
Seperti biasa, kegiatan harian Renita tak lepas dari kesibukannya sebagai seorang teller, melayani nasabah sampai jam pulang kerja selesai. Setelah itu akan dilanjutkan dengan rumahan, terkadang rasa jemu menghantui.
Jika ada waktu luang dan teman-temannya ngajak nongkrong, maka Renita akan dengan senang hati bergabung. Seperti malam ini, Arini, Rio, Miko dan beberapa orang teman kerjanya mengajak karaokean. Selain menghilangkan jenuh setelah bekerja seharian selama seminggu, malam ini mereka merayakan ulang tahun salah satu temannya.
Rei dan Arini sudah tiba ditempat karaoke, diikuti oleh Rio dan Miko. Beruntungnya Rei meskipun tinggal di kota besar dan memiliki teman-teman dari banyak kalangan, tak pernah mereka menyentuh minuman keras, mungkin itu menurut pengamatan Rei.
Beberapa dari mereka memang pernah masuk ke diskotek tapi hanya sekedar clubing. Tapi tidak dengan Rei, dia benar-benar anak rumahan. Meskipun sekarang hidupnya bebas tanpa pendamping tapi Rei tidak pernah mau terjebak pergaulan bebas, makanya dia sangat menghindari tempat semacam itu.
Menyanyikan lagu yang dipilih dari layar mulai dari lagu pop, dangdut bahkan tembang lawas mereka nyanyikan. Secara bergiliran mereka menyanyikan lagu pilihannya. Puas bernyanyi, berkaraoke mereka pun kembali pulang. Beberapa memang masih ada yang melanjutkan acara nongkrongnya ditempat lain.
"Rei, pulang yuk. Aku sudah ngantuk." ajak Arini, Rei pun setuju. Masih terlalu sore sih tapi jika harus mengendarai mobil sendirian, Rei tidak mau ambil resiko dijalan.
Rio yang mendengar mereka akan pulang lalu mengikuti, memastikan Rei masuk ke dalam mobilnya dan melaju. Sedangkan Arini yang rumahnya searah dengan Rio, akhirnya ikutan masuk kedalam mobilnya.
"Kita antar Rei dulu ya, aku ga tenang kalau dia sendirian." seru Rio pada Arini.
"Iya, boleh. Tadi mau dijemput ga mau sih, maksa bawa mobil sendiri."
"Ya gapapa, mungkin dia ga enak kalau minta jemput karena memang kita ga searah."
"Iya juga"
Mengikuti mobil Rei yang melaju membelah jalanan, sampai disebuah ruko Rei membelokkan mobilnya menuju minimarket yang buka 24 jam.
Tin tin
Rei memelankan laju mobilnya dan membuka kaca mobilnya, Rio pun mengikuti.
"Kalian pulang duluan aja gapapa, aku masih mau beli camilan dulu." ujar Rei saat melihat Arini membuka kaca mobilnya.
"Beneran gapapa?" Arini memastikan.
"Iya, lagian udah dekat juga. Kalian hati-hati ya."
"Kamu juga hati-hati, jangan mampir sana sini langsung pulang, anak perawan ga baik pulang malam." canda Arini
"Yei, kamu tuh yang anak perawan, minta dihalalin." Balas Rei. Kedua nya tertawa. Setelah mobil Rio menghilang dari pandangannya, Rei lalu masuk ke minimarket tersebut.
Belanja beberapa kebutuhan bulanannya, sekaligus mengambil aneka camilan buat teman begadang baca novel, Rei juga mengambil minuman soda kesukaannya.
Tiba-tiba dari belakangnya,
"Minuman soda tidak baik jika dikonsumsi jangka panjang apalagi oleh wanita cantik seperti kamu."
Rei menoleh, suara ini mengingatkannya pada kejadian di tempat dia beli martabak.
"Kamu?" tanya Rei kaget.
__ADS_1
Pemilik suara berat itu hanya tersenyum. Ah... senyuman itu membuat Rei pipi Rei merona.
Rei melamun membayangkan senyuman itu.
"Hai nona... apa aku begitu tampan sampai kamu tidak mau berkedip melihatku?" goda Ardan. Dia melambaikan tangannya di depan Rei.
"eh.. geer banget sih" Rei berlalu menghilangkan rasa gugupnya. Ardan hanya tertawa, dia menangkap kecanggungan Rei.
"Hampir saja ketahuan." batin nya.
Berniat membayar belanjaannya tapi kemudian Ardan sudah lebih dulu mengeluarkan kartu debitnya.
"Mbak, hitung semua belanjaan nona ini dan tambah ini ya." ucapnya sambil menyerahkan minuman dingin yang sempat diteguknya.
