
Sejak awal menjalin hubungan dengan Dina, Miko sudah mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi. Jika mereka berjodoh maka Miko harus melepas pekerjaan yang saat ini digelutinya, dan ikut membantu istrinya mengelola usaha keluarganya. Tapi meski mereka tidak berjodoh pun, Miko akan tetap memilih resign, sesuai janjinya pada kedua orangtua nya dulu.
Miko terlahir dari keluarga sederhana, kedua orangtua nya hanyalah pedagang kelontong dipasar yang memulai usahanya sejak mereka menetap dikota itu. Tapi sejak orangtua ayahnya meninggal saat Miko SD, mereka memilih pindah ke kota ini. Sedangkan kiosnya mereka sewakan pada sesama pedagang disana.
Dan inilah yang mengawali perkenalan nya dengan Renita, gadis kecil yang dulu sering membuatnya kesal karena selalu mengekor kemanapun dia pergi. Bertetangga dengan keluarga Rei dan orangtua Miko yang menginginkan memiliki anak perempuan sangat menyukai Rei, mungkin karena Miko anak tunggal jadi begitu ada anak kecil yang selalu mengikutinya, Miko makin menyukainya.
Meski kadang sering berselisih tapi mereka berdua benar-benar menikmati hubungan kakak beradik ini, yang bagi sebagian orang lebih cocok jadi pasangan. Sempat berpisah karena Miko sempat harus pindah ke kota asalnya, tapi akhirnya bertemu lagi saat kuliah dan sekarang jadi rekan kerja.
€€€€
"Yang, sudah sholat?" suara membuyarkan lamunan Miko. Berjalan mendekati istrinya, Miko lalu memegang tangannya. Tatapan matanya seakan mengatakan sesuatu yang akan merobah hidupnya.
"sayang, mungkin aku bukan orang kaya yang bisa memenuhi semua inginmu, tapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk dirimu dan anak-anak kita kelak." Miko menarik napasnya dalam, seakan berat bebannya karena istrinya menangkap ada kegelisahan disana.
"Seperti yang pernah kita bahas dulu, dan aku sudah memilih keputusanku. Aku akan membantumu mengelola usaha papa, meski aku harus belajar lagi, tapi paling tidak tak akan mengecewakan mereka. Kamu tahu kan, usaha orang tuaku tak sebesar milik papa, tapi berkat ketekunan dan doa mereka bisa bertahan, bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Kamu mau kan mengajari aku?" airmata bahagia tampak diujung mata indah. Dengan anggukan dan tersenyum, Dina memeluk kekasih halalnya. Miko membalas pelukan hangat itu, mencium keningnya.
"Ayo sholat dulu, abis itu kita lanjutkan program bikin Miko dan Dina junior, ya" godanya kemudian.
"Ih.. apaan sih yang" semu merah tampak diwajah cantiknya, Dina menahan malu.
Keduanya pun berlalu menuju kamar mandi dan melaksanakan ibadah sholat isya, selanjutnya meneruskan program Miko dan Dina junior.
€€€
Keesokan harinya, saat semua anggota keluarga berkumpul sebelum sarapan, papa kembali menanyakan keputusan Miko. Dan kali ini, Miko dengan yakin menjawabnya. Karena baginya tugas suami adalah memberikan nafkah lahir dan batin bagi istri dan anak nya, jadi dia akan menerima tugas barunya.
Semua orang menyambut keputusan Miko, papa dan mama yakin Miko bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Ardan sebagai anak tertua juga bersyukur, adik iparnya mau menerima tugas barunya. Dengan begitu dia bisa fokus pada restoran, tapi dia hanya akan memantaunya saja.
Ardan yakin Miko bisa melaksanakan tugas barunya, apalagi dengan latar belakang pendidikan yang sama dengan adiknya. Tidak butuh waktu lama untuk mempelajarinya.
Seperti janjinya kemarin, hari ini Miko akan ke kantor melaksanakan tugasnya, dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Rekan kerja Miko sudah tahu jika Miko akan segera resign. Mungkin ini adalah minggu terakhirnya, karena minggu depan terhitung tanggal satu bulan depan Miko sudah bekerja di kantor barunya.
Suasana haru juga terasa diruangan Renita karena sebelum berada di posisinya sekarang mereka pernah satu divisi, dan mereka pernah bekerja sebagai tim.
__ADS_1
€€€
Siang itu dikantin kantor, empat orang yang sudah lama tak bertemu itu kini berkumpul di satu meja, tampak keakraban disana. Tapi sesungguhnya akan ada perpisahan diantaranya. Miko sudah siap resign, dan akan segera meninggalkan mereka.
