
Hari berganti, tak terasa minggu ini adalah masa HPL nya bumil yang sudah tak sabar menanti launching nya sang baby.
Baby utun Dina menyebutnya, tanya alasannya kenapa? karena dia suka tak perlu tanyakan lagi, bisa jadi cerpen bersambung nanti.
Tak cuma calon ibu dan calon ayah yang tak sabar, seluruh anggota keluarga besarnya pun ikut menanti kabar gembira tersebut.
Para calon nenek dan calon kakek pun tak kalah hebohnya, mereka sudah menyiapkan kamar khusus bagi bayi yang bahkan belum diketahui jenis kelaminnya tersebut, karena Dina tak pernah mau menanyakannya, dan biar suprise katanya.
Jadilah para calon nenek dan kakek saling menebak kelaminnya, tak ketinggalan calon om dan tante yang juga ikut berpartisipasi. Mereka terbagi dalam dua kubu. Perempuan dan Laki-laki. Masing-masing kubu mengklaim jawaban mereka lah yang tepat. Dan tentu saja biar seru, mereka mengadakan taruhan, kubu yang tebakannya benar akan ditraktir oleh kubu yang kalah.
Aduh kok malah jadi taruhan sih, oma sama opa ini sepertinya benar-benar antusias mengadakannya. Dan anehnya justru kubu perempuan yang memilih adalah para laki-laki, sedangkan sebaliknya kubu laki-laki berisi semua perempuan di keluarga besar itu.
Tak mau kalah Rei dan Ardan juga ikutan taruhan, tapi kali ini isinya cuma modus dari calon om ganteng dan murah senyum ini. Bagaimana tidak, karena hukuman yang diminta Ardan tidak tanggung-tanggung, minta jatah 2 ronde sekaligus.
Aduh om, itu hukuman atau rapelan jatah sih 😂. Apa ga kasihan sama istrinya? Sepertinya sih abis kena ramuan yang diberikan mbak asisten yang selalu up to date itu deh, jadi ketagihan kan😅.
Meski Rei menolak hukuman yang diberikan tapi tidak ada kamus menyerah, tinggal tunggu saja tanggal mainnya.
###
Orang tua Miko datang dan sengaja menginap di rumahnya, mereka lebih memilih meliburkan diri berjualan daripada melewati hari bahagia menyambut calon anggota baru.
Mereka senang bertemu lagi dengan anak dan menantunya, papa dan mama Dina menyambut besannya dengan sangat baik. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu bersama. Jalan-jalan, belanja (itu mah hobi nya mama ya☺), makan, dan berbagai kegiatan lainnya.
Termasuk main kerumah orang tua Rei karena mereka adalah tetangga lama. Terkadang orang tua Rei dan juga kak Dani sekeluarga ikut bersama mereka. Ya bukankah semakin rame semakin seru, jadi kapan lagi ada acara kumpul keluarga seperti ini.
###
Beberapa bulan menjalani rumah tangga baik Rei maupun Ardan tidak pernah menargetkan kapan akan memiliki anak. Mereka tidak pernah membuat program untuk mewujudkan keinginan terbesar setiap pasangan yang sudah menikah.
Mereka berdua masih menikmati kebersamaan mereka berdua, tanpa harus memikirkan masalah anak. Bohong jika mereka tidak menginginkannya.
__ADS_1
Bahkan mereka jauh lebih antusias menanti kelahiran calon anggota baru keluarga. Mungkin mereka anak muda yang memiliki kehidupan modern tapi mereka sangat menghormati petuah dari orang tua yang masih memegang teguh adat istiadat.
Kedua orang tua mereka juga tidak pernah memaksa untuk secepatnya memiliki anak, karena baik Rei maupun Ardan masih butuh mengenal karakter mereka masing-masing.
Walaupun banyak juga yang menanyakan kapan mereka menyusul Dina untuk memiliki anak. Ardan dan Rei hanya menanggapinya dengan senyum.
###
Dua hari berlalu sejak Rei dan mama menemani Dina periksa kandungan ke dokter. Dokter mengatakan baik ibu dan janin sehat. Tekanan darah normal calon ibu normal, detak napas dan gerakan janin juga bagus.
Dan kini tinggal menunggu kesiapan calon ibu muda ini untuk melahirkan. Kakinya sudah mulai bengkak, sering mengalami sakit perut yang tiba-tiba, dan pinggangnya juga terasa nyeri.
Dokter bilang itu kontraksi palsu, dan akan semakin sering terasa ketika sudah mendekati kelahiran. Mama memberikan semangat pada Dina, dia tahu putrinya itu masih takut dan cemas.
