Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
07. Pagi baru


__ADS_3

Senin lagi... Rasanya malas mengingat pasti akan sibuk hari ini. Tapi bukan Renita namanya jika mendiamkan dirinya dalam kemalasan.


Pagi ini pagi yang baru buat Rei, pagi di awal bulan dan akhir tahun ini. Sejak kepulangannya dari rumah papa Hadi, Rei sudah berjanji untuk mengubah mindset nya. Membuka hatinya untuk menerima cinta yang baru.


"Baiklah, mari kita sambut hari ini dengan semangat baru. Ganbatte! " Rei menyemangati dirinya sendiri.


Setelah memoles makeup nya, menyanggul rapi rambutnya dan tak lupa menyemprotkan parfum kesayangannya. Rei melangkah menuju ruang makan. Disana sudah ada papa, mama dan si gendut Fina. Rei sekarang lebih banyak tersenyum, dan itu tak luput dari perhatian Kedua orangtua nya.


"Kelihatannya ada yang semangat ya pa pagi ini, ceria sekali" goda sang mama.


"Iya, ma. Kayaknya ada yang jatuh cinta nih"


"Wah, berarti kita bakalan punya menantu baru dong. Senangnya bisa nambah cucu" tambah papa.


"Asek asek" Mereka berdua semangat sekali menggoda Rei yang hanya menggeleng kepala melihat kelakuan kedua orangtua nya.


"Mama sama papa itu kenapa sih? godain Rei mulu." sewot nya


"Abis nya ada yang beda sejak kamu pulang dari rumah papa Hadi, apa papa Hadi kenalin sama calon mantu mama ya?" Mama terus menggoda Rei sambil tertawa.


Suasana pagi itu diruang makan benar-benar beda, lebih hangat apalagi ketika si sulung ikutan nimbrung tambah heboh aja.


"Eit siapa nih yang mau punya mantu baru? Wah abang siap-siap ada saingan lagi nih." Sang kakak ikutan menggoda sambil mengedipkan mata pada suaminya.


"Yah, harus siap-siap nih papa ajakin begadang sambil main catur" ujar suaminya.


"Oh iya dong, kalo bisa ngalahin papa main catur lulus ujian calon mantu, hahaha" jawab papa.


"Kalian kenapa malah nyerang Rei mulu sih, males ah. Bikin mood Rei hilang nih" Rei cemberut, sambil memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


"Idih mana ada orang hilang mood tapi makannya banyak, ya kan pa?" Kakak mulai mengeluarkan jurus andalan nya.


Rei tahu pagi ini dia pasti akan digojlokin abis-abisan, tapi Rei senang karena mereka tidak pernah membatasi Rei dengan segala peraturan yang aneh bin ajaib.


Suasana seperti ini yang selalu Rei dambakan, dulu sebelum menikah dengan Anton selalu ada yang jadi bahan gojlokan, setelah menikah dengan Anton Rei hanya sesekali menjadi bahan guyonan karena Rei tinggal terpisah dengan mereka. Hanya lewat HP saja mereka berkomunikasi, setelah kejadian naas itu Rei mulai menutup diri, tak pernah lagi terlihat ceria. Ketika menikah dengan Reza pun Rei jarang sekali bisa tertawa lepas seperti ini, Karakter Reza yang sedikit kaku memang tak bisa mengimbangi kekonyolan keluarganya.


Bahkan Reza jarang sekali bisa berkumpul bersama keluarga nya, selain kesibukannya sebagai pengacara juga kesibukan lainnya dengan istri lainnya, yang baru Rei ketahui setelah tiga bulan pernikahannya.


Bodoh mungkin kata yang pas untuk menggambarkan keadaannya waktu itu, bahwa dibalik sikap Reza yang kaku itu justru menyimpan rahasia. Rahasia perselingkuhan nya dengan seorang wanita yang diakui sebagai klien nya dan ternyata adalah cinta pertamanya.


Disaat Rei mulai bisa menerima Reza sebagai suaminya, mulai menata hatinya dia harus melepasnya. Hubungan nya dengan Reza hanya sebatas suami istri karena tidak pernah mau terbuka tentang siapa dirinya.

__ADS_1


Melayani kebutuhan lahir dan batin, sudah sepatutnya Rei jalani sebagai seorang istri. Tapi karena kesibukan masing-masing mereka jarang sekali bercengkerama layaknya pasangan pengantin baru, hanya sebatas urusan ranjang saja.


