Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
50. Sebuah kejutan


__ADS_3

Acara makan sudah, karena tidak ada rencana pergi keluar keduanya memilih untuk menghabiskan waktu berdua.


Apalagi Ardan juga masih butuh istirahat, dia hanya sebentar menemani Rei menonton teve. Lepas itu melanjutkan istirahatnya lagi, karena Rei akan memarahinya, bahkan mengusirnya jika membangkang.


Meski sebenarnya Ardan tak ingin tidur tapi dia tak mau memaksakan diri. Lebih baik menurut daripada diusir, pikirnya.


Didalam kamar Ardan memilih memutar lagu dari hape nya, setidaknya dia tidak melamun dan pikiran kosong.


Sesekali Ardan mengikuti irama lagu dan bernyanyi. Sampai akhirnya dia pun terlelap


Diluar sana Rei menikmati oleh-oleh khas pemberian mertuanya. Mama paling tahu kesukaannya.


Hari ini ART nya memang libur, karena memang dia masuk dua hari sekali. Tapi jika ada Rei dia akan memilih menemani Rei disana.


Namun karena sudah ada temannya, Rei meminta mbak Minah tidak usah datang. Tapi itu hanya alasan Rei saja, karena kenyataannya dia malah jadi perawat dari tamunya itu.


Rei kembali ke kamarnya diatas. Mendung menampakkan dirinya, bakalan turun hujan dan cuacanya mendukung untuk bergelut selimut.


###


Hujan turun tak begitu lama, tapi bau harum tanah masih tercium. Seiring waktu yang mulai menjelang malam. Senja datang, menyambut bulan.


Alunan suara adzan, membuyarkan lamunannya. Rei beranjak bersiap melaksanakan ibadahnya.


Tak jauh beda di kamar yang lain Ardan pun sama, bangun dari tidurnya dan mulai melaksanakan sholatnya.


Berbagi kabar dengan sang mama, Ardan senang mendengar kabar bahwa besok siang om Hadi dan istrinya akan datang kerumah, dan mendampingi papa dan mama melamar Rei.


"Yes..." Ardan teriak, untung saja kamar ini ada dibawah, jika berada di lantai dua bagaimana jika Rei tahu.


Ardan cekikikan sendiri, berarti tinggal satu langkah lagi. Ardan mencari nomor adeknya di kontak.


Kemudian dia mengetikkan sesuatu di chat room whatapp nya.


"Dek, kakak minta tolong ya." ketiknya


Masih centang berarti belum dibuka olehnya. Tak lama ada panggilan masuk videocall di hape, tapi Ardan merejectnya.


Dia kembali mengetik di chat room.


"Jangan telpon, chatting aja biar aman" ketiknya, dan tak berselang sudah ada balasan.


"Kenapa sih kak, mencurigakan sekali dirimu" balasnya.


"Kamu tuh, curiga aja bawaannya. Ingat sudah ada baby diperut, jangan suka berpikiran buruk biar baby nya ga stress" Ardan.

__ADS_1


"Ih apaan sih, emang ada apa sih kak" Dina


"Kakak minta tolong, kamu hubungi WO saat menikah dulu, bilang kita mau pakai jasanya lagi." Ardan


"WO, emang mau ada apaan kak?" Dina penasaran


"Bukannya Restoran ada yang booking untuk beberapa acara, dan mereka juga kerjasama dengan kita kan." tanya Dina lagi.


"Iya, tapi beda WO. Nah WO yang dulu kita pake saat acaramu itu, kebetulan kakak cocok konsepnya. Kamu tolong hubungi ya, nanti kapan pastinya tunggu kabar dari mama dan papa." Ardan menjelaskan.


"Jangan bilang kakak mau ngelamar kak Rei ya, wah akhirnya anak mama mau nikah juga." goda Dina.


"Iya..tepat sekali. Tapi tolong kamu rahasiakan ini, dan bilang Miko jangan sampai Rei tahu." Ardan.


"Berarti kak Rei juga belum tahu kalo kakak akan melamarnya." Dina


"Belum, makanya aku reject telponmu karena aku sekarang nginap dirumah Rei. Kalo kamu telpon nanti yang ada bukan kejutan lagi." Ardan.


"Oh jadi ini sebuah kejutan ceritanya, sip deh, aku pasti dukung kakak. WO biar aku yang handle. Yang lain biar suamiku aja yang urus" Dina.


