Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
23. Putus atau terus


__ADS_3

Seperti berada dipersimpangan, Rio masih belum bisa memutuskan hubungannya dengan Maya. Rasa cintanya untuk Maya masih ada, tapi perselingkuhan yang dilakukannya pun masih teringat jelas dan membekas dalam pikiran nya.


Jika mereka masih pacaran dia dengan sangat mudah memutuskan, tapi statusnya sekarang adalah tunangan. Tak bisa sembarang memutuskan, ada dua keluarga yang akan terluka. Keluarga besar nya, dengan taruhan hubungan papanya dan papa Boy pasti akan renggang karena masalah ini.


Bagaimanapun Boy adalah saudaranya, tak mau hubungan mereka memburuk meskipun sudah retak sejak kejadian itu. Tapi masalahnya harus segera diselesaikan, dia tak mau berlarut-larut.


"Baiklah secepatnya aku akan menemui orangtua Maya, meskipun anaknya melakukan kesalahan tapi orangtua nya tak patut disalahkan." batin Rio. Hari ini pulang kerja, Rio berniat untuk menemui orangtua Maya.


Kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya karena ingin segera menyelesaikan masalahnya, Rio mengabaikan panggilan teleponnya.


€€€


Jam makan siang seperti biasa Rei akan mengambil jatah istirahat terakhir. Tidak ikut membeli makanan seperti biasanya, karena hari ini Rei membawa bekal sendiri. Tadi sebelum berangkat kerja, menyempatkan diri untuk memasak.


Mama dan Papa ikut kerumah Dina, karena ada saudara Heru dari luar kota berkunjung kesana. Rencananya juga akan menginap bersama dengan orang tua Heru. Maklumlah Mama Rei, mama Heru dan tante Fika sepupu mama Heru dulunya adalah teman sekolah jadi mereka sekalian reuni.


"Rei, ga titip makan siang?" tanya salah seorang temannya. Melihat Rei masih menyelesaikan transaksi keuangan nasabahnya.


"Ga, mbak. Rei bawa bekal." Rei menoleh kemudian kembali mengetik komputer nya.


"Oke deh, aku duluan ya." berlalu dari sana. Rei hanya tersenyum, dan kembali memanggil nomor antrean berikutnya.


Antrean terakhir selesai Rei segera melangkah menuju musholla, melaksanakan kewajibannya dan kembali ke mejanya untuk makan siang.


Menikmati capcay goreng dan nasi putih serta udang goreng krispi buatannya. Sebuah udang goreng terlihat melayang, ada yang mencoba mengambilnya. Pasti kerjakan Miko atau Arini, pikirnya.


Dan pemilik tangan itu duduk di dekat Rei sambil ikut menikmati capcay goreng. Senyumnya mengembang saat melihat wajah Rei yang sudah cemberut. Ah mengganggu saja, pikir Rei.


"Suruh siapa makan ga nawarin kita" Miko cengengesan. Kembali menikmati makan siang Rei. Sudah lama Rei tidak membawa bekal, jadinya kangen sama masakan Rei.

__ADS_1


"Ga dimasakin sama bini ya bang, kok numpang makan dimari" protes Rei.


"Yah, kan belum halal neng jadi sementara abang numpang dulu, boleh ya" goda Miko.


"Ga ijin aja dah habis banyak, apalagi ijin bisa-bisa ga kebagian aku" seloroh Rei.


"Hahaha... maklum lah neng lama kan ga masakin abang, jadi kangen nih"


"Dasaar ..." keduanya kemudian tertawa. Menikmati makan siang berdua.


"Cie calon adek dan kakak ipar akur nih" celetuk Arini mendekat, ikut menyomot udang krispi Rei.


"Datang lagi tim rusuhnya, gagal deh makan siang dengan tenang." jawab Rei, niat makan siang nya harus terbagi dengan sahabat nya.


"Bagus ya, makan sendiri ga usah ngajak aku" suara Rio dari jauh terdengar.


"Aaaaaggghhh.... aku masih lapar, kenapa kalian makannya cepat banget sih." Rei cemberut. Ketiga sahabatnya hanya menyembikkan bibirnya, mereka tertawa melihat Rei yang kesal.


