
Setelah pergulatan panas mereka, Rei dan Ardan tidur terlelap. Mereka saling berpelukan hingga pagi menjelang.
Begitu juga dengan suasana kamar pemilik rumah, pemandangan yang sama Bayu dan Ratna yang tidur saling berpelukan setelah melalui malam panjang mereka.
Pagi menjelang, sayup-sayup suara adzan memanggil disela tidur mereka. Rei yang lebih dulu bangun langsung membersihkan dirinya.
Setelah itu baru membangunkan suaminya, mereka pun sholat berjamaah. Setelah menunaikan kewajibannya, Rei langsung mengemasi pakaian kotor mereka kedalam koper.
Ardan memilih membuka chat dari asistennya, memeriksa laporan dan juga mengecek stok bahan yang ada di dua kafenya.
Tak lama kemudian Rei menyusul suaminya yang masih tiduran diranjang. Rei memeluk suaminya dari samping.
Ardan membalas pelukannya dengan satu tangan karena tangan lainnya masih sibuk menscroll layar hand phone nya.
Masih terlalu pagi untuk keluar rumah, dan sepertinya gerimis turun pagi ini. Dingin terasa, dan bau tanah tercium setelah sekian lama.
Benar saja tak lama kemudian hujan turun, disertai dengan suara petir yang cukup keras. Rei memeluk erat suaminya, dia takut mendengar dan badannya sedikit gemetar.
Ardan memeluk istrinya yang ketakutan, wajar saja jika Rei takut karena suara petir itu terdengar jelas sekali. Hingga membuat Rei menutup telinganya.
Cukup lama hujan turun, hampir jam enam pagi tapi matahari belum juga keluar dari peraduannya.
Rei mencoba bangkit setelah dirinya agak tenang, Ardan juga masih tetap ada disampingnya.
Mereka berdua memilih untuk keluar kamar dan duduk di teras depan sambil melihat hujan. Ratna yang sudah lebih dulu keluar kamar langsung menuju dapur dan membuatkan tamunya teh hangat manis.
Pembantunya juga sudah menyiapkan camilan berupa pisang goreng dan ketela goreng. Bibik sudah belanja aneka sayur dan lauk dari penjual sayur keliling yang mangkal didepan rumah.
Meskipun hujan sedikit deras tapi tak menyurutkan para pejuang nafkah untuk menjemput rezekinya.
###
Hari sudah menjelang siang saat Rei dan Ratna pergi ke pusat oleh-oleh di kota itu. Ratna bahkan membelikan Rei banyak sekali makanan khas kota itu.
Rei awalnya menolak, karena dia hanya ingin membeli beberapa tapi karena Ratna memaksa akhirnya dia ikut saja.
Banyak makanan yang Rei baru lihat disini, mereka bebas mencicipi tester yang sudah disediakan oleh pihak toko.
Rei dan Ratna sudah menyelesaikan pembayarannya, mereka pun pulang. Rei dan Ratna bergantian menyetir mobilnya, karena Rei juga sudah lama tidak menyetir mobil sendiri.
Sesampainya dirumah Ratna, mereka seperti kedatangan tamu. Ada mobil terparkir didepan rumah Ratna.
__ADS_1
Rei dan Ratna turun membawa belanjaan mereka tadi. Sesampainya diruang tamu, ternyata sudah ada Rio dan Arini beserta bayi mereka disana.
Rei tampak senang sekali bertemu mereka lagi, awalnya Rei ingin mengucapkan salam perpisahan lewat telepon saja. Ternyata mereka malah datang kemari.
"Hai...sayang, kok ga bilang mau kesini. Kita kan ga jadi pergi."
Rei mencium bayi Arini. Bayi yang sedang tidur itu menggeliat. Tapi kemudian tidur lagi. Tingkahnya sangat lucu membuat Rei gemas.
"Kita tadi abis dari rumah sakit, kontrol pulangnya mampir kesini, siapa tahu tante Rei belum pulang, ya kan nak" Arini.
Bayu, Ardan dan Rio sedang ada pembicaraan lain seputar lelaki, entah apa itu. Sepertinya seru.
Ratna menyapa bayi mungil itu kemudian pergi ke dapur melihat bibi yang sudah menyiapkan makan siang mereka.
Sebentar lagi kedua anak kembar mereka pulang dari sekolah, jadi mumpung ada tamu sekalian aja mereka ajak makan bersama.
Si kembar sudah pulang sekolah, mereka langsung membuka sepatu dan meletakkannya ditempat sepatu.
Meletakkan tas dan peralatan sekolahnya di meja belajar masing-masing dan mengganti baju seragamnya dikamar.
Mereka dibantu bibi, karena masih terlalu kecil untuk bisa menggantung atau mengambil baju mereka sendiri.
Beruntungnya Ratna karena kedua anak kembarnya tidak terlalu rewel, bahkan meski usia mereka masih enam tahun mereka sangat menjaga kebersihan dan kerapian.
Kedua anak kembar itu masih tidur dalam satu kamar, untuk memudahkan Ratna dan Bayu mengontrol keduanya.
