Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
86. Sudah tidak sabar


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, Ardan dan Rei masih menikmati waktu berdua mereka. Tak sekalipun Ardan meninggalkan Rei, jika ada pekerjaan yang mengharuskannya keluar kota selama beberapa hari Ardan pasti mengajak istrinya.


Keinginan mereka untuk memiliki anak semakin besar, apalagi saat mendengar kelahiran bayi Arini dan Rio. Rei sangat antusias mendengar kabar bahagia itu.


Arini melahirkan putra mereka dua bulan lalu di kota Arini, mereka memilih disana karena Arini sempat mengalami pendarahan dan membuatnya harus bed rest total.


Rio memakluminya, pekerjaannya pun bisa dilakukan lewat online, karena dia juga sudah memiliki asisten yang banyak membantunya.


Hanya sesekali jika dibutuhkan Rio kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya. Arini juga sempat mengalami pendarahan saat melahirkan.


Karenanya Rio memutuskasn untuk membawa istrinya pulang agar bisa beristirahat total. Sekarang keadaannya sudah lebih baik, meski kadang bekas operasinya masih terasa sakit.


Rei dan Ardan menjenguk mereka dirumah sakit dikota kelahiran Arini. Sekalian liburan, Ardan sengaja tidak membawa mobil agar tidak kecapekan.


Ardan mengajak istrinya naik kereta api agar berbeda dengan perjalanan sebelumnya, yang menggunakan mobil atau pesawat.


Rei menyambut baik usul suaminya, dia juga belum pernah naik kereta sebelumnya. Rei sudah tidak sabar melakukan perjalanannya, dan juga menemui sahabat baiknya.


Ardan senang istrinya mau diajak naik kereta, karena sejujurnya Ardan pun sudah lama tidak naik transportasi darat itu. Terakhir kalinya saat dia masih kuliah dulu, dan itu menyenangkan.


Setelah berpamitan pada seluruh keluarga besarnya Ardan dan Rei pun diantar oleh supir papanya ke stasiun kereta.


Rei menitipkan rumahnya pada sang mertua dan mbak pembokat cantiknya yang selalu setia menemani jika Rei butuh teman.


###


Perjalanan dua jam mereka lewati dengan cerita dan tawa, Ardan senang melihat istrinya bahagia. Bahagia tidak harus dengan cara mewah, naik kereta seperti ini saja istrinya sudah bahagia.


Ardan memeluk istrinya, mencium puncak kepalanya. Rei sangat antusias, dia tidak terlihat mengantuk sama sekali.


Mata Rei terus memindai pemandangan diluar kereta, seperti dalam aquarium raksasa. Ini pengalaman yang Rei tunggu sejak dulu.


Sejak kecil Rei ingin sekali naik kereta api, tapi belum kesampaian. Baru kali ini Rei bisa naik kereta api berkat suaminya.


Rei sangat bahagia, senyum tak lepas dari bibirnya. Melihat hamparan sawah dengan padi yang sudah menguning, bahkan siap dipanen.


Sesekali dia tertawa saat melihat pemandangan yang membuatnya merasa lucu. Ardan yang awalnya mengantuk akhirnya tidak jadi tidur.

__ADS_1


Ardan memilih tiket kereta api kelas bisnis, dia tidak ingin perjalanan pertama Rei dengan kereta api terkesan buruk karena bau atau keributan dikelas ekonomi.


Rei memang tidak mempermasalahkan tapi karena akhir-akhir ini Ardan sering melihat istrinya uring-uringan karena mencium bau-bauan yang menyengat.


Seperti beberapa hari lalu Ardan sempat membawa pulang parfum baru pemberian kawan lamanya yang baru pulang dari Paris.


Ardan menyukai aroma parfumnya, tapi tidak dengan Rei. Baru saja Ardan selesai mandi, dan menyemprotkan parfum barunya ke tubuhnya, istrinya menyuruhnya mandi lagi.


Bahkan disuruh dua kali sabunan, Ardan yang bingung dengan kelakuan istrinya hanya menurut. Dia malas berdebat, karena pasti akan mengurangi jatahnya.


Ardan sering dibuat pusing dengan kelakuan aneh istrinya, selain bau parfum, bumbu masakan, bahkan pembersih ruangan yang baunya menyengat Rei tidak suka.


