Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
26. Kamu milikku selamanya


__ADS_3

Emosi Ardan mereda saat mendapati Rei sudah lebih tenang. Selama ini dia selalu diam melihat kelakuan kakak dari mamanya itu. Entah apa yang membuatnya selalu iri, bahkan dengan sengaja membuat onar seperti tadi.


"Aku takkan tinggal diam, meskipun dia keluargaku tapi jika sudah mengganggu privasiku aku akan memberinya pelajaran." batin Ardan.


"Tenanglah, istirahat dulu. Aku takkan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Aku mencintaimu, kau milikku selamanya." Ardan kembali menenangkan Rei. Membawanya ke ranjang dan membaringkannya. Menyelimuti Rei dan mencium keningnya.


Ketika akan melangkah, tangan Ardan ada yang memegangi. Ardan tersenyum, dan kembali mendudukkan dirinya disamping Rei.


"Tidurlah, aku akan menemani mu sampai kau tertidur." mengusap kepala Rei, dan kembali mencium kepalanya. Rei membalikkan badannya menghadap Ardan. Laki-laki itu tersenyum, lalu merebahkan tubuhnya disamping Rei.


"Mas, terimakasih." lirih Rei, dia memeluk Ardan. Mendapat pelukan tiba-tiba seperti itu Ardan seperti mendapat angin segar. Terbersit ide untuk kembali menggodanya, senyum tersungging diwajahnya.


"Ternyata modus ya, bilang aja pengin meluk ga usah gengsi gitu." mengeratkan pelukannya, membuat rona merah dipipi Rei. Berasa kupu-kupu terbang diatas perutnya, ups hehehe.


"Mas, ih... "Rei merajuk memukul pelan dadanya. Entah semerah apa wajahnya sekarang, Rei malu dibuatnya.


"Tidurlah, aku akan memelukmu sampai kau tertidur."


Cup


Lagi dan lagi, Ardan mencium kening nya memeluknya dan memberikan rasa tenang bersamanya. Rei tahu nanti akan semakin banyak godaan dan rintangan dalam hubungan mereka. Dia harus menguatkan mentalnya menghadapi cobaan yang akan datang.


Mereka pun terlelap dalam dekapan, meski akan ada sesuatu yang harus diredam dibawah sana.


€€€


Suasana rumah kembali tenang semua orang kembali ke kamarnya masing-masing, besok akan ada fitting baju pengantin dan para pengiring pengantin.


Disalah satu kamar, mama Ardan tampak kesal setelah kejadian tadi di ruang tamu dia benar-benar tak bisa lagi menahan emosinya. Tapi papa selalu mendampingi dan menenangkannya.


"Ma.. mama kenapa, kok muka nya ditekuk gitu?" tanya papa setelah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Duduk disamping istrinya dan memperhatikan sikapnya yang tampak gusar. Pasti masalah tadi pikirnya, tapi dia tak mau memperkeruh keadaan.


"Mama kesal pa, kenapa sih Kak Neno selalu saja cari masalah. Dan kenapa selalu keluarga kita yang menjadi sasaran dia. Kalau ga ingat dia kakakku sudah aku usir tadi."


Papa hanya menggeleng kepala, sebenarnya dia juga jengkel dengan kelakuan kakak iparnya itu, tapi demi menjaga nama baik keluarga dia hanya membiarkan saja.


"Ma, ingat sebentar lagi Dina akan menikah. Tahu kan jika orang mau punya hajat pasti akan ada yang mengacaukan. Entah itu keluarga sendiri atau orang lain. Jika kita mengikuti emosi yang ada kita akan rugi. Karena setan itu tahu mana yang akan menjadi sasarannya. Sudah biarkan saja, papa yakin Ardan pasti bisa mengatasinya. Papa janji akan mengawasinya agar tidak lepas kontrol." papa mencoba menenangkan.


"Tapi kelakuannya itu sudah diluar batas pa, bagaimana perasaan Rei saat ditanya seperti itu, sakit hati pasti." mama masih belum bisa terima. Kekesalannya sudah diambang batas, emosinya sudah tak bisa dibendung.


"Ma, ingat ALLAH tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya. Biarkan Rei menenangkan diri dulu, kita kasih pengertian padanya. Papa yakin Ardan bisa menenangkan Rei." beranjak mengambil sajadah dan membentangkannya.


