
Beberapa hari setelah kejadian memecahkan kaca, Rio masih belum banyak bicara. Mama Rio pun kembali gusar karena anaknya kembali diam. Papa Rio yang sudah kembali dari luar kota juga sudah tahu kejadian itu, tapi tetap bersikap biasa.
Hal yang paling dihindarinya benar-benar terjadi, putranya dan keponakannya harus berselisih hanya karena masalah perempuan. Dari awal papa Rio tahu jika Boy dan Rio menyukai perempuan yang sama, tapi Boy berhasil mengendalikan ego nya, dia lebih baik pergi daripada memperebutkan wanita yang sama dengan saudaranya.
Rio berhasil mengajak Maya bertunangan tapi dia ternyata tidak pernah tahu keinginannya. Karena Rio sangat menjaga wanitanya jadi tak sedikitpun dia mau menyentuh. Tapi tidak dengan Maya, dia merasa Rio tak peduli. Maya ingin seperti teman-temannya berhubungan dengan lawan jenisnya secara normal, berpegangan tangan, berciuman.
Beberapa kali Maya mencoba mencium Rio tapi selalu ada alasannya untuk menolak, sampai akhirnya Maya frustasi dengan hubungan yang kaku dan membosankan ini. Hingga akhirnya niatnya untuk melanjutkan kuliah disetujui oleh kedua orangtua nya dan juga Rio.
Ternyata disana dia bertemu dengan Boy, sepupu Rio yang juga menyukainya. Berawal dari pertemuan di sebuah cafe dan akhirnya berlanjut. Intens nya mereka bertemu dan saling membutuhkan membawa mereka dalam hubungan terlarang.
€€€
Tok tok tok
"Rio, papa boleh masuk?" tak ada suara menyahut, tapi tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Rio keluar dengan wajah lelahnya, baru pulang kerja dan ingin istirahat.
"Papa mengganggu waktu mu, bisa kita bicara?" Rio menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.
Keduanya lalu masuk ke kamar Rio, duduk di tempat tidur. Papa Rio tampak mendesah, tidak mau rasa kecewa nya terlihat oleh putranya. Dan Rio pun sama, menarik napas dalam dan hembuskan. Sepertinya mereka memang butuh waktu untuk bicara antar lelaki dewasa.
"Pa, maafkan Rio mengecewakan papa. Rio tak bisa menjaga calon menantu papa dengan baik hingga dia meninggalkan Rio." berinisiatif memulai percakapan.
"Tidak nak, kamu tidak salah. Justru kamu sudah melakukan hal yang benar, menjaga wanita yang kamu cintai dan tak menyentuhnya sebelum halal."
"Tapi kenapa pa, kenapa harus Boy?" tanya Rio, emosinya mulai naik, tapi sebisa mungkin meredam nya karena tak ingin berkata kasar pada papanya.
" Ada kalanya kita kecewa, tapi kita tak pernah tahu yang akan terjadi nanti. Apa yang kita jaga dengan baik justru tak sesuai harapan, bahkan diluar kendali." menarik napas dan membuangnya, melihat ekspresi dari putranya.
"Kenapa harus Boy? Papa juga tidak tahu jawabannya, yang papa tahu dia sama seperti dirimu menyukai Maya. Hanya saja dia tak mau merebutnya, dia lebih memilih meninggalkan kota ini demi melupakannya. Tapi ternyata takdir kembali mempertemukan mereka tapi dengan jalan yang salah."
__ADS_1
"Rio, yakinlah perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki baik, begitu juga sebaliknya. Jika kamu mencintainya maka lepaskanlah dia, relakan. Mungkin dia bukanlah jodohmu. Ingatlah suatu saat nanti akan hadir wanita cantik yang akan menjadi jodohmu. Dan jika sudah yakin, jangan tunggu lama-lama segera halalkan dia."
"Papa tahu kamu kuat, kamu bisa menghadapinya. Sekarang kamu boleh kecewa karena hubungan mereka, tapi ingatlah lebih cepat kamu tahu maka lebih kecil rasa kecewa mu."
Papa Rio berdiri dan menepuk pundak anaknya, tidak mau melihatnya berlama-lama sedih. Melangkah pergi meninggalkan Rio, namun tiba-tiba Rio memeluknya.
