Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
24. Aku padamu..


__ADS_3

Sepertinya kamu lelah Rei, bang...hayati lelah... rasanya Rei ingin teriak seperti itu tapi si abang mana denger ya... hehehe


Hari ini selepas maghrib akan ada pertemuan dua keluarga yang akan melangsungkan pernikahan, dan Rei sebagai calon menantu berikutnya harus hadir disana. Karena orang tua Ardan terutama mamanya sudah wanti-wanti sejak beberapa minggu lalu. Tepatnya setelah memesan gaun pengantin dan para pengiringnya.


"Rei, jangan lupa nanti pulang kerja langsung kerumah ya, ga usah pulang lagi kerumah. Biar mama yang kasih kabar sama mamamu."


Begitulah isi chat wa yang Rei baca, sedikit memaksa tapi harus mau. Rei hanya tersenyum, mau nolak juga ga bisa.


Dan sekarang Rei sedang diperjalanan menuju rumah Ardan, mampir ke toko kue dan roti terkenal di kotanya. Memasuki bangunan bergaya eropa, indra penciuman nya dimanjakan dengan aroma aneka kue dan roti disana. Benar-benar menggoda, apalagi dengan tampilan yang sangat menggiurkan.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu bu?" sapa seorang pelayan toko padanya.


"Sore, mbak. Saya mau ini, ini, ini dan ini masing-masing sepuluh biji, sama cake potong mini ini juga." Rei menunjuk beberapa kue buat suguhan acara nanti malam.


Meskipun disana sudah pasti akan ada banyak suguhan, tapi Rei tidak mau jika dia datang dengan tangan kosong.


"Sudah semua, berapa totalnya?" tanya Rei setelah berkeliling toko kue itu, dan melakukan pembayaran.


"Terimakasih atas kunjungan ibu, sampai jumpa lagi." Pelayan toko membukakan pintu.


"Terimakasih" Rei tersenyum. Menuju ke parkiran, meletakkan kue tadi di bangku penumpang dan langsung meninggalkan toko kue itu.


Perjalanan yang sedikit terganggu karena jam pulang kerja begini pasti akan macet. Selain lampu stop nya yang lumayan lama. Juga didepan ada pasar kaget. Biasanya setiap jum'at sampai minggu malam.


Mobil berjalan lamban, tapi masih mending daripada tidak ada pergerakan. Mengatasi bosan yang melanda, Rei akhirnya menyalakan radio tape di mobil nya. Samar terdengar lagu dari Shane Fillan, Beautiful in White. Rei ikut bernyanyi. Meski akhirnya Rei harus mengakui kalau dirinya teringat saat menjadi pengantin dulu. Ada rasa bahagia, sedih dan kecewa disana, air matanya jatuh.


Tidak mau larut dalam kesedihan, Rei akhirnya mencari lagu lainnya, sebuah lagu dangdut jawa yang iramanya cukup membuat Rei bergoyang, meskipun tidak begitu tahu artinya paling tidak bisa mengusir rasa bosannya.


Mobilpun melaju, keluar dari kemacetan. Mengedarkan pandangannya, seperti mengenal pasangan yang berjalan diantara kerumunan. Bukankah itu Arini? batin Rei, tumben banget mau kesini dengan siapa pikirnya. Rei kaget ternyata Rio yang berjalan bersama Arini, mereka bergandengan tangan. Rei senang ternyata sahabat nya bisa bersama orang yang dia cintai.


Tidak mau mengganggu nya, Rei terus melajukan mobilnya memasuki perumahan elit tempat keluarga Ardan tinggal. Sesampainya disana sudah ada beberapa mobil terparkir di depan rumah. Mungkin saudara dari orang tua Ardan yang datang. Memarkirkan mobilnya kemudian mengambil tas dan kue yang tadi dibeli nya. Mengecek pintu dan kaca mobil, kemudian menekan tombol alarm setelah itu dirinya memasuki halaman rumah.


"Assalamualaikum" Rei menyapa penghuni rumah, lumayan rame apa semua keluarga besar Ardan datang hari ini.


"Waalaikumsalam, Rei sudah datang sayang. Ayo sini mama kenalin sama saudara papa dan mama dari luar kota." sahut mama Ardan.


Rei menyalami satu persatu, mencium tangan dan tersenyum.


"Ini Tante Tyas, ini bude Laras kakaknya papa" Rei mengambil tangan kedua wanita paruh baya tersebut, dan menciumnya.

__ADS_1


"Ini kah calon nya Ardan? cantik ya" celetuk seseorang dari belakangnya. Rei dan yang lain menoleh, tersenyum.


"Nah yang ini tante Neno kakak mama, yang duduk disana itu tante Gina adik mama." Rei lanjut menyalami saudara mama Ardan.


Baru kali ini Rei bertemu dengan saudara papa dan mama Ardan, formasi lengkap karena waktu acara lamaran dulu tidak ada yang bisa datang karena tinggal di luar kota.


"Kamu capek kan, sudah sana mandi dan istirahat dulu, nanti kalau tamu datang mama panggil."


"Iya Ma, mari tante, bude Rei ke kamar dulu."


Mama dan tante Neno mengambil bungkusan yang Rei bawa, meletakkan di piring saji untuk suguhan tamu.


