Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
82. Pilih mana, pakai atau hukuman ditambah


__ADS_3

Ardan menemui istrinya, dia sengaja pulang lebih cepat karena akan menghadiri undangan dari salah satu teman sekolahnya yang akan menikah.


Sebenarnya malam ini adalah pesta bujang, jadi hanya para lelaki yang diundang. Besok saat resepsi mereka semua akan berkumpul dan tentu saja akan menjadi sebuah reuni.


Tapi karena sedang ada acara dirumah, Ardan memilih tidak menghadiri pesta bujang temannya. Makanya sejak tadi dia asyik sendiri dengan hape nya, rupanya sedang membaca komentar dari teman-temannya yang sudah berkumpul.


Rei yang sudah selesai dengan kegiatan rutinnya sebelum tidur, hanya menggeleng kepala melihat suaminya tertawa saat membaca chat di grup.


Rei mendekat dan meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya. Ardan meletakkan hapenya memilih untuk tidak melanjutkan obrolan dewasa mereka di grup, karena pasti tidak akan ada habisnya.


Tapi sebelum dia menutup aplikasi chat room nya, Ardan sempat membaca komentar salah satu temannya.


"Hajar teroooossss boss, jangan kasih kendor"


Ardan tersenyum, ya malam ini dia akan menghukum istrinya dengan hukuman yang nikmat.


Ardan mengusap kepala istrinya, dan mencium pucak kepalanya.


"Sayang, masih ingat kan kalau hari ini adalah hukuman bagi yang kalah taruhan." goda Ardan.


"Hukuman apa, ga ada ya. Aku capek mau tidur, hukumannya ditunda aja." balas Rei, pura-pura lupa padahal sejak tadi dia sudah menunggu suaminya untuk menunda hukumannya.


"Eit...jangan pura-pura lupa, atau aku akan memberikan hukuman lain." Ardan.


"Aduh mas, besok kan masih bisa." Rei merajuk


"Sekarang atau besok sama aja, sama-sama enak. Mending sekarang kamu ambil deh paper bag di sofa itu. Aku punya hadiah." Ardan


Rei mendongak kepalanya menatap suaminya, senyum manis dibibirnya. Tumben suaminya memberikan hadiah, jangan-jangan ada udang dibalik bakwan nih.

__ADS_1


Apalagi melihat senyum suaminya yang sedikit mencurigakan, dia juga mengedipkan sebelah matanya. Rei makin penasaran, tapi dia juga tak mau melewatkan hadiah dari suaminya.


Rei turun dan mengambil paper bag itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat isinya. Rei membulatkan matanya melihat baju tak layak pakai yang penuh lubang dan juga sangat tipis.


Rei bukan tidak tahu apa itu, Rei sudah pernah memakai itu dulu saat menikah dengan Reza tapi bedanya kali ini lebih berani. Suaminya benar-benar akan menghukumnya.


"Ini" Rei mengangkat lingerie berwarna merah menyala yang paling tipis dan wow itu, dia malu menggunakannya tapi melihat senyum suaminya, dia tak akan bisa lolos.


"Pakai itu atau aku akan menambah hukumannya." Ardan to the poin, tidak mau menunda lagi.


Benar kata temannya tadi, hajar terus jangan kasih kendor. Mulut Rei menganga, bagaimana bisa suaminya punya pikiran seperti itu. Sialnya dia tidak bisa menolak.


Dari pada dosa, mending dia nikmati saja hukuman dari suaminya meski nanti dia akan dibuat terkapar karena suaminya tidak akan pernah cukup sekali melakukannya.


Dan akhirnya terjadilah, malam panas yang sudah disusun sebaik mungkin oleh Ardan. Dia benar-benar menghukum istrinya, tanpa ampun.


Kamar yang dingin kini menjadi panas karena keduanya sama-sama berkeringat. Seandainya kamar ini tidak kedap suara, dijamin ******* dari mulut mereka akan mengundang tanya dari penghuni kamar lainnya.


###


Keesokan harinya saat mereka turun, rumah sudah sepi. Hanya ada bibi di dapur sedang membereskan meja makan.