Lagi-lagi Rei tidak bisa menolaknya, terus terang Rei bukan tipe wanita yang gampang disogok dengan traktiran. Tapi protes juga percuma.
"Terimakasih, sudah dua kali anda bayarin saya. Saya jadi berhutang, kalau sampai tiga kali bisa dapat doorprice saya." canda Rei.
Ardan tahu untuk menarik perhatian seorang Rei tidak mudah tapi rasa penasaran tentang pribadi Rei membuatnya semangat.
"Aku yakin kamu adalah jawaban dari doaku. Aku akan buktikan bahwa aku sudah bisa move on dari mantanku. Dan aku akan buat kamu juga melupakan mantanmu." batin Ardan.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Rei ditoko buku dan kembali melihat Rei bersama calon adik iparnya, membuat Ardan makin menyukai Rei. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
"Mas... halo, kok malah bengong sih" gumam Rei.
"Hah... mati dong kalo aku bidadari. Ih amit-amit, aku masih pengin nikah dan punya anak, masak disumpahi mati." Rei menyembikkan bibirnya.
"Yah salah lagi" Ardan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Pokoknya saya akan mengganti hutang saya sama mas, titik dan ga boleh nolak"
"Boleh, tapi ada syaratnya"
"Malah pake syarat segala sih, kayak mau ngajuin pinjaman aja" seloroh Rei, dan mereka pun tertawa.
"Bisa dibilang begitu, dan tidak boleh nolak"
"Tuh kan, kena lagi aku."
Sambil melangkah menuju parkiran mereka berbincang.
"Ya sudah, syaratnya apa. Biar ga kelamaan, udah malam saya juga sudah ngantuk."
"Sini hape mu"
Rei memberikan hape nya, entah apa yang akan dilakukan pria itu. Rei hanya pasrah, bakalan lama jika harus menolaknya.
__ADS_1
"Nah, sudah. Sekarang kita coba panggil"
Terdengar nada dering khusus dari penggalan lagu Right Here Waiting For You nya Richard Marx. Rei melihat hapenya, ada nomer baru.
"My future husband, hah gila ini orang maksa banget ya." Rei menggeleng kepala, tak percaya.
"Kenapa, kamu tidak suka nama kontakku?" kata Ardan.
"Bu bukan, tapi kita kan baru kenal masa sudah ngayal gini."
"Ini bukan khayalan tapi doa." Ardan mengusap kepala Rei.
Rei benar-benar tak habis pikir, sejak Angon meninggal baru sekarang ada laki-laki yang memperlakukan dia seperti ini. Rei terhanyut akan sikapnya tapi tak mau terlalu berharap.
"Ayok pulang" Ajak Ardan menggenggam tangan Rei dan menuntunnya masuk ke mobil nya.
"Loh kamu kok naik mobil aku, bukannya tadi kamu bawa mobil sendiri ya?"
"Yup, aku antar kamu pulang. Ini sudah malam, ga baik seorang wanita keluyuran jam segini, bisa-bisa diculik orang."
"Pede kali ya mas ini, paling juga yang nyulik kamu." Rei tampak cemberut.
"Dengan senang hati, aku akan culik kamu dan aku bawa ke KUA" seringai Ardan.
"Kamu..., udah ah ayo pulang. Capek aku ladenin kamu, bisa-bisa lapar lagi."
"Kalau gitu ayo kita makan dulu, sekalian temani aku makan malam."
"Kamu belum makan? jam berapa ini, emang ga sakit perut?"
"Sudah makan sebenarnya, tapi karena tadi kamu bilang lapar lagi ya aku makan lagi aja."
"Hah... udah ah, ayo pulang. Eh tapi mobil kamu gimana?" tanya Rei
"Tenang aja, nanti ada asistenku yang ambil."
Mobil pun melaju meninggalkan ruko tersebut, menuju rumah Rei. Tak lama kemudian mobil lain menyusul dibelakangnya, dan ikut berhenti di depan rumah Rei.
"Terimakasih atas belanjanya, sudah disupiri pula, mau mampir?" tanya Rei memecah keheningan.
"Aku sih mau aja, tapi takutnya digerebek karena sudah lewat jam malam. Bisa dinikahin paksa nanti." Ardan cengengesan.
"Itu sih mau kamu. Sekali lagi terimakasih ya."
"Sama-sama, My future wife" Ardan kembali membuat Rei tak berkutik.
Mereka pun berpisah, mungkin jika boleh meminta Ardan tak mau cepat sampai tapi dia ingin memberikan kesan pertama yang baik pada Rei.
__ADS_1
€€€€