
Ardan melajukan mobilnya ke salah satu perumahan elit di kotanya, dan dia baru sadar ternyata searah dengan rumah yang baru saja dia bangun.
Mungkinkah ini yang dinamakan jodoh, karena semua yang berhubungan dengan Rei selalu dimudahkan.
Terus melajukan mobilnya ke alamat yang dituju, dan ternyata memang tidak jauh dari rumah barunya.
Portal perumahan itu sebagian sudah tertutup, karena memang sudah hampir jam malam, hanya di beberapa pos satpam yang masih terbuka.
Sampailah dia di halaman sebuah rumah huni yang lumayan besar dibandingkan rumah yang lain.
Pantas saja kalau Rei betah disini, tampak luar rumahnya sudah terlihat asri. Bergaya minimalis, terlihat dari bentuknya. Berbeda dengan rumah lainnya yang masih bentuk asli dari pengembang.
Melangkahkan kaki pasti, sambil berdo'a dalam hati semoga yang dia cari ada disini.
ting tong
Bel pintu berbunyi, tak berapa lama pintu pun terbuka.
Rei terdiam menatap nya, begitu pula Ardan. Dan akhirnya Ardan memeluknya, rasa rindunya membuncah.
Rei tak berkutik, sejujurnya dia juga merasakan kerinduan yang sama. Tapi dia tak mau menghubunginya, Rei tak ingin terjadi kesalah pahaman lagi.
Biarlah masalahnya dengan Elang dia selesaikan sendiri, karena Elang hanya masa lalunya.
Rasa cintanya yang dulu dia punya, kini sudah mati. Terlebih rasa malu yang dia dan keluarganya tanggung, tak bisa hilang begitu saja.
"Maaf.." Ardan mendekapnya erat, keduanya terdiam. Rei mencoba melepaskan diri, tapi Ardan menahannya.
"Plis, sebentar saja. Aku ingin menikmati aroma tubuhmu." Ardan makin mengeratkan pelukannya.
Rei akhirnya mengikuti maunya, tak terasa air matanya menetes. Seketika rasa marahnya menguap.
Meski sebenarnya masih ada rasa jengkel dan marah karena tindakannya yang suka berlebihan, tapi Rei tak ingin egois.
Dia juga merindukan pelukannya, merindukan aroma tubuhnya, dan sentuhannya.
###
Lama keduanya berpelukan, akhirnya Ardan melepaskan pelukannya. Dia kembali ke mobil dan mengambil barang-barangnya.
Rei terperangah saat Ardan membawa masuk makanan kesukaannya. Ardan lalu membuka kolak pisang lalu mengambil sendok, dan mencoba menyuapi nya.
Rei bergeming, dia agak terheran. Bagaimana bisa semua makanan ini, dia punya. Dan makanan khas yang biasa dia beli jika pulang kerumah papa dan mama Anton ada disitu.
Ardan tetap mencoba menyuapi Rei, sampai akhirnya Rei pun pasrah.
"Buka mulutnya, aak..." Ardan memberikan potongan buah dalam kolaknya ke dalam mulut Rei.
Tak mau menolak, karena Rei merindukan makanan ini. Sudah lama rasanya tidak menikmatinya.
Hampir tandas, saat tiba-tiba tangan Ardan menyentuh ujung bibirnya. Ada sisa santan kolak disana.
__ADS_1
Ardan lalu menjilati jarinya yang ada sisa santan tadi.
"Manis, tapi sepertinya lebih manis jika dari sumbernya langsung."
Tanpa aba-aba, Ardan mendekatkan bibirnya menyentuh bibir mungil didepannya. Melihat tak ada penolakan, Ardan pun mel***t bibir itu.
Dari pelan hingga terdengar kecapan, sedikit menggigit bibir bawah Rei hingga Rei pun membuka mulutnya.
Ardan melanjutkan, mengabsen isi rongga mulut Rei. Hingga tak sadar keduanya terhanyut.
Merasa kehabisan oksigen, keduanya melepas. Dahi mereka saling menyentuh, napas saling tersenggal.
"I miss you" ucap Ardan, tangannya membelai pipi Rei.
"I miss you too" jawab Rei masih dengan napas tersenggal.
Untung saja ART nya pulang, jika tidak ini akan jadi bahan ulasan nanti.
Mereka lalu duduk dikursi dengan posisi Rei berada dipangkuan Ardan.
"Mas sudah makan?" tanya Rei
Ardan menggeleng, lalu tersenyum.
"Aku ga lapar sayang, melihatmu saja aku sudah kenyang. Apalagi jika bisa melahapmu." kekeh Ardan.
"Emang aku makanan." seloroh Rei, beranjak dari sana.
Mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Rei melayani Ardan seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Makan tapi sesekali matanya melihat Rei, tersenyum.
"Makan yang bener, nanti keselek loh. Iya, tahu aku cantik jadi lihatnya biasa aja bisa kan?" ucap Rei narsis.
"Hmmm....iya,deh. Percaya. Kamu ga makan?" Ardan menikmati makan malamnya.
