
Alhamdulillah, acara hari ini sukses senyum terukir diwajah tuan rumah. Para tamu undangan sudah pulang, tersisa keluarga besar saja. Pihak WO menata kembali tempat yang akan dipakai untuk akad nikah esok hari.
Wajah-wajah lelah mulai tampak dari tuan rumah, tapi wajah bahagia lebih mendominasi. Satu-persatu anggota keluarga besar Ardan dari pihak papa dan mama sudah beristirahat, sebagian sudah kembali ke hotel yang letaknya dekat dengan tempat resepsi.
Mama dan papa Ardan akhirnya bisa duduk setelah seharian ikut sibuk, maklumlah pertama kalinya punya gawe jadi masih bingung. Meskipun sudah ada WO yang mengurusnya, tak lengkap rasanya kalau tidak ikut andil di dalamnya.
Menoleh pada seseorang yang turun dari tangga, Ardan tampak sudah berganti pakaian. Wajahnya lebih segar, memakai polo shirt dan celana jeans tak lupa kunci mobil nya.
"Mau kemana, kok ga istirahat aja." tanya papa
"Ardan mau kerumah Rei ma,pa, mau jenguk kekasih hatiku" ucap Ardan santai.
"Iya, papa seharian ini tak mendengar suaranya, dia ga datang tadi?"
"Rei sakit pa, dia sebenarnya sudah mau kesini tapi saat mau ganti baju ga keluar kamar tahunya sudah demam."
"Hah... calon mantu mama sakit, aduh gimana ini besok sudah akad nikah. Sayang kalau dia tidak datang" mama terlihat sedih.
"Tenang ma, calon menantu mama sudah baikan kok, tadi Ardan telpon kata mamanya sudah diperiksa dokter dan sedang istirahat. Makanya sekarang Ardan ijin mau jenguk dia, sekalian ijin nginap dirumah camer." Ardan tersenyum menampilkan gigi putihnya.
"Kamu tuh, emang maunya deket dia terus. Awas loh ga boleh depe duluan, mama ga suka ya." Mama memukul pelan lengan Ardan, yang meringis kesakitan sambil mengelus lengannya.
"Siap bos, depe duluan juga gapapa buat tanda jadi" cengir Ardan, sekali lagi menggoda mamanya.
"Ga.. ga ada tanda jadi, jangan ngadi-ngadi deh." mama cemberut.
"Sudah sana berangkat ini sudah hampir jam delapan malam, ga sopan bertamu terlalu malam." papa angkat bicara, menengahi perdebatan ibu dan anak yang mulai absurb ini.
"Siap bos. Ardan pergi ya ma, pa" mencium tangan kedua orangtua nya.
"Eh kamu tuh mau nginep sana, ga bawa baju ganti?" tanya mama lagi, Ardan menoleh.
"Sudah siap di mobil ma, besok Ardan langsung ke restoran mau ngecek kondisi disana sebelum akad nikah dimulai."
"Baguslah, jangan lupa calon mantu mama diajak sekalian."
"Oke bos. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah menjawab salam putranya, mama dan papa Ardan menuju kamarnya untuk beristirahat. Hari yang melelahkan, tinggal selangkah lagi.
__ADS_1
€€€
Sebelum kerumah Renita, Ardan mampir ke penjual martabak langganan nya. Saat dalam perjalanan tadi dia sudah memesan dua martabak telur dan martabak manis untuk orang rumah.
Setelah membayar pesanannya, Ardan langsung melajukan mobilnya kerumah Rei. Jalanan masih ramai karena weekend dan seperti biasa banyak tempat mangkal muda-mudi yang semakin malam semakin ramai.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ardan melangkah masuk halaman. Mengetuk pintu dan menunggu jawaban dari pemilik rumah. Sambil menunggu Ardan duduk di kursi teras, meletakkan bawaannya diatasi meja.
ceklek, pintu terbuka. Ardan menoleh melihat siapa gerangan.
"Assalamualaikum, bik. Rei sudah tidur?" tanya Ardan.
"Waalaikumsalam, mas Ardan. Mbak Rei dikamar istirahat mas, tadi siang diperiksa dokter. Mari masuk mas, bapak dan ibu ada diruang tengah."
Ardan mengikuti bibi menuju ruang tengah dimana orang tua Renita berada. Mengucap salam dan mencium tangan kedua orangtua itu, lalu duduk di sofa berhadapan dengan papa Rei.
Ardan juga menyerahkan bungkusan yang dia bawa pada mama Rei, yang kemudian meletakkan pada piring dan meminta bibi membawanya ke dalam bersama teh hangat.
"Maaf pa, Ardan datang sudah malam. Tadi masih sibuk beresin rumah selepas acara." Ardan membuka suara, agak canggung sebenarnya tapi demi bertemu pujaan hatinya harus menghilangkan rasa canggung nya.
"hmmm... "papa Rei hanya mengangguk.
