Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
104. Terimakasih sudah hadir


__ADS_3

Hari ini sesuai jadwal Rei akan dilakukan operasi kecil, kuretase. Seluruh anggota keluarga sudah sepakat untuk mengangkat janin yang belum lama berada di kandungan Rei itu.


Tujuan mereka hanya satu, agar Rei cepat sembuh dan tidak merembet ke lainnya, karena dikuatirkan akan mempengaruhi kesehatan reproduksinya jika terlambat ditangani.


Para mama kuatir jika mereka terlambat sedikit saja dalam menentukan keputusan, Rei akan menderita tumor atau kanker rahim.


Karena bagi seorang wanita tidak bisa memiliki anak akan jadi pukulan terberat sepanjang hidupnya, apalagi jika sang suami sangat menginginkan keturunan.


Mungkin para mama itu berkaca dari pernikahan Rei sebelumnya dengan Reza, yang kandas meski baru seumur jagung, karena mantan suami Rei telah berselingkuh dan memiliki anak dari wanita lain.


Dan janin yang terlambat perkembangan nya karena DBD yang di derita sang ibu pun harus direlakan untuk diangkat, karena selama beberapa hari Rei dirawat karena kekurangan darah, ternyata sudah lebih dulu bertemu sang pencipta.


Mungkin ini terlalu kejam, tapi jika dihadapkan pada dua pilihan yang sama sama sulit seperti ini siapapun pasti akan mengalami kebuntuan.


Ardan bukan tidak tahu bagaimana reaksi istrinya nanti ketika tahu perutnya sudah tidak lagi buncit, sudah tidak ada lagi calon bayi mereka.


Tapi Demi Rei, Ardan siap menerima segala konsekuensi nya. Baik atau buruk, marah dan sedih pun akan Ardan terima. Asalkan istrinya sembuh, dan bisa kembali seperti sedia kala.


Jangan tanya bagaimana keadaan nya sekarang, dia tampak lesu dan sangat terpukul. Kantung mata di wajahnya terlihat jelas, karena sudah beberapa hari ini Ardan tidak bisa tidur.


Dia selalu sabar menanti istrinya bangun, meski sampai saat ini belum ada tanda tanda mengarah kesana. Berharap dengan sangat akan datang keajaiban.


Tapi tak henti dia berdoa demi kesembuhan sang istri.


Tak ada yang tahu jika Rei pernah sadar, dan mendengar sekilas perbincangan mereka. Karena kondisi Rei begitu lemah, bahkan untuk membuka mata saja terasa berat.


Perawat baru saja mengganti kantung darah merah yang kosong dengan yang baru, karena masih membutuhkannya.


Wajah Rei pucat pasi, bibirnya juga pucat dan kering, tanpa polesan kosmetik terlihat jelas betapa lemah tubuh Rei.


###


Sesuai ucapan dokter obgyn yang menangani Rei, bahwa operasi kuretase akan dilaksanakan jam sepuluh pagi ini, dan semua sudah siap diruangan operasi.


Dokter obgyn sudah siap dengan peralatannya, dan karena Rei hanya dibius lokal jadi Rei bisa mendengar apa yang dokter katakan pada asistennya.


Air mata Rei merembes di sudut matanya, perasaan sedih karena kehilangan buah hati mereka. Rei masih belum membuka matanya karena masih begitu berat.

__ADS_1


Dokter pun berhasil mengangkat janin yang sudah terlihat membiru. Dokter dan perawat yang menemani juga sudah membersihkan bayi yang tak sempat hadir ke dunia ini, dan siap dikafani.


Salah satu perawat lalu memanggil Ardan untuk masuk dan mengadzani putranya. Bayi Rei berjenis kelamin laki-laki, kulitnya putih bersih tapi sayang Tuhan lebih menyayangi nya.


Ardan masuk keruangan mengikuti perawat tadi dan mengadzani putranya, untuk pertama dan terakhir kali nya.


Perasaan bersalah kembali menyeruak batin Ardan, air matanya menetes melihat jenazah putranya.


Setelah dokter dan perawat membersihkan Rei, mereka lalu membawa Rei keruang perawatan. Sedangkan Ardan membawa jenazah putranya untuk dimakamkan.


Ardan sempat melihat istrinya sekilas sebelum keluar dari ruang operasi, wajah Rei tersenyum tapi pipinya basah.


Ardan yakin jika Rei bisa merasakan kehilangan putra mereka. Ardan membawa putranya ke tempat keluarga nya berkumpul.