"Udah tadi, sebelum mas datang." jawab Rei.
Mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih, karena Rei tahu Ardan lebih suka makan dan minum air putih.
Setelah makan malam, mereka melanjutkan membereskan barang bawaan Ardan dari mertua Rei tadi.
"Mas, tadi ke rumah papa Hadi?" Rei menatap Ardan lama. Menunggu jawaban dari pria yang duduk di sampingnya.
"Eh...malah diam, jawab napa sih." Rei cemberut
Ardan tak langsung menjawab, yang ada dia malah menikmati camilan di depannya. Tapi melihat wajah cemberut Rei, mau tak mau dia menjawab juga.
"Iya, sabar neng. Ini juga mau jawab. Tapi kamu janji, ga boleh motong omonganku karena aku ga akan lanjutin kalo kamu keburu motong." Ardan lalu meletakkan camilannya dan minum air putih, yang sejak tadi belum disentuhnya.
Rei masih memperhatikan Ardan yang tampaknya mengulur waktu untuk bercerita. Lama-lama Rei kesal juga, dia mulai beranjak dan ingin masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Tapi Ardan menangkap sebelah tangannya, dan menariknya sehingga Rei terjatuh dipangkuannya.
Dan lagi-lagi Rei tidak bisa menolak pesona pria ini, bisa mupeng dia kalo begini terus.
cup
Ardan mendaratkan kecupan di bibirnya, Rei dibuat bengong. Ada saja tingkahnya mengatasi sikap Rei yang kadang manja.
Karena tak kunjung menjawab, Rei akhirnya mencubit perut Ardan. Meringis, lumayan dapat infus malam hari, hahaha...
"Iya, maaf. Aku memang sengaja mengulur waktu, tapi bukan berarti aku mangkir untuk bercerita." Ardan
"Pertama, aku memang datang menemui om Hari dalam rangka mengajak kerjasama. Karena sebentar lagi akan ada WO yang mengadakan acara pertunangan salah satu anak pejabat, dan juga ada pernikahan saudara rekan kerja ku, sama ulang tahun pernikahan teman sekolah papa.
"Jadi saya mengajak om Hari untuk menjadi suplier buah dan sayur segar untuk acara-acara itu. Sama aku kan juga ingin kenal keluarga almarhum suamimu."
"Maaf kalau aku tidak memberitahu, karena kita kan lagi gencatan senjata jadi ya aku pikir kamu juga ga akan peduli padaku." Lirik Ardan, ingin tahu tanggapan Rei.
Dia sengaja tidak membicarakan tujuan utamanya kesana, karena Rei pasti akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan lanjutan.
Jadi seperti terdakwa lagi diinterogasi sama tim penyidik, apalagi wajah Rei saat ini mirip seperti polwan yang lagi menangani suatu kasus, 😅.
"Udah becandanya? kalo belum teruskan, ayo tapi ingat abis ini, kita lanjut lagi gencatan senjatanya." Rei langsung memasang muka serius.
"Waduh" batin Ardan, singa betina ngamuk nih.
"iya, maaf sayang. Aku lanjut lagi ga nih ceritanya." Ardan menoel hidung Rei.
"Serah..." Rei mengembungkan pipinya, malah mirip sama ponakan gendutnya. Ardan dibuat gemas.
cup
Lagi, Ardan membuat dada Rei berdegup. Bisa ya mainin jantung Rei kayak roller coaster, dasar muka mesum, batin Rei.
"Terus aja cium, ga usah kasih aba-aba kalo perlu hajar bleh" kelakar Rei. Ardan terbahak, ini lah yang dia suka dari Rei, jawaban absurb yang ga pernah ada habisnya.
Tak seperti perempuan lain yang sok jaim tapi ternyata palsu.
"Wah, nantang nih, ayo kalo gitu. Abang siap neng." Berniat berdiri dan mengangkat tubuh Rei menuju kamar.
"Eh enggak...enggak...aku ga mau ya, halalin dulu baru boleh nyosor sepuasnya" Masih dengan jawaban savage nya.
"Oke..besok, saya akan bawa ke penghulu biar tahu rasa sudah berani nantangin Ardan." Ardan kemudian mengangkat Rei, kali ini menuju kamarnya.
Tak peduli Rei berteriak, dan memukul dadanya meminta diturunkan, yang ada Ardan malah menciumnya lagi dan lagi.
Mendaratkan tubuh Rei dalam gendongan nya ke kasur empuk king size di kamar. Masih tak berganti posisi.
Serangan tiba-tiba itu menghanyutkan, Rei pun terbuai. Mereka saling Me***** mengeksplor ruang di dalamnya, dan yakinlah jika laki-laki dan perempuan berduaan, pasti ada yang ketiga.
Yang ketiga adalah set**😁. Skip dulu deh, biar ga panas, meski cuaca mendukung.
__ADS_1
###
Terima kasih buat yang sudah mampir kesini, maaf jika masih ada banyak typo. Jangan lupa like, komen dan vote nya ya. Ditunggu