Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
99. Yang datang dan yang pergi


__ADS_3

Sudah tujuh hari papa meninggal, dan hari ini dirumah orang tua akan diadakan tahlil hari ke tujuh.


Ardan dan Rei memilih menemani mama selama tujuh hari ini, Kak Dani dan bang Heru juga sementara ini tinggal disana.


Sedangkan rumah mereka ditempati oleh orangtua bang Heru karena ayah bang Heru harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Agar tidak terlalu jauh, dan juga agar rumah mereka tidak kosong.


Sedangkan rumah Rei dan Ardan sementara dibiarkan kosong, hanya sesekali mama dan papa menginap disana.


Mama sudah mulai merelakan kepergian papa, dan kondisi Rei juga sudah tidak mengkhawatirkan karena Rei sudah bisa makan tanpa harus muntah seperti sebelumnya.


Selepas maghrib acara tahlil dimulai, semua orang khusuk mengaji dan mengikuti dzikir yang dipimpin pak ustadz.


Terkadang apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi bukan berarti kita diam dan pasrah menerimanya.


Harus ada yang dikorbankan untuk mencapai suatu yang kita inginkan. Rei sadar akan itu, selama ini dia tidak pernah terlalu memikirkan tentang hal itu.


Tapi setelah semua yang dia jalani, Rei mulai sadar bahwa hidup akan terus berjalan. Ada yang datang, ada pula yang pergi.


Rei mungkin telah kehilangan orang yang dia sayangi, almarhum suami pertamanya dan juga papanya.


Tapi dia akan segera mendapatkan gantinya, anak yang ada dalam kandungannya. Rei hanya harus fokus menjaga agar kandungannya sehat.


Setelah acara tahlilan usai semua orang juga sudah pulang, satu per satu meninggalkan rumah Rei.


Sepi mulai terasa, kini hanya tinggal mama, Rei dan Ardan, serta kak Dani dan bang Heru. Mereka berada diruang tengah bersama kedua anak kak Dani.


"Ma, mama ikut kita ya. Nanti gantian, seminggu dirumah Rei, seminggu dirumah Dani biar mama ga kesepian ya."


Kak Dani buka suara, sebenarnya ada rasa takut saat mengucapkan hal itu. Takut kalau mama nya menjadi tersinggung setelah mendengarnya.


Rei juga sedikit waswas saat sang kakak mengatakan itu, Rei memperhatikan ekspresi mamanya.


Mama hanya diam, sesekali dia menciumi puncak kepala kedua cucunya. Jujur saja mama tidak akan sanggup jika harus tinggal sendiri disini dengan semua kenangan bersama papa.


Mama hanya berdua bersama bibi, dan tentu saja sepi akan menguasai rumah ini. Mama hanya tersenyum menanggapi ajakan anak sulungnya.


Baginya meninggalkan rumah ini sama saja dia meninggalkan papa, benar papa sudah meninggalkan mereka, tapi papa tidak pergi jauh, dia ada di sekitar kita.

__ADS_1


"Rei, Dani, rumah ini adalah kenangan papa dan mama pertama kali setelah menikah, dan setelah kalian berdua lahir."


"Sudah banyak kenangan indah disini, suka dan duka kita lalui bersama. Dulu kami pernah berjanji untuk sehidup semati. Meski papa telah pergi bukan lantas kita bisa tinggalkan rumah ini."


"Jika papa meninggal dan disemayamkan disini, mama juga sama. Ingin jika suatu saat mama berpulang, disemayamkan dirumah ini."


"Jika setelah mama meninggal, kalian ingin menjual rumah ini, silahkan mama tidak masalah, asalkan kalian berdua tidak melupakan kami."


Mama berucap panjang lebar, dan itu sangat menohok hati kedua putrinya begitu pula dengan kedua menantu nya.


"Mama tidak mungkin meninggalkan papa, dia memang sudah meninggalkan kita tapi dia masih ada disini, dirumah ini dan dihati kalian. Bagaimana mungkin mama tega meninggalkan papa sendiri. Kita hanya berpisah sementara, hanya berpisah dunia."


"Biarlah mama disini, kalian pulanglah kerumah kalian masing-masing."


