
"Cinta membuat orang jadi buta dan tuli, sehingga terkadang lupa dengan kewarasannya."
Malam beranjak ke peraduan, sebuah mobil sport tampak memasuki halaman rumah, setelah memarkirkan mobilnya sang pemilik langsung masuk ke dalam.
Disana sudah menunggu kedua orangtua nya beserta adik dan iparnya, ya Ardan pulang kerumah orang tuanya setelah beberapa hari memilih tinggal di apartemennya.
Dina dan Miko yang melihat kedatangan kakaknya langsung mendekat, Dina mencium pipi dan bergelayut manja dilengannya.
"Eits...manja banget sih, ga lihat apa suaminya sudah melototin kakak" seloroh Ardan.
Tapi Dina tetap tak bergeming, masih diposisinya. Miko yang sudah tahu kelakuan istrinya itu hanya tersenyum menanggapi.
"Biarin, mas Miko aja gapapa kok. Iya kan yang" seru Dina.
Ardan jengah, tumben banget anak ini bermanja padanya apalagi sekarang sudah menikah. Sebelum menikah aja, jarang banget dia manja.
"Sudah...ayo duduk sini, kita makan martabaknya." ucap Mama, meletakkan potongan martabak dalam piring di meja.
Ardan dan Dina langsung mendekat, masih dengan posisi seperti tadi. Sebenarnya Ardan suka adiknya manja padanya, tapi heran kenapa baru sekarang setelah menikah.
Ardan duduk di dekat mamanya, tapi Dina tetap tak mau sedikitpun pindah dari sisinya. Sejurus kemudian matanya melirik Miko. Tapi adik iparnya itu hanya tersenyum.
"Kamu kenapa sih dek, tumben banget manja sama kakak. Kangen ya minta uang saku dari kakak lagi." Ardan mengacak rambut adiknya gemas.
"Ah...kakak. Bisa ga sih tangannya ga ngacak rambut aku" Dina cemberut. Pipinya tambah chubby dengan posisi mulut seperti itu.
Yang lain hanya bisa tertawa melihat kelakuan adik kakak itu. Sudah lama tak ada keramaian seperti ini dirumah, sejak mereka beranjak dewasa mereka mulai sibuk dengan aktivitasnya sampai lupa bermanja satu sama lain.
"Ga..ga...ini aneh, kamu ga pernah seperti ini dek. Aku curiga jangan-jangan..." Ardan tidak jadi melanjutkan, dan melihat ekpressi adeknya yang makin menggemaskan.
Dia lalu menoleh pada papa, mama dan Miko tapi mereka hanya tersenyum. Dan...
"Taraaa...." Dina mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Alisnya naik turun, senyumnya mengembang.
Ardan menerimanya takjub, dia perhatikan ada dua garis disana.
Tespack yang telah disiapkan Dina sejak dari rumahnya memang ingin memberi kejutan pada orangtua dan kakaknya.
Miko hanya tersenyum, dia tahu kakak iparnya itu ikut bahagia menyambut anggota baru keluarganya.
"Dek, ini beneran kan. Kakak ga salah lihat kan, jangan-jangan kamu ambil punya orang lagi" celetuknya. Ardan ingin menggoda adeknya, mumpung ada kesempatan.
"kakak jahat, masak iya aku mungut punya orang. jijay deh" Dina cemberut, tapi kemudian dia tertawa setelah kakaknya menggelitikinya.
"Aaa....kakak, ampun deh. Dina geli"
__ADS_1
"Enggak, biarin. Ini hukuman buat kamu karena kakak jadi orang terakhir yang dikasih tahu." Ardan masih menggelitiki adeknya, suasana rumah tambah ramai. Mereka tertawa melihat kakak beradik itu.
"Siapa suruh kakak ga pulang kesini, sok sibuk padahal lagi marahan sama kakak iparku" Dina menyembikkan bibirnya.
"Apaan sih, anak kecil jangan sok tahu" Ardan kembali mendekati adeknya berniat menggelitiki perutnya lagi, tapi Dina keburu menjauh dan duduk di sebelah suaminya.
Dina bergelayut manja, dan mencium pipi suaminya. Sesekali melihat Ardan sambil menjulurkan lidahnya.
"Udah...kalian ini, udah gede masih aja kayak anak-anak kelakuannya." Mama memberikan piring berisi martabak pada Ardan.
"Kamu sih dek, mulai duluan. Dasar anak kecil" Ardan membalas menyembikkan bibirnya pada Dina.
"Enak aja anak kecil, gini ini sudah bisa bikin anak kecil juga tahu. Kakak kapan, hayo"
"Wah nantangin ya, awas aja"
"Benar kata adekmu,Dan. Kamu kapan mau kasih kami cucu" ujar papanya.
"Papa, tenang aja pa. Otw nih"
"Jangan otw mulu, gercep dong Dan" Papa mulai ngomporin.
