Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
44. Berhenti mengganggu nya


__ADS_3

Sementara Rei beristirahat dirumah pribadinya, di lain tempat Ardan justru sedang menuju sebuah cafe di salah satu sudut kota itu.


Sebelumnya dia sudah lebih dulu mengatur jadwal pertemuan dengan seseorang yang sudah lama ingin dia temui.


Sempat terjebak macet karena jam pulang kerja, akhirnya mobil yang dikendarainya memasuki halaman cafe. Nuansa klasik dari bangunan dan interiornya, membuat betah pengunjungnya.


Memasuki ruangan yang tampak mulai ramai oleh pengunjung, cafe sederhana ini sudah berdiri sejak beberapa tahun lalu. Hanya saja sejak pemilik yang lama memilih pindah ke luar negeri, akhirnya sempat terbengkalai.


Tapi dengan sedikit sentuhan, tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya, siapa sangka sekarang jauh lebih banyak pengunjungnya. Ya cafe ini dulunya adalah milik rekan bisnis Ardan sekaligus sahabatnya.


Berawal dari hobi nongkrong dan minum kopi, akhirnya Ardan, Fariz dan Bimo berencana membuka angkringan ala mahasiswa. Modal patungan pun jalan, tapi mereka tak putus asa. Dari hanya sewa tempat sederhana, dengan menu sederhana ala mahasiswa pada umumnya. Dan hemat dikantong tentu saja, siapa sangka usaha mereka terus ramai.


Kemudian melihat ada bangunan tua yang tak terjamah, Ardan yang basic nya seorang arsitek meminta dukungan papanya untuk menyewa bangunan itu. Tapi ternyata Fariz yang lebih dulu melihat peluang malah menyewanya. Dengan bantuan Ardan, bangunan tua itu disulap menjadi cafe dengan nuansa klasik. Meski sebenarnya Ardan sudah mulai merintis bisnis restoran yang dia kelola sendiri, tapi dia tak segan membantu kawannya memulai bisnis cafe.


Setelah membuat konsep cafe nya, menu dan segala faktor pendukung, akhirnya cafe itu pun berdiri. Dua tahun kemudian Fariz memutuskan menerima tawaran pekerjaan di salah satu perusahaan otomotif di Amerika, dia pun mengundurkan diri dari manajemen cafe. Tak selang berapa lama, Bimo yang menikah dengan salah satu putri pengusaha textil di Australia.


Akhirnya Ardan sendirilah yang membangkitkan lagi cafe itu sehingga menjadi lebih besar seperti saat ini. Kalau dulu Fariz menyewa nya, maka kali ini Ardan membelinya tentu saja lewat koneksi papanya. Dan tentang manajemen cafe, Fariz dan Bimo sudah menyerahkan sepenuhnya pada Ardan.


###


Menjelang weekend begini cafe ramai dikunjungi oleh mayoritas mahasiswa dan karyawan, mereka melepas penat setelah rutinitas selama seminggu. Apalagi saat malam minggu, jauh lebih ramai karena ada live music tiap minggunya. Dan pengisi acaranya juga bukan cuma penyanyi indie dikota ini, pengunjung pun boleh menunjukkan bakatnya disini.


Tapi jika belum berani tampil didepan banyak orang, mereka bisa memilih ruang karaoke yang ada disamping cafe ini. Selain menunya beragam dan juga pas dikantong, pelayanan nya juga memuaskan. Itulah mengapa cafe ini selalu ramai.


Menikmati secangkir expresso yang disuguhkan oleh pelayan, membuat pikirannya lebih tenang. Aromanya benar-benar menenangkan, pantas saja aneka menu kopi disini selalu juara, karena barista nya sungguh pandai meramu kopi sesuai pesanan.


Sesekali matanya tampak mengawasi pintu dimana tamu mulai berdatangan, pandangannya tertuju pada salah satu executif muda yang tingginya hampir sama dengannya. Bedanya pria itu lebih terlihat dewasa sesuai umurnya. Ardan mengenalinya, dia adalah Elang.

__ADS_1


Sore tadi sebelum menuju kemari, Ardan menyempatkan bertemu dengan salah satu kliennya. Berencana menyewa cafe untuk acara gathering kantor, siapa sangka yang menghubunginya adalah mantan pacar dari kekasihnya, sekaligus orang yang membuat hubungan mereka renggang belakangan ini.


Untungnya Elang tidak kenal Ardan sebagai kekasih Rei, jadi dia tidak tahu kalau pertemuan ini sekaligus Ardan gunakan untuk berbicara empat mata tentang Rei.


Tampak Elang menuju ke arahnya dengan diantar oleh salah satu karyawannya. Mereka saling berjabat tangan, sambil menunggu minuman datang mereka pun membicarakan tentang acara gathering itu. Terlihat akrab, karena baik Ardan maupun Elang termasuk orang yang gampang berbaur, jadi tak sulit untuk mengenal orang baru.


Sesekali mereka berbincang masalah pribadi, tentang kehidupan dan pekerjaan masing-masing. Siapa sangka jika keduanya adalah rival. Ya mereka sama-sama menyukai seorang wanita, dan mereka juga terlibat dengannya. Jika Elang adalah masa lalu Rei, maka Ardan adalah masa depan Rei.