"Ayo kita sholat berjamaah dulu, biar tenang dan memohon supaya acara kita nanti diberikan kelancaran. Ambil wudhu dulu, papa tunggu." memasang peci dan membenarkan sarungnya. Mama pun berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Keduanya lalu melaksanakan sholat isya berjamaah, dan berdoa memohon pada Sang pencipta.


Keesokan harinya, kehebohan kembali terjadi saat fitting baju dirumah karena kebetulan semua pengiring pengantin sudah berkumpul jadi tak perlu menunggu lama. Para orang tua dipersilakan lebih dulu fitting baju, setelah itu baru anak muda dan juga anak-anak.


Saat semua sudah selesai fitting, terdengar teriakan dari salah satu kamar. Semua orang menoleh, mencari siapakah gerangan.


"Katanya butik terkenal tapi pelayanannya seperti ini, kamu pikir kita ga bayar apa. Masak begini aja ga bisa."Bentaknya pada salah satu pegawai butik.


"Maaf bu, tapi kami sudah membuat sesuai ukuran ibu. Bahkan yang lain sudah selesai fitting dan tak ada komplen." jawab pegawai butik itu. Dia tampak kesal karena terus menyalahkan butiknya.


"Kan harusnya dilebihin biar bisa dipasin dengan berat sekarang." sergahnya lagi.


"Maaf bu, tapi ini sudah lebih banyak, tapi ibu nya aja yang kegemukan. Jadinya ga muat."


"Kamu... kurang ajar, awas ya, aku akan bilang sama yang punya acara kalo butik ini ga profesional. Biar nanti dibilang ke teman-teman nya ga usah datang ke butik ini lagi." ancam tante Neno.


"Bu, jangan bawa-bawa butik dong, ibu nya aja yang gemuk malah bawa orang lain."


Tampak keduanya masih beradu argumen, Mama Ardan dan tante Gina pun datang melerai. Sudah tahu pasti yang salah dari pihak Neno tapi masih ngeyel.

__ADS_1


"Kenapa mbak?" tanya mama pada pegawai butik yang kemudian menceritakan masalahnya.


Mama dan tente Gina hanya tertawa, karena sejak awal disuruh datang ukur baju ga mau, disuruh kirim baju ukuran terbaru malah dikasih yang ngepress body jadilah kebaya itu hanya muat dipakai tapi sampai kepala saja, begitu satu lengan dimasukkan malah kaku dan ga bisa digerakkan.


Merasa malu karena kesalahan yang dilakukannya, tante Neno memilih pergi meninggalkan mereka dan kebaya yang dicobanya tadi.


"Mbak maafin saudara saya ya, dia emang gitu orangnya. Ga mau disalahin" ujar tante Gina.


"Gini aja deh, kalo ga bisa dibikin baru ya biarin kasih kebaya lainnya aja. Paling juga nanti ngomel ga jelas... hahaha.." lanjut nya.


"Hush kamu tuh, tar kedengeran bisa marah loh." potong mama


"Biarin lah, sudah tahu badannya gede sendiri bukannya ngurangi makan malah tambah jadi sudah mirip karung beras."


Mereka pun tertawa... lumayan buat hiburan siang ini.


"Gini aja mbak, kalo memang masih ada sisa kain dibikin baru aja. yang ini biar disimpan dulu, saya mau kasih ke calon besan saya saja." ucap mama pada pegawai butik.


"Baik bu. Kalau begitu saya permisi dulu menyelesaikan yang lainnya."


"Iya" jawab mama dan tante Gina bersamaan.


"Maksudnya calon besan itu mamanya Rei?" tante Gina penasaran.


"iya, aku akan mengundangnya. Sekalian kenalan sama calon besan, boleh kan?"


"Ya boleh dong, malah bagus itu. Biar ga ada simpang siur info, jadi ga salah paham jika ada masalah. Apalagi kakak tahu sendiri penghalang terbesar saudara kita yang selalu mau menang sendiri itu."


"Hus.. sudah ga usah diterusin, biar aja dia kan dari dulu emang begitu."


Keduanya kembali ke ruang keluarga mengecek fitting baju yang lain. Dan setelah selesai mereka semua makan siang bersama pegawai butik tadi.

__ADS_1


__ADS_2