Tapi mama meyakinkan, sakit yang dia rasakan saat hamil dan menjelang lahiran nanti tidak akan ada artinya ketika melihat bayi itu lahir ke dunia.
Dina terharu teringat bagaimana perjuangan sang mama dulu ketika melahirkan kakak dan juga dirinya. Rei tersenyum, mencoba menenangkan adik iparnya.
Meski dia sendiri belum pernah tahu bagaimana rasanya, paling tidak melihat bagaimana dulu kakaknya berjuang saat melahirkan merupakan pengalaman berharga.
Sepulang dari dokter kandungan, mereka bertiga menyempatkan diri mampir ke rumah orang tua Rei, karena Rei sudah kangen dengan kedua keponakannya.
Kedua keponakannya itu memang sedang berada disana untuk beberapa hari karena mama dan papanya sedang ada acara diluar kota.
Sesampainya disana, mereka bertiga sudah disambut oleh keduanya. Mereka sangat senang melihat kedatangan Rei bahkan tidak mau lepas sedikitpun.
Mereka ikut kemanapun Rei pergi, mama dan Dina tertawa saat keduanya memegangi kaki Rei karena tak ingin ditinggal.
"Maaf ya bu, ini anak-anak memang suka begini sama tantenya, kadang malah lebih parah sampe guling-guling. Apalagi kalo nak Ardan kemari mereka tambah ga mau lepas dari Rei. Kata mereka tantenya ga boleh dibawa pulang."
Mama Rei bergabung dengan besannya setelah menyelesaikan masakannya, meski ada bibi yang membantu tapi memasak tetap tanggung jawabnya. Karena cucu-cucunya cuma mau makan masakan neneknya.
__ADS_1
"Gapapa bu, maklum kok. Paling juga nanti saya akan seperti itu juga, rempong sama cucu."
Mereka tertawa, ketika mereka masih muda baru memiliki anak, repotnya sama anak-anak tapi setelah memiliki cucu, malah repotnya sama cucu.
"Tante, sini aja jangan duduk disana. Main sama aku." Ucap keponakan Rei yang lebih besar. Sang kakak memang sangat dekat dengan Rei sejak lahir, berbeda dengan adiknya yang kadang suka cuek.
"Endak mau, tante main sama adek. Kakak kan tadi udah main, sekarang adek." si kecil tak mau kalah.
Keduanya berebut dan minta Rei bermain bersama. Rei yang sudah tahu kebiasaan keduanya yang sama-sama tidak mau mengalah, memilih mengajak kedua kakak beradik itu mendekat kerarah mama dan mertuanya.
"Kesana yuk, lihat bibi bawa apa itu? hmmm...sepertinya enak, tante mau ah. Kakak sama adek mau ga? kalau mau, ayo cepetan biar ga dihabisin sama tante Dina. Tante Dina makan nya banyak loh."
Rei berdiri dan menggandeng kedua keponakannya, mereka mendekat ke arah meja yang sudah ada beberapa gelas teh hangat dan juga pisang goreng.
"Tante, tante Dina makannya banyak ya kok perutnya besar, kayak mau meletus" si kakak mendekat kearah Dina.
"Hahaha...tahu aja kalau tante Dina suka makan. Tapi perut tante besar bukan karena banyak makan, didalam perut tante ada adek bayinya." jawab Dina.
"Oh, kakak perut mami waktu ada adek dulu ya?" ucapnya lagi. Dina gemas dan memegang pipinya. Pengen digigit tapi takut nangis, gemesin kayak bakpau.
"Iya sayang. Mau nyapa adek bayi nya ga? sini tante kasih tahu."
Dina lalu mengelus perutnya pelan, tak lama perutnya bergerak terasa sakit karena ternyata si baby utun menyapanya. Dan itu membuat anak kecil yang sedari tadi memperhatikannya jadi tertarik, dia ikut mengelus perut Dina.
Merasa ada respon dari bayi dalam perut tantenya, si kakak mengulangi lagi sambil tertawa. Bahkan dia mencium perutnya dan mengajaknya bicara.
Sang adek yang sedari tadi diam dipangkuan Rei sambil makan pisang goreng yang sudah Rei tiupkan, ikut tertarik.
Dia tiba-tiba turun dari pangkuan Rei dan mendekat kearah kakaknya. Kedua balita tersebut seperti punya mainan baru, mereka sangat menyukainya. Sesekali mereka tertawa terbahak saat melihat perut besar itu bergerak di beberapa tempat.
Mungki kaki atau tangan baby utun yang merespon, meski sedikit nyeri saat baby utun menendang tapi dia senang karena bisa membuat balita lucu dan menggemaskan ini tertawa bahagia.
__ADS_1
###
Next ga nih...