Tapi Bayu sudah menyiapkan satu kamar lagi yang sekarang dipakai sebagai ruang bermain mereka. Kamar itu nantinya akan digunakan salah satu dari mereka jika sudah tiba waktunya.
Rey dan adiknya Reyna sudah selesai ganti baju, dan bergabung bersama Rei dan Arini. Reyna langsung menciumi adek bayinya.
"Tante, adek bayi namanya siapa?"
Celetuk Reyna, Arini yang saat itu sedang berbicara dengan Rei menoleh. Arini tersenyum.
Baru tadi pagi Arini dan suaminya sepakat akan nama bayi mereka. Bintang Aryo Perkasa, nama yang mereka pilih, dan Bintang nama panggilannya.
Sikembar senang sekali mendengarnya, tak masalah mereka mengerti arti nama itu atau tidak yang penting mereka tidak lagi menyebutnya adek bayi.
Arini dan Rio membawakan Rei oleh-oleh khas kota ini, meskipun sama dengan yang Ratna belikan tadi tapi Rei tetap menerimanya, karena mereka sudah repot membawakannya.
Rei meninggalkan Arini dan bayi mereka beserta kedua anak kembar Bayu. Rei kembali ke kamar nya sebentar karena merasa perutnya sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
Entah mungkin karena tadi dia terlalu banyak mencicipi makanan di pusat oleh-oleh atau karena masuk angin.
Yang pasti Rei berasa ingin muntah, mulutnya serasa ingin terus meludah. Rei berjalan terburu-buru menuju kamarnya.
Rei tidak sadar jika sedari tadi ada mata yang terus mengawasinya. Merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya Ardan kemudian menyusul istrinya ke kamar.
Ardan mendengar suara orang muntah dikamar mandi, itu pasti istrinya. Ardan menyusul segera ke kamar mandi dan melihat istrinya sedang berjongkok didepan toilet.
Merasa sudah mengeluarkan isi perutnya, Rei lalu berhenti sejenak. Menarik napas panjang, tidak biasanya dia seperti ini.
Ardan mendekat dan memijat tengkuk istrinya, menanyakan keadaannya. Belum sempat menjawab Rei kembali muntah kali ini hanya cairan kuning.
Selesai mengeluarkan seluruh isi perutnya, Rei berdiri dan berjalan kearah wastafel. Dia mencuci mulutnya dan berkumur.
Ardan masih setia menemani istrinya, mengambilkan handuk kering di dekat wastafel.
Tanpa aba-aba Ardan menggendong istrinya, Rei kaget karena tiba-tiba badannya terangkat. Ardan membawa istrinya untuk beristirahat sejenak, mengolesi perutnya dengan minyak kayu putih.
Merasa istrinya sudah lebih baik, Ardan keluar kamar dan menyapa teman-temannya. Dia minta maaf karena istrinya tiba-tiba mual dan muntah.
Ardan merasa tidak enak dengan mereka, tapi semuanya memaklumi. Bahkan mereka tersenyum, Bayu menggoda Ardan jika dia akan segera menyusul mereka.
Semua mengamini, dan ikut senang semoga apa yang Ardan dan Rei impikan segera terwujud.
Arini dan Rio masih disana, menunggu Rei bangun. Bahkan mereka berniat mengantarkan Rei dan Ardan ke stasiun.
Lima belas menit berlalu, mereka mulai makan siang tanpa menunggu Rei. Membiarkan Rei beristirahat, tapi ternyata yang dibicarakan sudah ikut nongol dimeja makan.
Rei merasa sudah baikan setelah mengeluarkan isi perutnya, sekarang justru dia merasa sangat lapar.
Rei makan sangat lahap, porsinya pun dua kali lebih banyak dari yang menyusui. Ardan membulatkan matanya melihat istrinya makan selahap itu.
Tapi tidak dengan Ratna dan Bayu, mereka justru tertawa teringat saat Ratna hamil anak mereka dulu. Rio dan Arini hanya tersenyum melihat sahabat mereka sudah bisa makan lagi.
Jam menunjukkan pukul lima belas lewat dua puluh menit, kereta api yang akan Rei dan Ardan tumpangi akan berangkat pukul tujuh belas.
Mereka sudah bersiap dan semua barangnya sudah diletakkan di bagasi mobil. Rei dan Ardan berpamitan pada Arini dan Bayu.
Mereka tidak jadi mengantar karena Bayi mereka sedikit rewel, dan Rei memaklumi. Setelah berpamitan dan saling berpelukan, Rei berjanji akan kembali ke kota ini.
Sekarang giliran si kembar, Rei sedikit tidak tega saat Reyna tidak mau lepas dari pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, tante pulang ya. Nanti kapan-kapan main kesini lagi, atau kalian yang main kerumah tante, gimana?"
Rei mencoba membujuk Reyna, dan dengan sedikit drama akhirnya Reyna menyetujui. Tapi dia masih tetap memeluk Rei, seolah tak ingin berpisah.