
Keesokan harinya, Rei diajak oleh Dina dan mamanya ke butik langganannya. Mereka akan memesan gaun pernikahan Dina dan juga seragam penerima tamunya.
Rei merasa tidak pantas karena dia masih belum sepenuhnya resmi jadi anggota keluarga Ardan. Bahkan status mereka hanya teman dekat. Tapi melihat sikap keluarga Ardan yang menerima nya, Rei pun akhirnya luluh.
"Ga usah dengerin apa kata orang, yang menjalani kita bukan mereka, biar saja mereka mau bilang apa, selama tidak mengganggu kita cuek aja." itu pesan Ardan yang selalu Rei dengar jika dia mulai merasa tidak nyaman.
"Kamu bisa bahkan bisa menutup mulut mereka dengan uangmu, tapi percuma orang iri dan sirik itu akan selalu ada. Jadi biarkan, toh nanti kalau capek akan berhenti sendiri."
Orang tua Ardan memang sudah tidak lagi mempermasalahkan status Rei, yang penting anak mereka bahagia itu sudah lebih dari cukup. Seperti pohon, semakin tinggi maka semakin kencang angin yang meniup nya. Itu juga yang papa Ardan katakan.
Semua gaun untuk pernikahan Dina sudah siap, tinggal tunggu hasilnya untuk fitting. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke salah satu mall untuk haunting sovenir dan sekaligus belanja bulanan.
Mama Dyah, mengajak anak dan calon menantunya itu berbelanja karena jenuh. Katanya juga biar makin akrab dengan calon menantunya.
Mereka berbelanja bahan makanan dan beberapa baju, Nyonya besar tampak senang calon menantunya itu penurut, dia tidak banyak pilih apalagi neko-neko seperti beberapa mantan kekasih anaknya dulu.
Dina yang menyadari kalau mamanya mulai akrab dengan Rei, sengaja memvideokan kegiatan mereka hari ini. Mulai dari memilih baju dan bahan makanan, mamanya sangat mendominasi. Rei hanya pasrah, meski kadang protes karena terlalu banyak yang sudah dia bawa. Beberapa kantong gaun, dan juga lingerie mamanya belikan untuk Rei.
Sambil tertawa melihat kelakuan mamanya dan Rei yang manyun karena protesnya tidak digubris, membuat Dina tak sabar mengirimkan video itu. Dan klik, video terkirim.
Melihat pesan masuk di aplikasi chat di selulernya, membuka kiriman video nya dan tertawa. Mamanya memang benar-benar mendominasi, seperti yang dia tahu mamanya jika sudah menyukai sesuatu pasti akan sangat loyal.
Setelah itu Ardan menelpon Rei, dia tahu banget bagaimana Rei. Dia bukan tipe perempuan yang gila belanja, apalagi ada yang mentraktir nya. Ardan ingat pertemuan keduanya dengan Rei di mini market malam itu, bagaimana Rei menolak untuk dibayari, bahkan memaksa untuk mengganti uangnya dengan mentraktirnya makan.
Untung saja, Ardan sudah banyak tahu pribadi Rei dari Miko jadi, ketika Rei tak ingin berhutang budi padanya, dia mengajak Rei untuk nonton dan makan, padahal aslinya hanya modus biar bisa seharian dengan Rei.
"Halo" jawab suara diseberang
"Assalamualaikum, cantik."
"waalaikumsalam, mas"
"Nah gitu dong, bentar aku ganti ke videocall aja, kangen aku lihat wajahmu." Ardan kemudian mengganti telepon nya.
"Eh, kenapa itu bibir kok manyun. Ada masalah?" tanya Ardan ketika melihat wajah Rei.
__ADS_1
"Mas, bilang mama sudah cukup belanjanya. Ini sudah berlebihan, aku ga enak. Aku belum pernah bawain apa-apa, malah aku yang dibelikan segala macam. Sampe segala macam lingerie dibelikan."
"What, mama belikan lingerie. Tahu aja mama ya kalau anaknya sudah siap kasih dia cucu." goda Ardan sambil tertawa.
"Maassss...malah bercanda sih" Rei cemberut.
"Sayang, mamaku itu emang begitu kalau dia sudah suka dan cocok sama sesuatu pasti akan loyal. Mungkin tadi dia lagi belikan buat Dina, jadi biar kamu ga iri dibelikan juga."
"Iya, mama juga bilang gitu. Tapi tetap aja kan aku ga enak, mau nolak juga ga bisa."
"Kamu nurut aja, ikut apa kata mama. Sudah ya, aku mau lanjut kerja, nanti makan siang aku tunggu dirumah."
Ardan kembali melanjutkan pekerjaannya mengecek email dan beberapa berkas yang sempat dibawanya kerumah. Baginya selama ada waktu luang dia akan gunakan untuk bekerja.
Workaholic ya itulah dia, tapi sejak dekat Rei dia mulai mengurangi aktifitasnya diluar jam kerja. Karena untuk bisa ketemu dengan Rei juga tak semudah yang dia kira, pekerjaan Rei sangat menyita waktu. Bahkan terkadang saat weekend pun dia masih masuk, walaupun tidak melayani nasabah.
