Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
108. Memendam rindu


__ADS_3

Siapa yang tidak bahagia melihat pasangan Ardan dan Rei malam itu, semua orang tampak ikut merasakan kebahagiaan keduanya.


Benar, setelah sekian lama menyendiri dan tertutup karena perasaan bersalah yang berlebihan membuat Rei menutup mata pada sekitarnya.


Berhari hari bahkan berganti bulan sikap acuh Rei membawa keterpurukan. Bukan hanya Ardan yang menerima imbasnya, seluruh keluarganya tak terkecuali ikut merasakan.


Sekarang setelah Rei mulai bisa mengambil hikmah dari musibah kemarin, dia mulai berbenah diri.


Rasa bersalahnya karena menyebabkan sang jabang bayi meninggal bahkan sebelum dilahirkan berganti rasa berdosa karena mengabaikan suaminya.


Tapi bukan hanya meminta maaf, Rei pun berjanji untuk melayani suaminya lebih baik lagi. Hitung hitung sebagai penebus dosa nya yang mungkin sudah terlampaui banyak pada sang suami.


Seusai pesta dansa yang tak terencana itu Ardan mengajak istrinya duduk. Rei menyapa kedua mertuanya, mencium tangan takdim pada kedua orang paruh baya yang sudah banyak mensupportnya selama ini.


Rasa bersalah Rei semakin besar mana kala mengingat mamanya dan mama mertuanya menangis setiap malam karena perubahan sikapnya belakangan ini.


"Ma, Rei minta maaf. Rei sudah bikin mama sedih, Rei minta mama memberikan ampunan pada Rei."


Air mata Rei lolos begitu saja, Rei memeluk mama mertuanya begitu erat. Mama yang memahami kondisi Rei hanya tersenyum, meski di sudut matanya air bening jatuh seiring tangisan Rei.


"Sayang, kamu bicara apa. Rei adalah menantu mama, anak mama. Mana mungkin mama akan marah, meski sebenarnya mama sedikit kecewa karena Rei tidak seperti Rei yang mama kenal dulu.


Tapi sekarang mari kita lupakan itu semua, mama sudah memaafkan Rei bahkan sebelum Rei meminta maaf.


Kamu tahu sayang, kehidupan rumah tangga itu banyak likunya, sedikit saja kita tersenggol dan tidak kuat berpijak maka kita akan jatuh.


Jika salah satu dari pasangan mulai ragu, mulai kehilangan sandaran bahkan menutup diri maka pasti rumah tangga itu tidak akan bertahan lama.


Bersabarlah, dan selalu percaya pada pasangan kita agar pondasi rumah tangga kita kuat.


Bicarakan apa yang jadi uneg uneg kita pada pasangan, saling menguatkan satu sama lain. Mama yakin kamu dan Ardan bisa melewati semua cobaan dalam rumah tangga kalian."


Mama memberikan nasehat yang membuat Rei semakin merasa bersalah. Isak tangis Rei terdengar samar karena suasana pesta yang semakin ramai.


"Sudah..sudah, ini pesta harusnya diisi dengan tawa canda bukan tangisan, mari kita lupakan yang telah lalu, sekarang mulai dari awal lagi. Dan berjanjilah mulai saat ini tidak ada lagi tangis dalam rumah tangga kalian."


Papa menengahi, karena bagaimana pun mereka saat ini sedang berada di acara orang lain. Seandainya dirumah, tak masalah jika ada lomba nangis.


Agar tidak ada lagi tangisan antara istri dan mamanya, Ardan menggenggam tangan Rei dan beranjak dari tempat duduknya.


Ardan mengajak Ardan menemui Om Anto dan keluarganya, mengucapkan selamat pada calon pasangan baru yang sepertinya akan segera menyusul ke pelaminan.

__ADS_1


Lepas dari pesta ulang tahun om Anto, Ardan memilih mengajak istrinya menuju ruangan pribadinya disana.


Ini pertama kalinya Ardan membawa Rei keruangan pribadinya setelah musibah itu terjadi. Dulu saat Rei hamil, sering ikut Ardan bekerja dan dia memilih menikmati kegiatan me time nya disana.


Selain tidak bosan karena sendirian, Rei bisa berjalan jalan ke taman dibelakang restoran yang sering di sulap sebagai garden party untuk acara pesta atau lamaran, seperti malam ini.


Sosok Ardan yang berjalan bergandengan tangan dengan Rei, wanita cantik yang membuat semua mata terpukau kepadanya sukses membuat ciut nyali seorang Anggita Himawan, yang tak lain adalah keponakan Om Anto.


Anggita mengendap endap, menguntit gerakan pasangan itu. Entah apa yang ada dalam benaknya. Dan kenapa dia sebegitu obsesinya pada sosok Ardan.