Tak butuh waktu lama, keakraban itu pun terjalin dan kerjasama diantara keduanya pun mencapai kesepakatan. Keduanya pun menikmati menu yang diantar pelayan. Tapi setelah semua keakraban itu terjalin, Ardan mulai mengutarakan maksudnya.


"Bro, maaf sebelumnya apa dikantormu ada yang bernama Renita?" tanya Ardan pura-pura. Dia ingin tahu sejauh mana Elang menjawab pertanyaannya dengan jujur.


Elang nampak kaget dengan pertanyaan itu, bagaimana bisa orang didepannya ini mengenal Rei. Secara Rei bukanlah pribadi yang kaku, tapi untuk mengenalnya pun butuh waktu. Buktinya hampir empat tahun kenal dan dekat dengan Rei, Elang baru bisa merebut hatinya setelah tahun kelima, disaat mereka sudah memutuskan menjalin hubungan serius ternyata dia sendiri lah yang membuat Rei kecewa dan memutuskan hubungan sepihak karena kesalahan masa lalunya.


Dan dia baru menyadari bahwa kesalahannya pada Rei sudah tidak bisa dimaafkan, terbukti sampai detik ini Rei tidak mau lagi berhubungan dengannya. Meskipun itu sebatas pimpinan dan bawahan, Rei selalu mencari alasan untuk menghindarinya.


"Ya, dia adalah salah satu karyawan senior disana." Elang kemudian mengambil minumannya, dengan mata yang masih mengawasi Ardan.


" Hei, bagaimana anda bisa kenal dia? setahu saya Rei itu agak susah berteman." ucapnya kemudian.


Ardan tersenyum, Elang pasti curiga dan akan menanyakan semua tentang Rei. Tapi sayangnya Ardan sudah menetapkan Rei sebagai miliknya jadi dia tidak akan pernah melepaskannya, apalagi pada mantannya.


Dia hanya akan sedikit bermain dengannya. Dia sudah tahu siapa rivalnya kali ini, tak sulit baginya mencari informasi tentang Elang Perkasa Alam. Tapi dia juga bukan lawan yang sulit dijegal. Melihat usahanya selama ini kembali mendekati Rei, bahkan barang-barang yang dia beri juga tidak sedikit.


Tapi Ardan tetap menang, karena dia tahu poin plusnya. Rei bukanlah wanita materialis, yang hanya dengan diberikan hadiah maka dengan mudah menaklukkannya. Terbukti semua pemberian Elang tak ada satupun yang Rei buka, bahkan beberapa langsung dikembalikan.


Kini saatnya pembicaraan antar lelaki, jadi mari kita mulai. Jika nanti harus ada persaingan ketat, semoga bisa berlaku sportif. Here we go

__ADS_1


"Aku tak sengaja mengenalnya, dan seperti yang anda tahu Rei bukan perempuan yang mudah ditaklukkan." Ardan tergelak mengingat pertemuannya pertama kali.


"Terus bagaimana anda bisa dekat dengan Rei? jangan bilang anda juga tertarik padanya" tanya Elang penuh selidik.


Ardan tergelak, dia mencembikkan bibirnya dan menaikkan salah satu alisnya. Elang tahu ada maksud lain dari raut wajah lelaki dihadapannya.


"Kenapa tidak, Rei cantik dan semakin diperhatikan dia menarik. Lelaki mana yang tak ingin dekat dengan dia, termasuk anda juga kan" jawab Ardan, dan itu spontan membuat Elang tertohok.


"Wah, sepertinya saya akan memiliki saingan berat kali ini. Rei memang cantik dan pribadi yang menarik. Dia benar-benar tak mudah ditaklukkan." Elang, tak menampik kenyataan bahwa Rei memang berbeda dari perempuan lain yang pernah dekat dengannya, termasuk mantan istrinya.


" Ya, dan saya harap anda berlaku sportif kali ini. Karena apapun keputusan Rei, kita harus menghormatinya." Ardan masih percaya bahwa dia selangkah lebih maju.


"Baiklah, karena ini menyangkut masalah hati. Jadi kita bersaing secara sehat. Bagaimana?" masih dengan pede nya Elang menjawab.


"Oke, deal. Tapi jika Rei sudah memilih keputusannya, saya harap anda berhenti mengganggunya." masih dengan nada santai namun tegas, Ardan menjulurkan tangan kanannya.


Ardan masih belum membuka siapa dia, karena baginya itu tidak penting. Sekarang saatnya dia bertindak cepat menjadikan Rei sebagai miliknya, satu-satunya. Dan laki-laki ini hanyalah mantan yang dengan mudah Ardan singkirkan jika dia mau.


Namun sepertinya dia tak ingin gegabah, karena Rei bisa semakin menolaknya jika dia berbuat kasar. "Oke Ardan, bersiaplah kamu segera buat Rei jadi milikmu, hanya milikmu." batin Ardan.


Keduanya lalu saling berjabat tangan, dan karena jam tangan sudah menunjukkan angka sembilan, Ardan kemudian berpamitan. Dia akan menemui seseorang untuk memuluskan misinya kali ini.


Siapakah dia? hanya Ardan dan Otor yang tahu😅.


###


Semoga kali ini lulus review ya, jangan lagi deh ditolak karena kemarin sempat membaca novel hot jadinya pikiran otor ikutan error😂.

__ADS_1


__ADS_2