Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
49. Aku serius


__ADS_3

Ardan kemudian melepaskan Rei, tapi dia masih mendekapnya erat. Ingin Rei menjauh, dan berusaha untuk lepas dari dekapannya.


Tapi yang ada Rei malah membuat sesuatu yang tidur terbangun.


"Oh Tuhan...plis jangan sekarang" batin Ardan.


Masih mencoba melepaskan diri, tapi yang ada malah semakin erat Ardan memeluknya.


"Sudah diamlah, aku ingin istirahat. Aku capek nyetir seharian tadi." ucap Ardan, menutup mata.


Rei mendongakkan kepalanya, menatap wajah lelah itu. Meskipun gurat lelah jelas terlihat, tapi tetap saja ga bisa dipungkiri kalau wajah itu sangat tampan.


cup


Seakan tahu dirinya diperhatikan, Ardan mencium pucuk kepala Rei. Dengan mata tertutup, dia mengelus punggung Rei.


"Tidurlah, aku akan menemanimu." ucapnya pelan.


Tak lama terdengar dengkuran halus, Ardan sudah menuju alam mimpinya. Wajahnya tampak tersenyum.


Rei akhirnya ikut memejamkan matanya. Mereka masih tidur dalam posisi saling berpelukan.


###


Lepas tengah malam, Ardan yang tiba-tiba terbangun karena ingin ke kamar mandi, terbangun.


Lengan nya sedikit pegal karena tadi dibuat bantal kepala Rei. Berjalan ke kamar mandi, dan kembali dalam keadaan berwudhu.


Dia mengambil baju dan sarung yang sudah disiapkan Rei tadi sebelum tidur.


Melaksanakan sholat malam, meminta petunjuk yang Maha Kuasa, semoga apa yang dia inginkan tercapai.


Niat nya mempersunting Rei sudah tidak bisa ditawar lagi, dan selama itu niat baik, dia yakin pasti akan ada jalan untuk memudahkannya.


Curhat sama sang pemberi hidup, itu wajib hukumnya karena Dia lah pembuat skenario terbaik dalam perjalanan hidup manusia.


Selesai menjalankan ibadah sunah nya, Ardan lalu mengambil hape nya di nakas. Tak ingin mengganggu pujaan hatinya yang sudah mengarungi negeri impian, dia melangkah keluar menuju ruang tengah.


Duduk dan mulai membuka aplikasi hijau, memeriksa room chat dan sesekali komen di beberapa story kontaknya.


Wajahnya terkadang tersenyum, membaca status gokil milik teman dan juga keluarganya.


Teringat sang mama, biasanya jam segini sudah bangun sambil menunggu adzan subuh biasanya mama suka mengaji.


Mencoba menghubungi, setelah dua kali nada dering tak terjawab. Ardan mencoba lagi, kali ini langsung dijawab.


"Assalammualaikum." mama


"Waalaikumsalam, ma. Ardan boleh minta tolong." Ardan tampak ragu mengutarakan niatnya.


"Minta tolong, eh tumben anak ganteng minta tolong mama. Mana jam segini lagi, belum tidur atau ga bisa tidur?" goda mama


"cckk..mama, Ardan beneran ma minta tolong sama mama dan papa." Ardan tampak mendesah.


"Mau kah mama dan papa melamar Rei untuk Ardan." ucapnya lagi.


"Sayang, kamu serius. Kamu ga lagi ngeprank mama kan?" jawab mama


"Ma, mana ada aku becanda. Aku serius ma, dua rius malah" Ardan menyandarkan kepalanya.

__ADS_1


Masih terasa pening, ya karena Ardan memang kurang istirahat sejak pulang dari rumah ortunya, ketemu dengan Gama, dan akhirnya nekat menemui om Hadi.


"Oke..oke, mama percaya. Nanti mama bilang sama papa tentang rencanamu. Mama senang akhirnya kamu membawakan menantu buat mama." mama


"Mulai deh, menantu mama kan sudah ada cuma belum dihalalin aja." seloroh Ardan.


"Iya sayang, sudah dulu ya mama mau lanjutkan ngajinya, nanggung nih."mama


"Bye, ma. Assalammualaikum" Ardan


"Waalaikumsalam."


Sambungan telepon pun terputus. Ardan meletakkan hape nya di meja dan menuju dapur.


Rasa hausnya seketika datang, mengambil air putih yang ada di meja dapur, setelah menegak minumannya dia kembali merebahkan dirinya di sofa di ruangan itu.


Dia pun menutup matanya, rasa pusing yang tadi masih menderanya. Sesekali memijat pelipisnya, berusaha mengurangi rasa pusing.


Dia terlelap tak lama kemudian, rasa capek dan ngantuk menjadi satu dengan rasa pusingnya. Biarkan dirinya istirahat lagi, tak ingin mengganggu Rei.


###


Adzan subuh berkumandang, Rei bangun dan melihat Ardan tidak ada disampingnya. Kemana dia, pikir Rei.


Masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Setelah melaksanakan sholat subuh, dia mencari keberadaan Ardan.


Kamar disebelah kamarnya pun kosong, masih tampak rapi. Kakinya melangkah lagi, menuruni tangga dan melihat ada yang terbaring di sofa.


Mencari saklar lampu, dan menghidupkan ruang tengah. Rei pun mendekat, menepuk pipinya pelan.


"Mas, bangun. Subuhan dulu" Rei


cup


Rei mencium bibir Ardan lalu tersenyum, tapi Ardan tak bergeming. Rei memutar matanya malas. Pokoknya kali ini harus bangun, awas kalo ga. Batin Rei


Cup


Lagi, tapi kali ini di pipinya. Eh tapi kenapa badannya hangat. Apa dia sakit, pikir Rei.


