
Sepulang mereka dari rumah Rei, dan bermain dengan kedua balita gembul itu, Dina memilih mengistirahatkan dirinya dikamar.
Dina memilih tinggal bersama mamanya sementara ini, karena mama lebih tahu apa yang dibutuhkan calon ibu. Dan juga dari rumah mamanya lebih cepat jika sewaktu-waktu harus kerumah sakit untuk melahirkan.
Setelah membersihkan diri Dina memilih merebahkan tubuhnya diranjang, baginya sekarang kasur adalah tempat ternyamannya.
Usai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Dina memang tidak berencana apapun selain istirahat. Kakinya yang terlihat membengkak sejak usia kandungannya memasuki tri semester ketiga membuatnya malas melakukan aktivitas diluar rumah.
Dia lebih memilih beristirahat dan menikmati camilan sehat untuk ibu hamil. Bukan tanpa sebab dia begitu, karena sejak bobotnya naik drastis mengikuti usia kandungannya, bajunya pun sudah berganti baju hamil karena sekarang banyak butik yang menyediakan pakaian dan perlengkapan bagi ibu hamil untuk tetap tampil modis.
Yang jadi masalah adalah ukuran sepatunya sudah diluar jangkauan. Setiap kali dia membeli sepatu atau sandal selalu berakhir di tukang jahit atau terparah tempat sampah. Kakinya seperti tak mau memakai alas, sepatu dan sandalnya selalu rusak, entah sobek atau jebol karena tidak muat.
Saking kesalnya dia karena selalu rusak, kemana-mana dia hanya menggunakan sandal jepit. Herannya dia justru lebih suka mengenakan sandal jepit yang dijual di warung-warung.
Padahal suaminya sudah membelikannya sandal dari bahan kulit yang nyaman dan empuk, serta bagus kualitasnya. Tapi ibu hamil itu tetap memilih memakai sandal jepit merk sejuta umat.
Tapi tetap ya, akhirnya harus jebol juga😂, jadi dia membeli beberapa untuk cadangan jika sewaktu-waktu putus. Seperti kejadian waktu itu, sandalnya putus ditengah jalan dan membuatnya terpaksa nyeker alias tidak pakai sandal.
Untung saja sudah dekat dengan rumah mamanya jadi meski tidak pakai sandal tidak masalah, apalagi dia naik mobil. Yang ditakutkan suaminya adalah jika dia menginjak paku, atau benda lain yang berbahaya.
Karena Dina orangnya cuek, jadi tak pakai sandal pun tak masalah. Suaminya lah yang bermasalah, pasti akan mengomelinya sepanjang hari.
Sampai-sampai ibu mertuanya sendiri yang harus memberi penjelasan pada Miko suaminya bahwa orang hamil dianjurkan berjalan kaki tanpa memakai alas, terutama jika sudah menjelang lahiran.
Tapi Miko tetap bersikukuh bahwa dia harus pakai alas kaki atau tidak boleh keluar rumah sama sekali. Daripada berdebat, Dina memilih tidak pergi kemana-mana. Dalam rumahpun Dina pakai sandal, daripada suaminya ngomel tak ada habisnya.
Dina bersyukur suaminya menjaga dia dengan baik, bahkan sejak hamil menjadi over protektif. Sekarang dia paham kenapa kakak iparnya Rei suka mengeluh jika Miko sudah dalam mode itu.
###
Menjelang adzan maghrib suaminya datang, Dina menyambutnya. Bau keringat khas lelaki setelah pulang kerja itu selalu membuat ibu hamil ini tak sabar memeluk suaminya.
Bukannya risih, Miko malah semakin mendekat dan membiarkan istrinya melakukan apapun yang membuatnya senang.
Sejak kembali kerumah mertuanya, Miko memang masih suka bolak balik ke rumahnya sendiri karena kedua orang tuanya tinggal disana.
Terkadang mereka juga ikut menemui Dina dan juga besannya, tapi mereka lebih nyaman dirumah Miko tidak terlalu bising seperti ditempat tinggal mereka.
