
Rei merebahkan tubuhnya di kasur berukuran medium dirumahnya sendiri, rumah pemberian almarhum suaminya. Sudah lama Rei tidak mengunjungi rumah ini, meski tetap terawat dengan baik karena setiap dua hari sekali ada asisten rumah tangga yang membersihkannya.
Selepas jam kerja, Rei memang sudah pamit pada kedua orang tuanya untuk menginap disini. Entah kenapa Rei seperti ingin meluapkan semua rasa dalam pikiran yang membuat dadanya sesak.
Masalah yang datang silih berganti antara dirinya dan Ardan, pun tentang masa lalunya dengan Elang, benar-benar menguras pikirannya.
Lelah, itu yang dia rasakan. Lelah karena selalu mengalami masalah yang membuat emosinya bak roller coaster. Disini, dikamar ini Rei kembali mengenang masa lalunya. Dulu dia terlalu dibutakan oleh cinta, dan terlalu percaya pada Elang sampai akhirnya dia dipermalukan dihadapan banyak orang.
Meski akhirnya almarhum suaminya datang bak pangeran penyelamat, yang kembali membuat hari-harinya ceria, tapi ternyata itupun tidak berlangsung lama karena takdir berkata lain. Mereka harus berpisah untuk selamanya, mengapa? Takdir punya cara sendiri menjawab pertanyaan manusia yang takkan ada habisnya.
Rei tak lagi bisa membendung tangisnya, wajahnya basah bahkan bantalnya pun telah basah. Menangis, itu yang bisa dia lakukan sekarang.
Seandainya waktu itu dia tidak menerima ajakan Elang untuk menikah, seandainya dia tahu kalo ternyata Elang telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri, seandainya dia tidak terlalu bahagia menyambut hari bahagia dimana keluarga Elang akan melamarnya, dan ternyata menjadi hari dimana dia merasa dilemparkan ke dasar jurang terdalam setelah dipermalukan karena ternyata mereka tidak pernah datang.
Rei pun akhirnya tertidur, masih menyisakan isak tangisnya. Sesekali masih terdengar sesenggukan dari sisa tangisannya.
###
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu selama beberapa saat, hening masih belum ada tanda Rei akan bangun. Akhirnya mbak Minah, ART nya terpaksa membangunkan Rei karena hari sudah menjelang malam, dan sayup-sayup terdengar kumandang adzan maghrib dari masjid di kompleks perumahan itu.
Mbak Minah memegang bahu Rei, sedikit menggoncangnya bermaksud membangunkan Rei. Dan akhirnya Rei pun membuka mata, dan melihat ART nya tersenyum.
"Neng, maaf saya lancang masuk kemari. Saya lihat mbak Rei ga keluar lagi dari kamar sampai adzan, saya kuatir mbak sakit." Mbak Minah berkata sambil meletakkan air minum di nakas.
"Gapapa mbak, makasih sudah dibangunin." Rei tampak menggeliat, merenggangkan otot-ototnya, sejenak dia merasa perasaannya lebih baik dari pertama kali masuk ke kamarnya.
Mbak Minah menutup jendela kamar dan gordennya, lalu masuk ke kamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat dan essensial oil kesukaan Rei. Dia tahu benar Rei butuh relaksasi.
Setelah mengisi air, menyiapkan handuk dan bathrobe di samping wastafel, mbak Minah pun menghampiri Rei.
__ADS_1
"Mbak Rei sebaiknya mandi dulu, biar segar. Nanti setelah sholat maghrib, jangan lupa ngaji biar hatinya tenang. Setelah itu makan malam biar punya tenaga, kan nangis juga butuh tenaga, hehehe.." mbak Minah nyengir, dia tak mau bertanya kenapa, karena setiap pulang kerumah ini Rei selalu menangis. Dan dia sudah hapal itu. Toh nanti jika sudah siap, dia akan bercerita sendiri tentang masalahnya.
