
Rei dan Ardan dan sang mama sudah tiba dirumah sakit, mereka sudah tidak sabar ingin mengetahui kejelasan tentang kehamilan Rei.
Ardan sudah lebih dulu mendaftarkan Rei jadi begitu sampai mereka bisa langsung duduk di bangku antrean sambil menunggu giliran.
Meskipun mereka sebenarnya bisa saja langsung masuk menggunakan koneksi nya tapi mereka tidak melakukan nya.
Terlalu berlebihan, dan boros. Mereka ingin seperti yang lain, ikutan antre dan tertib. Itu lebih menyenangkan meski sedikit melelahkan.
Mama dan Rei masih setia duduk dikursi tunggu, sedangkan Ardan pergi entah kenapa. Tadi pamitnya ingin ke toilet, tapi belum kembali juga.
Kini giliran Rei dipanggil, Mama dan Rei tetap tak menemukan Ardan disana. Akhirnya mereka pun masuk ke ruang periksa.
Dokter mulai memeriksa Rei, semuanya normal. Dokter menanyakan apakah Rei sering mual atau muntah, Rei lalu menceritakan. Menurut dokter itu biasa terjadi di trisemester pertama kehamilan.
Selama tidak ada gangguan, Rei masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa, hanya saja Rei harus mengurangi kegiatan yang berat dan kecapekan.
Karena usia kandungannya masih empat minggu, Rei juga disarankan untuk banyak makan buah dan sayur dan mengurangi makanan pedas.
Dokter juga memeriksa kandungan Rei dengan USG, Rei dan mama antusias sekali. Mereka sudah tidak sabar melihatnya.
Dokter mengoleskan gel keatas perut Rei dan menggerakkan alatnya berupa transducer, di monitor tampak ada bulatan kecil seperti biji kacang yang menurut dokter itu adalah calon bayi mereka.
Rei menitikkan air mata melihat ada kehidupan baru dalam perutnya, mama yang mendampingi Rei ikut menangis juga.
"Welcome baby utun, mama akan menjagamu." batin Rei, dia tak dapat menyembunyikan kebahagiaan nya.
Tangis haru dan bahagia, karena sebentar lagi akan ada penerus keluarga nya. Tapi mama masih kesal karena Ardan putranya belum kembali bahkan disaat pemeriksaan pertama kehamilan istrinya.
ceklek
Pintu tiba-tiba terbuka, semua dalam ruangan menoleh kesana. Ardan tampak ngos-ngosan dia masih mengatur napasnya.
"Maaf" ucapnya tak lama kemudian.
__ADS_1
Rei hanya diam, dia kecewa karena suaminya tidak mendampingi. Sebisa mungkin Rei menyembunyikan rasa kecewa nya pada sang suami karena disana ada dokter dan juga mama mertuanya.
"Itu bayi kita?" tanya Ardan saat melihat layar monitor dimana masih menampilkan perut istrinya.
"Iya, kamu sih pergi ga bilang mau kemana pak acara lama lagi." mama yang sedari tadi menahan kesal akhirnya meluap juga.
Rei pun tampak berkaca-kaca, dia masih kesal tapi melihat suaminya meneteskan air mata, Rei pun tak bisa menyalahkannya.
Akhir-akhir ini memang emosinya sedang labil, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba dia marah, atau menangis.
Saat tadi dokter mengatakan bahwa itu bisa saja bawaan jabang bayi, Rei hanya mengangguk.
Dokter juga menyarankan agar Rei harus lebih sering menjaga emosi agar bayi dalam kandungan sehat.
Menurut dokter ibu yang bahagia, akan mempengaruhi kondisi psikologis bayi karena hubungan batin ibu dan bayi yang begitu dekat.
Setelah pemeriksaan dengan USG selesai, perawat membantu membersihkan sisa gel di perut Rei.
Dokter menuliskan resep bagi ibu hamil, berupa vitamin penguat kandungan dan juga penguat tulang.
Ardan mengangguk, dia akan mengikuti saran dokter agar selalu menjaga mood ibu hamil tetap bagus agar tumbuh kembang janin dalam kandungan sehat.
Mereka kemudian pamit, dan keluar ruang periksa dokter obgyn menuju apotek di rumah sakit itu.
