
Semua orang dalam kamar rawat Rei tercengang mendengar penuturan Ardan mengenai kondisi Rei dan juga bayi mereka.
Bukan hanya mama yang menangis tapi juga Rei. Perempuan ini sudah sadar dari beberapa saat lalu setelah Ardan dan papanya masuk.
Rei mengerjapkan matanya, mencoba mencari kesadarannya, tapi karena tak ada satupun yang menemaninya jadi tidak ada yang tahu jika Rei sudah sadar.
Semua orang berkumpul disofa panjang disisi lain kamar. Pelan pelan Rei mendengar isi percakapan mereka.
Mendengar isak tangis dari kedua mamanya dan juga saudaranya, serta suaminya. Rei baru tahu jika Ardan suaminya itu menangis. Ya, karena selama ini Ardan tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapapun, termasuk dirinya.
Ardan bukan tipe pria yang mudah menunjukkan ekspresi sedih dengan menangis apalagi didepan orang banyak.
Samar samar terdengar mereka berbicara.
"Ma, maafin Ardan yang tidak becus menjaga Rei. Ardan salah, maafin Ardan...hiks hiks"
Suara Ardan melemah, tangisnya tak lagi bisa dibendung. Sedih, kecewa dan marah pada dirinya sendiri karena bisa lalai menjaga istrinya.
"Nak, itu bukan salahmu. Bukan salah siapa siapa, ini semua takdir. Berhentilah menyalahkan dirimu."
Mama Tami berkata, mencoba menenangkan putranya. Dia sangat tahu bagaimana putranya, kesedihan yang dialami oleh Ardan turut dia rasakan. Air matanya jatuh seiring ucapannya.
Mama Tami memeluk putranya dan mengelus bahunya, masih mencoba menenangkan dan membiarkan Ardan mengeluarkan isi hati nya.
"Ardan gagal menjadi suami yang siaga ma, Ardan bahkan tidak tahu jika Rei sakit." Ucapnya lirih, dia menyesal karena terlambat mengetahui gejala sakit istrinya.
"Nak Ardan, dengarkan mama. Semua yang terjadi sudah takdir dari ALLAH. Jangan pernah menyalahkan dirimu, dan percayalah akan ada hikmahnya. Sabar ya."
Mama Amel ibunda Rei buka suara, perempuan paruh baya tersebut sedari awal sudah merasakan gelisah memikirkan Rei dan tidak menyangka jika putrinya harus mengalami hal ini.
"Sekarang kita pikirkan bagaimana baiknya, tidak mungkin kita akan menyembunyikan ini terus. Dan kita harus cepat karena ini menyangkut masalah nyawa."
Papa Hadi ikut berbicara. Beliau dan istri datang tepat disaat dokter meninggalkan Ardan selepas pembicaraan mereka.
"Ardan bingung, dan tidak siap menjawab pertanyaan Rei jika dia bangun dan bertanya tentang bayi kami." Ardan
"Dan, dengarkan papa. Dokter sudah memberi tahu bagaimana kondisi istrimu dan calon bayi kalian.
__ADS_1
Jika memang janin itu tidak bisa tumbuh karena pengaruh obat, maka lepaskan dia. Ikhlaskan.
Mungkin Rei akan marah, tapi jika dipertahankan hanya akan membuat kesedihan apalagi dokter mengatakan berpengaruh pada kesehatan Rei, lebih baik relakan dia.
Belum rezeki kalian memberikan kami cucu, jangan sedih mungkin belum saatnya. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Rei.
Dukung dia, temani dia agar tetap kuat menjalani harinya."
Papa pras menyemangati putranya. Dia tidak ingin Ardan terpukul hingga tak bisa memberikan semangat untuk istrinya.
Mereka masih terus memberikan semangat pada Ardan, hingga tak menyadari jika ada seseorang yang juga butuh semangat.
Seorang calon ibu yang harus merelakan bayi yang dikandungnya, hati ibu mana yang tega melepas bayi tak berdosa itu.
Air matanya jatuh, dia menangis dalam diam. Tanpa suara karena tidak ingin orang lain melihatnya, iba padanya.
Tangannya terulur meraba perutnya yang masih buncit, berkata dalam hati mengajak bayinya berbicara.