Miko tak masalah meski jarak rumah mereka cukup jauh, dan terkadang harus memutar atau melewati jalan tikus untuk sampai disana.
__ADS_1
Dina bercerita kegiatannya seharian ini, bagaimana keadaan baby utun, dan hasil pemeriksaan dokter. Juga tentang dua balita gembul ponakan Rei yang menggemaskan.
Miko tertawa saat mendengar istrinya bercerita dengan mimik wajah lucu menirukan dua bocah kecil itu. Dia kenal dengan kedua ponakan Rei tapi memang mereka tidak terlalu sering bertemu jadi keduanya mungkin lupa dengannya.
###
Keluarga Ardan sudah berkumpul dengan formasi lengkap, hari ini memang baik Ardan maupun Miko sengaja mengerjakan pekerjaan nya dengan cepat agar bisa makan malam bersama.
Karena memang keduanya sibuk sekali belakangan ini, jadi waktu untuk berkumpul keluarga pun sedikit berkurang.
Mereka membicarakan banyak hal di saat makan, meski terkesan tidak sopan buat sebagian orang justru dikeluarga ini acara makan adalah waktu berkumpul yang tepat membicarakan banyak hal.
Dari masalah pribadi sampai pekerjaan. Mereka sudah terbiasa sejak kecil, jadi tidak canggung dan mereka bersyukur dengan saling mendengar satu sama lain, bisa lebih mengeratkan hubungan antara seluruh anggota keluarga.
Selepas makan malam, ketiga pasangan berbeda generasi ini kembali ke kamar masing-masing. Meski belum terlalu larut mereka juga butuh waktu dengan pasangan masing-masing.
Ardan dan Rei sedang menikmati acara televisi, lebih tepatnya Rei lah yang menonton teve, suaminya hanya menemani sambil sesekali membalas chat di grup sekolah maupun kuliahnya.
Rei mengganti chanel teve dan akhirnya pilihannya jatuh pada acara talk show tentang hubungan suami istri yang baik menurut pandangan Islam. Rei bukan orang yang tidak paham, tapi semakin kita belajar semakin banyak ilmu yang bisa kita dapatkan.
Sesekali dia tersenyum mendengar penuturan salah satu ustadz kondang yang sering hadir di banyak acara karena cara penyampaian ceramahnya tidak monoton, bahkan banyak diidolakan oleh ibu-ibu.
Tema dan cara penyampaian yang pas adalah bentuk kolaborasi yang mumpuni, sehingga orang tidak akan merasa bosan. Apalagi dengan diselingi lelucon ringan dan tidak menghakimi orang lain.
Ardan yang gemas karena istrinya tak kunjung menoleh kearahnya, tiba-tiba melancarkan serangan mendadak yang membuat Rei gelagapan.
Ardan tidak suka dicueki, apalagi saat sang ustadz mengatakan jika seorang suami meminta haknya maka istrinya wajib melaksanakan kewajibannya. Dimanapun, kapanpun karena menolak permintaan suami adalah dosa.
Nah, sepertinya Ardan melancarkan serangan di saat yang tepat jadi tidak ada alasan bagi istrinya untuk menolak, seperti yang ustadz kondang itu katakan.
Rei kalah, dia tahu jika suaminya seperti ini maka dia pasti melakukan kesalahan. Kesalahan sepele tapi hukumannya melelahkan.
Dasar Ardan selalu punya cara mendapatkan jatahnya. Mereka pun memulai kegiatan panas yang berakhir dengan ******* dari keduanya.
Tak mau kalah dikamar yang lain pasangan ibu hamilpun juga melakukan olah raga malam. Yang kata dokter tadi, semakin mendekati HPL semakin dianjurkan melakukannya agar membantu memudahkan jalan lahir bayinya.
Entah teori dari mana yang pasti Dina dan Miko tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena jika baby utun sudah lahir maka Miko harus berpuasa 40 hari lamanya. Kamar yang dingin karena suhu udara dari pendingin ruangan berubah menjadi panas.
