Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
113. Pilih aku atau dia


__ADS_3

Ardan benar benar dibuat kalang kabut, setelah kemarin seharian dia didiamkan oleh istrinya, hari ini Rei kembali membuat kepalanya pusing.


Bagaimana tidak, Rei tidak mau diajak berhubungan intim, bahkan dia selalu menjauhi Ardan. Tapi penampilannya saat berada didekat sang suami sungguh menggoda iman, dan membuat pertahanan Ardan sebagai lelaki jebol.


Beberapa kali Rei menampilkan kesan seksi yang benar benar membangkitkan gairahnya.


"Sial" umpatan itu meluncur juga dari mulut Ardan, sepulang dari restoran matanya dimanjakan oleh penampilan istrinya yang membuatnya pusing atas bawah.


Bayangkan saja, disaat dia capek badan dan capek pikiran akibat ulah seseorang di masa lalu nya, kini Ardan harus merelakan pemandangan memukau dari istrinya yang memakai lingerie seksi yang menampilkan seluruh lekuk tubuhnya, tapi jangan kan disentuh, melirik saja Rei seakan malas.


"Oh Tuhan, apalagi ini?" Ardan meletakkan kunci mobil, handphone dan dompetnya di atas nakas, dia pun berlalu menuju ke kamar mandi.


Sambil membuka kancing bajunya Ardan berjalan kearah keranjang pakaian kotor dipojok kamar mandi. Ardan melemparkan asal kemeja dan juga celananya.


Dia lalu menuju shower dan menyalakan kran air dingin untuk meredamkan gairahnya.


Lima belas menit lamanya Ardan harus menahan, kepalanya sudah pusing. Bermain solo dengan sabun bukanlah solusi yang tepat, tapi sepertinya harus dia tuntaskan.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya yang tak biasa, Ardan keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

__ADS_1


Dengan rambut yang masih basah bahkan masih ada tetesan air yang jatuh dari kepalanya. Pemandangan indah itu tak luput dari perhatian Rei.


Sekuat tenaga Rei menahan rasa inginnya pada sang suami karena masih kesal. Terus terang Ardan tak sepenuhnya salah, bahkan dia tak seharusnya mendiamkan suaminya tersebut.


Rei hanya kesal dan kecewa karena Ardan menutupi masalah ini, harusnya dia ceritakan semua pada Rei tentang masa lalunya meski tak sempat terjalin.


Sama sepertinya yang menceritakan semua kisah masa lalunya secara detail pada sang suami. Dan harusnya Rei paham bahwa Ardan tidak suka mengungkit masa lalu, mau itu kenangan indah atau kenangan buruk, tak ada yang perlu dia ungkit lagi.


Tapi Rei tidak sadar jika antara pria dan wanita, ada perbedaan yang sangat besar dalam menyikapi masalah yang tanpa mereka sadari mereka sendiri lah yang memercik kan nya ke permukaan.


Harusnya mereka duduk bersama dan berbicara dengan kepala dingin, agar masalah seperti ini tidak merembet kemana mana.


Sama seperti Rei, Ardan juga harus menelan pahit salivanya yang seakan menetes melihat lekuk tubuh istrinya yang sudah membuatnya membuang sia sia pasukan perangnya.


Tatapan mata mereka beradu, Ardan dan Rei sama sama bingung dengan kecanggungan ini.


"Sayang, kita harus bicara. Aku ga tahu apa yang membuatmu mendiamkanku seperti ini, tapi aku juga tak mau masalah ini berlarut.


Aku akui aku salah, aku minta maaf karena menutupi masalah ini, bukan sengaja, tapi aku merasa sudah tidak ada yang perlu aku ungkapkan karena memang aku tak pernah memiliki hubungan apapun dengan mereka."

__ADS_1


Ardan mendudukkan dirinya disisi kanan ranjangnya, di kiri Rei sudah duduk termenung. Akhirnya Ardan menceritakan semuanya tentang Anggi pada istrinya.


Ardan tidak membiarkan Rei memotong ucapannya karena Ardan ingin semua jelas tanpa ada salah paham karena ucapannya terpotong.


Suasana seketika dingin karena baik Rei maupun Ardan dalam mode serius. Mereka benar benar harus menuntaskan masalah ini agar tidak lagi menimbulkan masalah dikemudian hari.


Apalagi Ardan sangat tahu siapa Anggita, bagaimana dia begitu terobsesi pada dirinya, dan lelaki itu yakin Rei pasti akan tersakiti oleh ulah Anggi yang makin lama makin tidak masuk akal.


###


Hampir tiga puluh menit Ardan menceritakan semuanya, dan Rei pun sudah paham bagaimana situasinya. Dan bagaimana dia harus mengatasi keinginan gila Anggita.


"Jadi bagaimana, siapa yang mas pilih? Aku atau dia, jika seandainya dia terus mendesak mas untuk menjadi maduku?"


Pertanyaan Rei itu menohok bagi Ardan, tapi sebisa mungkin dia bersikap tenang menghadapi istrinya yang sedang cemburu ini.


Dan masalah Anggi, dia akan menyelesaikannya sendiri dengan caranya, apalagi jika Anggi sampai berbuat nekat pada istrinya.


"Aku akan memilih istriku, karena hanya dia yang aku pilih untuk jadi ibu dari anak anakku."

__ADS_1


####


__ADS_2