Tapi ternyata masih ada kejutan lain yang akan mereka terima hari ini, Rio dan Arini akan melangsungkan pernikahan. Dan ketika menyampaikan kabar gembira itu, Renita tak dapat menahan air matanya jatuh. Perasaan bahagia karena sahabatnya akan melepaskan masa lajangnya. Renita memeluk Arini, masih dengan tangis bahagia.
"Rei, Miko ada yang ingin kami sampaikan. Kami harap kalian bisa menerimanya" ucap Arini, matanya mengarah pada Rio, dan Rio pun mengangguk menyetujuinya.
"Setelah kami menikah nanti, salah satu dari kami harus berhenti atau pindah ke daerah lain karena aturan mengatakan tidak boleh ada pasangan yang bekerja dalam satu kantor. Dan kami memilih aku yang akan resign." lanjutnya, masih dengan menggenggam tangan Rio, Arini melanjutkan ucapannya.
"Tapi...Rio akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mengelola usaha keluarganya, karena papanya sering sakit-sakitan jadi beliau memilih pensiun dari pekerjaannya."
"Kenapa... kenapa harus barengan seperti ini sih, kalian tega banget sama aku. Baru juga abang mengajukan resign, sekarang kalian juga ikutan. Terus aku gimana?" Rei nampak kesal, dalam waktu bersamaan mereka akan resign.
"Rei, maafkan kami tapi sepertinya ini adalah yang terbaik bagi kami. Tapi percayalah, kami ga akan pernah melupakan kamu." Rio menambahkan.
"Awas aja sampe lupa sama aku, ga bakalan mau aku kenal kalian lagi." Rei merajuk, dan mereka tahu cara mengatasinya.
"Kayaknya makan eskrim di gerai eskrim yang baru itu boleh juga deh" celetuk Miko sambil melirik Rei yang mulai manyun.
"Sekalian aja doble date, gimana?" ajak Rio sambil menaikkan alisnya.
"Nyebelin, kalian enak sudah punya pasangan aku gimana, plis deh." Rei protes
"Hei.. ajak yayang juga dong" Arini
"Mana mau dia, katanya mau keluar kota beberapa hari ada kerjaan" Rei
"Kan belum ngomong Rei, coba aja dulu siapa tahu sudah balik sini" Miko
"Iya deh... " Rei
"Nah gitu dong, ini baru adek abang" Rio mengacak rambut Rei
__ADS_1
"Aiss... rambutku" teriak Rei, mulutnya manyun mengundang tawa teman-temannya disana.
Dan setelah mereka menyelesaikan makan siangnya, mereka pun kembali ke tempat kerjanya. Entah kapan bisa makan bersama seperti ini lagi, tapi sepertinya akan lama.
Selesai sudah jam kerja hari ini, seperti janji tadi sore mereka akan bertemu di mall untuk mencoba menu di gerai eskrim baru disana malam nanti. Setelah menyelesaikan Rei melajukan mobil kesayangan nya menuju rumah orangtua nya.
Lalu lintas nampak sedikit lengang, meskipun jam pulang kerja tapi tak sepadat biasanya. Hari ini kedua orangtua Rei harus menginap dirumah kakaknya, karena kakak dan kakak iparnya sedang ada acara, jadi mereka menemani keponakannya. Ada rasa kangen sama si gembul, yang biasanya rajin mengajaknya jajan eskrim.
Rei berlalu menuju kamarnya, kamar yang dirindukannya setelah pulang kerja. Merebahkan dirinya sejenak, mengusir penat akan rutinitas nya. Pikirannya melayang jauh, tapi suara telepon membuyarkan lamunannya.
"Halo"
"...."
"Waalaikumsalam"
"...."
"kok tahu? emang mau?"
"..."
"Ayo deh, aku mandi dulu ya. bye"
"..."
"waalaikumsalam, maaf lupa"
Rei lalu menutup panggilan teleponnya dan membersihkan dirinya sebelum berangkat ke tempatnya janjian.
€€€€
Kira-kira siapa ya yang nelpon Rei tadi? Wajah Rei tampak ceria setelah menerima panggilan, pasti nebak si yayang Ardan kan? 😊.
__ADS_1
Maafkan lama tidak up, karena kondisi tubuh sempat ngedrop setelah beberapa waktu lalu menemani bapak dan ibuku yang lagi isoman, ternyata aku juga butuh rehat, apalagi dengan riwayat sesak napas, saya benar-benar membatasi kegiatan. Tapi janji, setelah ini akan diusahakan up minimal dua hari sekali. Semoga selalu sehat ya.