Meski jarang menginap disini, Rei selalu menyempatkan datang dan melihat rumahnya. Saat dulu ada yang berniat menyewa rumah ini, Rei langsung setuju karena sayang daripada rusak tapi kakak-kakak almarhum tidak mengijinkan. Karena itu rumah kenangan pemberian almarhum, jadi mereka tidak ingin ada orang lain yang mengusiknya.
Meski akhirnya nanti itu akan ditempati Rei dengan suami dan keluarga barunya. Mereka harus menghormati keputusan almarhum seperti di wasiatnya. Dan mau tidak mau kedua mertua Rei juga ikut mengiyakan. Jadi rumah ini masih tetap bisa Rei kunjungi.
Dan disinilah dia, dengan segala kenangan. Rumah ini memang belum pernah Rei tempati, karena saat itu masih belum siap dan Rei pun tak pernah mempermasalahkannya. Selama menikah dia ikut kemana almarhum bertugas. Menempati rumah dinas yang jauh lebih kecil dari rumah orang tuanya, tapi itu tak jadi masalah karena mereka bisa bertetangga dengan teman-teman sejawat suaminya yang sudah lebih dulu berkeluarga.
Merasakan hangatnya kekeluargaan meski berasal dari berbagai daerah dengan bahasa yang tidak Rei pahami. Tapi justru disitulah sukanya, mereka berbaur bersama. Apalagi diantara mereka banyak yang sudah memiliki anak, dan Rei suka itu.
###
Makan malam yang sunyi, meski ditemani mbak Minah tapi Rei tetap merasakan kesepian. Mbak Minah sengaja menginap disana, karena Rei memintanya. Setelah tadi suami dan anak mbak Minah pulang, Rei mengajak mbak Minah ke ruang tengah. Mereka tampak mengobrol sambil menonton acara televisi yang lagi digandrungi ibu-ibu, apalagi kalau bukan sinetron.
Yah, hiburan yang murah meriah buat kaum rebahan apalagi kalau bukan televisi, mulai dari acara joget dangdut, sinetron dan tentu saja infotaiment alias gosip. Kalau kata mbak Minah, daripada gosipin tetangga mending gosipin artis 😁.
Mbak Minah sebenarnya belum terlalu lama bekerja dengan Rei, karena saat itu Rei masih ikut suaminya bertugas tapi sejak rumah ini siap huni dia sudah bekerja pada mertua Rei. Jadi Rei juga sudah tidak terlalu canggung, dan karena usia mbak Minah hanya selisih dua tahun dari kakaknya, Rei cepat sekali akrab.
"Aku ga tahu apa masih akan lanjut sama dia" jawab Rei lesu.
"Loh loh kok gitu? jangan bilang mbak Rei ga pamit kalau nginap sini." ujar mbak Minah kemudian. Rei hanya menggeleng, dan menghembuskan napasnya berat.
"Mbak Rei ga boleh gitu, biar bagaimanapun mbak Rei sudah komitmen sama dia. Jangan karena masalah seperti ini hubungan mbak Rei sama mas ganteng bubar, siapa dah namanya lupa saya"
"Pokoknya kalau mbak Rei belum baikan sama mas ganteng saya ga mau nemenin mbak Rei disini lagi. Biar aja sendirian, nangis mulu ga mau makan, nanti tambah kurus siapa yang susah, hayo" mbak Minah mengerucutkan bibirnya. Rei dibikin gemas dengan tingkahnya.
ART nya ini memang menggemaskan dengan body yang sedikit berisi, dan pipi chubby ingin rasanya Rei mencubitnya, tapi dilihat dari umur dia lebih tua, ga sopan kan. Meski begitu, mbak Minah cekatan dalam bekerja, dia juga pintar masak. Bahkan tak jarang suami dan anaknya ikut menginap jika Rei datang kemari. Biar rame dan Rei ga kesepian.
"Ardan namanya mbak" ucap Rei sambil mengambil potongan buah yang sudah dikupas mbak Minah.
"Nah ya itu, mas Ardan. Apa ga sayang punya cowok cakep malah dianggurin. Coba saya belum nikah saya mau loh neng, hehehe"
__ADS_1
Rei tak bisa menyembunyikan tawanya, memang benar usianya jauh diatas Rei, dan meski bodynya yang sedikit tambun tapi wajah mbak Minah masih cantik dan terawat.