###
__ADS_1
"Ma, mama..." teriak Dina saat mendapati ada darah di ****** ******** meski sedikit tapi itu membuatnya panik. Dina berteriak mencari mamanya.
Perutnya juga sering terasa mules bahkan beberapa kali dia harus ke kamar mandi karena buang air kecil.
Sakit perut tapi tidak ingin ke kamar mandi, membuatnya berkeringat dingin. Beberapa hari lalu setelah pulang dari dokter kandungan Dina dibantu mamanya menyiapkan sebuah tas yang berisi perlengkapan bayi dan dirinya ketika saat persalinan.
Mama yang mendengar teriakan Dina berjalan tergesa-gesa bersama bibi dan melihat Dina sedang berjalan mondar-mandir sepanjang kamarnya.
Dina menceritakan semuanya, mama yang masih terlihat tenang kemudian meminta bibi untuk mencari supir agar mengantarkan mereka ke rumah sakit. Bibi langsung pergi melaksanakan perintah majikannya.
Mama menuntun Dina berjalan pelan sambil membawa tas berwarna hitam yang sudah ada di atas sofa kamar. Mereka lalu pergi kerumah sakit terdekat agar Dina segera ditangani.
Papa yang ada dikantor bersama Miko dan Ardan mendapatkan telepon dari mama dan segera meluncur kerumah sakit begitu urusan pekerjaan mereka selesai.
Rei yang ada dirumah orang tuanya juga ditelepon mama, mengabari kondisi Dina yang tampaknya akan melahirkan hari ini.
###
Sesampainya dirumah sakit dokter telah siap, dibantu oleh perawat menyiapkan tempat bersalin. Dokter lalu memeriksa Dina dan melihat posisi bayinya.
Ternyata sudah pembukaan empat, dan artinya tak lama lagi bayi itu akan bertemu kedua orang tuanya. Mama menanyakan kondisi Dina apakah bisa melahirkan secara normal atau harus dengan tindakan.
Dokter mengatakan kondisi ibu dan bayinya aman untuk lahiran normal, dan dokter juga berhasil meyakinkan Dina untuk berpikir positif dan tenang agar semuanya berjalan lancar.
Beberapa jam berlalu, sakit yang dirasakan Dina dibagian perut dan pinggang semakin sering. Dokter menyarankan untuk berjalan sepanjang lorong dan mengelus perutnya jika terasa mulas.
Semua orang sudah berkumpul dan melihat perjuangan calon ibu itu, ada rasa tak tega melihatnya tapi Dina justru tersenyum. Dia memilih melahirkan normal bukan tanpa sebab, karena menurut dokter kondisi mereka bagus jadi untuk apa operasi.
Miko menemani istrinya berjalan, bahkan dia juga membuat video singkat untuknya. Ketika mulas semakin kuat dirasa, dan dokter mengatakan inilah saatnya, Dina ditemani sang suami masuk keruang bersalin.
Miko membisikkan sholawat ditelinga istrinya agar lebih tenang. Dokter memberikan aba-aba agar Dina mengikutinya. Tarik napas pelan dan hembuskan beberapa kali dan ketika dokter mengatakan mengejan dia pun mengikuti.
Akhirnya pada ketiga kalinya mengejan baby utun pun lahir. Seorang bayi laki-laki dengan tangisan yang kuat berhasil keluar, dan bertemu kedua orang tuanya.
Air mata bahagia dan haru menetes dari pasangan orang tua baru itu. Miko mencium pucak kepala istrinya dan mengatakan banyak terima kasih.
Dina menangis melihat bayinya dan akhirnya penantian panjang mereka terjawab. Akhirnya Baby utun launching juga.
###
__ADS_1
Wah...rekor nih, dari sekian bab baru kali ini yang terpanjang.
Double Up juga ya, yang kemarin minta crazy up mana suaranya. Semangat!