
Pesta pernikahan sekaligus reuni sudah usai, Rei dan Ardan sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah orang tua Ardan.
Karena memang mereka pulang sedikit terlambat, jalanan malam itu sudah lengang hanya beberapa kendaraan yang masih melintas.
Rei termenung melihat kearah luar, bukan pemandangan diluar yang membuatnya tertarik. Pikirannya masih tertinggal diantara obrolan mereka tadi.
Sudah hampir enam bulan Rei menjalani pernikahannya, tapi dia tidak sekalipun menunjukkan tanda-tanda berisi.
Hanya memang badannya lebih gemuk sekarang, Rei beranggapan mungkin karena dia sudah tidak lagi bekerja dan hanya dirumah saja.
Sudah tidak perlu memikirkan laporan lagi, mengerjakan laporan hingga tengah malam dan mengoreksinya sebelum diberikan pada pimpinan.
Atau karena dia lebih enjoy menikmati hidupnya saat ini, makanya badan nya lebih berisi. Rei ingin badannya berisi dalam tanda kutip mengandung, bukan hanya berisi karena berat badannya naik.
Tapi kembali lagi ke obrolan tadi, kita memang wajib berusaha, jangan lupa berdoa tak lupa tawakkal.
Jika semua usaha dan doa sudah maksimal tapi belum juga ada tanda-tanda, itu artinya kita harus bersabar. Karena yang menentukan semuanya adalah ALLAH.
Rei menghembuskan napasnya, disudut matanya cairan bening jatuh tanpa disuruh. Tak ingin suaminya curiga, Rei buru-buru menghapusnya.
Ardan melihatnya, melihat Rei mengusap sudut matanya. Pandangannya teralihkan sejenak, dia tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya.
Ardan mengambil tangan Rei dan menggenggamnya erat, satu tangan lainnya masih diatas setir.
Ardan mengangkat tangannya dan mencium punggung tangan istrinya, Rei menoleh mencoba tersenyum.
Seakan tahu isi hatinya saat ini, suaminya tak mengeluarkan kalimat apapun, dia hanya tersenyum.
Senyum yang menawan dan membuat Rei tenang. Rei tahu, bukan hanya dia yang menginginkan kehadiran seorang anak diantara mereka, tapi suaminya juga.
"I love you" ucap Rei pada suaminya.
"I love you too" Ardan kembali menciumi tangan istrinya.
Sampailah mereka ke kediaman Prasetya. Rei turun lebih dulu dan membuka pagar agar suaminya bisa masuk.
Setelah mengunci pagar, Rei menyusul suaminya dan menunggu diteras depan. Keduanya lalu masuk.
Mereka sengaja tidak membangunkan bibi karena sudah malam, pasangan suami istri itu langsung menuju kamar mereka.
Setelah membersihkan tubuh, mereka pun beristirahat. Ardan memeluk istrinya, malam ini dia tidak ingin mengganggu istrinya dulu.
__ADS_1
Ardan ingin suasana hati istrinya membaik, agar mereka bisa menikmati hubungan intim mereka bersama.
Jika Ardan memaksa melakukannya malam ini dipastikan cuma dirinya yang menikmati, tapi istrinya tidak. Dan itu akan mempengaruhi kualitas sel telurnya.
Karena menurut artikel yang dia baca, pasangan suami istri harus saling memberi dan menerima, saling menikmati hubungan mereka agar bisa segera membuahkan hasil.
"Sesuatu yang baik, berawal dari niat baik." ucap Ardan.
Mengelus kepala istrinya dan mengecup keningnya. Rei memejamkan matanya mendapat perlakuan manis itu.
Kepalanya mendongak, mencoba mengerti arti ucapan suaminya. Menatap bola mata hitam tajam yang membuatnya jatuh hati.
Tatapan mereka bertemu, tak ada jawaban yang Rei tangkap. Tapi melihat bibir suaminya tersenyum, Rei pun mengangguk.
"Jangan memikirkan apa yang berada diluar nalar kita, ingatlah bahwa sesuatu itu baik atau tidak bukan kita yang tentukan tapi ALLAH"
"Jika baik untuk kita, maka ALLAH akan berikan pada saat yang tepat, jika tidak berarti kita harus bersabar menghadapinya."
Ardan memeluk istrinya, mendekap erat dan memberinya kehangatan. Dia ingin istrinya tidak merasa sendirian.
"Tidurlah, aku akan memelukmu."