Di lorong menuju apotek, Ardan bertemu dengan seseorang yang tak lain adalah pegawainya, teman korban. Orang itu juga menyalami Rei dan mamanya, kemudian pamit untuk melihat keadaan temannya.
Akhirnya Ardan menceritakan kenapa tadi dia sangat lama, dan kembali dalam keadaan ngos-ngosan.
Saat Ardan dikamar mandi, ada telepon masuk mengabari berita kecelakaan seorang pegawai kafenya. Tapi Ardan tidak mendengar karena HandPhone nya dalam keadaan silent.
Begitu keluar dari toilet dia membaca pesan yang terkirim tentang kecelakaan itu, Ardan lalu menuju ruang IGD karena letaknya satu lorong dengan toilet tadi.
Dan setelah melihat kondisi korban, Ardan kembali ke ruangan dokter obgyn mencari istri dan mamanya.
__ADS_1
Setelah dari apotek menebus obat untuk istrinya, Ardan mengajak mama dan juga istrinya melihat kondisi korban kecelakaan yang tak lain adalah pegawainya.
Rei dan mama yang sempat marah pada Ardan akhirnya mau, mereka lalu mengikuti Ardan menuju IGD tempat pegawainya dirawat sementara.
Sesampainya di ruang IGD, korban masih ditangani oleh petugas medis, keluarga korban dan teman-teman nya datang memberikan dukungan moral.
Tak lama dokter dan seorang perawat keluar mereka langsung diserbu pertanyaan dari pihak keluarga.
Dokter lalu menjelaskan keadaan korban, beberapa luka cukup serius berhasil ditangani, kaki korban sedikit retak karena benturan yang cukup keras, untungnya korban menggunakan helm jadi tidak terjadi pendarahan di kepala.
Sambil menunggu kamar inap, korban sementara berada diruang IGD sampai kondisinya stabil.
Salah satu teman korban yang tadi menyalami Ardan dan Rei menceritakan kronologi kecelakaan.
Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya yaitu kafe milik Ardan, dengan menggunakan motor milik korban.
Ketika akan berbelok ke arah kiri tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju kencang dan berbelok tanpa memperhatikan rambu lalu lintas.
Rupanya dia mengejar lampu hijau yang sudah hampir habis. Dan karena terburu-buru dia tidak memperhatikan disekitarnya. Akhirnya menabrak motor yang mereka kendarai.
Mereka berdua terpelanting ke kiri dan mengenai trotoar, sedangkan penabrak terpelanting ke kanan. Beruntung saat itu tidak ada kendaraan lain yang lewat sehingga si penabrak aman meski darah mulai mengucur dari hidungnya.
Dia langsung dibantu warga yang melihat kejadian dan segera menelepon ambulan. Sedangkan pegawai Ardan hanya mengalami luka ringan, tapi sayangnya karena kerasnya benturan korban yang saat itu posisi di belakang terjatuh cukup jauh dari motornya dan mengenai trotoar. Sedangkan yang didepan hanya luka ringan.
Ardan memberikan sedikit santuan kepada korban untuk membantu biaya pengobatannya. Ardan dan keluarga nya lalu berpamitan karena melihat Rei sudah tampak lelah.
Ardan lalu melajukan mobilnya kerumah pribadinya, karena Rei minta pulang kerumahnya. Mama Ardan mengangguk setuju, dan menelpon papa untuk menjemput kesana.
Sesampainya dirumah, Ardan lalu menelpon pegawai restorannya untuk mengirimkan beberapa menu karena mama melarang Rei masak untuk sementara ini.
Ardan menuruti ucapan mamanya, Rei yang awalnya menolak langsung kena skak dari mama, yang mengingatkan pesan dari dokter tadi.
Rei pun manut karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon bayinya. Ardan langsung memasukkan mobilnya ke garasi. Karena mama melarangnya pergi dan menemani istrinya saja dirumah.
__ADS_1
Ardan lalu mengantarkan Rei ke kamar tamu dilantai bawah, mama melarang Rei naik turun tangga mulai saat ini.
Mau tidak mau Rei menuruti perintah mama mertuanya, dia juga tidak masalah tidur dimana saja.