"Sip, nanti kita ketemu dirumah mama buat rembukan. Karena besok rencananya mama, papa, om Hadi dan istrinya akan kerumah Rei." Ardan.


"Ih kenapa bukan kakak sendiri yang melamar langsung, kan seru." Dina


"Kamu tuh, ini biar jalan buat ngambil hati papa nya Rei berjalan mulus, dan aku tidak dianggap sekedar main-main." Ardan


"Loh emang kenapa sih kak? Apa papa nya kak Rei ga menyetujui hubungan kalian?" Dina


"Bukan, tapi sepertinya beliau masih belum bisa menerima perceraian Rei kemarin. Pernikahan itu kan hasil perjodohan papa Rei dan papa mantannya. Mungkin masih trauma" Ardan.


"Oh, semoga besok dengan hadirnya om Hadi bisa meyakinkan papanya kak Rei ya, biar kakakku ini bisa segera belah duren, hahaha.." Dina


"Kamu tuh, dasar gesrek" Ardan


"Biarin, 😜" Dina


"Ya udah kakak tutup dulu, mau keluar ga enak sama Rei kalo kelamaan dikamar." Ardan


"Cie...cie...yang udah ga sabar" Dina


Ardan hanya tertawa membaca balasan dari adeknya. Ya semoga besok lancar acaranya jadi bisa langsung prosesi, doa Ardan.


###


Rei menyiapkan makan malam, karena cuaca dingin setelah hujan Rei memutuskan untuk membuat soto ayam saja.

__ADS_1


Dengan bahan yang sudah disiapkan mbak Min kemarin, Rei tak perlu keluar rumah lagi.


ART nya itu tahu apa maunya, dan karena Rei jarang kerumah ini maka saat Rei datang dia akan berbelanja untuk kebutuhan selama Rei berada disana.


Rei jarang memesan makanan online karena dia lebih suka memasak sendiri. Dia juga bebas berkreasi menyalurkan hobinya.


Ardan mendudukkan dirinya dikursi meja makan, dia memperhatikan Rei. Dengan cekatan Rei menyiapkan soto racikannya, lalu meletakkan dihadapan Ardan.


Berasa dilayani istri kalo seperti ini. Ardan senyum-senyum sendiri.


"Eh, mas kenapa senyum-senyum sih, awas kesambet loh" Rei bergidik.


"Kok gitu sih yang, doain buruk sama abang" goda Ardan.


"Lagian ga jelas gitu senyum sendiri, kan jadi ngeri." Rei


"Hush...ngawur. Aku tuh berasa dilayani istri makanya senyum." Ardan


"Maunya..." Rei menyembikkan bibirnya.


"Emang kamu ga mau yang, masak mau begini terus kan mending di halalin, biar bisa mesra-mesraan terus sama kamu." Ardan menaikkan alisnya.


"Udah, ayo makan. Ngomong terus nanti dingin sotonya." Rei pun memasukkan suapan pertamanya.


"Masakan kamu enak loh yang, kamu bisa buka warung kalo mau" ucap Ardan sambil mengunyah makanannya.


"Iya, buka warteg tar kalo sudah resign." seloroh Rei.


"Kok warteg sih yang, yang keren dikit napa. Masak calon suaminya punya restoran, istrinya buka warteg, malah penurunan derajat kalo gitu." Ardan


"Kenapa emangnya, buka warteg kan halal, ya ga masalah." Rei masih mengunyah dan sesekali menggigit kerupuk yang ada ditangannya.


"Jangan lah yang, cafe gitu kek. Masak warteg, mantan pegawai bank buka warteg apa kata orang." Ardan


"Persetan orang mau ngomong apa, kita makan cari sendiri ga minta mereka." Rei tak mau kalah.


Ardan hanya menggeleng, dia tahu tak akan menang berdebat dengan Rei. Mereka lalu menghabiskan makan malam nya.


Setelah itu Rei mencuci piring kotornya, Ardan membantu membereskan meja makan dan mengelapnya agar bersih.


Mereka berdua duduk di sofa tengah sambil nonton teve, sesekali bercanda dan Ardan tidak jadi melanjutkan ceritanya saat kerumah Anton.


Karena dia takut keceplosan ngomong, bisa-bisa rencananya batal. Bukan lagi suprise kalo batal.


Malam semakin larut, keduanya beristirahat karena besok senin sudah mulai aktifitas lagi.

__ADS_1


Kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat.


###


__ADS_2