Mama bersikukuh tidak akan pergi meninggalkan rumah ini, rumah dengan banyak kenangan.


"Tapi masih?" lagi, kak Dani tidak ingin mama terus sedih.


"Dani, semua sudah ada takdirnya mama siap jika sewaktu-waktu dipanggil menyusul papa, apalagi sekarang kedua anak mama sudah memiliki pasangan hidup, mama sudah tidak memiliki beban lagi."


Serasa tidak ada beban dihati mama saat mengucapkan kata - kata itu. Mama tidak ingin anak-anaknya merasa terbebani olehnya.


"Aku tinggal sama nenek aja ya ma, biar rame rumah nenek." ucap putri pertama Dani.


Dani dan Heru suaminya saling pandang, bagaimana bisa anak sekecil ini punya pikiran seperti itu.


Rupanya dia sejak tadi mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Belum juga kedua orangtua nya menjawab, si bungsu juga ikut merengek minta tinggal bersama sang nenek.


Dari kecil mereka berdua memang dekat dengan kakek neneknya, dan mereka juga sering ditinggal oleh kedua orangtua nya jadi tidak ada masalah.


"Boleh ya ma,pa?" kedua bocah itu bersikeras.


Dani dan Heru akhirnya mengiyakan. Karena bagaimana pun mereka akan jadi penghibur bagi sang nenek jika sedang sedih.


"Yeiiii....kita tinggal sama nenek, asiiikk"


Teriak keduanya, anak-anak itu tidak tahu yang sebenarnya terjadi, mereka hanya tahu jika kakek mereka sudah pergi jauh, menuju surga seperti yang dikatakan kedua orangtua nya.

__ADS_1


Satu beban sudah terlewati paling tidak, mama mereka sudah tidak akan kesepian karena ditemani kedua cucunya.


Dimalam terakhir mereka disini, memilih untuk tidur bersama diruang tengah tempat terakhir papa disemayamkan sebelum akhirnya dikuburkan.


###


Keeesokan harinya Rei dan Ardan pamit pada mamanya untuk kembali ke rumah mereka. Ada rasa kangen dengan kasur mereka sendiri.


Mama juga tidak bisa mencegah, toh mereka masih tinggal di satu kota, kapan saja mereka mau bisa main kemari, menemani sang mama.


Rei dan Ardan juga berpamitan pada kakak-kakaknya sebelum Heru berangkat ke kantor tadi.


Rei juga berpesan pada bibi agar mama ditemani, ga boleh bengong biar ga sedih dan nangis terus.


Bibi mengangguk, sebelum pergi mama mengusap perut Rei, mendoakan semoga ibu dan bayi dalam kandungan nya selalu sehat.


Bibi dan kak Dani juga melakukan hal yang sama, mereka tidak ingin membebani Rei dengan pikiran tentang mamanya, karena itu tidak baik bagi kandungannya jika Rei selalu merasa sedih.


Kedua keponakan Rei juga tak mau kalah melakukan apa yang nenek dan mamanya lakukan pada perut tantenya.


Kakak beradik itu juga menciumi perut tantenya saat berpamitan, dan mereka tampak senang ketika janin dalam perut Rei bergerak merespon ucapan dan tindakan mereka.


"Adek kecil, jangan nakal ya. Jangan bikin tante Rei sedih, nangis biar adek kecil cepat gede dan main sama kakak."


Ucapan si bungsu membuat semua orang disana tertegun, mereka tersenyum karena dia sangat menyayangi tante mereka.


Rei dan Ardan bersalaman pada mama, dan kak Dani juga pada bibi. Mereka lalu masuk ke dalam mobilnya untuk pulang ke rumah mereka sendiri.


Di perjalanan Rei lebih banyak diam, dia hanya melihat jalanan dari samping melalui kaca. Tapi air matanya menetes, dia sebenarnya berat meninggalkan sang mama, tapi kewajibannya adalah mengikuti suaminya.


Surga ada pada telapak kaki ibu, tapi seorang wanita yang telah menikah surganya ada pada suaminya.


###


Panaassnya... semoga tetap kuat menjalani puasa ya man-teman.


Happy reading, Jangan lupa like, komen dan vote nya, makasih.

__ADS_1


__ADS_2