€€€€


Rei dan Arini masuk ke mobil Rei untuk pulang. Arini sengaja ikut Rei pulang karena ingin menemani nya, sebelum itu mereka mampir ke kos an Arini mengambil baju kerja untuk esok hari. Setelah selesai, kedua nya lalu melanjutkan perjalanan kerumah Rei.


Ditempat lain Rio juga sudah sampai dirumah mertuanya, dan sepertinya akan segera menjadi mantan mertuanya.


"Assalamualaikum" Rio mengetuk pintu, agak lama baru ada sahutan dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam, den Rio. Mau ketemu Bapak sama Ibu ya den" jawab bibi, mempersilahkan Rio masuk dan duduk. Setengah memanggil kedua majikannya, bibi lalu ke dapur membuatkan minuman.


"Rio, ada apa nak. Malam-malam kesini" ucap Papa Maya. Diikuti oleh istrinya, Rio lalu mencium tangan orangtua Maya. Ketiganya duduk, hening sesaat sampai bibi datang membawa minuman dan camilan.

__ADS_1


Setelah bibi meninggalkan mereka, ketiganya kembali canggung. Rio menarik napas dalam dan menghembuskan kasar.


"Pa, saya minta maaf sebelumnya. Kedatangan saya kemari ingin mengutarakan isi hati saya. Mungkin papa dan mama sudah tahu, tapi saya tak mau egois memutuskan suatu dengan emosi." Rio menunduk, rasanya berat tapi hari ini harus tuntas agar tak ada salah paham dikemudian hari.


"Pa, ma, Rio tahu banyak sekali kekurangan Rio. Dan mungkin ini kelemahan Rio, maaf jika selama ini Rio belum bisa menjadi calon menantu yang baik buat papa mama."


Mama dan papa Rio saling pandang, hal yang selama ini ditakutkan akan terjadi. Rio sudah mengetahui perselingkuhan Maya, bahkan memergoki mereka. Mereka juga tahu bagaimana sakit hati Rio melihat tunangannya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.


Menyesali tindakan bodoh yang dilakukan anaknya tapi tak mampu memaksa meneruskan hubungan ini.


"Rio, maafkan mama dan papa tidak bisa menjaga Maya, kamu terlalu baik untuk dia. Maafkan kami, maafkan kebodohan Maya." Mama maya terisak, menyesali kebodohan anaknya melepas lelaki sebaik Rio.


"Papa minta maaf, ini diluar kendali kami. Kami tidak tahu Maya akan berbuat seperti ini. Kami sungguh malu"


Rio menghela napas, apapun yang Maya lakukan pasti sudah menjadi tanggung jawab mereka, menghujatpun percuma.


Meskipun dihatinya ada rasa marah, tapi Rio tidak mau menjadi orang yang tidak sopan berkata kasar pada yang lebih tua.


"Sekarang bagaimana hubungan kalian, apakah memilih untuk putus dan mengakhiri hubungan atau tetap meneruskan pertunangan ini."


"Putus atau terus" Rio tertawa dalam hati, biasanya aku sering menyanyikan lagu ini sekarang malah aku mengalami sendiri, begitulah batin Rio.


"Maafkan Rio, maksud kedatangan Rio kesini ingin mengakhiri hubungan pertunangan kami."


"Meskipun kecewa dan marah, tapi tolong maafkan anak kami" mama Maya menangis, tapi tetap tak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula.


"Maaf ma, saya yakin Boy bisa membahagiakan Maya melebihi Rio. Dia mencintai Maya sejak lama, tapi karena kami bertunangan akhirnya dia mengalah. Sekarang saya sudah melepas Maya untuk Boy, semoga mereka bahagia selamanya."


"Saya undur diri dulu, terimakasih" Rio pun melangkah pergi, mama dan papa Maya tak bisa lagi menghalangi. Mereka hanya berdoa semoga Rio tak akan membenci mereka.

__ADS_1


Masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan rumah Maya, Rio merasakan sesak di dada menahan emosi agar tidak salah bicara. Sekarang semuanya sudah berakhir, semoga hubungan nya dengan Maya dan Boy tetap baik, meski sudah tak bisa sebaik dulu.


€€€€


__ADS_2