
Sudah sebulan Enno dan ibunya tinggal bersama dengan mertua Rei, sebenarnya tidak masalah jika mereka tidak memancing kerusuhan lebih dulu.
Seperti hari ini, Rei dibuat naik darah karena kelakuan ibu dan anak itu. Mungkin karena melihat tidak ada Ardan, mamanya dan Dina jadi mereka bisa seenaknya membully Rei.
Mereka bahkan seenaknya menyuruh Rei untuk memasakkan mereka makan siang, tingkah mereka benar-benar sudah kelewat batas. Tapi bukan Rei namanya jika tidak bisa membuat mereka kapok.
Rei bukan tidak tahu beberapa kali barang-barangnya di kamar hilang, bahkan baju yang Rei dapat ketika resepsi dari salah satu nasabahnya juga dipakai oleh Enno dan diaku sebagai hak milik.
Bibi yang menemukan mereka mengacak-acak kamar Ardan jadi kesal, karena selama ini tidak pernah ada kejadian seperti ini. Bahkan mereka menuduh bibi lah yang berbuat. Rei yang tahu bukan bibi pelakunya hanya diam. Dia masih mencari waktu yang tepat membuat mereka mengakui kesalahannya.
Hari ini memang dirumah orang tua Ardan tampak sepi, papa dan mama pergi ke acara salah satu koleganya, sedangkan Ardan sedang ada rapat bulanan dengan para manager di supermarket.
Sedangkan Dina yang sudah memasuki masa penantian kelahiran si jabang bayi lebih banyak beristirahat dirumah, dia sudah tidak pernah ikut ke kantor bersama suaminya.
Bibi yang sedang memasak tiba-tiba disuruh pergi ke pasar oleh bude Neno dengan alasan mereka ingin memasak yang istimewa buat semua penghuni rumah.
Bibi yang tidak pernah melihat saudara majikannya itu ke dapur jelas curiga, tumben-tumbenan mau masak. Tapi bibi tidak mau membuat bude Neno kesal karena menolak.
Dia pun pergi ke pasar sesuai perintah Rei, karena saat itu hanya Rei yang ada dirumah menemani bibi memasak. Rei hanya berkata dia akan baik-baik saja. Dengan terpaksa bibi pun pergi.
Bibi memang pergi ke pasar tapi hatinya tidak tenang. Untung saja bibi membawa hape dalam dompetnya, jadi dia bisa menghubungi nyonya nya. Tapi sudah berapa kali sambungan telpon nya tidak diangkat. Mungkin nyonya sedang ada ruangan yang bising jadi tak terdengar.
Akhirnya bibi mengirimkan pesan singkat pada nyonya, untung dia dulu sempat belajar cara mengirimkan pesan lewat hape pada Dina, jadi sekarang bisa berguna.
Bibi menulis pesan pada nyonya nya dengan sedikit terburu-buru hingga tak sadar banyak huruf dan karakter yang tak perlu ikut terketik.
"Assalammualaikum, bU..g biSa \angKat telpone sayia. PenTing...iani tentang mba*k Rei. Saya takutr dia di*kerjai sma so(dara ibu dirumah. Saya dis*uruh keluar, takiut dia ke?napa-napa.
Begitulah kira-kira isi pesan singkat yang dikirim oleh bibi kepada mama Ardan. Dan meski dengan perasaan tidak tenang, bibi akhirnya membeli pesanan yang disuruh.
__ADS_1
Akhirnya setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki cukup jauh, bibi sampe juga di pasar dekat kompleks perumahan.
Sementara itu dirumah, Rei jadi bulan-bulanan pasangan ibu dan anak itu. Mulai dari disuruh mengepel rumah, mencuci baju mereka yang sengaja ditumpuk dan diberikan saat Rei sendirian. Jadi tidak ada bukti bahwa mereka melakukan nya dengan sengaja.
Sangat pintar mencari alibi, tapi sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga, seperti kata pepatah.
Hari ini Rei memang melaksanakan apa yang mereka perintahkan, persis seperti majikan menyuruh pembantunya. Mulai dari ngepel, cuci baju, bahkan memasak.
Bibi datang tepat setelah Rei selesai mencuci baju mereka. Rei mencuci pakai tangan karena mereka tidak mau baju-baju mereka rusak jika memakai mesin cuci, padahal cuma alibi.