Di depan ruang perawatan Rei, mereka menangis melihat bayi mungil yang bahkan belum merasakan dekapan hangat sang ibu.


Ardan, papa Pras dan pak Hadi pun pergi untuk memakamkan putranya, karena semuanya sudah siap dan hanya menunggu jenazahnya datang.


###


Dalam perjalanan menuju makam Ardan tak banyak bicara, dia memeluk jenazah putranya dengan air mata yang tak berhenti menetes.


Sementara Ardan, papa Pras dan pak Hadi mengikuti prosesi pemakaman bayinya yang dipimpin oleh ustadz yang sebelumnya sudah papa Pras hubungi, dirumah sakit Rei sudah mulai membuka matanya.


Rei sudah sadar meski belum sepenuhnya bisa menggerakkan tubuhnya, sakit di daerah perut bawahnya mulai terasa, karena obat bius nya mulai berkurang.


Rei mendesis kepalanya masih terasa pusing, Rei mengangkat tangannya yang tidak ada selang infus. Memijat pelan kepalanya, dan itu disadari oleh Dani, kakaknya.


"Rei, kamu sudah bangun dek."


Dani mendekat dan menekan tombol diatas brankar, memanggil dokter atau perawat untuk memeriksa keadaan adiknya.


Rei masih belum menjawab, kemudian pintu kamar terbuka tampak dokter dan perawat disana. Dibelakang mereka ketiga mama nya juga berjalan mendekat.


Dokter lalu memeriksa Rei, tak ada yang terlewati. Dokter tersenyum kondisi Rei sudah banyak kemajuan dibandingkan sebelumnya.


Sekarang masih terasa pusing karena masih ada sisa obat bius tapi hemoglobin sudah bertambah dan Rei sudah tidak pucat lagi.

__ADS_1


"Gimana kondisi anak saya dok?" tanya mama Tami setelah dokter selesai memeriksa Rei.


"Ibu Rei kondisi nya sudah baik, tinggal pemulihan pasca kuret saja."


Jelas dokter dengan name tag Iryawan tersebut. Masih belum puas, mama Tami kembali menanyakan tentang kantung darah Rei.


"Lalu bagaimana dengan darah merah untuk menantu saya, apa masih harus menambah lagi?"


"Sementara ini saya rasa cukup, kita lihat nanti setelah kantung darah merah ini habis, jika dirasa tidak ada perubahan dan jumlah hemoglobin sudah sesuai, bisa dihentikan.


Kita doakan semoga kondisi ibu Rei terus stabil dan tidak perlu menambah darah lagi."


Semua yang ada diruang rawat Rei mengangguk paham. Dan dokter serta perawat itu lalu permisi meninggalkan ruangan karena ada visit lainnya.


"Rei, cepat sembuh ya nak. Jangan pikirkan yang lain, dedek utun sudah tenang disana. Ikhlaskan dia."


Mama Hadi mendekat dan mengelus tangan menantunya, dia tahu Rei pasti kecewa karena tidak lagi bisa bersama janinnya.


Rei hanya diam, tetes bening tiba tiba saja lolos disudut matanya. Kedua mamanya yang lain ikut memberikan suport pada Rei.


Mereka juga bisa merasakan bagaimana perasaan Rei saat ini kehilangan bayinya, tapi akan lebih sedih lagi jika harus kehilangan Rei.


Isak tangis terdengar saling bersahutan, semua diruangan itu perempuan otomatis tanpa dikomando pun mereka ikut larut dalam kesedihan.


Rei mengelus perutnya yang kini rata, tidak ada lagi gerakan dari dalam perutnya yang merespon usapan dan kata kata Rei.


"Terimakasih dedek, sudah hadir di perut mommy. Meski kita belum sempat bertemu, tapi mommy yakin dedek selalu menemani mommy. Tunggu mommy ya sayang."


Ucap Rei lirih, lagi... berhasil membuat yang lain terisak.


Mereka tak bisa lagi menahan air mata, sedih dan teriris rasanya mendengar ucapan Rei tadi.


Mereka berdoa semoga setelah ini Rei tidak lagi memikirkan tentang bayinya yang sudah meninggal, dan semoga Rei bisa kembali menata hidupnya pasca operasi.


###


Kuretase, bagi sebagian orang operasi kecil ini mungkin biasa saja, tapi efek pasca operasi perlu diperhatikan.

__ADS_1


Karena perawatan bagi yang pernah mengalami bukan hal yang mudah. Perlu penjagaan ekstra agar rahim sehat dan siap dibuahi kembali.


__ADS_2