti akan ramai." ajak papa.

__ADS_1


Mereka lalu berangkat menggunakan satu mobil yang sudah disiapkan oleh supir. Mobil pak Hadi dipindahkan ke garasi setelah mereka berangkat.


###


Perjalanan menuju rumah orang tua Rei memang sedikit ramai, apalagi di beberapa ruas jalan yang terkenal dengan kawasan pujasera dikota itu.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan perumahan. Dan setelah membelokkan mobil ke salah satu gang, mobil itu pun berhenti di depan sebuah rumah yang tampak terawat dari luar.


"Akhirnya kita sampai juga disini ya pa, setelah lama tidak berkunjung kemari sejak kematian Anton." ucap bu Suci saat menoleh kearah rumah.


"Ya, mama benar. Rasanya baru kemarin kita menjemput Rei untuk membawanya pergi mengikuti Anton ditempatnya tugas, tapi kita juga yang mengantarnya kembali setelah Anton berpulang." raut kesedihan tampak diwajah pak Hadi.


Semua yang ada dalam mobil pun ikut merasakan kesedihan itu, tapi kemudian papa membuyarkan mereka.


"Jangan sedih, kita disini justru ingin kembali mengikat Rei menjadi menantu kita. Kita yakinkan pak Fauzi bahwa Rei tidak akan mengalami kesedihan lagi." pak Pras.


Semua mengangguk mengiyakan, dan mereka pun turun dari mobil. Pak Hadi dan pak Pras berjalan duluan disusul oleh istri mereka masing-masing.


Tak lama, pintu rumah terbuka dengan wajah ibu Amelia yang tampak terkejut, melihat besan dan juga calon besannya disana.


"Waalaikumsalam, saya baik pak alhamdulillah. Bapak dan ibu apa kabar? lama sekali kita tidak bersilaturahmi. Mari silahkan masuk, saya panggilkan bapaknya anak-anak dulu." mama menjabat tangan dan memeluk serta mencium besan perempuannya.


Pak Fauzi yang tahu ada tamu langsung menemui tamunya, meski sedikit kaget ternyata tamunya kali ini adalah tamu istimewa.


Ya antara besan lamanya dan calon besan nya yang baru, pak Fauzi menjabat tangan pak Hadi dan pak Pras.


Bu Amel kemudian meninggalkan mereka sebentar menuju dapur untuk membuatkan tamunya minum.


Karena kebetulan jam makan siang jadi sekalian saja makan bersama, bu Amel dibantu ART sudah menyelesaikan beberapa menu dan sudah ditata rapi di meja.


Sebenarnya hari ini baik Rei dan Dani serta keluarga kecilnya akan makan malam bersama karena sudah lama mereka tidak berkumpul bersama.


Bu Amel sudah kembali ke tempat suami dan tamu-tamunya berada, menyuguhkan teh hangat dan beberapa kue kering buatannya.

__ADS_1


Perbincangan yang awalnya santai menjadi serius saat pak Hadi mengutarakan maksud kedatangannya bersama pak Pras.


Pak Fauzi sudah menangkap sinyal itu, bagaimanapun sebagai orangtua dia hanya ingin yang terbaik bagi anaknya.


"Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin melamar Rei untuk anak kami Ardan." ucap pak Pras yakin.


"Sebenarnya dia ingin datang langsung melamar tapi karena ada meeting mendadak dan tidak bisa ditinggalkan jadi, kami selaku orangtua berinisiatif datang, sekaligus ingin menjalin silaturahmi dengan keluarga bapak."


"Kami tahu anak kami Ardan pasti sering kemari, dan mereka sepertinya sudah mulai akrab. Kami pikir jika kedua anak kita sudah saling cocok, kenapa tidak kita ikat dalam pernikahan saja. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."


Pak Pras menjelaskan tanpa bermaksud mengintimidasi. Pak Hadi setuju dengan pendapat pak Pras, tapi sepertinya masih butuh waktu untuk meyakinkan besannya tersebut.


"Saya tahu kedatangan kami kemari pasti sudah ditebak oleh bapak dan ibu. Saya juga tahu pak Fauzi masih terasa berat untuk melepaskan Rei karena status Rei sekarang."


Pak Fauzi tampak berpikir, istrinya tahu bahwa suaminya tak serta merta bisa menerima penjelasan calon besannya.


Tapi ada benarnya juga, jika kita hanya membiarkan anak-anak ini bersama tanpa satu ikatan, tak akan menjamin ke depannya akan baik-baik saja.


Semakin lama akan semakin banyak yang mengetahui hubungan mereka, dan akan semakin banyak pergunjingan karenanya.


Usia mereka tidak lagi muda, mereka berdua juga sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.


Daripada hanya berpacaran apa salahnya mereka menikah, meski dengan status Rei yang sudah menyandang predikat janda di usianya yang terbilang muda.


Pak Fauzi akhirnya mau menerima usul tersebut, jika dilihat Rei tampak sudah nyaman dengan Ardan. Bahkan dia melihat Rei bisa kembali ceria sejak ditinggal mati suaminya.


Dia mengungkapkan alasan kenapa selama ini menjaga jarak dengan teman laki-laki anaknya Rei. Dia masih takut Rei trauma, apalagi mantan suami nya yang terakhir adalah hasil perjodohannya.


Mereka semua memaklumi, bahkan mungkin akan berlaku sama jika mengalami hal itu. Akhirnya pembicaraan berlanjut pada acara lamaran yang akan segera dilaksanakan.


Berunding dan saling memberikan pendapat, para orangtua itu terlihat antusias. Terutama ibu-ibu yang sudah tidak sabar menanti hari H.


Sambil menikmati hidangan mereka masih terus berbincang seru, jam makan siang pun tiba mereka melanjutkan perbincangan itu di meja makan.

__ADS_1


###


like, komen dan vote, semoga suka dengan karya ini. terimakasih


__ADS_2