Rei tersenyum kecut, baginya Reza adalah masa lalu, sekarang dia ingin memulai kehidupan baru dengan pendamping hidup nya kelak lebih baik lagi.


€€€€€


Seharian beraktivitas di tempat kerjanya membuat kepenatan bertambah. Rasanya hari ini ingin sekali menikmati waktu dengan jalan-jalan.


Kebetulan pula teman sekantornya akan melepas masa lajang, mereka mengadakan acara syukuran sekaligus pengajian. Rei dan teman-teman divisi nya akan bertemu di rumah si empunya hajatan. Sesuai rencana selepas maghrib, Rei akan pergi kesana.


Terdengar nada dering dari ponselnya, cukup lama karena pemiliknya masih di kamar mandi. Memakai jubah mandi dan handuk yang melilit dikepalanya, Rei mengambil baju ganti untuk acara hari ini.


Tak lama ponsel kembali berdering, Rei mendekat dan mengangkatnya. "Assalamualaikum" sapanya


"waalaikumsalam, eh jadi bareng ga?"


"Jadi dong, kan searah. Lagi malas bawa mobil nih."


"Ya udah 20 menit lagi kita samperin, ini lagi nunggu ketua rombongan jemput calon ibu negara."


"iya kah, wah ternyata diam-diam menghanyutkan dia ya. Sudah kenalan dong sama calonnya Miko?"


"Baru mau ganti baju bu, udah ditelpon"


"Ups sori, ya udah terusik lagi deh. Aku juga mau jalan, si Miko udah keluar tuh"


"Oke" Rei menutup telpon nya dan mulai berganti pakaian. Mengenakan tunik batik bercorak mega mendung berwarna navy dengan aksen ikat pinggang rantai kecil, dipadukan celana jins dan sepatu flat berwarna biru muda. Mengoleskan lipstik berwarna pink, Renita tampak segar dengan rambut hitam nya dibiarkan tergerai.


"Mau kemana neng, cantik amat ya" goda Kak Dani saat melihat adiknya turun dari tangga.


"Mau ke undangan syukuran nya Pandu Kak, mau lepas masa lajang dia."


"Oh, Pandu yang dulu pernah kirimin kamu bunga dan cokelat pas valentin kan, yang pernah nembak kamu tapi ditolak" Kak Dani menyeringai.


"Kakak bisa aja, emang aku nya ga suka kok lagian pas itu kan aku baru dilamar sama keluarganya Reza, daripada PHP mending aku tolak" jawab Rei


"Iya sih..Bawa mobil sendiri atau sama teman?"


"Dijemput anak-anak abis ini, udah otw kok"


"Oh, ya sudah. Kakak mau naruh si baby dulu di box nya, dah kenyang dia abis *****" Kak Dan mencium pipi bayinya yang mulai gembul.

__ADS_1


"Sini tante sayang dulu, kangen sehari ga ketemu." Rei menciumi pipi gembulnya, bayi itu tampak menggeliat.


"Udah-udah tar bangun lagi, kakak belum makan malam."


"Papa, mama mana kak? kok sepi? Fina dan bang Heru juga ga kelihatan" melihat sekeliling.


"Pergi ke ulangtahun teman papa, si gembul minta ikut tadi. kalo bang Heru belum pulang, tadi telpon masih ada acara di kantor nya."


"Kasihan yang sendirian" balas Rei menggoda kakaknya.


"Awas ya, lewat kakak ke kamar dulu."


€€€


Tin tin


Suara klakson mobil terdengar, mungkin itu mereka, Rei lalu berpamitan pada kak Dani.


"Kak, Rei berangkat ya" teriak Rei sambil berlari kecil.


"Assalamualaikum, sudah siap? berangkat yuk" ajak Arini saat melihat Rei membuka pintu.


"Rei, hati-hati pulang nya jangan terlalu malam." kata Kak Dani.


"Oke, bos" Rei mengacungkan jempol kanannya. Membuka pintu belakang mobil dan mendudukkan dirinya.


"Kak, kami berangkat ya" teriak Arini disertai klakson dan lambaian tangan.


"Ya, hati-hati."


€€€€


"Loh, mana Miko katanya bareng?" tanya Rei saat tak nampak mobilnya.


"Oh, dia duluan tadi. Ada yang mau nebeng katanya."


"Oo"


Mobilpun melaju, meskipun jam kantor telah usai tapi beberapa titik masih tampak kemacetan, maklumlah kawasan pedagang kaki lima, area fast food sekitar perkantoran memang jadi solusi buat yang sudah capek bekerja.


€€€

__ADS_1


__ADS_2