"Pa, terimakasih. Maafkan jika Rio belum bisa memenuhi keinginan papa untuk menikah."
"Hei boy, papa hanya ingin kamu bahagia. Ayo bangkitlah, temukan wanita cantik untuk jadi pendamping hidupmu." Papa Rio membalas pelukan anaknya, menepuk punggungnya dan mengacak rambutnya seperti kebiasaannya dulu. Mereka lalu tertawa, kedua pria beda usia itu memang jarang sekali berbicara berdua apalagi dengan kesibukan masing-masing.
"Ya sudah istirahatlah, besok kamu harus kerja. Ingatlah belajar peka pada sekitarmu, ada gadis yang mencintaimu dalam diam. Temukan dia, dan bawa kehadapan kami sebagai menantu."
Papa Rio tersenyum dan meninggalkan Rio sendiri. Akhirnya selesai sudah, membuat keputusan penting demi kebahagiaan putranya.
Rio duduk menyender dikepala ranjang tangannya diletakkan dibelakang kepalanya, mencerna kembali obrolannya dengan papa. Mencoba memahami maksudnya, dan meyakinkan dirinya untuk segera melupakan cintanya.
Mulai hari ini Rio berjanji berusaha untuk melupakan Maya, dan kenangan mereka. Juga mencoba membuka hati, dan peka pada sekelilingnya seperti kata papanya.
Papa Rio kembali ke kamarnya, mendekati istrinya yang berusaha memejamkan mata.
"Ma...masih belum tidur juga?" tanyanya. Mencium kening istrinya dan memeluknya.
"Sudah selesai mens talk nya?" papa Rio mengangguk, lalu mulai memejamkan mata. Keduanya lalu masuk tidur dengan tersenyum.
€€€€
Setelah sarapan Rei buru-buru mengambil kunci mobil nya, dia lupa kemarin membeli eskrim dan semalam langsung tidur.
"Yah, encer dah" membuka kotak eskrim nya. Rei kembali ke dalam rumah, mama dan kakaknya saling pandang. Melihat wajah Rei yang manyun.
__ADS_1
"Kamu kenapa, bibirnya manyun begitu?" tanya kak Dani.
"Nih" memperlihatkan kotak eskrim nya, meletakkan diatas meja makan.
"Kamu beli eskrim, tapi lupa gitu?" Rei menganggukkan kepalanya. Mendesah kasar dan kembali menyantap roti bakarnya.
"Masukin aja ke freezer, gitu aja kok repot" celetuk mama dari arah dapur. Meletakkan nasi tim milik cucunya yang baru matang.
"Tapi kan rasanya beda ma, ga seperti waktu pertama beli."
"Lah terus gimana, mau dibuang? kan sayang Rei"
"iya sih ma" memasukkan roti bakar dan menguyahnya.
"Jadi orang kok pelupa sih, paling ingatnya sama si mas ganteng terus deh" goda mama
"Iya ma, makan tak enak tidur tak nyenyak. Maunya bareng mas ganteng mulu" Kak Dina ikut menggodanya
"Bilang papa suruh cepetan lamar aja ma, biar penyakit lupanya sembuh"
"iya benar kak, biar ga ngelamun mulu. Tidur juga ada yang nemenin."
"mama sama kakak apaan sih, males deh pagi-pagi godain mulu." Rei mulai merajuk.
"Duh, ada yang ngambek tuh. Udah yuk, tinggalin aja tar kalo mas ganteng kesini kita ga dibawain martabak lagi." Mama dan Kak Dani melangkah pergi meninggalkan Rei yang mulai kesal. Keduanya tertawa karena berhasil menggoda Rei.
Rei hanya bisa menggeleng kepala dan tersenyum, sudah lama mama dan kakaknya tidak menggoda Rei, apalagi sejak kematian suami pertamanya dunia Rei seakan berubah. Tak ada canda tawa seperti hari ini.
Untung saja sekarang ada Ardan yang dengan senang hati ikutan menggoda Rei, jadi mama dan papa bisa melihat tawa lepas Rei lagi. Semoga senyum Rei tak hilang lagi ya.
__ADS_1