Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
73. Pergi dari sini atau aku laporkan polisi


__ADS_3

Ibu dan anak yang tidak sadar kelakuan mereka diamati beberapa pasang mata, mulai bertingkah.


Melihat semua masakan Rei selesai ditata di atas meja makan, mereka tampak kalab. Mereka langsung mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa menu.


Tapi tidak untuk Rei, mereka menyuruhnya untuk membersihkan ruang tengah yang sudah seperti kandang ayam, sampah dari bungkus makanan yang berserakan dimana-mana.


Rei yang tidak tahu jika suami dan kedua mertuanya sudah datang, terkejut. Tapi Ardan meletakkan jari telunjuknya didepan mulut, tanda dia harus tutup mulut.


Rei mengangguk, dan melakukan perintah dua orang ibu dan anak itu. Enno dan ibunya yang seperti orang kelaparan tidak sadar bahwa pemilik rumah itu datang tak peduli sekitar.


Mereka berkali-kali menambah makanannya, persis seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Dan setelah mereka kekenyangan mereka pun berhenti.


Ardan, mama dan papanya mendekati mereka yang sudah kekenyangan. Bibi yang melihat ketiga majikannya datang tampak tersenyum.


"Rasain kalian, sekarang kalian nikmati buah kedengkian dan keserakahan kalian. Dasar..." bibi mengumpat.


Rei mendekat kearah suaminya saat Ardan memanggilnya.


"Bagus ya, ternyata begini kelakuan kalian. Saya kira orang numpang itu harus tahu diri, bukan malah bertingkah semena-mena seperti ini."


Ardan berkata dengan nada tinggi dan sedikit membentak. Dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Meski Rei mencoba menenangkan tapi percuma.


Dari pada dia ikut kena bentakan suaminya mending diam saja. Mama menyuruhnya diam dengan meletakkan telunjuknya didepan mulut.


Papa juga mengangguk, karena Ardan akan menjadi semakin emosi apabila ada orang yang membantahnya.


Baru kali ini Rei melihat suaminya marah, dan baru kali ini Rei tahu bahwa dibalik wajah slengean dan sabar suaminya, menyimpan karakter keras yang membuatnya merinding.


Sejak kenal dan menjadi istrinya, baru kali ini Ardan benar-benar marah. Sampe tangannya menggenggam erat pertanda dia berusaha menahan emosi.


Enno dan ibunya kaget, wajah mereka malu bukan main. Mau mengelak pun percuma, apalagi Ardan sudah terlihat sangat marah.

__ADS_1


Bude Neno mencoba mendekati Ardan dan juga mamanya, tapi tak ada gunanya. Semakin mengelak, semakin dia jadi sasaran kemarahan keponakannya itu.


"Ardan...bude hanya..." jawab bude Neno terbata


"Hanya apa, hanya ingin menunjukkan bahwa kalian bisa seenaknya disini. Bude... saya kira bude orang yang berpendidikan, tahu mana yang baik dan tidak. Tapi ternyata saya salah, bude sudah keterlaluan."


Napas Ardan naik turun, masih mencoba menahan emosi. Rei mencoba mengambil tangan suaminya yang sejak tadi mengepal.


Meski beberapa kali diteliskan, Rei tidak menyerah. Dia akhirnya berhasil menggenggam tangan suaminya. Rei menautkan jari-jari tangannya pada jari tangan Ardan.


"Ardan...bude hanya ingin mengajari Rei jadi istri yang baik, agar keponakan bude ini tidak sengsara nantinya."


Bude Neno masih berkelit, mencari alasan meski akhirnya Ardan kembali mementahkan alasanny yang tak masuk akal itu.


"Apa aku tidak salah dengar, yang harusnya bude ajari itu anak bude yang cuma tahunya merengek dan manja itu."


Enno yang merasa dirinya disebut hanya menunduk. Hilang sudah kesempatannya untuk mendekati Ardan.


"Bude tahu, meskipun Rei memiliki pembantu tapi dia tidak pernah malu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan dia dan kakaknya memiliki hobi yang sama, memasak."


"Dan saya tegaskan sekali lagi, saya menikah dengan Rei bukan untuk menjadikan dia babu, saya sanggup membayar pembantu berapapun, tapi karena Rei selalu menolak jadi saya juga menghormati keinginannya."


