Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
41. Omong kosong


__ADS_3

Sejak pergantian pimpinan, Rei memang sering kali bertemu dengan Elang. Entah itu urusan pekerjaan atau kegiatan lain, sama halnya saat ini. Sudah dua bulan Rei harus sering berinteraksi dengan pimpinan barunya itu. Sejujurnya Rei merasa tidak nyaman, bahkan dia lebih memilih pergi daripada harus berhadapan langsung.


Dan selama itu pula Elang selalu mencari kesempatan untuk bisa mendekati Rei, mencoba mengambil perhatian lebih tepatnya. Meski Elang tahu tidak akan mudah mendapatkan hati Rei lagi. Jangan tanyakan tentang Ardan, pria ini memang tampak biasa saat menghadapi Rei, bukan karena dia tak peduli dengan masa lalu Rei. Tapi bukankah lebih baik jika Rei dapat menyelesaikan sendiri masalah pribadinya yang tertunda.


Ardan bukan sok cool dan cuek bebek, tapi lebih menahan egonya. Dia ga mau dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi kekasihnya dengan salah satu mantannya. Dia cemburu, bahkan emosi saat tahu kisah dibalik perhatian pimpinan pada bawahannya yang tak biasa itu. Ardan tahu itu semua, secara tidak langsung dia melihat sendiri bagaimana sikap nya terhadap Rei.


Sampai akhirnya Rei pun mengungkapkan kekesalannya karena harus menerima ajakan makan siang yang penuh paksaan itu. Disitulah Ardan tahu siapa Elang, jiwa lelakinya mengatakan dia akan merebut miliknya. Ya Ardan sudah menandai bahwa Rei adalah wanitanya, miliknya dan dia tak akan pernah mau memberikannya pada laki-laki lain, apalagi dia adalah mantannya.


Jangan tanya tahu dari mana, semua tentang Rei sudah Ardan ketahui. Dan sumber terpercayanya tak lain dan tak bukan adalah adik iparnya sendiri yang notabene kakak angkat Rei. Semua informasi tentang Rei sudah dia kantongi, bahkan daftar cowok yang pernah dekat dengan Rei dan apa latar belakangnya Ardan tahu. Sedetail itukah? tentu saja. Ardan tak mau kecolongan, apalagi berurusan dengan para mantan kekasihnya itu.


Sebenarnya tidak ada yang ingin Rei tutupi tentang masa lalunya, apalagi jika itu menyangkut masalah percintaannya yang tak seindah bayangannya. Tapi Rei butuh waktu untuk menata hati, begitupun saat ini meski terkadang ada rasa bersalah karena harus menutupinya dari Ardan.


Rei berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, karena dia tak mau ada kesalahpahaman pada hubungan mereka. Bohong kalau Rei tidak tahu Ardan cemburu, dia tahu bahkan sangat tahu. Hal itu terlihat setiap kali mereka bertemu dengan Elang, rasa cemburunya menjadi berlebihan. Seperti hari ini, saat Rei makan siang dengan Ardan tiba-tiba saja Elang dengan tak tahu dirinya ikut bergabung di meja mereka.


Ingin menolak tapi tak enak hati, karena ini masih jam kerja. Mau tidak mau mereka mempersilahkan Elang duduk. Meski canggung, mereka tetap saja berlagak romantis seperti biasa. Rei menyuapi Ardan, dan Ardan mengelap noda makanan dimulut Rei dengan tisu. So sweet! dan hal itu tak luput dari pandangan Elang. Senyum smirk tercipta dibibirnya.


"Tenang...tak lama lagi, aku yang akan ada diposisi itu. Kita akan bersama lagi, Rei" Elang


"Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, bung. Dan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa mendapatkannya." Ardan


Tatapan mata yang sedari tadi saling mengamati satu sama lain itu juga tak luput dari pandangan Rei. Hatinya jengah, tak ingin berlama-lama disana apalagi ada mantan yang membuatnya tak nyaman.

__ADS_1


"Tuhan, kenapa harus ada diposisi ini. Help me" batin Rei.


Dan selesai, meski tak banyak perdebatan yang terjadi tapi sepertinya genderang perang sudah ditabuh. Kedua lelaki itu sama-sama mempertahankan ego nya. Akan memperjuangkan Rei untuk jadi miliknya. Tapi sepertinya saingan Ardan kali ini cukup berat. Kita lihat saja nanti sejauh mana Ardan bisa mengatasi rivalnya itu.


€€€€


Kembali ke aktivitas masing-masing, setelah makan siang yang menyisakan kekesalan, sore ini Rei kembali mendapatkan kejutan dari sang pimpinan yang mulai berani menunjukkan taringnya. Entahlah sepertinya Rei sudah malas meladeninya tapi semakin lama sikapnya semakin menjengkelkan.