Rei hanya menurut saja, jadi mereka bisa berlagak tanpa sadar mereka sudah masuk dalam jebakan Rei. Disaat mereka sedang enak-enak nya menikmati camilan, sambil nonton teve dan kaki naik keatas meja, ada beberapa pasang mata yang melihat tingkah mereka.
###
Beberapa saat sebelumnya, mama Ardan yang sejak tadi tidak membuka tasnya karena asyik berbincang dengan beberapa teman sosialita di acara itu, kaget saat melihat banyak panggilan masuk dari bibi.
Papa dan mama yakin ada yang tidak beres, karena bibi hanya menelpon jika ada hal yang penting saja. Dan setelah membaca pesan masuk dari bibi, mama dan papa langsung meminta supir melajukan kendaraannya pulang.
Dalam perjalanan pulang, mama yang masih penasaran mencoba menelpon bibi tapi tak diangkat. Akhirnya mama menelpon Ardan, dan kebetulan rapat yang dipimpinnya sudah selesai.
Ardan yang menerima kabar dari mamanya langsung pulang, dan meminta Miko menggantikannya sementara di perusahaan guna menjamu beberapa tamu yang datang tepat setelah Ardan keluar dari pintu lobi.
Ardan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan tampak lengang karena jam makan siang sudah lewat.
Meski bingung dengan apa yang mamanya katakan, tapi Ardan tetap melajukan mobilnya kearah rumah orang tuanya. Dan mereka tiba hampir berbarengan disana.
Mama dan papa juga Ardan sengaja tidak mengetuk pintu karena ingin tahu apa yang terjadi. Benar saja, begitu mereka masuk diruang tengah banyak sekali bungkus makanan yang dibuang sembarangan.
Ruangan itu jadi lebih mirip tempat pembuangan sampah, karena bukan hanya bungkus makanan kering, kulit kacang dan beberapa minuman kaleng pun ada disana.
__ADS_1
Bahkan mereka mendengar bagaimana ibu dan anak itu memerintah Rei layaknya pembantu. Ardan mengepalkan tangannya, emosinya sudah memuncak tapi mama dan papa memegang bahunya, dan menggeleng kepala.
Mereka ingin melihat sejauh mana tindakan keduanya pada Rei.
"Cepetan masaknya aku sudah lapar nih, lelet amat sih." teriak Enno sambil memakan kacang dan membuang kulitnya sembarangan.
"Iya non, bentar. Ini juga masih dimasak." jawab bibi keras.
Dia masih kesal dan mengomel karena tingkah mereka yang sok berkuasa. Setelah sekian lama bekerja disini, baru kali ini bibi mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari saudara majikannya.
Meski itu bukan untuknya tapi justru pada menantu dari majikannya yang dia kenal baik. Rei memang bukan tipe wanita yang suka banyak omong, perlakuan apapun yang diterimanya tak pernah satupun dia balas.
Bibi sempat kesal karena Rei tidak mau membalas mereka, tapi Rei hanya menanggapi dengan tersenyum.
"Mbak Rei itu kenapa diam saja, tadi disuruh ngepel, nyuci sekarang masak. Mana mereka merintah kayak mereka yang punya rumah."
Bibi bersungut, meski usianya tidak muda lagi tapi dia tetap gesit mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah biasa dia kerjakan.
"Bibi tenang saja, nanti juga mereka akan mendapatkan balasan. Sabar ya." jawab Rei, dia masih berkutat dengan beberapa menu yang sudah dia masak tadi.
"Sabar..sabar, mbak Rei tuh yang kelewat sabar heran deh. Itu orang juga ga sadar diri banget sih, sudah numpak tapi lagaknya hmmmm...pengen tak pites."
Bibi meracau, dan Rei hanya tersenyum menanggapi. Rei sudah biasa diperlakukan tak mengenakkan karena statusnya, tapi ini memang terlalu berlebihan.
###
Maafkan baru bisa up hari ini, sudah dua hari rumah kebanjiran dan sekarang waktunya bersih-bersih.
Semoga cepat kelar, semoga sehat selalu agar tetap bisa berikan yang terbaik. Terima kasih buat yang sudah dukung otor, tetap kirim like, komen dan vote nya ya.
__ADS_1