
Sejak pertemuannya dengan dr. Clarisa beberapa hari lalu, Rei rajin minum vitamin yang diresepkan.
Rei bahkan sering membuat jus campuran buah dan sayur, awalnya Rei kurang suka karena baunya. Tapi setelah dicicipi rasanya lumayan, meski harus tutup hidup saat meminumnya.
Rei dan Ardan sudah kembali kerumah mereka, Rei membersihkan sediri rumah tinggalnya seperti yang biasa dia lakukan.
Meski Ardan sudah menawarinya untuk mencari asisten rumah tangga, Rei menolak. Alasannya selama belum ada bayi, dia akan membersihkan sendiri rumahnya.
Ardan tak mau istrinya kecapean hanya karena mengurus rumah mereka, tapi melihat istrinya yang kekeh pendiriannya Ardan mengalah.
Mereka sudah sering memperdebatkannya, dan Ardan selalu kalah. Akhirnya daripada dia harus kehilangan jatah karena istrinya ngambek, dia memilih mengikuti saja keinginannya.
Seperti waktu itu, Rei terlihat sibuk kesana kemari mulai dari mengelap kaca rumah, dan seluruh isi rumah. Menyapu, ngepel hingga mencuci baju semua dia kerjakan sendiri.
Hari libur ini ingin Ardan mengajak istrinya jalan-jalan lalu makan diluar, tapi melihat istrinya sibuk sendiri Ardan jadi mengurungkan niatnya.
Hingga Ardan sudah tak tahan untuk mengangkat istrinya dan membawanya ke kamar. Untung saja semua pekerjaan rumah sudah selesai, hanya tinggal menyapu bagian dapur dan ruang cucian.
Ardan merebahkan Rei diatas ranjang dikamar mereka, Rei yang bingung karena kelakuan suaminya hanya bengong.
"Mas ngapain sih, aku kan belum selesai nyapu nya" Rei menatap suaminya yg berdiri sambil beracak pinggang.
"Aku capek lihatin kamu dari tadi ga berhenti, ada aja yang dikerjain. Ga capek ya, istirahat dulu kek, duduk, minum. Ini enggak."
Ardan duduk di sofa, masih memperhatikan istrinya yang belum beranjak dari tempatnya rebahan.
"Tapi mas, biar bersih. Kalau bersih kan enak, tidurnya nyaman. Apalagi kemarin abis ditinggal lama."
Rei menjawab suaminya, dia tidak melihat bagaimana kesalnya sang suami. Ardan benar-benar tak habis pikir, istrinya ini ga ada capeknya sama sekali, sekarang malah ngajakin debat.
"Pokoknya aku ga mau tahu ya, kamu berhenti ngerjain semua sendiri atau aku akan membawa asisten rumah tangga baru kesini."
Ardan kesal, sorot matanya menandakan kalau dia sudah tidak bisa mentolerir istrinya. Pikirnya bagaimana mereka bisa segera memiliki anak jika istrinya selalu kecapekan seperti itu.
"Tapi mas, aku masih sanggup ngerjain semua sendiri. Tenang aja, nanti juga selesai." Rei tesenyum, mencoba mengurai kedongkolannya.
"Ga ada, sudah cukup. Sekarang terakhir kalinya aku lihat kamu kerjain semua pekerjaan rumah sampe seharian tanpa istirahat seperti ini. Ga ada protes"
__ADS_1
Ardan masih bersedekap, rasanya ingin sekali dia menghukum istrinya itu. Tapi melihat Rei yang masih tak acuh, membuatnya menggelengkan kepala.
"Tapi mas..." Rei
"Ga ada tapi-tapian, aku menikahimu untuk jadi istri sekaligus ibu anak-anakku, bukan pembantuku."
Ardan mengucapkan dengan sedikit membentak, membuat Rei kaget karena baru kali ini dia melihat suaminya seperti itu.
Setelah perdebatan itu Ardan keluar dari kamar dan membanting pintu. Rei menangis, suaminya benar-benar marah.
Akhirnya Rei tertidur setelah lelah menangis, Ardan juga tak menampakkan dirinya. Dia memilih berada dikamar lain yang sekaligus merangkap sebagai ruang kerjanya.
Rei dan Ardan sama-sama menyendiri, instrospeksi diri. Mereka bahkan melewatkan makan malamnya.
###
Keesokan harinya mereka berdua bertemu di meja makan. Rei sudah bisa mencerna maksud perkataan suaminya kemarin.
