Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
11. Kejar tayang


__ADS_3

Selama dua bulan berjalan hubungan Renita dan Ardan semakin baik, Renita sudah tidak lagi minder dengan statusnya. Ardan pun semakin menunjukkan keseriusan nya.


Tak jarang mereka berdua jalan bersama, bahkan Ardan beberapa kali mengajak Rei ke acara yang diadakan oleh perusahaan nya. Awalnya Rei menolak karena merasa tidak pantas, tapi Ardan meyakinkannya.


Bahkan kini kedua orangtua Ardan sudah mengenalnya, mereka sebenarnya sudah tahu tentang hubungan anaknya Ardan dengan Renita. Mereka sempat menolak karena status Rei, tapi Ardan berhasil meyakinkan mereka.


Dina sebagai adiknya juga ikut membantu Ardan meyakinkan kedua orangtua nya, karena sejak awal Dina sudah menyukai Rei. Teringat jelas saat dia bersikeras menjodohkan keduanya, tapi hal itu urung dia lakukan. Karena ternyata kakaknya sudah lebih dulu mengenalnya, bahkan diam-diam mencari tahu tentang kehidupan pribadi Rei.


#flashback on


"Ma, kenapa sih mama ga mau menerima hubungan kakak dengan Rei. Mama kan belum tahu siapa dia yang sebenarnya, mana mungkin mama bisa meyakini kalau pandangan mama itu benar." ucap Dina


Wanita paruh baya itu mengernyitkan keningnya, bagaimana mungkin anak bungsunya ini tahu kalau dia tidak menyukai Renita hanya karena statusnya. Sedangkan mereka jarang sekali berbincang serius, apalagi tentang masalah ini.


"Tahu apa kamu tentang Renita, dia itu janda. Bayangkan jika orang-orang tahu kakakmu menikah dengan seorang janda, apalagi sudah dua kali, gimana malunya dia?"


"Terus mama maunya kakak menikah dengan perawan gitu, tapi ternyata dia lebih parah dari janda. Sudah sering main celup sana-sini, bahkan sudah pernah operasi biar seperti gadis lagi, gitu?"


Mamanya semakin tidak mengerti arah pembicaraan nya, kenapa malah begini pikir mamanya. Memang sebelumnya dia mendengar banyak selentingan tentang wanita yang sedang dekat dengan anak laki-laki nya itu.


Mulai dari yang berprofesi sebagai model, rekan kerja nya sampai akhirnya Renita hadir dikehidupan Ardan. Sebenarnya mamanya Ardan sudah tahu kalau status yang disandang Renita bukan karena kesalahannya.


"Ma, mana ada sih perempuan yang mau menyandang status janda apalagi sampai dua kali. Rei itu janda karena ditinggal mati suami pertamanya yang tewas saat bertugas di Papua, dan kedua kalinya karena mantan suaminya selingkuh bahkan sudah menikah diri dengan kekasihnya, padahal mereka masih baru menikah." jelas Dina.


"Seandainya Rei yang selingkuh patut kalau dia dipandang sebelah mata, tapi Rei tidak begitu. Bahkan dia trauma untuk dekat lagi dengan laki-laki lain apalagi menikah." Mama nya mulai mengerti ternyata tidak semua yang diomongkan orang tentang Renita tak semuanya benar.


"Mama tahu Pak Hadi, suplier sayuran organik di restoran dan swalayan kita? Dia ayah dari Anton, almarhum suami Rei. Mama bisa tanya langsung sama beliau bagaimana Rei, seperti apa kehidupan nya. Bahkan setahu Dina, Rei mau membuka hati lagi pada kakak karena amanat dari almarhum suaminya."


Mama nya diam, selama ini mereka kenal dekat dengan pak Hadi bukan hanya sebagai suplier sayuran saja, tapi juga teman main golf papa. Bahkan mereka sangat akrab, kenapa tak terpikirkan olehnya. Dia tahu Rei adalah menantu pak Hadi tapi tidak menyangka kalau hubungan mereka masih sangat baik.


"Ma, cobalah untuk berada diposisi orangtua Rei, apa mama rela jika anak mama menyandang status yang sama dengan Rei." tanya Dina lagi, mamanya tersentak.


"Hus.. kamu itu kalau ngomong suka ga difilter dulu ya, jangan sembarangan. Ucapan adalah doa, ngomong harus yang baik-baik." ucap mamanya.


"Makanya, mama ga boleh berpikiran negatif terus tentang Rei. Dina tahu mama begini karena belum kenal siapa Rei, nanti aku suruh kakak ajak Rei kesini biar mama bisa kenalan."


