
Seminggu setelah resepsi pernikahan Dina dan Miko, Rei tidak menampakkan dirinya dirumah keluarga Ardan. Bahkan mama sering uring-uringan karena tidak bisa bertemu Rei. Bahkan tak jarang papa pun menjadi sasaran kejengkelan mama. Bukan tanpa alasan, selain Rei tidak sempat berpamitan, saat ini pun Rei susah dihubungi.
Ardan pun susah menghubungi Rei, mungkin karena padatnya acara yang diikutinya. Jadi Ardan menunggu Rei yang menghubunginya lebih dulu. Ardan selalu mengirimkan pesan pada aplikasi chat di ponselnya, bahkan pernah saat lagi video call an Rei tahu-tahu sudah terlelap. Jadi sejak itu Ardan tidak mengganggu Rei.
Renita ditunjuk mewakili kantornya bersama beberapa karyawan lainnya. Renita menggantikan teller yang ditunjuk sebelum nya karena harus operasi usus buntu. Karena acaranya yang mendadak, terpaksa Rei hanya berpamitan pada kedua orangtua Ardan lewat video call.
Walaupun Ardan kecewa karena tidak akan bertemu dengan wanita pujaannya itu selama beberapa hari, tapi demi tugas dia tidak boleh egois. Ardan juga sempat mengantarkan Rei saat akan melepaskan kepergian ke Bandung.
Karena sudah terbiasa mendengar suara Rei, mama Ardan jadi merasa kesepian karenanya. Pengantin baru yang baru sampai dari bulan madu pun tak luput dari omelan mamanya. Tapi setelah papa dan Ardan cerita mereka hanya tertawa.
"Ternyata mama sudah mulai terbiasa dengan kehadiran kak Rei ya." goda Dina pada mama nya.
"Iya, bahkan papa dicuekin nih." papa ikut menggoda. Mama hanya menyembikkan bibirnya mendengar ucapan suami dan anaknya itu.
Ardan melirik jam tangan nya, sudah waktunya makan siang. Ardan yakin Rei sudah ishoma disana, jadi dia berinisiatif untuk menghubungi Rei lebih dulu.
Tut tut
Terdengar nada sambung disana tak lama kemudian muncul seorang wanita yang menjadi tersangka penyebab mamanya uring-uringan itu.
"Assalamualaikum" sapa Rei
"Waalaikumsalam, sudah makan?" Ardan tak sabar melepas kangennya.
"Sudah mas, tadi sebelum balik ke kamar. Ini baru mau sholat. Mas Ardan sudah makan?"
"Sudah tadi pagi" jawab Ardan asal.
__ADS_1
"Loh kok gitu, makan dong biar ga sakit perut."
"Iya habis ini, tapi sebelum nya kamu tahu ga kalo kamu itu udah bikin bos besar di rumah ini uring-uringan. Bahkan papa aja di cuekin apalagi kita anaknya."
"Ohya, siapa?" tanya Rei, tangannya masih membersihkan wajahnya.
"Nih orangnya datang" jawab Ardan sambil mengarahkan kameranya pada sang mama.
"Assalamualaikum ma, maafkan Rei ga sempat pamitan sama mama dan papa, dan beberapa hari ini memang acara lagi padat, jadi Rei tidak bisa hubungi mama." Menampilkan senyum terbaiknya untuk calon mertuanya.
"Gapapa sayang, mama maklum kok." mama sumringah akhirnya bisa melihat Rei meski hanya lewat video.
"Bohong kak, mama tuh bikin kita kayak anak kos yang lagi ditagih uang sewa, cemberut mulu" celetuk Dina.
"Hus.. kamu tuh, buka kartu aja. Kan mama malu" Rei hanya menggeleng kepala mendengarnya.
"Yang, kamu tahu ga? aku tuh udah ga sabar ingin segera melamarmu, dan menyandang status baru sebagai nyonya Ardan."
Rei tersipu, tak menyangka kalau Ardan benar-benar berniat memperistrinya. Karena masih akan ada acara setelah ini, Rei berniat untuk menyudahi obrolan. Dan Ardan pun setuju, tak mau wanitanya terburu-buru karena pasti akan membuat Rei kesal. Dan ga mau menerima panggilan nya.