Ardan dan Rei langsung duduk untuk sarapan, mereka mencari keberadaan kedua orang tua Ardan dan juga yang lainnya.


Bibi mengatakan bahwa papa dan mama sedang mengantarkan orang tua Miko pulang ke kampungnya, awalnya mereka ingin naik bis saja tapi karena masih terlalu pagi akhirnya mama dan papa memilih untuk mengantarkan mereka sekaligus ingin jalan-jalan kesana.


Sedangkan adiknya Dina memilih kembali pulang kerumahnya sendiri karena sudah kangen dengan kamarnya. Ardan dan Rei memakluminya, dan mereka memilih untuk bermain kesana jika kangen dengan baby Nami.


Rencananya hari ini Ardan dan Rei akan pulang kerumah mereka, tapi sepertinya harus ditunda. Karena letak rumah mereka cukup jauh dari gedung tempat acara pernikahan teman Ardan.

__ADS_1


Jadi mereka memilih untuk tinggal dirumah orang tua Ardan semalam lagi. Dan besok pagi setelah sarapan mereka akan kembali kerumah mereka.


Sudah beberapa hari ini ditinggalkan, Rei kangen dengan rumah mereka. Sejak menikah Rei juga sudah lama tidak mengunjungi rumah pribadinya peninggalan dari almarhum suaminya.


Rei sudah kangen, terakhir kali rumah itu diisi oleh mertuanya dan juga kakak-kakak iparnya yang hadir di pernikahan Rei dan Ardan.


Meskipun tidak ditempati rumah itu masih terlihat bersih karena ada pembantu gaulnya yang rajin membersihkan, bahkan sewaktu-waktu menginap disana bersama keluarganya.


Rei sudah menganggap mereka saudara, dan mereka juga tidak pernah membuat Rei hilang kepercayaan. Bukan hanya Rei, tapi kepercayaan kedua mertua Rei yaitu orang tua almarhum Anton.


Sore hari Ardan pulang lebih cepat setelah semua urusan di kafe dan restoran selesai. Hanya sesekali dia ke supermarket mengecek pembukuan dan juga stok.


Miko memang sudah memegang salah satu jabatan manager disana, tapi untuk menggantikan kakak iparnya sebagai pimpinan Miko menolak, baginya dia masih ingin belajar lebih banyak dari bawah.


Sama seperti Ardan dulu, sebelum menjadi pimpinan perusahaan dia pun bekerja dari bawah, bahkan Ardan memulainya dengan menjadi karyawan biasa.


Melayani pembeli secara langsung, dengan begitu dia bisa tahu apa yang disukai dan tidak disukai dari pelanggan di supermarket milik ayahnya tersebut.


Dia bahkan tidak segan membantu pelanggan membawakan barang belanjaannya, mengantarkan pesanan dari pelanggan dan ikut menata barang-barang di rak jualan.


Kadang Ardan merasa lucu, dengan back ground pendidikan arsitek dia malah bekerja di kafe, restoran dan supermarket. Jauh dari ekspektasinya.


Ardan tidak malu, bahkan dengan ilmu yang dia miliki bisa disalurkan dibidang lain. Sebenarnya Ardan sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan properti sebagai arsitek.


Saat tahu papanya akan pensiun pikiran Ardan berubah, dan dia akhirnya mau menerima tawaran papanya untuk meneruskan usahanya. Dengan syarat dia juga masih bisa menyalurkan hobi dan juga kemampuannya di bidang desain.


Terkadang ada beberapa teman masa kuliahnya dulu yang mengajak nya untuk join dalam proyek mereka. Dan ketika proyek itu deal, Ardan juga mendapatkan komisinya.


Lumayan bisa buat nambah modal buat nikah pikir nya saat itu, sekarang dia memikirkan masa depan keluarganya, karena dia ingin memiliki anak juga.

__ADS_1


Meski saat ini istrinya Rei belum menunjukkan tanda-tanda sudah berisi. Dia tidak menampik jika dia ingin segera menimang anak seperti adiknya.


###


__ADS_2