Ardan ingin jika nanti mereka berjodoh dan menikah, Rei hanya fokus pada rumah tangganya. Tapi hal itu belum sempat dibicarakan dengan Rei.
€€€€
Rei, Mama dan Dina sudah sampai dirumah dan langsung meletakkannya belanjaannya. Rei mengikuti mama ke dapur, ikut membantu meletakkan belanjaan. Sebenarnya mama menyuruh Rei untuk istirahat, tapi Rei bersikeras membantu.
"Iya ma, gapapa lagian biar Rei ga bengong aja dikamar"
Mama Dyah mengangguk dan meninggalkannya di dapur. Rei lalu mengajak bibik untuk memasak makan malam, dia bertanya menu kesukaan papa, mama dan juga Ardan. Akhirnya setelah kurang lebih sejam berkutat didapur Rei masuk ke kamar Ardan untuk membersihkan dirinya.
Ardan yang dari tadi ada diruang kerjanya memang tak tahu kalau Rei sudah kembali dari mall. Berniat membersihkan dirinya, ternyata malah mendapati Rei yang tertidur dikamarnya, mungkin dia kelelahan pikirnya. Mencium kening Rei, membersihkan dirinya dan keluar menuju dapur untuk mengambil minuman.
Ardan kaget, banyak sekali masakan diatas meja makan, dan menu kesukaannya juga ada disana. Sayur bening, sambal terasi dan ikan goreng, juga beberapa masakan kesukaan papa dan mama nya.
Melihat bibik lagi membereskan dapur sisa memasak tadi, langsung menunduk saat melihat anak majikannya disana. Bibik yang tahu ekspresi tuan mudanya hanya bisa tersenyum, karena jarang sekali melihatnya makan menu sederhana seperti ini.
"Bi, tumben mama masak sayur bening. Dalam rangka apa masak masakan mewah ini?" tanya Ardan. Buat mereka menu mewah itu bukan yang ada di restoran bintang lima, tapi menu sederhana seperti ini.
"Bukan bibi yang masak mas, bukan mama juga. Tapi mbak Rei" Ucap bibik.
__ADS_1
"Hah.. yang benar, Rei bisa masak, banyak begini?" tanya Ardan kembali. Bibik hanya tersenyum dan mengangguk.
"Pantesan Rei tidak terganggu sedikitpun meski aku menciumnya ternyata setelah belanja dia masih masak" batin Ardan.
Bersamaan Papa, mama dan Dina masuk ke ruang makan, dan duduk dikursi masing-masing.
"Loh, Renita mana dan? Jangan bilang kamu ajak dia lembur" ucap papanya menggoda.
"Papa, apaan sih belum juga halal masak sudah diajakin lembur. Payah nih" sahut Dina
"Papa bisa aja, Dina aja dulu baru Ardan. Aku ingin Rei benar-benar siap untuk menikah lagi, dan sudah melupakan traumanya." ujar Ardan.
Papa mengangguk, memang tak mudah mengatasi trauma, apalagi kegagalan pernikahan Rei sempat membuatnya menutup diri.
Mama yang sedari tadi menyadari ketidakhadiran Renita, mulai menanyakan keadaannya.
"Dan, Renita mana? Belum kamu antar pulang kan? Mama belum puas ngobrol sama dia."
"Dia lagi tidur ma dikamar, tadi Ardan masuk dia ga bangun blas, kecapekan kali mama ajak muter-muter" seru Ardan.
"Iya Kak, mama seperti orang kalab semuanya dibeli sampe lingerie segala. Aduh mama benar-benar deh." Dina ikut menyahut, sang mama hanya menyembikkan mulutnya.
"Abisnya, mama pikir daripada bawa baju lagi mending mama belikan jadi kalo nginap disini ga usah repot bawa baju. Kan mama bisa sering ajak dia jalan."
Semua diruangan itu hanya tertawa, mereka tahu mamanya ga akan bisa ditolak keinginannya.
"Tapi jangan sering-sering aja dia keluar, kan dia kerja ma, kasihan kalau harus meninggalkan pekerjaannya." ujar papa
"Ya nggak lah pa, paling kalau weekend atau hari libur aja. Mama juga tahu kesibukan dia. Ngomong-ngomong ini siapa yang masak, banyak banget. Pa, ada sayur bening dan sambal terasi. Kayaknya bakalan habis banyak nih"
"Loh, bukannya mama tadi nyuruh bibik masak ya?"
"Bukan, pak. Ini semua mbak Rei yang masak, tadi pas beresin belanjaan dia tanya masakan kesukaan bapak, ibu, mas Ardan juga." jawab bibik sambil meletakkan toples berisi kerupuk.
"Ya ampun, anak itu tadi sudah mama suruh istirahat malah masak. Dan, bangunin gih, biar bisa makan bersama." perintah mamanya.
__ADS_1
Ardan menuju kamarnya, membangunkan Rei dan mereka pun makan bersama. Rei senang ternyata masakannya disukai sama keluarga Ardan. Tak sia-sia Rei memasak, meskipun menu sederhana tapi mereka sangat menikmati nya bahkan beberapa kali nambah.
€€€