Dia tahu dia salah, terlalu memforsir dirinya. Rei tidak suka barang-barang berantakan dirumahnya, bahkan melihat debu sedikit saja dia langsung membersihkan semuanya.
Dan suaminya benar, harusnya dia lebih mementingkan kesehatannya, mengurangi kegiatannya yang membuatnya kecapekan dan itu akan membuatnya semakin sulit untuk segera hamil.
Rei teringat ucapan dr. Clarisa dan dia mengaku salah. Begitupun Ardan, dia tahu sikapnya kemarin terlalu berlebihan hingga membentak Rei, istrinya.
Ardan menatap istrinya, rasa bersalahnya membuat dia takut jika istrinya akan terus mendiamkannya.
"Maaf"
Ardan dan Rei sama-sama berucap, mereka sudah duduk dimeja makan. Ardan mengambil tangan Rei dan menggenggamnya.
Dia menyesal telah membentak Rei, tapi Rei malah tersenyum. Rei mengambil tangan suaminya dan menciumnya, dia juga menyesal tidak mendengarkan suaminya.
Ardan dan Rei mengungkapkan isi hati mereka, sama-sama menyesal dan berjanji untuk saling mengerti dan mendengarkan satu sama lain.
Pernikahan mereka masih baru, akan banyak cobaan kedepannya. Mereka harus saling terbuka, dan memahami jangan hanya melihat dari satu sisi tapi mencoba melihat sisi lainnya.
"Hidup itu akan sempurna jika kita saling memberi, dan saling menerima. Bukan hanya memberi saja atau menerima saja."
__ADS_1
"Kita masih baru menjalani rumah tangga, masih saling menjajaki dan mengenal satu sama lain. Kedepannya cobaan dalam biduk rumah tangga kita akan semakin berat, jadi jangan pernah mengabaikan apapun yang pasangan kita ucapkan."
"Aku minta maaf jika kemarin membentakmu, tapi sungguh tak ada maksud untuk begitu. Aku ingin kamu fokus sama rumah tangga kita, menjadi istri dan ibu bagi anak kita kelak."
"Jadi tolong, dengarkan aku. Aku sayang kamu, aku ga mau tangan istriku kasar atau kukunya patah karena terlalu berat bekarja."
Ardan mendekati istrinya dan memeluknya. Rei membalas pelukan dari suaminya dan tersenyum, air matanya menetes. Dia bersyukur memiliki suami yang pengertian bahkan terlalu sayang padanya.
"Aku juga minta maaf mas, aku janji kedepannya akan mendengarkan mas." Rei mendongak, mencoba mencium bibir suaminya.
Ardan menyambut kecupan istrinya, tangannya menahan tengkuk istrinya dan bibir mereka kembali beradu. Saling mengecap dan melu*** meleburkan semua rasa.
Ciuman mesra pagi itu seketika terhenti, Rei tidak ingin mereka kelaparan apalagi semalam mereka melewati makan malam karena masih emosi.
Ardan tersenyum, dia juga sudah merasakan lapar sejak tadi. Melihat makanan yang sudah tersaji diatas meja makan membuat perutnya berbunyi. Tapi dia harus menyelesaikan masalah mereka lebih dulu.
Setelah makan, Ardan mengajak istrinya duduk di teras belakang rumah mereka. Memandangi taman mini yang mereka tanami berbagai bunga mulai dari mawar, krisan, anggrek dan sedap malam.
Rei mengikuti suaminya, mereka menikmati pagi ini dengan bersantai disana. Tak ada rencana ingin keluar rumah seperti keinginan Ardan kemarin.
Ardan ingin menikmati weekend ini dengan bersantai dirumah saja. Menemani istrinya menonton serial drama kesukaannya, mulai dari drama korea, cina dan thailand.
Atau menemaninya membaca novel-novel baru yang baru saja istrinya beli. Terkadang Ardan juga membelikan istrinya novel jika dia sedang berjalan-jalan ke toko buku.
Terkadang juga menemani Rei mencoba resep kue atau masakan baru, dan jika cocok maka itu akan jadi salah satu menu baru di restoran atau cafe miliknya.
Seperti yang dia ucapkan tadi, sebagai pasangan kita harus saling memberi dan menerima bukan hanya salah satu saja yang aktif.
###
Semangat pagi...
Hari kamis terakhir sebelum puasa, sudah tak sabar ya mendengar suara orang bangunin sahur.
Jangan lupa dukung otor terus ya, karena kalian semangatku. Terimakasih buat yang boom like dan komen, you're my inspiration.
Jangan lupa like, komen, dan vote nya.
__ADS_1