Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
46. Tolong...bantu saya


__ADS_3

Semalam sepulang dari tempat nongkrongnya dengan Gama, Ardan pulang ke apartemennya untuk beristirahat.


Tapi menjelang subuh dia langsung membersihkan dirinya dan bersiap menjalankan ibadah sholat subuh.


Setelah selesai, Ardan kemudian mengambil tas ranselnya diisi dengan beberapa kaos dan kemeja, serta kebutuhan lainnya.


Hari ini Ardan akan pergi ke suatu tempat, ada sesuatu yang harus dia urus. Dan meskipun semalam tidurnya telat dan hanya beberapa jam saja, tapi karena tidur nyenyak dia merasa badannya lebih segar.


Sebelum pergi, Ardan mengambil beberapa potong roti tawar dan diolesi selai stroberi, serta membuat kopi hitam favoritnya, agar dia tidak mengantuk selama diperjalanan.


Meskipun laki-laki tapi Ardan suka kebersihan dan kerapian, jika dia tinggal disini maka saat weekend dia akan membersihkan sendiri apartemennya. Dua hari sekali dia memakai jasa cleaning servise dari pengelola apartemen, jadi selalu dijaga kebersihannya.


Menuju basement dan meletakkan ranselnya kemudian bersiap melajukan mobilnya. Dan kini dia sudah membelah jalanan kota menuju suatu tempat.


Karena hari ini weekend jalanan tampak lengang, jadi tak ada kemacetan di beberapa ruas jalan yang jadi langganan macet.


Sesekali Ardan berhenti di rest area hanya untuk merenggangkan otot-ototnya, atau ke toilet.


Jam menunjukkan angka delapan, tak terasa perutnya berbunyi, cacing-cacing sudah berdemo, matanya sesekali mengawasi sekitar mencari rumah makan yang sudah buka.


Tak terasa sudah separuh perjalanan, dia pun menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan sederhana tapi tampak ramai karena parkiran terlihat penuh.


Berjalan menuju tempat salah satu meja kosong, Ardan lalu duduk dan memesan makanannya. Sesekali melihat benda pipih yang ada didekat kunci mobilnya.


Tak ada notifikasi satupun, tapi saat matanya melihat wallpaper hape nya, dia kembali merasakan kerinduan pada kekasihnya.


Mengusap foto itu, senyum yang mengembang diwajahnya ketika mengingat dia secara tidak sengaja memotret Rei waktu pertama kali bertemu di toko buku.


Ardan kembali melajukan mobilnya, ke arah luar kota dan sesekali memeriksa hape nya. Akhirnya Ardan memilih memasang earphone dan menghubungi Gama.


tut..tut..


Cukup lama tak ada balasan dari seberang, setelah mencoba beberapa kali akhirnya tersambung.


"Halo, masih ngebo aja sudah siang juga." ucap Ardan kemudian.


"Sembarangan, tadi abis subuh aku masih jogging terus mandi. Baru juga keluar kamar mandi sudah ditelpon, ganggu aja." Gama


"Halah...palingan abis ini molor lagi, kau pikir aku ga tahu kebiasaanmu." ejek Ardan


"Anda salah tuan besar, hari ini weekend jadwal kencan sudah menanti, aku mau seharian menemani princess mumpung dia libur. Emang lu doang yang bisa" balas Gama


"hahaha..oke, oke...lanjutkan, sosor terus tapi ingat jangan investasi duluan, biar seru." Ardan menjawab, sambil membelokkan mobilnya.


"semprul...aku masih bisa tahan, paling ya sedikit sentuhan lah biar ga garing hahaha..." Gama berseloroh.


"Kamu di mana bro, kok dari tadi rame?" tanya Gama kemudian.


Sambil memperhatikan spion nya, Ardan melajukan mobilnya pelan, memasuki kawasan yang asri, membuatnya menikmati udara dengan membuka kaca mobilnya.


"Sori bro, gue lagi otewe ke suatu tempat, dan kini aku akan bersiap menemui orang-orang yang disayangi oleh wanitaku."

__ADS_1


Ardan menghentikan mobilnya dibawah pohon besar di kawasan pemakaman umum itu. Keluar dari mobil dan mencari nama yang tak asing lagi.


"Tunggu jangan bilang kamu mau kerumah om Hadi sekarang?" Gama


"yup, dan aku sedang menuju ke pusara almarhum Anton." Ardan


"What...you're crazy men" ucapnya tak percaya, Gama benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya satu ini.


"Yes i am. Oke, aku tutup dulu, nanti kita sambung lagi."


"Good luck, bro"


Ardan kemudian bersimpuh di makam yang tampak terawat ini, setelah membaca doa Ardan lalu memegang batu nisan Anton.


"Hai bro, maaf kalau aku lancang datang kemari tapi aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku serius dengan Rei. Aku ingin kamu merestui kami, aku mencintai dia seperti kamu mencintainya."


"Aku harap kamu mengerti, dan tolong bantu aku meyakinkan orangtua mu dan juga orangtua nya bahwa aku serius."


"Suatu saat aku akan kembali kemari dengan Rei, dan terima kasih" batin Ardan sambil mengusap nisan nya.


Setelah itu Ardan pun berlalu dan kembali melajukan mobilnya ke rumah orang tua Anton.