"Aku suka Rei dari pertama kali melihatnya, apalagi setelah mendengar penuturan Kak Miko yang juga sahabat dan teman kerjanya di bank. Dia itu baik, supel dan humoris hanya saja keadaan menjadikan dia pribadi yang berbeda lebih tertutup. Sekarang sejak dekat dengan kakak, dia kembali jadi Rei yang dulu. Kata kak Miko Rei sudah jarang melamun bahkan sudah mulai bergaul dengan teman-teman lainnya."


"Iya, kayaknya mama pengen ketemu sama dia, pengen kenal langsung. Mama mau buktikan kalau omongan orang itu salah tentang Rei." jawab Mamanya


"Nah gitu dong, ini baru mamaku" Dina memeluk dan mencium pipi mamanya.

__ADS_1


#flashback off


Weekend ini Ardan dan keluarganya akan kedatangan tamu, rencananya Miko dan Dina akan melangsungkan acara lamaran hari sabtu. Semua orang yang membantu terlaksananya acara sudah berdatangan, mulai dari EO sampai catering sudah mempersiapkan.


Baik keluarga Miko dan Dina sama-sama keluarga berada tapi mereka tidak terlalu suka hidup mewah, karenanya acaranya hanya diadakan dirumah sesuai permintaan Miko. Mereka lebih banyak mengundang anak yatim sebelum acara pertunangan berlangsung, baginya berbagi dengan anak yatim piatu itu lebih indah.


Tampak Rei hadir disana, Ardan sengaja mengajak nya sebelum acara pengajian dengan anak yatim dimulai, seperti permintaan mamanya yang ingin lebih dekat dengan Rei.


Ardan beruntung mamanya sudah mau menerima Rei walaupun belum sepenuhnya, tapi dia yakin seiring waktu berjalan mamanya akan menyukai Rei, karena itu Ardan bersemangat menjemputnya pagi ini. Setelah berpamitan pada kedua orangtua Rei mereka pun pergi.


"Yang, Kak Dani mana kok ga kelihatan?" tanya Ardan.


Rei kaget, baru kali ini Ardan memanggilnya dengan sebutan itu, karena biasanya Ardan memanggil namanya.


"kok bengong sih yang?" tanya Ardan lagi.


"ee... mas panggil aku apa?" tanya Rei


"Loh, ditanya malah nanya. Aku panggil kamu sayang mulai sekarang, karena kamu adalah calon istriku, dan hari ini kamu akan bertemu dengan calon mertuamu. Jadi biar mereka tahu dan yakin bahwa aku tulus sama kamu, aku serius sama kamu, aku panggil kamu sayang. Kenapa? kamu keberatan" ucap Ardan.


"ng.. nggak sih, cuma kaget aja" Rei bersemu merah. Dia menjelaskan kalau Kak Dina sudah kembali kerumah mereka sejak beberapa hari lalu, karena mama bang Heru sudah mendapatkan asisten rumah tangga yang akan membantu nya.


Ardan menggenggam tangannya, satu tangan lagi memegang setir mobil. Dia senang Rei hari ini jadi penurut. Tak banyak protes seperti biasa.


€€€€€


Kedua keluarga besar Miko dan Dina sepakat mengadakan acara di restoran keluarga Miko. Ayah Miko dan Papa Dina memang berniat menjodohkan mereka, dan ternyata keduanya menerimanya.


Ternyata mereka malah bertemu secara tidak sengaja bahkan sudah menjalin hubungan ketika kuliah. Mereka memang teman sekampus tapi baru akrab setelah sama-sama bekerja dan mulai serius sampai akhirnya memutuskan untuk bertunangan.


"Alhamdulillah, tinggal selangkah lagi Dina dan Miko akan sah." ujar papa Ardan.


"Iya, akhirnya ya pa. Setelah itu fokus sama anak papa yang satu lagi, kalo ga cepat dinikahkan bisa kelamaan mama gendong cucunya." goda mama, Ardan dan Rei hanya tersenyum.


"Tenang aja pa, ma abis ini kita kejar tayang kok" lirik Ardan pada Rei, yang dilirik hanya tersenyum malu.


"Mama tenang aja, abis nikah Dina langsung program hamil biar mama dan papa bisa gendong cucu. Kalau kakak, jangan ditanya seperti katanya tadi dia akan segera kejar tayang, bisa-bisa dia langsung kasih mama dan papa cucu kembar."


