Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
27. Menuju hari H


__ADS_3

Setelah acara fitting baju, semua saudara papa dan mama Ardan pulang ke rumah masing-masing. Dan mereka akan kembali kesini nanti saat pengajian dan siraman.


Dan minggu tenang menuju hari H diisi dengan menyebarkan undangan ke beberapa kolega, sahabat dan saudara jauh dari kedua keluarga. Meskipun minta yang sederhana, tapi tetap masih tergolong mewah untuk kalangan menengah.


Ya, keluarga Ardan memang meminta pihak WO untuk memenuhi keinginan putri bungsu mereka. Dina hanya meminta konsep pernikahan sederhana tapi elegan. Dengan konsep garden party, Dina juga mengundang anak yatim dan menggelar pengajian dirumah.


Beberapa hari tanpa kehadiran tante Neno membuat suasana dirumah sedikit lega, karena tidak ada yang mengatur mereka sesuka hati. Semua berjalan sesuai alurnya, tak ada perdebatan panjang karena mereka sudah memasrahkan semuanya pada pihak WO.


Rei dan Ardan juga sudah kembali ke kegiatan mereka, kesibukan pekerjaan yang sudah menanti untuk segera diselesaikan. Jam kerja yang super sibuk harus mereka jalani kembali.


Kembali melayani nasabah dengan ramah dan tentu saja harus selalu tersenyum. Apapun masalahmu, jangan pernah tunjukkan pada orang lain apalagi dia adalah nasabahmu. Itu yang selalu Rei ingat.


"Selamat siang bapak, bisa dibantu?" sapa Rei pada nasabahnya.


"Siang mbak, iya sama mau tarik tunai." jawab nasabahnya, lelaki paruh baya ini tersenyum.


"Oke, silahkan ditunggu sebentar. Saya proses lebih dulu." Rei menangani dengan sigap.


"Nah, silahkan bapak uangnya 10 juta ya, bisa dicek." Meletakkan bendelan uang pecahan ratusan ribu pada money counter atau yang kita kenal dengan mesin penghitung uang.


Setelah menghitung semua uang yang ditarik dan menjelaskan sisa saldo pada nasabah itu, Rei kembali bertanya.


"Ada yang bisa saya bantu lagi bapak?"


"Tidak ada, terimakasih. Eh iya lupa, mbak sudah menikah? kalau belum saya jodohkan sama anak saya ya." ucap pria paruh baya itu.


Rei hanya tersenyum menanggapinya, karena urusan pribadi tidak boleh dicampur aduk dengan pekerjaan.


"Tidak bapak, saya belum menikah tapi secepatnya. Mohon doanya biar segera dilamar" canda Rei menanggapi pertanyaan nasabahnya.


"Wah, sudah punya pasangan ya. Saya kira masih jomblo, saya mau kenalin sama anak saya." lagi-lagi nasabahnya memaksa. Untungnya Kasir disebelah Rei ikut mendengar jadi bantu Rei menjawab.


"Wah, dia mah sudah ada yang punya pak. Bos restoran dan supermarket. Berat saingannya pak." celetuk teman Rei sambil menyelesaikan tugasnya.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya permisi." lirihnya, melangkah gontai meninggalkan area teller dan keluar gedung.

__ADS_1


Rei dan temannya tersenyum, mereka saling pandang dan akhirnya tertawa melihat ekspresi nasabah tadi.


"huh... hampir saja. Den, makasih ya sudah dibantuin. Kalau ga, ga tahu deh bisa lama disini kasihan nasabah lainnya." cerocos Rei.


"Kembali kasih, ga usah sungkan. Daripada nanti kita kena SP mending ga usah diladeni. Ga lihat tuh CCTV 24 jam mantengin kita."


Keduanya tertawa, setelah itu Rei dan juga Dena temannya kembali memanggil nomor antrean nasabah lainnya.


€€€€


Jam makan siang hampir lewat, Rei segera menyelesaikan tugasnya dan langsung menuju musholla untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Tak lupa menadahkan kedua tangannya memohon ampunan, meminta keselamatan baginya, kedua orangtua nya dan seluruh keluarga nya. Serta meminta semoga semua urusan nya diberikan kelancaran.


Aamiin, Rei menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mengakhiri doanya. Melipat mukena dan memperbaiki riasannya, Rei lalu melangkah menuju kantin. Cacing di perut nya sedari tadi sudah berdemo.


Memesan menu makan siang dan menunggunya diantar, Rei membuka aplikasi di hapenya.