###


Mobil itu berhenti dirumah yang tampak lebih besar dibandingkan yang lain di desa itu. Pemandangan asri begitu memanjakan matanya.


Kaki nya melangkah menuju pintu dan mengetuknya.


Tak lama pintu tampak terbuka, perempuan paruh baya seusia mama nya tampak masih cantik.


"waalaikumsalam, cari siapa ya?" tanya nya


"Apa pak Hadi ada?" Ardan


"Ada, dengan siapa kalau boleh tahu?" mata nya menelisik, belum pernah melihat pemuda ini, tapi wajahnya seperti tidak asing lagi.


"Siapa bu, kok tamunya ga disuruh masuk" suara bariton terdengar dibelakangnya, perempuan itu menoleh, belum sempat menjawab tiba-tiba suaminya sudah membuka pintu.


"Kamu...Ardan kan, anak pak Pras" tanya pak Hadi.


"Iya, om. Ternyata om mengenali saya" jawab Ardan tangannya mengambil tangan kedua orang tua itu dan menciumnya takdim.


"Maksud papa, pak Pras yang punya restoran dan hipermarket itu?" bu Suci ikut nimbrung.


"Iya ma, ayo mari masuk. Kamu sendirian kah?"


Mereka bertiga lalu masuk dan duduk di sofa ruang tamu, kemudian berbincang kembali.


"Kamu sendirian, gimana ada yang bisa om bantu, kok tumben pengusaha muda yang lagi naik daun ini datang ke gubuk kami" pak Hadi


"Om bisa saja, terima kasih sudah menerima saya. Saya sendiri datang kemari karena ada yang ingin saya sampaikan." ucap Ardan sedikit gugup.

__ADS_1


"Ma, tamunya dibikinkan minum dulu, kasihan dari jauh ini." pak Hadi


"Iya pa, sampe lupa mama, abis wajahnya seperti tak asing." bu Suci


" Jelas saja, wajah nya sering wira-wiri di majalah bisnis. Dia pengusaha sukses loh" pak Hadi


"Om terlalu berlebihan, saya masih kalah jauh dari om" ucap Ardan merendah.


"Ah, kamu itu. Papa mu kawan om, pengusaha bertangan dingin yang disegani. Dan kamu menuruni sifat nya. Om tahu itu" pak Hadi berkelakar


" Sebenarnya ada yang mau saya bicarakan dengan om dan tante."


Ucapan Ardan terhenti saat melihat bu Suci datang membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa camilan.


"Ayo nak Ardan, diminum dulu teh nya mumpung masih hangat." meletakkan secangkir teh di hadapan Ardan, dan menjulurkan sepiring pisang yang baru saja diangkat dari penggorengan.


"Wah, seperti nya enak tante. Terima kasih"


Sambil menikmati suguhan, mereka melanjutkan obrolannya.


"Sebelumnya saya minta maaf, karena telah lancang kesini. Tadi juga menyempatkan mampir ke makam Anton" ujar Ardan, kedua orang tua itu saling berpandangan.


"Saya ingin minta ijin dan juga restu dari om dan tante." Ardan tahu mereka kaget dengan permintaannya.


"Saya ingin meminang Rei menjadi istri saya." ucap Ardan tegas, meski sejujurnya dihatinya tampak ragu karena Rei sudah seperti anak mereka sendiri.


"Saya tidak bisa berjanji yang muluk-muluk, saya hanya ingin mengatakan saya mencintai Rei dan saya serius dengannya."


"Mungkin om dan tante, masih ragu melihat kesungguhan saya. Tapi saya laki-laki normal yang bisa saja termakan rayuan setan, dan saya tak ingin itu terjadi. Makanya saya memberanikan diri meminta Rei secara langsung pada om dan tante."


Melihat kesungguhan di mata Ardan, kedua orang tua itu nampak kagum, Ardan berani meminta Rei secara langsung.


Airmata merembes membasahi wanita paruh baya di depannya, Ardan tahu rasa sayangnya pada Rei begitu besar.


"Terimakasih nak Ardan, sudah meminta Rei pada kami." ucap pak Hadi


"Meskipun sebenarnya kami tidak berhak, tapi Rei adalah putri kami sampai kapanpun"


Sang istri hanya mengangguk dan menangis terharu karena akhirnya ada laki-laki yang dengan berani melamar Rei.


"Terimakasih, tante tahu kamu pantas untuk Rei. Tolong jaga dia, dia putri kami" bu Suci berdiri dan mendekati Ardan, kemudian memeluknya.


Ardan tak jauh beda dengan Anton, mungkin mereka seumuran. Bu Suci melihat sosok Anton pada dirinya, anak bungsunya yang harus meninggal saat menjalankan tugas negara.


Pak Hadi pun ikut memeluk Ardan, kasih sayang mereka pada Rei bisa dia rasakan.


Ardan senang niat tulusnya untuk melamar Rei bisa berjalan mulus dan mendapat dukungan dari kedua orang tua Anton.


Masih membalas pelukan pak Hadi, Ardan melihat sosok Anton pada pigura di depannya. Dia tersenyum, dan batinnya berkata terima kasih.


###

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya, biar otor kembali semangat up nya.


__ADS_2