Anggita adalah sosok yang dari kemarin diam diam memperhatikan Ardan dari jauh. Yang menangis disaat semua orang bergembira menyambut acara lamaran dadakan untuk sepupunya.


Siapa sebenarnya Anggita, dan apa hubungan dia dengan Ardan?


###


Ceklek


Ardan membuka pintu kantornya yang berada di sisi ujung restoran. Masih dengan tangan menggenggam erat pujaan hatinya, Ardan seolah tak ingin melepaskan lagi.


Ardan seakan tidak rela jika nanti istrinya akan kembali ke sosok lain yang kemarin sempat mendiami kepribadian Rei.


Rei yang tidak siap dengan apa yang suaminya lakukan hanya bisa pasrah, karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Memendam rindu pada suaminya.


Seolah waktu berjalan lambat, Ardan melu*** bibir Rei dan memberikan gigitan kecil dibibir bawahnya agar Rei membuka mulutnya.


Gayung pun bersambut, Rei membalasnya dengan mengikuti permainan bibir suaminya. Kecapan terdengar dari keduanya, saling bertukar saliva, saling mengeksplor rongga mulut masing masing.


Merasa Rei kehabisan napas akibat ulahnya, Ardan melepas ciumannya dan membiarkan istrinya untuk mengatur napas kembali.


Tapi itu tidak berlangsung lama, keduanya kembali menyatukan benda kenyal dan kembali bertukar saliva.


Ciuman Ardan berpindah dari bibir ke leher jenjang istrinya, dan karena tatanan rambut Rei yang sedikit menggugah gairah, Ardan pun kembali memberikan kecupan disana.


Menyusuri setiap inci kulit mulus istrinya, memberikan tanda di leher Rei yang membuat Rei tersulut gairah.


Tangan Ardan tidak tinggal diam, memainkan dua benda kenyal milik istrinya yang selalu menjadi favoritnya.


Aahh


Desa*** terdengar dari bibir Rei, Ardan kembali melu*** bibir istrinya, masih dengan gerakan slow motion, karena Ardan tak ingin terburu buru menyudahinya.

__ADS_1


Dia ingin membuat istrinya kembali merasakan gairah percintaan mereka seperti sebelumnya.


Tanpa mereka sadari ada air mata yang terjun bebas seiring kemesraan dua orang dihadapannya.


Anggita menguntit Ardan dan Rei, sampai pada ruangan kantor Ardan dan melihat dengan jelas ciuman panas keduanya.


Anggita menggelengkan kepalanya, dia tak ingin Ardan melanjutkan kegiatannya, karena Anggita lah yang harusnya ada disamping Ardan.


Ketika masuk keruangannya Ardan lupa jika pintu kantornya belum tertutup sempurna, karena Ardan lebih memilih menikmati bibir kenyal istrinya.


Sekuat apapun Anggita bertahan disana, akhirnya pertahanannya jebol juga. Dia tak sanggup melihat kemesraan kedua pasangan yang sudah lama memendam rindu itu.


"Sayang, kamu sepertinya lupa menutup pintu. Bagaimana jika nanti ada orang yang masuk."


Rei mengucapkan itu karena merasa ada yang mengawasi kegiatan mereka saat ini.


Dengan langkah malas Ardan akhirnya melepaskan istrinya dan menutup pintu. Tapi sejurus kemudian


Aaa...


Teriakan Rei tadi membuat jiwa usil Ardan kembali, dia menggendong istrinya ala bridal style dan membawa ke ruangan pribadinya disana.


Ardan kembali menghujani istrinya dengan ciuman panasnya, Rei pun langsung mengalungkan tangannya di leher Ardan, dan membalas perlakuan suaminya.


Keduanya kembali melanjutkan kegiatan panas mereka, memberikan kehangatan satu sama lain.


Saling membelai tubuh yang sudah menjadi candunya, melepaskan kerinduan yang membuncah.


Tubuh mereka sudah sama sama polos dan sama sama tersulut gairah. Ardan dan Rei tak ingin lagi menunda.


Seperti yang sudah sudah, kegiatan panas itu membuat tubuh keduanya dipenuhi keringat. Seakan pendingin ruangan itu tak berfungsi dengan baik.


Jika diluar pesta terlihat meriah dengan berbagai acara dan hidangan yang memanjakan lidah, maka disini hanya berlaku kegiatan panas yang memabukkan.


Ardan dan Rei menikmatinya, keduanya seakan tak ada yang ingin menyudahi. Karena setelahnya Ardan kembali mencumbu istrinya, sambil berdoa semoga setelah ini usahanya untuk kembali mendapatkan Ardan junior membuahkan hasil.


###


Bacanya pas lagi ada pasangan aja ya, biar ga bikin otak traveling kemana mana.


Jangan lupa like , vote, komen dan favoritkan. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2