Bude Neno dan Enno terdiam, dia pikir Rei hanyalah anak manja yang tidak tahu bagaimana cara membersihkan rumah. Dan benar kata Ardan, pantas saja jika Rei hobi memasak masakan dia benar-benar enak.


Ibu dan anak ini merasa malu karena salah menilai orang. Dan bukan Rei yang marah karena sudah diperlakukan seperti pembantu, tapi justru suami dan mertuanya.


"Sial, jika begini aku tak akan pernah bisa mengalahkan janda itu" rutuk Enno dalam hati.


"Ternyata wanita ini memang sudah mampu membuat adik dan keponakanku menerimanya. Kenapa aku tidak mencari tahu dulu siapa dia." batin Neno.


Bukannya mengakui salah, malah mengumpat karena tidak bisa mengalahkan Rei. Benar kata pepatah, kuman diseberang lautan tampak tapi gajah dipelupuk mata tidak tampak.

__ADS_1


Entah kenapa mereka begitu membenci Rei, jika karena statusnya Rei tidak masalah karena sudah terbiasa, tapi apa serendah itu penilaian mereka terhadap seorang janda.


Bukan mau Rei menjadi janda, dia justru menyesal karena diumurnya yang masih muda justru sudah menyandang status janda untuk kedua kalinya.


Takdirlah yang membuatnya menjadi janda, nasib percintaannya memang tidak semulus orang lain. Tapi Rei bersyukur meskipun dia seorang janda masih banyak orang yang mau menerima statusnya dengan baik, dan tidak menilainya sebelah mata.


"Jadi sekarang, pergi dari sini atau aku laporkan polisi." tegas Ardan lagi.


"Jangan...jangan lapor polisi, bude minta maaf jika sikap bude berlebihan. Bude kan tidak ada niat jahat, hanya..."


Belum juga kalimat yang diucapkannya selesai sudah dipegat lagi. Kali ini bukan Ardan tapi mamanya.


"Hanya apa mbak, apa mbak masih belum puas. Dulu saat pertama kali melihat Rei mbak sudah menunjukkan sikap tidak suka, aku tak masalah mungkin itu karena mbak belum mengenalnya. Sekarang, justru kami melihat sendiri bagaimana perlakuan mbak pada Rei."


"Bukan Rei yang mengadu, dia bahkan meminta bibi untuk tidak meladeni kalian, dan lebih memilih melakukan apa yang kalian suruh. Apa mbak pikir kami tidak sakit hati?"


"Kami memintanya pada orang tuanya, melamarnya bukan untuk menjadikan dia pembantu disini. Justru dia banyak mengajari Dina berbagai masakan kesukaan Miko suaminya."


"Kami kecewa pada mbak, sebagai yang tertua harusnya mbak memberikan contoh yang baik bukan seperti ini."


Mama Ardan mengeluarkan uneg-uneg nya, dia malu atas perlakuan kakaknya pada menantunya. Suami dan Anaknya bahkan melihat sifat asli kakaknya itu dengan mata mereka sendiri.


Selama ini memang mama Ardan cukup sabar, dan memilih mengalah dari kakaknya itu. Tapi justru kesabarannya membuat sang kakak semakin jumawa.


Mama malu pada suami dan Anak serta menantunya, dia sudah tidak tahu lagi bagaimana membuat kakaknya itu sadar.


Tapi karakter seseorang itu sudah terbentuk sejak lahir, mau dipaksa seperti apapun jika bukan dia sendiri yang ingin berubah tidak akan bisa.


Bude Neno dan anaknya lalu pergi meninggalkan mereka semua, keduanya masuk ke kamar dan mulai mengemasi barang-barang nya. Sudah tidak punya muka lagi, mungkin itu istilah yang cocok bagi mereka.


Dari pada harus berurusan dengan polisi lebih baik mereka pergi dari sana. Dan saat mereka berpamitanpun tidak ada satupun yang menoleh, hanya papanya Ardan yang tetap bersikap biasa.

__ADS_1


###


Alhamdulillah, bisa up lagi. Jangan lupa dukung otor terus ya


__ADS_2