
Ardan merebahkan tubuhnya di ranjang di ruang tamu rumah itu, senyumnya tampak jelas diwajahnya.
Diterima dengan baik oleh pak Hadi saja dia sudah senang, apalagi saat mengutarakan niat baiknya justru mendapatkan dukungan dari pak Hadi dan istrinya.
Tiba-tiba pikirannya melayang, membayangkan Rei disana. Sedang apa gerangan pujaan hatinya, memandangi foto-foto nya di galery.
Sejak pandangan pertama dia sudah mencuri kesempatan mengabadikan foto Rei diberbagai kesempatan.
Terkadang tingkah absurb yang tak sengaja terekam kamera membuatnya tertawa.
"Aku merindu, kuyakin kau tahu..." batinnya, tepat disaat layar hape nya berdering dengan nada dering yang sama dengan yang dia nyanyikan.
"Mama..." Ardan lalu menggeser layarnya, menerima telpon dari wanita yang sudah melahirkannya.
"Kamu dimana, kok ga ikut sarapan dirumah. Kemarin bilangnya ga mau nginep, tapi besok sarapan disini. Buktinya mana?" mama Ardan mulai memasang mode ganas.
"Kamu tahu ga, mama sampe telat sarapan gara-gara nungguin kamu, yang ditunggu malah ga nongol batang hidungnya."
"Iya, ma. Ardan mengaku salah." suaranya dibuat selirih mungkin, biar mama nya ga panjang kali lebar, tapi ternyata dugaannya salah.
"Udah, sekarang ganti videocall mama pengen tahu kamu dimana?" ucapnya kemudian.
"Siap, bu bos" Ardan langsung mengubah tampilan videonya.
"Nah, gini kan enak. Eh, tapi kamu dimana, ini bukan apartemenmu." Mama mulai melacaknya
"Gagal deh kasih kejutan" batin Ardan.
"Ardan dirumah om Hadi ma, mertua Rei orangtua Anton." jawab Ardan, dia mulai meletakkan kepalanya dibantal.
Seketika kepala nya pening, mengingat sang mama yang akan terus bertanya, menyelidik.
"Pak Hadi, maksud kamu..." mama tak melanjutkan ucapannya, karena papa keburu mengambil hape nya.
"Dan, salam ya sama om Hadi dan tante. Bilang, papa dan mama tunggu dirumah." Papa langsung memotong ucapan mama, dan itu menguntungkan Ardan.
"Oke, pa. Papa emang the best" ucap Ardan kemudian.
"Hei, maksud kamu mama ga the best gitu ya, awas ya kalo pulang mama balas." serang mamanya.
Papa dan Ardan hanya tertawa, jika ibu negara mulai kambuh mode selidik, jangan harap bisa lepas begitu saja.
"Siap ma, Ardan tunggu." Ardan tertawa
"Udah ya ma, mama cantik deh. Assalammualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab mama dan papa bersamaan.
__ADS_1
Ardan meletakkan kembali hape nya dan memilih beristirahat.
###
"Om, tante tadi dapat salam dari mama dan papa, katanya ditunggu kedatangannya dirumah" ucap Ardan ketika dia dipanggil keruang makan.
"Sebenarnya, ini belum waktunya makan malam. Tapi tadi nak Ardan kelihatan capek jadi tante ga bangunin buat makan siang." bu Suci
"Gapapa tan, Ardan masih kenyang kok. Ini juga Ardan sekalian mau pamitan."
"Loh kok sudah mau pulang, ga nginep sini aja?" tanya bu Suci.
Ardan tersenyum. Sebenarnya dia ingin sekali menginap disana, apalagi besok ada panen brokoli bersama para petani binaan Om Hadi.
"Mama, kayak ga pernah muda aja. Nanti malam minggu ma, waktunya apel." seloroh pak Hadi.
Ardan tergelak, niatnya terbaca telak oleh om Hadi. Dan tante Suci tampak mengiyakan.
"Dan, om dan tante minta tolong, kamu jagain Rei ya. Dia segala buat kami, jika terjadi sesuatu padanya maka kami akan merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanat almarhum" pak Hadi menatap Ardan, mencoba menyelami isi hatinya.
"Om dan tante, tanpa diminta pun saya dengan senang hati menjaganya segenap jiwa raga."
"Saya tahu bagaimana perasaan Rei selama ini, bagaimana dia terkucilkan dan bagaimana dia bangun dari keterpurukannya. Saya tak akan mengecewakan om dan tante." Ardan berkata sungguh-sungguh.
Dia tahu bagaimana resiko yang akan dia terima jika menyakiti hati Rei, bukan hanya orang tuanya tapi juga orangtua almarhum.
"Kalau begitu, ayo makan dulu biar ga masuk angin." ajak bu Suci
Ardan sebenarnya masih malas untuk makan, tapi menolak ajakan orangtua sungguh tidak sopan rasanya.
