
Semua persiapan untuk pengajian dan siraman sudah lengkap, dan sambil menunggu tamu berdatangan papa dan mama Ardan dan Dina menyempatkan diri menyapa anak bungsunya di kamarnya.
"Assalamualaikum, cantik" sapa papa, membuka pintu kamar yang memang tidak tertutup. Melangkah masuk mendekati putrinya, yang hari ini tampak cantik dengan abaya dan jilbab panjangnya.
"Papa, makasih" Dina mendekat memeluk papanya, air matanya menetes. Papa Ardan mengusap punggung putrinya, mencium pucuk kepalanya.
"Sayang, papa tahu tugas papa sebentar lagi akan selesai setelah ijab kabul. Tanggung jawab papa akan segera berpindah pada suamimu, yang akan menjagamu dan mencintaimu. Tapi kamu tetaplah putri kecil papa, sampai kapanpun."
Mereka berpelukan erat, tangis keduanya pecah. Mama yang melihatnya jadi ikutan meneteskan airmata. Bahagia dan haru karena dalam hitungan jam mereka akan melepas putrinya pada laki-laki yang akan menjadi suaminya.
"Mama ga diajakin nih ceritanya" ujar mama mendekati keduanya. Papa dan Dina menoleh dan membentangkan tangannya menyambut mama. Mereka lalu berpelukan, menangis bersama.
"Ma, makasih ya sudah mengandung, melahirkan, merawat dan mencintai Dina. Mama ibu terbaik, Dina sayang sama mama." Dina mencium pipi mamanya, menangis haru.
"Sayang, kamu adalah buah cinta kami tentu saja itu adalah tugas kami mencintaimu sepenuh jiwa, kamu akan selalu jadi putri kami sampai kapanpun." memeluk putrinya, sungguh kebahagiaan yang tiada tara bisa mengantarkan putrinya pada orang yang dicintainya menjadi pasangan halalnya.
"Pa, papa tetap cinta pertama Dina sampai kapanpun. Dina sayang papa dan mama" Papa mengangguk, ketiganya pun berpelukan lagi.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan, dia lalu mendekat.
"Pantesan dicariin ga ada, ternyata malah kumpul disini." Ardan mengagetkan. Mereka bertiga menoleh, tersenyum.
"Ini kenapa jadi melow begini main pelukan dan nangis segala." Ardan mendekat, Dina pun membentangkan tangannya memeluk kakaknya.
"Kak, makasih ya sudah jagain Dina. Dina sayang sama kakak, semoga kakak segera menyusul Dina bersama Rei." Dina mencium pipi kakak lelakinya, tangis haru kembali pecah.
Ardan tahu hari dimana dia akan melepas adiknya, dan hari ini pun tiba.
"Sudah, ayo turun sudah ditunggu sama tamu."Mereka lalu turun menyambut tamu, dan pengajian pun dimulai. Berlanjut dengan siraman yang dilakukan setelah santunan anak yatim.
Seluruh saudara papa dan mama ikut dalam acara siraman itu, wajah bahagia terpancar dari calon pengantin. Senyum merekah dari wajah cantiknya, mama dan papa pun juga ikut tersenyum bahagia.
Ditempat lain, Rei tidak ikutan acara siraman Dina karena hari ini badannya terasa sakit semua. Rasa lelahnya membuat wajah Rei memucat, harusnya hari ini dia disana, tapi tak ingin mengacaukan acara Rei memilih beristirahat dirumahnya.
__ADS_1
"Mama, Rei kemana kok ga kelihatan. Apa sudah berangkat ke rumah Ardan." tanya papa
"Kayaknya belum deh pa, tadi bilang mau keatas dulu mau ganti baju tapi sampe sekarang belum turun." jawab mama, tangannya masih memegang pisau memotong buah apel.
"Ma, kita lihat yuk, ga biasanya dia lama."ajak papa menarik tangan mama, mereka lalu naik ke kamar Rei.
"Ya ampun Rei, kamu kenapa nak?" mama memegang dahi Rei, suhu tubuh nya tinggi.
"Pa, panggil dokter Rei demam" mama terlihat panik. Papa langsung menuju kamarnya mengambil hape dan menelpon dokter keluarganya.