"Mbak Rei, monggo" seorang pelayan mengantarkan pesanan makanan siangnya. Rei hari ini memang tidak membawa bekal seperti biasanya karena lagi pengin makan soto ayam di kantin kantor.


Dari arah luar sepasang kekasih yang baru jadian mendekati Rei. Mereka tersenyum akhirnya bisa bertemu dengan sahabat nya ini.


"Hai cantik, sendiri aja nih. Mana pangeran nya kok ga nyusul kemari?" Arini mendudukkan bokongnya di kursi di depan Rei, disusul oleh Rio.


"Hei... deh berduaan terus nih, yang lain lewat bang" goda Rei.


"Lah abisnya dirimu sibuk sendiri sama calon ipar. Dan Miko sudah mulai sibuk menyiapkan pernikahannya, apalagi bentar lagi mau cuti." jawab Arini, sambil minum es teh milik Rei.


"Minumku tuh, wah parah ni orang. Yang beli belum minum, udah mau dihabisin."


"Aku belikan lagi deh, kamu mau pesan apa yang?" Miko beranjak.


"Siomay aja yang." Arini menjawab, lalu tersenyum. Rio akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.


"Cie yang sudah yayangan... "goda Rei.

__ADS_1


Arini tersipu malu, akhirnya dia menceritakan semuanya. Rei turut bahagia mendengar cerita sahabatnya itu, airmata nya perlahan menetes. Walau bagaimana pun Arini dan Rio adalah sahabat nya yang selama ini menemaninya saat dia terpuruk akibat kematian suami pertamanya dan perceraian dengan suami keduanya.


Haruskah Rei menceritakan lagi masalahnya yang bahkan ceritanya pun belum dimulai. Untuk sementara ini biarlah mereka bahagia, dan sebentar lagi Miko sahabatnya juga akan menempuh hidup baru.


Rei tak ingin merusak suasana bahagia ini dengan masalah barunya dengan keluarga Ardan. Cukup dia yang tahu, untuk saat ini.


Rio mendekat membawa dua buah gelas es teh untuk Rei dan Arini. Duduk kembali di dekat kekasihnya, tak lama siomay pesanannya datang. Arini menyuapi Rio, dan sesekali memasukkan potongan siomay kedalam mulutnya.


"Deh... sepiring berdua nih ceritanya, yakin kenyang" Rei kembali menggoda mereka.


"Ya kenyanglah kan makan sambil lihatin ayang tercinta." jawab Arini, sambil menatap Rio.


"Gitu ya, tapi kalo masih lapar jangan habisin piringnya ya, hahaha... "Rei kembali berceloteh.


"Sialan, emang kita pemain kuda lumping apa." jawab Rio. Mereka bertiga kembali tertawa. Senang rasanya bisa menikmati masa bersama seperti ini, sayang Miko tidak bisa ikut, dia masih ada beberapa urusan yang harus segera diselesaikan sebelum cuti minggu depan menjelang pernikahannya.


Mereka kembali ke tempat kerjanya masing-masing, menyelesaikan pekerjaannya sampai waktu jam kerja berakhir. Hari yang melelahkan seperti biasa.


Jam kerja pun usai setelah menyelesaikan pekerjaannya, semua karyawan pun tampak berjalan kearah parkiran. Hanya beberapa yang masih bertahan dikantor menyelesaikan laporan.


Rei memencet tombol kunci mobilnya, mengambil sandal di bawah dashboard dan mengganti sepatunya. Kakinya terasa pegal sekali. Dia ingin merelaksasikan tubuhnya dengan aroma terapi, tapi sepertinya lebih butuh pijatan. Karena beberapa hari ini Rei sering mengeluh sakit di pinggangnya.


Membuka kontak hape nya, menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum, ma. Mama masih simpan nomor telepon mak Iyat kan? Tolong hubungi ya ma, Rei pingin pijat pinggang Rei rasanya sakit ini."


"Loh, kenapa baru bilang. Ya udah mama telepon dulu, kamu udah pulang belum sih?" tanya suara diseberang.


"Udah ma, ini diperjalanan. Ya udah ma, sampai ketemu di rumah." ucapnya


"Assalamualaikum" mama mengakhiri panggilan teleponnya.


"Waalaikumsalam" jawab Rei.


Kok malah mamanya yang duluan menutup telepon, harusnya kan Rei. Benar-benar nih si mama, Rei hanya menggeleng kepala nya. Menyalakan mesin mobil dan berlalu menuju rumah orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2