Ardan mencium pucuk kepala istrinya, Rei mendongak dan mendaratkan kecupan di bibir suaminya. Ardan membalasnya, tak ada nafsu hanya kecupan pengantar tidur.
###
Pagi ini sesuai jadwal Rei ingin memeriksakan keadaannya ke salah satu dokter kandungan terbaik dikotanya.
Rei sengaja tidak memberitahukan hal itu pada suaminya, dia tidak ingin Ardan kuatir. Rei ingin memastikan rahimnya sehat, agar siap menerima benih dari suaminya.
Setelah Ardan pergi ke kantor, Rei lalu berpamitan pada bibi. Rei mengatakan ingin pergi jalan-jalan sebentar agar bibi tidak curiga.
Semenjak menikah Rei memang membatasi kegiatannya, dia jarang sekali keluar rumah. Rei hanya keluar jika Ardan yang mengajaknya, atau mama mertua dan adik iparnya menjemput.
Rei juga jarang kerumah orangtuanya karena mama dan papanya lebih sering berada dirumah kak Dani menemani kedua cucunya.
Kak Heru sekarang semakin sibuk dengan pekerjaannya, tak jarang dia akan berada di luar kota selama beberapa hari.
Kak Dani pun sering mengikuti suaminya jika ada pekerjaan diluar kota dalam waktu lama. Sedangkan kedua putri mereka tak mau lepas dari kakek neneknya.
Rei melajukan mobilnya sendiri ke klinik tempat dokter itu praktek. Jaraknya tak jauh dari rumah peninggalan almarhum, artinya dekat dengan rumah baru mereka yang hanya beberapa blok saja.
__ADS_1
Rei sudah sampai ke tempat praktek, karena sudah mendaftar lebih dulu jadi Rei tidak perlu menunggu lama.
Rei masuk ke ruang praktek dokter kandungan itu setelah namanya dipanggil oleh suster. Rei terlihat gugup, tangannya basah oleh keringat.
"Silahkan duduk" dokter wanita ini tersenyum, usianya hanya selisih berapa tahun dengan Rei.
"Ada keluhan apa nyonya...oh anda istri tuan Ardan Prasetya." ucap dokter muda itu.
Rei tersenyum dan mengangguk, menyalami uluran tangan dari dokter.
"Anda kenal dengan suami saya dok?" tanya Rei kemudian.
"Ya, dia sahabat saya dulu saat disekolah dasar, tapi kemudian saya pindah ikut orang tua dinas di luar kota sejak SMP, dan baru kembali ke kota ini sejak ayah pensiun." jawab dokter Clarissa.
"Apa kabarnya, sudah lama tidak mendengar kabarnya." ucapnya lagi.
"Alhamdulillah baik dok." Rei tersenyum.
Jujur saja Rei merasakan sedikit cemburu ketika ada wanita lain menyebut suaminya. Meski hanya menanyakan kabarnya saja.
"Kita periksa dulu yuk, silahkan berbaring"
Dokter Clarissa mengangkat sedikit bajunya, dan mengoleskan gel di atas perutnya. Kemudian dokter melakukan USG.
Dari layar terlihat keadaan rahim Rei, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Dokter juga menjelaskan bahwa rahim Rei sudah siap dibuahi.
Hanya saja Rei harus menjaga pola makannya, dengan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat seperti buah dan sayur.
Saat dokter menanyakan tentang hubungan intim Rei tampak malu-malu. Dokter paham, lalu menyarankan Rei untuk melakukannya disaat masa subur jika ingin cepat mendapatkan keturunan.
Dokter juga menyarankan agar Rei mau pun suami tidak boleh terlalu capek, agar mendapatkan kualitas ****** dan sel telur yang bagus.
Satu lagi, tidak boleh terlalu sering melakukannya agar bisa membuahi dengan baik. Rei mengangguk setuju, apalagi mengingat suaminya tidak akan cukup melakukan hal itu sekali saja.
Dokter tersenyum, dia menganggap wajar karena Rei dan Ardan baru beberapa bulan menikah, masih hot-hot nya dalam urusan ranjang.
Dokter juga menuliskan resep berisi vitamin penyubur kandungan, seorang perawat membantu Rei membersihkan gel yang dioleskan tadi.
Setelah berpamitan, Rei meninggalkan ruang praktek dokter dengan keyakinan bahwa dia dan suami, akan segera memiliki anak.
Rei sudah tidak sabar menantinya.
__ADS_1
###