
Pagi saat adzan subuh berkumandang, mama Rei berniat membangunkan Ardan dan Rei, tapi saat melewati kamar Rei, mama dibuat tercengang dengan pemandangan di depannya.
Tak lama kemudian papa menyusul karena akan sholat subuh berjamaah, melihat mama yang diam didepan kamar Rei.
"Ma.. " papa menepuk pundak mama, melongo melihat ke dalam kamar Rei.
"Ssttt.. papa nih, kayak ga pernah muda aja. Lihat begitu besar perhatian Ardan sama Rei, sampai tidur sambil duduk memeluk Rei begitu."
"Tapi ma, mereka masih belum muhrim mana boleh begitu." protes sang suami.
"Ih papa...mereka ga ngapa-ngapain kok, harusnya pemuda itu tidur di kamar tamu, tapi demi Rei sampe rela tidur meluk Rei begitu, emang ga sakit apa semalaman tidur sambil duduk. Capek tahu" mama tiba-tiba sewot, meninggalkan papa untuk membangunkan dua sejoli itu. Keduanya lalu masuk mendekati sejoli itu.
"Rei, bangun subuhan dulu keburu habis." mama menepuk kaki Rei, yang bangun bukan hanya Rei tapi Ardan juga. Sambil mengucek matanya, mengumpulkan kesadaran.
"Mas, maaf ya gara-gara mau nemani aku tidur malah tidur disini, sambil duduk lagi. Capek ya"
"Enggak kok sayang, hanya lenganku rasanya kram semalaman tidur seperti ditindih anak gajah" canda Ardan.
"hmmm.... jahatnya" Rei merajuk, Ardan jadi makin gemas melihatnya.
"Sudah ayo mandi terus sholat subuh, mama dan papa sholat duluan." mama meninggalkan mereka.
Mereka pun bergantian ke kamar mandi, lalu turun menuju musholla dirumah ini. Papa dan mama sudah kembali ke kamarnya. Tinggal Ardan dan Rei yang sholat berjamaah.
Selepas sholat subuh, mama dibantu bibi menyiapkan sarapan. Rei dan Ardan kembali ke kamar, hari ini akad nikah Miko dan Dina, Rei pun ingin menyaksikan acara sakral tersebut.
Sambil menyiapkan keperluannya untuk nanti siang, Rei lalu merapikan tempat tidur nya. Lalu kemana Ardan? Pemuda tampan itu tak mau melewati masa pedekate dengan sang calon mertua.
Selepas sholat subuh Ardan mendatangi tempat favorit papa Rei dirumah itu, yaitu teras belakang. Disana ada beberapa sangkar burung perkutut dan beberapa burung berkicau lainnya.
Ya hobi papa Rei sejak muda adalah memelihara burung berkicau, walaupun bukan penghobi kelas berat tapi sejak pensiun ini adalah kegiatannya mengisi waktu luang.
Kedua lelaki beda usia ini tampak asyik mengobrol, bahkan sempat mengabaikan mama yang datang membawakan kopi dan gorengan. Meskipun terabaikan tapi mama senang akhirnya papa bisa membuka hati untuk calon menantunya itu.
__ADS_1
Jam menunjukkan waktunya sarapan mereka sudah berada di meja makan, dan sudah bersantap pagi. Masih ada kecanggungan disana tapi tidak sekaku sebelumnya.
"Rei nanti mau ikut mas Ardan ke akad nikahnya Miko pa, ma" Rei membuka obrolan.
"hmmm" jawaban singkat papa
"Jangan lupa obatnya dibawa dan diminum biar kamu segera pulih" mama mengingatkan.
"Siap ma"
Mereka pun melanjutkan sarapan pagi ini, dan bersiap pergi ke tempat akad nikah Dina. Renita menyiapkan baju dan perlengkapan lainnya untuk acara nanti, Ardan masuk setelah lebih dulu mengambil pakaian gantinya.
"Mas, mandi dulu gih aku sudah siapin air nya."
"makasih sayang" Ardan mengedipkan sebelah mata nya, Rei hanya menggeleng kepala.
Ardan sudah memulai ritual mandinya, Rei menata barang bawaannya dalam koper kecil. Menyelesaikan riasan ringan diwajahnya, Rei lalu mengganti baju dengan gaun selutut berwarna hitam, tidak terlalu menunjukkan lekuk tubuhnya tapi tetap elegan.
Ardan yang keluar dari kamar mandi hanya bisa menatap wanitanya penuh takjub, matanya tidak berkedip. Rei yang menyadari itu lalu memalingkan muka, malu sudah pasti. Tapi bukan karena ditatap tanpa henti, melainkan karena menyadari bahwa pria dihadapannya sedang berpose setengah telanjang. Hanya mengenakan handuk dan dada telanjang dengan roti sobek yang menggoda.
"Kenapa hmm, mumpung ada kesempatan bisa dipuas-puasin kok." bisiknya membuat bulu kuduk Rei berdiri. Tanpa sadar sesuatu tengah tegang dibawah sana. Hanya mencium aroma buah dari rambut hitam panjang didepannya, sudah membangkitkan gairahnya.
"damn... aku harus kerja keras menidurkannya" batin Ardan. Sementara itu Rei pun merasakan hal yang sama, bisikan Ardan pun mampu membangkitkan gairahnya. Tidak munafik, sebagai wanita dewasa yang pernah merasakan gairah, hanya bisa menelan saliva nya.
Ardan membalik badan Rei, mencium keningnya, hidung, pipi dan kemudian turun ke bibir tipis yang sudah dipoles lipstik merah itu. Menggigit pelan dan memaksanya membuka mulut, mengabsen dan membelit lidahnya. L*****n semakin lama semakin panas, keduanya sama-sama diliputi gairah, tapi kegiatan panas itu tak berlangsung lama. Ardan mengakhirinya dengan menempelkan dahinya.
