Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
14. Beri waktu


__ADS_3

Mencari keberadaan seorang Renita disaat jam istirahat atau jam pulang kerja itu ga begitu sulit, karena memang dia punya tempat sendiri untuk menikmati waktu luangnya.


Jika tidak dikantin atau di musholla, pasti ada di taman belakang kantor. Seperti hari ini, setelah jam kliring selesai, sambil menunggu adzan maghrib tiba Rei duduk ditaman belakang. Ditemani sebotol air mineral dan beberapa camilan, Rei menikmati semilir angin sore itu.


Membuka akun instagram nya, menjelajah dunia maya. Melihat beberapa postingan teman dan idolanya. Dan akhirnya berakhir disebuah postingan yang menandai dirinya. Tersenyum melihat gambar itu, ingatannya kembali ke beberapa tahun silam ketika Rei, Anita dan Sammy masih duduk dibangku kuliah.


Awal semester yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Meskipun akhirnya mereka berpisah setelah wisuda. Sammy harus mengikuti suaminya yang seorang warga negara Inggris, Renita yang harus mengikuti prosesi pernikahan kantor dari kesatuan tempat suaminya bertugas, sedangkan Anita juga tak jauh beda mengikuti suaminya yang bekerja di salah satu BUMN.


€€€€


"Rei, dicariin malah bengong" ujar Arini, napasnya sedikit ngos-ngosan setelah tadi dirinya sedikit berlari mendekati Renita.


"Kamu kenapa, sampai keringetan begitu?" tanya Rei.


"Aku nyariin kamu di kantin, tahunya ada disini." jawab Arini, mendudukkan dirinya disamping Rei.


"Ada apa? sampe semangat gitu nyariin aku, jangan bilang kamu kangen aku ya" canda Rei.


"Idih... geer, siapa juga yang kangen baru tadi kita makan siang bareng." Arini mengerucutkan bibirnya.


"Balik yuk, udah mau maghrib juga." ajak Arini kemudian. Mengambil biskuit yang dipegang Rei lalu memasukkan dalam mulutnya.


"Biasa deh, masih banyak juga ngapain ambil punya aku sih." protes Rei, mendengus kesal dengan kebiasaan sahabatnya itu.


"Malas, dah yuk sholat dulu abis itu cabut." mengambil tangan Renita yang masih memegang biskuit.


"Bentar napa, aku habisin ini dulu." gumam Rei, setelah menghabiskan biskuit dan air mineralnya, Renita lalu membereskan sampah yang tadi tertinggal dibangku, membuangnya ke tempat sampah dan melangkahkan kakinya menuju musholla.


Adzan maghrib berkumandang, beberapa orang sudah mengambil wudhu dan antri menunggu giliran. Menunaikan kewajibannya berjamaah bersama teman-teman dikantor nya, membuat Renita, Arini dan yang lainnya menjadi lebih tenang.


€€€€


"Kamu langsung pulang? tanya Rei ketika diparkiran.


Arini menjawab dengan anggukan, karena memang dirinya ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.


"Ya sudah hati-hati, aku mau ke restoran seafood didekat simpang tiga, ada janji sama teman." ucap Renita, sambil mengambil kunci mobil nya.


"Sama si itu ya, pengagum rahasia." goda Arini menyenggol lengan Rei.


"Mau tahu aja. Kamu sendiri bagaimana, sudah ngomong sama Rio"


"Belum, aku ga mau terlalu mencampuri urusan pribadi nya, tapi kalau dia mau menceritakan masalahnya aku akan dengan senang hati mendengarkan."


"Kenapa ga ajak dia ngomong, lagian kamu tahu kan Rio itu bukan tipe orang yang mau terbuka jika menyangkut kehidupan pribadinya."


"Justru itu, aku ingin memberikan waktu untuk dia sendiri dulu. Tadi siang aku tak sengaja melihatnya merokok di smoking area, aku lihat dia begitu suntuk. Tapi aku ga mau dia merasa terlalu aku ikut campur, meskipun aku sedikit banyak tahu masalah dia."

__ADS_1


"Kamu benar, biarkan dia sendiri dulu. Biar tenang."


"Oke, aku duluan ya. Bye" memasang helm nya menstater motornya.


Arini sudah keluar dari parkiran lebih dulu, Renita lalu masuk ke dalam mobilnya. Terdengar nada dering dari hape nya, mengecek no baru. Tanpa curiga Rei mengangkat teleponnya.