Itulah mengapa Rei tidak pernah betah berlama-lama disana, kalau dulu saat sahabatnya masih bekerja mungkin Rei akan memiliki body guard yang siap menjaganya. Tapi sekarang Rei harus berjuang sendiri.


Elang kembali mengirimkan hadiah ke meja Rei, dan tentu saja itu menarik perhatian rekan kerjanya. Apalagi tertera dengan jelas siapa pengirimnya. Meski Rei tidak suka tapi dia tidak pernah membuangnya, cukup Rei kumpulkan semuanya karena suatu saat akan Rei kembalikan pada pemiliknya.


Malam ini Rei diajak makan di salah satu warung kaki lima langganan Ardan. Walaupun sudah memiliki usaha restoran yang cukup terkenal, Ardan masih suka makan atau nongkrong di warung kaki lima. Asalkan tempatnya bersih, makanan enak pasti dia mau. Dan dia bahkan tidak malu, karena sebelum membuka usaha restoran, Ardan sempat bekerja di warung kaki lima saat kuliah dulu.


Beberapa ilmu yang dia dapatkan dari para penjual itulah yang menjadi acuannya berani membuka usaha sampai akhirnya berkembang seperti sekarang. Ardan bahkan mengundang teman-teman seperjuangannya dulu ke restorannya. Seperti kata pepatah, meskipun sudah diatas tetaplah membumi karena diatas langit masih ada langit.


Dan disinilah mereka sekarang, Rei dan Ardan menikmati seafood pesanannya. Setelah makan Rei mulai menceritakan kejadian dikantor yang membuatnya kesal. Di dalam mobil mereka berbicara serius.


"Mas, janji ya jangan marah. Dan biarkan aku mengatasi masalahku sendiri dengan Elang" Rei.


Ardan menghembuskan napasnya, meskipun hatinya tak rela tapi dia tak bisa melarang Rei. Rasa takut dan cemburunya kembali membayangi, dan dia tak sanggup jika harus melepas Rei.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu masih saja menerimanya, kembalikan semua dan menjauhlah darinya. Aku ga suka melihatmu menerima hadiah dari dia. Aku bahkan bisa memberikanmu lebih dari yang dia berikan." Ardan


"Aku tahu, tapi bukan itu yang aku inginkan. Semakin aku menolaknya, maka dia akan semakin terpacu untuk memberikan lagi dan lagi. Dan aku ga mau itu." Rei


"Jangan bilang kamu masih menyukainya, dan ingin kembali kepadanya" Ucap Ardan lirih, wajahnya sudah tak lagi menampakkan ekspresi tenang.


"Omong kosong apa itu, aku tak pernah sekalipun ada niatan untuk kembali padanya, bahkan dalam mimpi." Rei mulai merasa dipojokkan. Gemuruh di dadanya membuatnya sesak, tapi dia tak menyalahkan Ardan karena berpikiran seperti itu, hanya saja sikap kekanakan Ardan membuatnya jengah.


"Mas ga akan pernah mengerti betapa sakitnya aku, bahkan untuk lagi menangisi nya aku ga sanggup. Tapi aku berusaha tenang karena aku ga mau suatu saat aku menyesal, meski ini akan jadi boomerang bagiku." Airmata Rei menetes, kecewa pasti karena harusnya Ardan mendukungnya bukan malah membatasinya.


Keduanya terdiam, tak ada lagi perdebatan. Ardan mulai melajukan mobilnya, mengantarkan Rei pulang dan beristirahat. Karena sejujurnya dialah yang butuh istirahat. Tidak ada kecupan selamat malam seperti biasa, keduanya bahkan tak saling menoleh. Wajah datar yang Rei tampakkan serta sikap dinginnya menandakan dia tak baik-baik saja.


Rei menutup pintu mobil dengan sedikit kasar, Ardan sampai terkejut. Menoleh kearah wanitanya yang sudah meninggalkannya dalam keadaan kesal.


Aaagghj....


Ardan memukul setir mobilnya, kemudian melajukan mobilnya kembali kerumah. Untung saja semua penghuni sedang tidur, jadi Ardan tak harus memnjelaskan kenapa wajahnya kini ditekuk seperti itu.


€€€€


Akhirnya selesai juga bab ini, dan nulisnya di bis saat perjalanan ke Malang. Sempat terhenti separuh jalan karena banyak kali rintangannya, terutama rasa malas. Kedepannya akan banyak konflik ya. Siapkan embernya gaess biar ga banjir.

__ADS_1


__ADS_2