Meletakkan tangannya di dahi Ardan, benar badannya hangat, tak hanya itu dia juga meraba lehernya, panas.


"Mas, bangun dulu yuk. Sholat subuh, sudah hampir habis." ucap Rei


"hmmm...jam berapa ini? kepalaku pusing sayang." Ardan memijat kepalanya


Tapi dia mendudukkan tubuhnya meski masih merasa pusing.


"Ayo sholat dulu, di kamar tamu aja ya." Rei mencoba memapah Ardan, tapi badannya kalah jauh jadi agak sempoyongan.


Mereka masuk ke kamar tamu, Rei membuka mukenanya yang tadi belum sempat dibuka, kemudian melipatnya dan meletakkan di kasur.


Ardan sudah melaksanakan sholat subuhnya, Rei meninggalkannya sejenak. Dia menuju dapur, membuat air panas untuk kompres Ardan nanti.


Setelah itu Rei membuat bubur dan potongan ayam yang sudah di suwir halus. Rei tampak cekatan, meski dia jarang masuk ke dapur membantu mamanya, tapi kemampuan memasaknya terbilang lumayan.


Sama seperti Rei, Dani kakaknya juga pintar memasak. Sebelum menikah dia sempat mengikuti kursus masak dan bikin kue, bahkan sempat menerima pesanan.


Tapi sayangnya sejak menikah bang Heru, suaminya melarang dia menerima pesanan karena bang Heru sering dinas luar kota, dan kak Dani ikut suaminya.

__ADS_1


Apalagi sejak punya anak, hobinya memasak mulai berkurang karena waktunya lebih banyak tercurah untuk anak-anaknya.


Setelah bubur masak, Rei kembali ke kamar tamu dimana Ardan berada. Ardan kembali merebahkan diri di ranjang, meski tak se pusing tadi tapi badannya masih belum bisa beraktifitas maksimal.


Rei memeriksa suhu tubuhnya, meletakkan termometer ke dalam mulutnya. Mengambilnya dan melihat suhu, 38 derajat.


Cukup tinggi, pantas saja pusing. Rei lalu meletakkan handuk kompres yang sudah direndam dalam air hangat.


Benar saja, handuk itu cepat kering. Tak lama, Rei mengajak Ardan untuk bangun, dan makan bubur.


Ardan awalnya menolak, tapi Rei tak pantang menyerah. Akhirnya beberapa suap bubur berhasil masuk, dan ditelan. Meski mulutnya terasa pahit, tapi Ardan tidak mau Rei marah dan kecewa.


Setelah makan bubur, Rei memberikan paracetamol pada Ardan, membantunya minum.


Setelahnya Ardan dibiarkan tidur, tapi Rei tetap menjaganya, mengganti kompresnya dan sesekali mengecek suhu tubuhnya.


###


Hari mulai beranjak siang, Ardan masih tidur. Sesaat setelah melihat Ardan mulai berkeringat dan suhu tubuhnya normal, Rei meninggalkannya untuk membersihkan rumah, kemudian memasak untuk makan siangnya nanti.


Selesai beberes rumah dan masak, Rei lalu menyusun masakannya di meja makan. Sudah siap semua, tinggal menunggu yang mau makan saja.


Hah...


Rei kaget seseorang yang tadi ditinggalkannya masak, malah sudah duduk dikursi tepat dibelakang Rei dan dari tadi memperhatikannya.


Saking asyiknya beberes dilanjutkan masak, Rei lupa kalau pasiennya sejak tadi sudah bangun dan menyusulnya ke dapur.


"Mas, sudah bangun? sudah baikan? ga pusing lagi kan?" Rei memberikan serentetan pertanyaan.


Ardan tergelak, baru juga sembuh sudah diberondong banyak pertanyaan.


"Sini, duduk dulu. Kamu pasti capek kan?" kali ini ganti Ardan yang bertanya.


Rei duduk menyusul dirinya, senang akhirnya Ardan bangun. Duduk disampingnya dan lalu memeriksa tubuhnya, tak ada lagi panasnya.


"Alhamdulillah, kalo sudah sembuh. Sekarang mari makan" Rei mengambilkan piring untuk Ardan.


Tangannya terhenti, Ardan menggenggamnya dan mencium punggung tangan itu.


"Terimakasih sudah mau merawatku." Ardan menatap Rei lekat.


"Tak masalah, yang penting mas sehat. Dan jangan maksa bepergian jika badan tidak fit. Mas mungkin masuk angin, dan jangan telat makan ya, makanya badannya panas, dan pusing karena masuk angin." Ucap Rei panjang.


Sejujurnya dia kuatir, kalaupun dibawa ke dokter mana ada yang praktek pada hari minggu begini.


"Udah yuk, mari makan" Rei pun mengambilkan piring dan mulai mengisi makanan diatasnya.


Ardan tersenyum, belum halal aja sudah segitu perhatiannya, apalagi nanti. Khayalannya mulai mengajak bermain.


Dan keduanya diam, hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.


"Tak lama lagi, kau akan menjadi milikku seutuhnya." senyum Ardan, sesekali matanya memperhatikan Rei.


Rei tampak kikuk saat matanya tak sengaja bertatapan dengan Ardan. Dia pun tersipu malu, tak bisa menyembunyikan rona merah di pipi nya, Rei melanjutkan makan kembali.


###


Yang mau otw halal, sudah ga sabar ya.

__ADS_1


Like, komen, dan vote nya jangan lupa. Sampai jumpa.


__ADS_2