"Assalamualaikum"


"Aku sudah ditempat, kamu masih lama kah?" tanya suara diseberang.


"Aku sudah mau otewe nih, aku tutup dulu ya lagi nyetir."


"Oke, ditunggu"


klik telepon ditutup dan Rei pun melajukan kendaraannya menuju tempat yang dimaksud. Melajukan mobilnya sedikit pelan, karena jam pulang kerja membuat jalanan sedikit padat.


Menyalakan mp3 di mobilnya, terdengar lagu dari penyanyi favoritnya. Rei sedikit mengeraskan volumenya.


*Aku sedang bertanya-tanya


Tentang perasaan kita


Benarkah kita saling mencinta


Atau hanya pernah saling mencinta


Bukankah kamu juga merasa


Pertanyaan kamu sedang apa


Terkesan hanya sebuah formalitas saja


Coba tanyakan lagi pada hatimu


Apakah sebaiknya kita putus atau terus


Kita sedang mempertahankan hubungan


Atau hanya sekadar menunda perpisahan


Bukankah kamu juga merasa


Dingin mulai menjalari percakapan kita


Pertanyaan kamu sedang apa


Terkesan hanya sebuah formalitas saja

__ADS_1


Coba tanyakan lagi pada hatimu


Apakah sebaiknya kita putus atau terus


Kita sedang mempertahankan hubungan


Atau hanya sekadar menunda perpisahan,wo-o


Bila kau tanya, aku maunya apa


Aku mau kita t'rus bersama


Coba tanyakan lagi pada hatimu


Kita sedang mempertahankan hubungan


Atau hanya sekadar oh-wo-oo


Hanya sekadar menunda perpisahan*


song by Judika


Renita ikut menyanyikan lagu dari judika sambil terus menjalankan mobilnya, jalanan masih sedikit macet karena arah yang ditujunya merupakan daerah pertokoan dan perkantoran, dan jam-jam seperti ini memang terkenal macet.


Memutar ac nya menjadi lebih dingin, cuaca tampak kurang bersahabat baginya. Akhirnya setelah setelah melewati beberapa kali lampu merah yang lumayan lama, Rei bisa meloloskan mobilnya dan membelokkan kearah restoran seafood yang terkenal disana.


Memasuki pelataran parkiran restoran, tampak sudah dipenuhi oleh kendaraan yang memang ingin menikmati makan malam disana. Mencari area parkir yang kosong dipandu oleh penjaga parkir, Rei memarkirkan mobilnya.


Tak lupa mengecek hand rem dan kaca mobil, Rei mengambil tasnya lalu keluar. Menekan kunci autolock dari remote dan meninggalkan parkiran menuju pintu masuk restoran.


Benar dugaannya beberapa kursi sudah terisi dan ada yang sudah di reservasi, dipastikan akan lebih ramai lagi pengunjung. Rei mencari sosok penelpon yang mengajaknya ketemu hari ini, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Dan akhirnya tertuju pada meja dipojok kiri ruangan dekat kaca.


Rei mengenalinya, dialah Anita sahabatnya yang telah lama dinanti. Langkahnya terus mendekati meja dengan beberapa hidangan diatasnya, sepertinya sudah tidak sabar menikmati.


"Permisi bu, boleh saya numpang duduk disini?" sapa Rei, seperti mengenali suaranya dan..


"Rei... ya ampun, aku pangling loh sekarang" Anita menyadari kedatangan nya, dia kemudian memeluk Rei cukup lama, tanpa sadar mereka berdua menjadi pusat perhatian pengunjung restoran tersebut.


"Maaf ya" ucap Rei pada pengunjung disana, lalu melotot pada pemilik suara yang sedari tadi asyik memeluknya.


Anita menyeringai, tingkahnya tadi benar-benar membuat Rei malu, tapi bukan Anita namanya kalau tidak bikin heboh suasana. Tanpa rasa bersalah dia menarik tangan Rei untuk mendekat.


"Kamu apa kabar? aku kangen banget tahu" lagi-lagi suaranya menarik perhatian beberapa pengunjung.


ssttt...


Rei meletakkan telunjuk kanannya di mulut memberi kode untuk mengecilkan suaranya. Yang disuruh hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang ga gatal.

__ADS_1


€€€€


__ADS_2