"Semakin cepat semakin baik, masak nunggu lebaran monyet kelar baru nikah" selorohnya kemudian, dan merekapun tertawa.
"Hei...kenapa anak mama malah pesimis gitu, ngadepin klien aja bisa, masak ngadepin calon mantu ga bisa." ucap mama
"Masalahnya bukan itu ma, sebenarnya aku ga tahu apa aku bisa memenangkan hati Rei kali ini.Apalagi mantannya sudah kembali"
Semua menoleh, pasti ada sesuatu yang menjadi ganjalan kenapa Ardan terlihat lesu seperti ini.
Akhirnya Ardan pun menceritakan masalahnya, papa dan mama yang tidak tahu kalau hubungan Ardan dan Rei sedikit renggang hanya menggelengkan kepala, pantas saja tadi Dina mengatakan marahan.
Apalagi akhir-akhir ini Rei juga jarang main kerumah mereka, alasan Ardan karena Rei sering lembur padahal karena memang mereka saling menjaga jarak.
Menjauh karena ingin meredam ego masing-masing.
###
Ardan melajukan kembali mobilnya, dia akan menemui sahabat lamanya. Meski mamanya berat hati karena lagi-lagi Ardan menolak tidur dirumah, tapi demi kebahagian anaknya mama pun memberikan dukungan.
Sebenarnya bisa saja mereka membantu Ardan, apalagi Miko adalah orang yang paling dekat dengan Rei selama ini.
Tapi Ardan menolak, dia bilang akan mencoba mengatasi masalahnya sendiri. Dan jika membutuhkan bantuan, dia akan menghubungi mereka nanti.
Dan ini yang papa nya suka dari Ardan, seperti melihat dirinya di masa muda yang tak mudah menyerah. Termasuk mendapatkan mamanya Ardan, 😁.
__ADS_1
###
"Hai bro, apa kabar?" ucap Gama saat Ardan mendekat.
"Ya, beginilah aku. Kamu sendiri, kayaknya bakalan naik ke pelaminan nih. Sudah siap melepas masa lajang bro" selorohnya.
"Yoi men, life goes on. Ga mungkin kan aku jomblo selamanya, aku juga pengen ada yang nemenin tidur, menghangatkan ranjang kala hujan, dan yang pasti berkembang biak" Gama menaik turunkan alisnya.
"Sembarangan aja, emang sapi. Filter dikit napa" Ardan.
"Hahaha...kita makhluk hidup men, dan makhluk hidup itu selain tumbuh dan berkembang, dia juga berkembang biak, catet itu" Gama.
"Terserah lu deh, eh btw kapan acaramu?" tanya Ardan.
"Minggu depan kita mau kerumah om Hadi, ingat? Papanya Anton, mertua calon bini lu" Gama.
"Iya, salah satu pemasok sayuran di restoran dan supermarket, sekaligus teman main golf nya papa." Ardan.
"Nah, kita mau kesana selain silaturahmi, juga sekalian mau rembukan buat acara lamaranku." Gama
"Sip, itu. Aku boleh ikut ga, ada yang perlu aku omongin sama om Hadi. Ini mengenai Rei" Ardan.
"Serius, jangan bilang kamu mau nikahin dia" Gama.
Ardan mengangguk, menceritakan masalahnya kemudian. Mencoba cari dukungan niat banget sih bang.
"Aku mau minta dukungan om Hadi, kamu sendiri yang bilang mereka sudah menganggap Rei seperti anak mereka sendiri."
Gama tahu arah pembicaraan ini, jika om Hadi setuju maka otomatis orang tua Rei juga akan setuju. Menganggukan kepala nya, dan Gama mendukung sahabatnya.
"Baguslah, meskipun papa Rei menerimamu tapi memang kamu harus bisa benar-benar meyakinkan orangtua itu bahwa anaknya memilih lelaki yang tepat." Gama mengepalkan tangannya, dan Ardan menyambut dengan kepalan tangan juga.
"Tapi kalau kamu mau kesana sendiri juga tak masalah, bukannya kamu sudah kenal baik." tanya Gama kemudian.
"Tidak, papa yang kenal baik om Hadi. Aku hanya berapa kali bertemu dengan beliau, tapi ga yakin kalau dia ingat."
"Pokoknya semangat terus bro, kami mendukungmu" Gama
"Thanks" Ardan.
Pembicaraan keduanya kembali berlanjut, emang ya kalau sesama lelaki ngobrol itu sampe lupa waktu. Meski capek tetap aja lanjut, apalagi mereka sama-sama sibuk wajar saja.
###
Pas baca bab sebelumnya pasti nebak, siapakah yang akan Ardan temui. Jawabannya ada yang tepat ga? bikin penasaran kan. Lanjutkan!
__ADS_1