€€€
Workshop yang Rei ikuti hampir selesai, sesuai rencana hari ini akan dilakukan tes terakhir sekaligus penutupan. Tapi karena acara berlangsung sampai jam 8 malam, jadi sisa waktu yang masih tersisa diisi dengan jalan-jalan ke beberapa pusat kuliner dan belanja di kota kembang tersebut.
Tampak antusiasme peserta workshop dari beberapa daerah luar Bandung, setelah membersihkan diri mereka berkumpul bersama teman-teman yang lain dan menuju lokasi. Tak mau kalah Rei pun ikut meskipun terlihat sedikit malas, tapi demi teman-teman akhirnya Rei ikut.
Diluar dugaan ada seseorang yang sudah menunggu nya di lobbi hotel. Pria yang sudah tak bisa lagi menahan rindu pada kekasihnya itu akhirnya membulatkan tekad untuk menemuinya. Berbekal info dari adik iparnya, dan sekalian memenuhi undangan dari kawan lamanya dikota itu, Ardan akhirnya menginap di hotel yang sama dengan Rei.
__ADS_1
Melihat seseorang yang sudah lama ditinggalkannya, hati Rei berdegup kencang. Apalagi saat mendengar namanya dipanggil, Rei pun mendekat pada laki-laki yang sudah membentangkan tangannya. Memeluknya dengan rasa bahagia, serasa dunia milik berdua yang lain numpang hehehe...
Sadar banyak mata yang memperhatikan, mereka pun melepas pelukan. Raut wajah Rei tampak tersipu, ternyata benar kata orang jatuh cinta itu berjuta rasanya. Meskipun ini bukan yang pertama bagi keduanya, apalagi dengan status Rei sekarang. Sedangkan Ardan hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya.
Setelah berpamitan pada teman-temannya, Rei dan Ardan akhirnya memisahkan diri dari rombongan. Mereka berjalan-jalan berdua menyusuri jalanan di pusat kota Bandung, karena hari ini adalah weekend jadi tampak ramai apalagi pasangan muda-mudi.
Ardan mengajak Rei ke sebuah restoran yang menyajikan masakan sunda, bukan tanpa tujuan karena mereka sudah ditunggu oleh Fahri teman Ardan saat kuliah dulu. Fahri adalah orang asli Jogja tapi karena menikah dengan gadis asli Bandung, akhirnya menetap disana.
Fahri yang lebih dulu sampai disana dengan istri dan anak nya, melihat Ardan memasuki restoran itu langsung menyapanya. Mereka pun bersalaman. Rei tampak akrab dengan istri Fahri, Tari dan juga putrinya Gea. Bocah usia lima tahun itu benar-benar menggemaskan, cerewet persis keponakan nya.
Malam pun makin larut, karena di kecil sudah tertidur dipangkuan mamanya akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Tak lupa Fahri mengundang Ardan dan Rei kerumah mereka. Kembali ke hotel, tampak beberapa peserta workshop baru kembali. Mereka membawa oleh-oleh khas kota Bandung.
"Sayang malam ini tidur di kamar ku aja ya, temanin mas." pinta Ardan saat akan memasuki lift.
"Ga mau ah, nanti bukannya tidur malah ngerjain yang lain"
"Enggak yang, suer deh. Aku cuma pengin peluk kamu doang, ga lebih tapi kalo dikasih bonus juga ga bakalan nolak" seloroh nya membuat Rei menyembikkan bibirnya.
"Tuh kan, enggak ah."
"Ayolah yang, masak kamu ga kangen sama aku"
"ih... iya deh, tapi janji loh kalo macam-macam aku tinggalin"
"Yang ada kamu yang ga bakalan mau lepas nanti" batin Ardan, bibirnya menyeringai membuat Rei bergidik.
Akhirnya mereka menuju kamar Ardan, setelah berpamitan pada teman sekamar Rei. Seperti yang sudah dikatakan Ardan tadi kalau dia hanya ingin tidur sambil memeluk kekasihnya Rei. Hanya kecupan hangat dikening dari Ardan, dan mereka berdua pun tidur sambil berpelukan.
__ADS_1