Kadang tanpa alasan yang jelas Rei suka uring-uringan, lalu menangis tiba-tiba. Ardan hanya bisa mengelus dada saat melihat istrinya begitu.


Untung saja Ardan sempat bertanya pada mamanya, meski belum yakin mama Ardan merasa jika menantunya itu sudah berisi.


Mama juga mengatakan Ardan harus punya banyak stok sabar, karena jika benar istrinya hamil dia akan sering mengalami moody.


Sebentar senang sebentar nangis, sebentar marah dan akan berlangsung sampai ibu hamil merasa itu lebih baik.


Mama juga menyarankan Ardan untuk membeli test pack untuk menguatkan dugaannya. Ardan yang mendengar penjelasan mama jadi tersenyum.


Ardan tersenyum membayangkan istrinya akan menangis bahagia karena melihat dua garis merah di tes pack nya.


Belum juga tes pack itu dipakai mereka sudah berangkat ke luar kota. Ardan melupakan tes pack yang dibelinya, yang sampai saat dia berangkat masih ada di mobilnya.


Ardan memilih mengikuti mood istrinya yang bahagia mendengar sahabatnya melahirkan. Selama istrinya belum mengatakan ada yang berbeda dengan dirinya, Ardan juga tidak akan memaksa.


###


Perjalanan mereka berakhir di stasiun kota tujuan, Rei merentangkan tangannya melepaskan rasa capeknya setelah duduk lama.


Ardan dan Rei tidak membawa banyak barang, hanya 1 koper besar berisi pakaian mereka berdua.


Ardan menelpon sahabatnya yang juga tinggal dikota ini. Rei belum menghubungi Arini, dia masih ingin menikmati perjalanannya.


Lima belas menit Rei dan Ardan duduk di kafetaria stasiun, mereka memesan minuman dingin karena cuaca hari itu cukup panas.

__ADS_1


Sepasang suami istri tampak berjalan mendekat kearah mereka, Ardan yang menoleh langsung mengenali.


Rei menyalami pasangan suami istri itu setelah diperkenalkan oleh suaminya. Untuk sementara mereka akan tinggal dirumah sahabat Ardan.


Ardan sebenarnya akan memesan hotel setelah dari rumah sahabatnya, tapi Bayu dan Ratna memaksa untuk tinggal bersama mereka.


Alasan klasik dipilih karena mereka lama tidak bertemu, dan mereka juga tidak sempat datang ke pernikahan Ardan dan Rei karena sedang ada di luar kota.


Rei yang awalnya menolak karena sungkan akhirnya menurut saja, mereka lalu pulang kerumah Bayu yang terletak dipusat kota.


Tidak ada persiapan karena memang Ardan menelpon saat mereka sudah sampai disana. Jadi sang tuan rumah mengajak mereka makan diluar sebelum pulang.


###


Bayu mempersilahkan tamunya untuk masuk dan beristirahat. Kamar tamu sudah dipersiapkan oleh pembantunya.


Dan lagi-lagi mata Rei berbinar saat melihat anak kecil berlarian disekitarnya. Kedua anak Bayu dan Ratna sedang kejar-kejaran memperebutkan mainan.


Bayu dan Ratna menggeleng kepala melihat kedua anak mereka yang selalu ribut karena mainan.


Rei memperhatikan keduanya, mereka tampak seumuran berusia kurang lebih dua tahunan. Wajah mereka mirip sekali.


Rasa penasaran Rei terjawab saat keduanya dipanggil mendekat oleh mamanya.


"Rey dan Reyna, sini sayang. Salaman dulu sama om dan tante."


Kedua bocah itu mendekat dan salim pada Rei dan Ardan. Rei mencium keduanya.


"Tante, aku kok dicium sih." ucap Rey marah, tangannya diletakkan didepan dada.


"Hei...Rey tidak boleh gitu. Tante kan pengen kenalan." mama Rey


"Tapi Rey kan sudah besar ma, masak dicium kayak anak kecil"


Ucapan Rey itu sontak membuat orang dewasa tertawa. Rei mendekat kearah Rey yang ngambek.


"Tante minta maaf ya, tante cium karena nama kalian mirip dengan tante." Rei tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya, nama tante siapa?" Reyna mendekati Rei.


"Reina...panggil tante Rei saja." senyum Rei


__ADS_2