Dan lagi-lagi, Rei tergelak. Hanya karena dia bekerja sebagai ART bukan berarti tidak boleh perawatan ya. Dia juga ga gengsi, dan ga suka ikut-ikutan ART lain yang ga mau kalah sama majikannya perawatan mewah. Baginya mandi dan rutin luluran itu wajib, kalau facial, pedikure, menikure, dia ga kenal, katanya rutin cuci muka dan olesi madu sudah cukup. Sama jangan tinggalkan wudhu dan sholat, biar hati tenang dan wajah bercahaya.
Percuma facial, mandi susu dan lain-lain kalo ga sholat, ga ngaji mukanya tetap kusam, itu yang selalu mbak Minah ucapkan. Dan terbukti hubungan rumah tangganya jarang diterpa gosip murahan. Mbak Minah memang top markotop pokoknya. Itu juga yang membuat Rei nyaman berbincang dan curhat sama dia.
"Mbak Minah apaan sih" Rei pura-pura cemberut.
"Neng, coba deh pikir baik-baik dengan kepala dingin. Mbak Rei ga mau kan selamanya sendiri, mbak tentu inginkan ada yang menemani, tidur ada yang ngelonin, dan kalo dingin ada yang ngangetin, masak kalah sama truk yang gandengan mulu."
Rei hanya bisa menggelengkan kepalanya, konyol dan selalu ada bahan buat banyolan. Mbak Minah bisa menempatkan dirinya sebagai teman, kakak, maupun sebagai asisten. Karena baginya kenyamanan majikan itu termasuk pelayanan terbaik.
"Mbak Rei, seperti apapun masalah kita, biasakan untuk berpikir dengan kepala dingin. Jangan mengedepankan emosi, karena itu ga akan pernah selesai. Yang ada akan menambah masalah baru." Mbak Minah mengambil remote teve dan mengecilkan volumenya.
"Coba mbak ingat, hubungan mbak kan awalnya baik-baik saja, tapi sejak ada mantan mbak dalam satu kantor itu yang memicu masalah. Siapa sih yang ga cemburu, kekasihnya satu kantor dengan si mantan. Yang pasti emosi sudah naik ke ubun-ubun, apalagi kalo si mantan juga ga kalah gantengnya." Rei mendesah pelan, memang betul yang diucapkan mbak Minah, karena Rei juga merasakan tidak nyaman.
"Sebenarnya mbak Rei beruntung loh, dikelilingi orang cakep, tinggal pilih mau yang mana, hahaha" Rei memutar matanya malas mendengar celotehan ART nya itu yang dengan santai menggodanya.
"Mbak Miiiiinnnn...bisa ga sih serius ngomongnya" Rei mulai merajuk. Dan tetap dengan kekehannya ART bohay itu mendekat dan mendekap Rei, dia memeluk Rei seperti adiknya sendiri.
"Mbak, mau bagaimanapun selama kita hidup pasti akan ada masalah, pasti akan datang cobaan. Dan itu membuktikan bahwa kita mampu mengatasinya, ga mungkin ALLAH kasih hambaNya cobaan diluar kemampuannya."
"Sekarang gimana, masalah mantan sudah atau belum?" tanya mbak Minah lagi.
Rei masih dalam posisi mewek mode on, air mata yang dari tadi dia tahan sudah banyak merembes sejak mbak Minah memberikan wejangannya, memeluk dan membelai laksana adik kecilnya. Dan mbak Minah tahu itu, buktinya bajunya ikutan basah.
"Sudah mbak, sudah selesai." jawab Rei kemudian.
###
Misi....maaf ya, baru bisa up lagi. Bukan sengaja, tapi lagi cari cara gimana bisa lamaan dikit nulisnya. Yah, hape jadul memang butuh kesabaran ekstra 😁.
__ADS_1
Gantung ya ceritanya, baiklah kita coba doble up biar ga gantung lagi. Semangat! 💪💪