Jadilah mereka makan sore, bukan makanan berat seperti dugaan Ardan. Hanya kolak pisang dan tela, serta labu kuning dan sedikit buah nangka sebagai penambah aroma.
"Maaf ya nak Ardan, hanya ini suguhannya. Kalau makan nasi sekarang terlalu sore, om nya masih kenyang katanya." bu Suci mempersilahkan Ardan menikmati kolaknya.
Pak Hadi dan istrinya juga membawakan kolak kesukaan Rei ini di wadah plastik idola emak-emak nusantara.
Sambil menikmati kolak, pak Hadi juga bercerita tentang rumah pemberian almarhum untuk Rei.
Ardan nampak terkejut pasalnya selama ini dia tidak pernah tahu tentang rumah itu. Ardan tak masalah, karena itu milik Rei sepenuhnya.
Dan dia tak ingin mengungkit apapun harta peninggalan almarhum, karena dia pun bisa memberikannya jika mereka resmi menikah.
Pak Hadi juga berkata, bahwa Rei lebih suka menyendiri disana jika ada masalah. Berarti benar ucapan Miko tempo hari kalau Rei tidak ada dirumah orang tuanya.
Setelah memberikan alamat rumah dan beberapa makanan kesukaan Rei, bu Suci juga memberikan kunci serep rumah, jika sewaktu-waktu ada hal yang mendesak.
Entah bagaimana, feeling nya sebagai seorang ibu merasa perlu berjaga-jaga. Dan pak Hadi pun menyetujui.
__ADS_1
"Om, tante saya pamit. Terimakasih sudah menerima saya. Saya akan selalu ingat pesan om dan tante, dan akan saya jaga amanat dari almarhum" sekali lagi Ardan tak bisa menahan haru karena mereka menyambut dengan tangan terbuka.
"Pulanglah, hati-hati di jalan. Dan kami akan ikut melamar Rei pada orangtua nya." Pak Hadi memeluknya dan mengangguk ketika melihat Ardan terkejut dengan ucapannya.
Kedua orang tua itu senang Rei akhirnya menemukan jodohnya. Sekarang misi selanjutnya adalah meminta maaf pada Rei.
Ardan pun melajukan mobilnya, hatinya senang ternyata misi nya meminta restu orangtua Anton tidak sesulit perkiraannya.
Perjalanan pulang kembali ke kotanya tak selengang tadi, kali ini tampak kemacetan di beberapa ruas jalan karena akhir pekan banyak warga yang memilih liburan atau rekreasi bersama keluarganya.
Meski begitu Ardan tidak terburu-buru, dia menyetir santai dengan kecepatan sedang. Karena bagaimanapun tiba disana pasti akan malam.
###
Perjalanan pun dihentikan sementara karena adzan maghrib mulai berkumandang, setelah memarkirkan mobilnya Ardan kemudian menuju musholla untuk melaksanakan sholat.
Kebetulan ada beberapa orang yang akan sholat berjamaah, Ardan pun mengikuti meski sedikit terlambat.
Sebelum pulang Ardan mampir ke kafetaria di rest area tersebut. Dia ingin minum kopi karena sepertinya matanya mulai mengantuk.
Minum kopi hitam, lumayan membuat kantuknya hilang. Dan kini Ardan siap melanjutkan perjalanannya.
Beberapa jam melakukan perjalanan seorang diri memang tidak menyenangkan, sepi dan membosankan.
Tapi demi mendapatkan restu dan kembali bertemu pujaan hatinya, apapun akan dia lakukan.
Bukankah cinta itu buta? Dan selain buta, dia juga membuat orang yang jatuh cinta tuli, dan sedikit gila.
Sampailah dikotanya, suasana malam mingguan pun tampak di beberapa sudut kota. Anak-anak muda tampak di beberapa tempat nongkrong, di mall, alun-alun, cafe, bahkan di warteg.
Sepertinya akan menyenangkan makan seafood dipinggir jalan seperti ini, batin Ardan ketika melewati area pujasera di kotanya.
Dan sesuai rencana Ardan melajukan mobilnya ke alamat yang sudah diberikan om Hadi. Semoga saja Rei masih ada disana, karena jika tidak siapa yang akan menghabiskan kolak ini.
Ardan tampak cengengesan, ingat betapa hebohnya tante Suci menyiapkan semua barang bawaan yang khusus diberikan pada mantan menantu nya itu.
Mama akan punya saingan baru nih, Ardan menggelengkan kepala membayangkan mamanya.
###
Apa Ardan berhasil bertemu dengan Rei? Ataukah Kolak pisang dan kawan-kawannya akan berakhir di meja makan nya karena ternyata sang pemilik tidak ada di tempat. Kita lihat saja nanti.
Like, Komen, vote, dan hadiah, jangan lupa ya.
__ADS_1