"Maafkan mami sayang, maafkan mami karena menyebabkan kamu seperti ini. Mami sayang dedek, mami ingin kita bersama tapi Tuhan berkata lain.
Jangan benci mami, jangan benci daddy, kami semua sayang dedek."
Bantal yang Rei pakai sudah basah dengan air matanya, dan Rei kembali memejamkan matanya. Kepalanya tiba tiba pusing, dan dadanya terasa sesak. Hingga tak sadarkan diri.
Tak lama setelah mereka semua sepakat untuk melepaskan calon bayi malang tersebut, Ardan duduk mendekat disamping istrinya.
Tangannya terulur mengambil tangan kanan istrinya yang masih memakai selang berisi cairan darah.
Ardan kembali menangis, diangkatnya tangan Rei, dia cium dan letakkan dipipinya. Ardan tak tahu harus memulai dari mana.
Dokter mengatakan meskipun orang sakit itu tidak sadar, tapi dia masih bisa mendengar maka ajaklah dia bicara, karena dengan begitu bisa membangkitkan semangatnya.
"Maafkan aku... maafkan aku, aku lalai menjagamu, aku bukan suami yang baik hingga menyebabkan kamu dan bayi kita seperti ini.
Salahkan aku yang terlalu egois, karena menginginkanmu hidup tapi tidak dengan bayi kita.
Maafkan daddy sayang, semoga nanti kita bisa berkumpul kembali di surgaNya. Sekali lagi maafkan daddy."
__ADS_1
Ardan kembali menangis sambil mengelus perut istrinya, Ardan memberikan ciuman bertubi tubi di perut buncit istrinya, berharap bayi mereka mendengar dan meresponnya seperti biasa.
Tapi tidak ada respon, tidak ada tendangan seperti biasa, Ardan kembali terisak.
"Maafkan daddy, kami ikhlas melepasmu. Tunggu mami, daddy disana. Kami semua sayang dedek."
Ardan mendudukkan dirinya kembali, air matanya masih terus jatuh, tanpa sadar tangannya terulur mengelus pipi istrinya, menghapus air mata yang jatuh di sudut mata Rei.
Ardan semakin merasa bersalah, tapi dia harus kuat, harus tegar agar bisa terus menyemangati istrinya. Meski sakit hati dia rasakan, mengingat jika istrinya tahu bayi mereka diambil secara paksa.
Ruangan itu kembali hening, semua orang disana seperti dikomando, mereka mendekat kearah ranjang pasien.
Mulai dari mama Amel yang datang mencium pucuk kepala putrinya, mengelus perutnya dan mencium perut buncit itu.
Lalu dilanjutkan oleh mama dan papa Ardan, mama dan papa Hadi, kak Dani dan Dina serta suami mereka yang ikut mengelus perut Rei.
Mungkin ini terlihat risih, tapi mereka seolah menyampaikan salam perpisahan bagi bayi yang belum sempat melihat dunia itu.
Tangis kembali pecah, mereka tidak tega melihat putri dan saudara mereka terbaring lemah dan harus berpisah untuk selamanya dengan calon buah hati mereka.
Beberapa jam kemudian dokter dan perawat kembali melakukan visit, dan Ardan dengan menarik napas panjang akhirnya memutuskan untuk memilih mempertahankan Rei istrinya.
Karena seperti kata papanya, jika anakmu meninggal, kalian masih bisa memilikinya lagi, tapi jika istrimu yang meninggal maka tidak ada harapan untuk memiliki anak. Kecuali menikah lagi dengan orang lain.
Tidak, Ardan tidak mau seperti itu. Dia sudah terlalu mencintai istrinya, Rei. Baginya Rei adalah segalanya.
Jangankan untuk jatuh cinta lagi, melirik wanita lain saja dia tak mau. Baginya Rei sudah sempurna sebagai seorang wanita.
Cantik, pintar, supel dan kaya hati, dia tidak segan membantu siapa saja yang membutuhkan tanpa memandang status.
Bukan tipe wanita yang gengsian, dan hanya mementingkan penampilan. Bahkan wanita yang cuek dan bisa diajak ke segala suasana.
###
Ramadhan akan segera pergi, maaf lahir batin buat semua. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan penuh berkah ini diterima, Aamiin.
Jangan lupa dukung otor terus ya, liku komen dan vote. Terima kasih
__ADS_1