"Maaf, aku tak bisa menahannya. Kamu benar-benar membangkitkan juniorku, sayang. Dan aku harus kembali menidurkannya." Ardan berlalu kembali masuk ke kamar mandi dan bekerja keras menidurkan junior.
Rei hanya tersenyum melihat nya, dirinya kembali merapikan riasan, kemudian menyiapkan baju yang akan dikenakan oleh Ardan hari ini. Setelah semua rapi, keduanya lalu turun dan menuju ruang makan, papa dan mama sudah menunggu mereka. Setelah kegiatan panas tadi mereka membutuhkan tenaga baru.
€€€€€€€
Di restoran Ardan dan Rei langsung menuju ruangan yang akan digunakan untuk acara hari ini, mengecek kembali semuanya. Sambil menunggu seluruh anggota keluarga besar berkumpul, dan penghulu yang akan menikahkan calon pengantin.
__ADS_1
Setelah semua siap, acara sakral pun berlangsung khitmad. Tanpa sadar mama, papa, Ardan dan kedua mertua Dina menitikkan air mata bahagia saat kata sah diucapkan oleh penghulu.
"Alhamdulillah, sudah sah dan mulai detik ini kamu sudah punya tanggung jawab baru adikku" batin Ardan.
Setelah menyalami seluruh anggota keluarga, mempelai berdua pun mulai sesi foto. Rei juga ikut merasakan kebahagiaan mereka, memeluk adik iparnya eh ralat calon adik iparnya itu dengan penuh rasa sayang. Rei ikut menitikkan airmata, entah apa yang ada dalam benaknya. Mungkin dia ingat akan pengalamannya terdahulu, apapun itu Rei tidak ingin apa yang dia alami juga dialami oleh adik iparnya itu.
"Selamat ya Din, mulai hari ini kamu resmi menyandang status nyonya Miko. Semoga kamu bisa terus menemani dia, saat susah dan senang." bisiknya, Dina hanya mengangguk dan terharu dengan ucapan tulus calon kakak iparnya.
"Kalau kamu merasa kesulitan mengatasinya, kamu tinggal calling aja aku bantu hajar dia kalo berani macam-macamin kamu" Rei melirik Miko, pengantin pria ini hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sahabat sekaligus adiknya ini sudah mulai bisa berkelakar sekarang. Miko bersyukur, Ardan bisa membantu Rei melewati rasa traumanya.
"Kenapa ga sekalian aja kamu beberin semua kartu As ku Rei, biar aku ga bisa berkutik dihadapan nyonya Miko ini" Miko pun mengapit pinggang istrinya dan mereka bertiga tertawa bahagia.
Karena acara masih akan berlanjut resepsi nanti malam, jadi seluruh keluarga beristirahat kembali ke hotel. mama dan papa Ardan juga sudah meninggalkan mereka menuju rumah. Kedua mempelai juga beristirahat di kamar tamu yang terletak di belakang area restoran. Sambil menyiapkan keperluan untuk resepsi.
Rei yang tampak kelelahan juga sudah dibawa Ardan keruangan kantornya, beristirahat dikamar yang memang dibuat jika Ardan berada disana. Tak lupa Rei meminum obat yang sudah Ardan siapkan. Setelah membersihkan diri Rei merebahkan diri dikasur singgel yang ada diruangan itu, tak lama kemudian Ardan juga ikut membaringkan tubuhnya.
Beristirahat sejenak untuk melanjutkan acara yang akan berlangsung nanti malam. Karena lelah keduanya pun tertidur, tak lupa Ardan menyetel alarm di hape nya.
€€€€
Acara resepsi pernikahan Dina dan Miko benar-benar menyita banyak perhatian tamu undangan. Meskipun konsepnya sederhana tapi kesan mewah masih kentara. Tamu undangan yang terdiri dari rekan kerja Papa Ardan dan juga Ardan, teman kerja, teman kuliah dari kedua mempelai dan juga tetangga sekitar perumahan mereka.
Meskipun berasal dari keluarga kaya tapi papa Ardan tidak pernah membatasi pergaulan dengan masyarakat dari kalangan bawah. Karena bagi mereka, kekayaan yang mereka punya saat ini juga hanyalah keberuntungan, dan mereka tidak segan membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan.
Agar tidak ada kesenjangan sosial, mereka membagi 2 shift untuk tetangga dan karyawan nya, serta untuk keluarga dan rekan kerja mereka.
Orang tua Rei pun sudah tampak disana, bahkan ikut menyapa para tamu. Menggunakan seragam yang sama dengan keluarga Ardan dan besan, kedua orang paruh baya itu membaur bersama. Tapi ada sepasang mata yang menatap tidak suka, entah apa yang menyebabkannya begitu sinis. Bahkan seakan memandang rendah keluarga Rei.
Rangkaian acara resepsi sudah berakhir dan lancar, Ardan dan keluarga nya benar - benar puas karena acara demi acara sudah dilewati meski ada sedikit gangguan.
€€€€
Maaf baru bisa melanjutkan tulisan ini, setelah melewati masa isoman, merawat suami yang sakit dan meninggalnya paman dan bibi yang selisih sehari, dan akhirnya suami kembali ngedrop, dan qodarullah bapak dan ibu saya juga harus dilarikan kerumah sakit karena gejala covid, dan harus isolasi.
__ADS_1
Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca karya saya, meskipun banyak kekurangan semoga bisa diterima dengan baik. Terimakasih juga atas dukungan nya, jangan lupa like dan vote, tetap dukung Rei dan Ardan ya.