Tak lama kemudian bibi datang membawa minuman dan martabak yang tadi Ardan bawa. Mama juga ikut duduk setelah melihat Rei dikamar nya.
"Ga papa ma, sudah biasa. Saya kepikiran Rei dari tadi pengen cepat kesini tapi nunggu semuanya beres baru bisa pergi."
"Mama dan papa juga sudah nanyain keadaan Rei terus, jadi saya pikir lebih baik saya langsung menemui Rei."
Ardan tahu bertemu di jam seperti ini memang kurang sopan tapi daripada kepikiran terus lebih baik nekat menemui Rei. Papa Rei paham kekhawatiran Ardan, namanya juga orang lagi jatuh cinta.
"Diminum dulu teh nya, baru kamu temui Rei dikamar. Tapi dia lagi istirahat, efek minum obat jadinya ngantuk terus." ucap mama.
Tak mau berlama-lama disana, Ardan meneguk teh hangat yang sudah disuguhkan. Dia lalu pamit pada papa dan mama untuk menemui Rei.
Tak butuh waktu lama karena ini bukan pertama kalinya dia ke kamar Rei, tapi tetap saja rasa canggung itu ada apalagi status mereka yang belum sah.
Membuka pintu kamar dan melihat wanitanya terlelap, Ardan menyentuh kening Rei merasakan suhu tubuh nya. Syukurlah badan nya sudah tidak panas lagi, suhu tubuh kembali normal hanya efek ngantuk yang membuat Rei harus berbaring kembali.
Merasakan ada yang menyentuhnya, Rei mencoba membuka matanya. Senyum terpancar dari wajah cantiknya, Ardan membalas senyum itu. Lalu duduk di tepian ranjang sambil memegang tangan Rei.
"Kamu kenapa? bikin aku khawatir saja." Satu tangan Ardan membelai pipi Rei, tangan satunya masih setia menggenggam tangan Rei.
__ADS_1
"Maaf, aku ga tahu ternyata mas mengkhawatirkan ku." ucap Rei lirih.
"Bukan hanya mas, mama dan papa juga. Bahkan mama bolak-balik nanyain kamu."
"Maaf" Pandangan Rei tak lepas dari pria dihadapan nya. Mencoba untuk bangkit dan bersandar di kepala ranjang, Ardan membantu nya meletakkan bantal di belakang Rei.
Cup
Ardan mendaratkan kecupan di kening Rei, merasakan hangatnya kecupan yang cukup lama.
"Sekarang masih pusing?" Ardan membelai pucuk kepala Rei.
Rei menggeleng, rasanya malu diperhatikan seperti ini meskipun mereka pernah berciuman.
"Mau makan apa, aku bawain martabak kesukaan kamu dibawah. Tadi mama sudah taruh dipiring aku ambilkan dulu ya."
Rei tersenyum dan mengangguk, Ardan keluar mengambil martabak. Melangkah menuju dapur mengambilkan minum dan martabaknya. Saat akan kembali ke kamar Rei, mama dan papa Rei mengagetkannya.
"Rei sudah bangun?" tanya papa, melihat bawaan Ardan.
"Oh, iya sudah pa. Ini saya bawakan martabak katanya mau makan martabak"
"Syukurlah, ayo kita lihat Rei ma"
Ketiganya melangkah memasuki kamar Rei, sang pemilik kamar menyadari siapa yang datang.
Mama dan papa mendekat, mereka tersenyum Rei sudah kelihatan lebih segar.
"Ayo dimakan dulu martabaknya, bias perutmu tidak kosong" Mama menyuruh Ardan mendekat.
Mengambil potongan martabak, Rei lalu mengambil air minum yang tadi Ardan letakkan di nakas. Tapi Ardan melarang jadi dia yang menyuapi Rei.
Papa dan mama saling pandang, keduanya tersenyum melihat besarnya perhatian Ardan pada putri bungsunya.
Mama dan papa permisi ke kamar mereka, tapi sebelumnya mengingatkan Ardan untuk tidur di kamar tamu. Sepeninggal kedua orangtua Rei, Ardan duduk di dekat Rei dan memeluknya. Rei membalas pelukan itu, karena sejujurnya dia sangat merindukan.
"Mas, terimakasih" ucap Rei saat pelukan itu terlepas.
"Sayang, bagiku senyummu adalah semangatku. Cepat sembuh ya, biar besok kita bisa menggantikan pengantin baru duduk dipelaminan." Ardan kembali menggoda Rei.
"Ih... Maunya" Rei memukul pelan dada Ardan. Ardan terkekeh melihat Rei yang pipinya bersemu merah menggemaskan.
__ADS_1
"Tidurlah, aku akan menjagamu" ucap Ardan sambil memeluk Rei. Meletakkan kepala Rei didadanya. Keduanya kemudian memejamkan mata dan tidur dalam keadaan duduk sambil berpelukan.