Semua orang diruangan itu tertawa, hari makin malam dan Miko memutuskan untuk pulang. Rei sebenarnya sudah pamitan tapi papa dan mama Ardan tidak mengijinkan, mama ingin mengajak Rei ke butik langganannya untuk memesan gaun pernikahan Dina.


Dan Rei pun pasrah mengikuti keinginan calon mertuanya. Semua kembali ke kamarnya untuk beristirahat, kecuali Rei dan Ardan.

__ADS_1


"Kamu tidur dikamarku ya yang" ucap Ardan mengajak Rei masuk ke kamarnya. Melihat isi kamar didominasi warna hitam dan putih, dan aroma parfum yang sudah mulai Rei kenali.


Kamar ini lebih besar dari kamar Rei, dan interiornya pun sangat memukau. Rei menyukai nya.


"Yang, kamu ga bawa baju ganti kan, pakai aja bajuku untuk tidur malam ini. Besok kamu pinjam baju Dina buat ganti atau kita bisa belanja online jadi besok sudah bisa diantar."


"Ga usah mas, ini bisa kok dipake lagi besok." lirihnya.


"Ga ada tapi-tapian, oke. Udah sekarang kamu bersihkan diri dulu, aku mau keruang kerjaku dulu, mau cek email." Setelah itu Ardan keluar kamar.


Rei mulai membersihkan dirinya, mengambil kemeja yang ada di walk in closet dan memakainya. Tampak kebesaran karena memang tinggi badan Ardan jauh diatasnya.


Setelah itu Rei duduk di pinggir kasur empuk itu, dan merebahkan tubuhnya. Rasa capeknya hari ini tidak sebanding dengan rasa bahagianya karena sikap keluarga Ardan yang baik padanya. Sungguh diluar ekspektasinya.


Ceklek, Ardan tiba-tiba masuk Rei kaget bukan kepalang karena dia hanya mengenakan kemeja itu tanpa celana panjang karena niatnya hanya tidur. Malu itu yang Rei rasakan.


"Mas.. aku.. aku.. " ucap Rei gugup.


Ardan makin mendekat, jauh dalam hatinya dia senang sekaligus sedih melihat pemandangan sempurna yang tak sengaja itu. Menelan salib nya, dan tentu saja harus mengatasi junior nya yang mulai terasa sesak dibawah sana.


"Kamu sengaja ingin menggodaku" goda Ardan, Rei makin salah tingkah. Ardan mendekat dan mencium pipi Rei, tangannya mulai naik mengelus pipinya, lalu turun ke bahu dan seiring tangan nya meremas benda kenyal milik Rei, bibir Ardan ikut ******* bibir Rei.


Rei pun tidak menolak, dia ikut menikmati ******* bibir itu. Keduanya berhenti karena kehabisan napas, dan mendekatkan kening mereka.


"Maaf, aku tak bisa menahannya. Aku tak sabar ingin segera menghalalkan mu, tapi harus menunggu Dina dulu. Karena Miko akan segera pindah ke Bali mengurus Restoran keluarganya."


"Aku bersihkan diri dulu, sekaligus menidurkan adik kecilku yang bangun." Menunjukkan sesuatu dibawah sana yang tegang.


Rei hanya tertawa, entah apa jadinya jika Ardan tak bisa menahan gairahnya. Baru kali ini Ardan mencium bibirnya lama. Rei akui dirinya juga haus akan belaian tapi dia tidak mau terjadi tanpa ikatan yang sah.


Setelah cukup lama melakukan aktivitas nya di kamar mandi, Ardan keluar hanya mengenakan handuk sepinggang mengambil kalanya di lemari. Badannya yang atletis tampak dia jaga hingga menampilkan roti sobeknya. Ah... Rei kamu beruntung sekali mendapatkan nya, batin Rei.


Mengenakan kaos singlet dan celana boxernya, Ardan keluar kamar mandi, berjalan mendekati Rei dan mencium keningnya.


"Tidurlah, aku akan tidur dilamar tamu." ujarnya


"Kenapa bukan aku saja yang tidur disana, mas tetap disini."


"Ga, kamu itu calon istriku sudah seharusnya tidur disini, kalau aku tidur disini aku yakin aku tidak akan bisa menahan lagi. Imanku kuat tapi imron aku ga yakin" Ardan cekikikan.


Membetulkan selimut Rei, mencium keningnya dan melangkah keluar. Rei bahagia, karena Ardan menjaga miliknya. Rei pun memejamkan matanya.

__ADS_1


€€€€€


__ADS_2