Dua puluh menit kemudian dokter datang dan langsung memeriksa Rei.
"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya papa
"Anak bapak hanya kelelahan, dan mungkin karena belum makan jadi lemas." jawab dokter.
"Syukurlah, kalau begitu." ucap mama
"Ini saya tuliskan resep obat dan vitamin, biar bisa langsung diminum nanti setelah makan. Baiklah saya permisi dulu bapak, ibu. Mari" dokter lalu meninggalkan kamar Rei, ditemani papa yang juga akan menebus resep ke apotek terdekat.
"Maafin Rei ya ma, ngerepotin mama" ucap Rei lirih.
"Hei, kenapa? apa ada masalah, baru sekarang mama lihat kamu seperti ini." Mama memeluk Rei, putrinya yang selalu tegar tapi kali ini seperti ada yang disembunyikan.
"Rei gapapa kok ma, cuma kecapekan kata dokter tadi kan." sanggah Rei.
"Sayang, kamu putri mami, sampai kapanpun akan jadi putri kecil mami. Meskipun kamu sudah menikah dan punya anak, kamu tetap akan jadi putri mami."
Rei makin mengeratkan pelukannya, terus terang Rei kangen dipeluk seperti ini tapi memang waktu mereka untuk quality time sangat kurang karena kesibukan Rei.
Meski ada yang Rei sembunyikan tapi mama tahu, dia hanya tak ingin memaksakan biarlah Rei sendiri nanti yang akan bercerita. Menyuapi Rei dengan bubur yang baru saja matang. Anak ini dari kecil tak pernah mau merepotkan orang lain, selalu mandiri.
€€€€
__ADS_1
"Dan, Renita mana kok belum kelihatan masak masih lembur?" tanya mama saat melihat tak ada Rei disana.
"Kayaknya enggak deh ma, tadi pagi pas aku telpon bilang sudah dirumah mau istirahat dulu katanya." jawab Ardan, netranya mencoba mencari keberadaan Rei, tapi tak nampak.
"Kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia terlambat. Ayo kita kesana, acaranya sudah mau dimulai." ajak mama kemudian.
Mereka pun pergi menemui tamu undangan, dan acara pengajian pun dimulai. Setengah jam berlalu tapi Rei belum juga menampakkan batang hidungnya. Ardan terlihat gelisah, beberapa kali mennghubungi nomor Renita tapi tak ada jawaban.
Sampai panggilan yang kesekian kalinya, akhirnya telpon diangkat.
"Assalamualaikum" sapa suara diseberang
"Waalaikumsalam, Renita mana ma?" tanya Ardan saat mengetahui itu bukan suara Rei.
"Ar maaf ya Rei tidak bisa datang." jawab mama tenang
"Kenapa ma, Rei ditunggu mama"
"Sampaikan maaf mama, Rei harus istirahat badannya tiba-tiba demam, tadi setelah sarapan bilang mau ganti baju tapi lama ga keluar ternyata tidur berselimut."
"Tapi Rei sekarang gimana ma, dia baik-baik saja kan?" tanya Ardan khawatir.
"Gapapa, tadi sudah diperiksa dokter katanya hanya kecapekan. Tahu sendiri kan dia kalo kerja gimana."
"Syukurlah ma, maaf Ardan belum bisa kesana tapi secepatnya akan menjenguk Rei."
"Sudah, kamu fokus disana dulu temani orangtuamu, karena banyak tamu kan pasti sibuk. Biar Rei istirahat dulu."
"Iya, Ardan kasih tahu mama dulu dari tadi tanyain Rei. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" mama menutup panggilan, senyum tersungging diwajah nya. Wanita paruh baya ini senang karena Ardan dan keluarga nya begitu perhatian pada Rei.
Mama hanya berdo'a semoga mereka berjodoh dan dipertemukan di pelaminan.
__ADS_1
Kembali ke acara pengajian, dilanjutkan dengan santunan anak yatim dan terakhir siraman. Alhamdulillah semua rangkaian acara hari ini selesai sudah, dan tanpa halangan. Meski mama Tami bolak-balik menanyakan Rei karena merasa ada yang kurang disana.