"Menantu mu cakep, tapi sayang ya sudah janda." Tante Neno kemudian setelah Rei berlalu.


Mama Ardan menghela napas, bude Tyas dan bude Laras saling pandang. Masih saja kelakuan kakak dari iparnya itu tak berubah. Selalu saja ada yang dibuat bahan untuk menggosip.


"Kayak ga ada perempuan lain, yang single banyak kenapa harus milih janda sih." Mulai nyerocos.


"Mbak sudah lah, ga usah dibahas. Yang penting mereka saling cinta." jawab Tante Gina


"Cinta... hmm, emang cinta itu bisa jamin bikin bahagia. Mending sama siapa tuh mantannya Ardan yang dulu, udah cantik, pinter, kaya, single lagi."


Sepeninggal mama Ardan, tante Gina menegor kakaknya itu.


"Kak, bisa ga sih sehari aja ga cari bahan gosipan. Basi tahu ga" kesal dengan sikap saudaranya, tapi tetap aja ga mau berhenti mencari kesalahan orang lain.


"Diam kamu, terserah aku dong. Lagian masak keluarga terpandang punya mantu janda, bikin malu aja." Setelah itu wanita itu pergi meninggalkan ruang makan.


Tante Gina benar-benar tak habis pikir kakaknya itu punya pikiran dangkal seperti itu. Merasa ditatap oleh saudara kakak iparnya itu, Gina menunduk dan kemudian berlalu.


Hanya tersisa bude Laras dan bude Tyas, yang menatap kepergian Gina. Mereka tahu Gina dan Tami selalu berselisih paham dengan Neno. Tapi karena masih menghormati nya sebagai saudara tertua, mereka hanya bisa menegur meski akan selalu dipatahkan.


€€€€


Rei merebahkan dirinya di kasur empuk, rasa lelahnya membuat Rei terlelap. Setengah jam berlalu Rei belum juga keluar dari kamar. Mama Ardan mencoba membangunkan tapi melihat wajah lelah Rei, akhirnya dia urungkan.


Ardan baru saja masuk kerumah nya, menyalami saudara-saudaranya yang baru datang.


"Pa, ma, Ardan keatas dulu." setelah itu Ardan ke kamar nya, dia belum tahu kalau ada Rei disana.

__ADS_1


ceklek


Meletakkan kunci mobil dan dompet nya di nakas, lalu membuka dasi dan kancing baju nya Ardan melangkah ke tempat tidur. Tersenyum melihat ada seseorang yang tidur disana, dan dia tahu siapa orangnya. Karena selama ini tidak ada yang berani masuk apalagi tidur dikamarnya, kecuali mama dan bibi yang membersihkan.


Ardan mendekat, mencium rambut panjang itu wanginya sudah menjadi candu baginya. Mencium kening dan pipi wanitanya, merasa terusik Rei akhirnya berbalik, mencium aroma tubuh yang mulai dikenalinya. Rei membuka mata, Ardan tersenyum. Ketika mendekat, Rei tiba-tiba menutup wajahnya.


"Kenapa?" tanya Ardan, masih di posisi semula.


"Jangan mendekat" teriak Rei


"Sayang, aku kan cuma ingin menciummu"


"Justru itu, aku baru bangun tidur nanti bau jigong, kan malu."


"Bau jigong juga, masih cantik kok"


"Enggak... sana menjauh."


"Buka ga, kalo ga mau aku gelitikin loh"


"Jangan-jangan... tapi janji jangan cium loh ya"


"Iya, sudah turunkan tangannya" Ardan mengambil tangan Rei yang menutupi wajahnya.


Keduanya beradu pandang, jarak mereka sangat dekat sampai bisa menikmati napas masing-masing. Saat Ardan semakin mendekat, Rei menundukkan kepalanya.


"Kenapa lagi?" tanya Ardan melihat Rei memalingkan wajahnya.


"Aku.. Aku.. Aku merasa tak pantas untukmu" jawab Rei lirih. Ardan akhirnya duduk didepan Rei.


"Sayang... dengarkan aku, yang bisa menilai pantas atau tidak itu aku, bukan orang lain. Jadi ga usah pedulikan orang mau bilang apa." Tangan kanan Ardan membelai wajahnya, memberikan rasa nyaman untuknya.


"Kamu pasti merasa risih dengan sikap tante Neno ya?"


Rei mengingat saat tadi bersalaman dengan wanita itu, Rei merasa risih karena cara memandangnya, apalagi saat dia memperhatikan penampilan Rei dari kepala sampai kaki. Rei mengangguk, malu rasanya tapi Ardan kembali meyakinkannya.


"Sayang, lihat aku tatap mataku. Jika kamu merasa ragu kamu bisa memalingkan wajah, mungkin kamu masih belum bisa menerimaku didalam hatimu. Tapi aku yakinkan, aku padamu, apapun kata orang tentangmu aku tak perduli. Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku."


Rei melihat ke manik mata coklat itu, ada ketulusan disana. Tak ada yang salah dengan perasaannya. Rei memeluk Ardan tiba-tiba, mendapatkan pelukan hangat dan menenangkan. Ardan mencium kening, mata, hidung dan mengecup bibirnya.

__ADS_1


"Sudah, sekarang mandi kita sholat berjamaah setelah ini." Rei tersenyum dan meninggalkan Ardan sendiri.


__ADS_2