Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
33. Miko dan Dina junior


__ADS_3

Sore mulai menampakkan dirinya, seluruh karyawan mulai mengakhiri pekerjaannya. Begitu pula dengan Renita, seperti janjinya selepas jam kerja akan menemui orangtua Ardan.


Tak lupa buah tangan berupa makanan khas Sunda yang diberikan Tari dibawa olehnya. Karena sudah berpamitan pada orang tua nya sebelum berangkat tadi, Rei melajukan mobilnya kerumah Ardan.


Sesampainya disana Rumah tampak sepi, hanya bibi yang membukakan pintu. Setelah tahu kalau calon mertuanya sedang melaksanakan ibadah sholat maghrib, Rei pun langsung masuk ke kamar Ardan. Mengistirahatkan tubuhnya sebentar sebelum mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.


Ardan belum tampak disana kemungkinan dia masih ada di restoran. Setelah berganti pakaian, Rei kemudian turun ke ruang makan karena yakin semuanya pasti sudah berkumpul disana.


Benar saja, papa mama dan juga pasangan pengantin baru juga sudah duduk dikursi masing-masing.


"Assalamualaikum, papa dan mama sehat?" Rei menyapa, mencium punggung tangan kedua orangtua itu.


"Waalaikumsalam, loh menantu mama sudah datang rupanya? Pantas saja ada peuyeum Bandung disini."


Rei tersenyum, senang rasanya melihat mereka kembali. Rei lalu mendudukkan dirinya, kemudian mengambil makanan seperti yang lain. Tak lama kemudian Ardan datang dan ikut bergabung, suasana makan malam itu lebih rame karena semua penghuni berkumpul.


Inilah yang selalu papa dan mama Ardan terapkan sebisa mungkin makan bersama keluarga kecuali sedang ada kepentingan mendadak atau keluar kota. Setelah makan, Rei membantu mama membereskan meja makan.


Sudah tidak ada lagi rasa canggung seperti saat pertama kali menginjakkan kaki dirumah ini. Kehangatan yang diberikan keluarga Ardan benar-benar merubah Rei menjadi dirinya yang dulu, yang selalu ceria.


Berpindah ke ruang keluarga, Dina tampak membawakan dan teh kesukaan papa dan suaminya. Lalu mereka pun mengobrol tentang aktivitas hari ini. Kalau dulu sebelum menikah Dina sering kali pulang terlambat karena harus berada di kantor, dan sesekali bertemu langsung dengan petani pemasok sayur dan buah di toko nya, sekarang dia sudah mulai mengurangi.


Sesekali masih suka bertemu langsung dan melihat sayuran dan buah di kebun, tapi biasanya dilakukan akhir pekan saat sang suami berada di rumah. Jadi mereka pergi bersama, sekaligus mengenalkan suaminya pada usaha yang dikelola papanya itu.

__ADS_1


"Miko dan Dina, papa mau bicara. Mungkin kalian sudah tahu apa yang akan papa bicarakan, tapi ada baiknya kalian dengarkan penjelasan papa dulu." Papa meletakkan cangkir tehnya dan terlihat serius.


"Kalian sekarang sudah suami istri, dan pasti kalian sering berdiskusi. Kali ini papa minta kesediaan Miko sebagai suami Dina untuk meneruskan usaha papa mengelola toko. Bukan papa menyuruh Dina untuk berhenti bekerja, tapi papa ingin Miko juga membantu."


Lelaki paruh baya ini terlihat sedikit berat mengatakannya tapi mau tidak mau harus. Dan kebetulan Rei, mama dan Ardan juga sudah berada bersama mereka.


Papa melanjutkan lagi pembicaraan tadi. "Kalau papa menyuruh Dina berhenti total papa yakin tidak mungkin bisa, karena sedari lulus kuliah Dina sudah ikut mengelola. Tapi karena sekarang sudah ada suami yang harus diurus otomatis jam kerjanya juga harus dikurangi."


"Dan juga papa dan mama sudah tua, ingin pensiun dan menimang cucu dari kalian maka dari itu papa minta kamu Miko untuk menggantikan istrimu, paling tidak belajar dan beradaptasi dengan pekerjaan barumu."


"Jadi pikirkan baik-baik, papa tidak menyuruhmu untuk resign dari pekerjaanmu, tapi paling tidak bantu Dina menyelesaikan pekerjaannya agar kalian bisa segera program kehamilan"


Semua yang ada diruangan itu paham maksud papa, jadi sekarang bagaimana Miko dan Dina menanggapinya.


"Pa, kalau boleh Miko mau membicarakan ini empat mata dulu. Agar kita benar-benar yakin dengan keputusan kita. Jadi Miko minta waktu untuk berpikir lebih dulu." ucap Miko tegas.


"Bayangin bakalan rame rumah kita ya pak, jika sudah ada Miko dan Dina junior disini, apalagi ditambah Ardan junior wah mama ga sabar pengen menggendong mereka." Mama tiba-tiba saja menyela dan membuat mereka tertawa.


"Aamiin, di Aamiin kan dulu ma biar cepat dikabulkan doanya. Kan ucapan itu adalah doa" jawab Dina. Dina dan Miko memang tidak menunda program kehamilan, hanya menunggu dikasih kepercayaan untuk segera memiliki buah hati.


€€€


Saat menjelang sholat isya Rei melihat Miko duduk sendiri di taman belakang, dia lalu menghampiri dan duduk di seberang.

__ADS_1


"Bang, abang yakin mau resign?" Rei sebenarnya sudah tahu keputusan Miko, tapi dia ingin memastikannya. Miko mengangguk lalu menoleh pada Rei. Dia tak bisa menyembunyikan apapun dari Rei.


Kedekatan mereka seperti saudara dan mereka sudah mengenal satu sama lain. Bahkan orang tua mereka dulunya juga bersahabat, tapi karena orangtua Miko harus pindah keluar kota mereka sempat kehilangan kabar. Barulah sejak pensiun mereka kembali kesini, dan akhirnya menyambung lagi tali silaturahmi.


"Bahkan sebelum aku melamar Dina aku sudah memikirkannya berkali-kali Rei. Dan sekarang lah waktunya."


"Tapi bagaimana dengan promosi jabatan kepala unit itu, apa abang akan melepaskan nya?"


"Kamu tahu Rei, bahkan saat abang menjalin hubungan dengan wanita yang sekarang jadi istri abang itu, abang sudah tidak tertarik lagi" Miko terkekeh.


"Jadi abang sudah siap resign? terus bagaimana dengan Dina, apa dia setuju dengan keputusan abang itu?" Rei masih mencecar pertanyaan.


huff... Miko tampak menghela napas, cukup berat tapi akhirnya mengiyakan. Cukup beralasan kenapa dia menolak posisi tersebut.


"Kamu tahu kan, posisi itu pasti diincar sesama rekan kita, ga munafik begitupun aku. Bahkan beberapa dari mereka terang-terangan bersaing. Tapi apa kamu tahu resikonya?" Miko menatap Rei lama, menarik napas dalam dan mengeluarkan nya.


"Selain bersedia ditempatkan di wilayah baru, kita juga harus siap berpisah dengan keluarga kecuali meraka mau kita boyong kesana. Benar kan?" Rei mengangguk, itu juga yang membuatnya berpikir keras selama ini.


"Dan abang tidak mau itu terjadi Rei, kamu tahu kan abang sudah lama ingin bersama istri abang, karena dari sekian banyak wanita yang pernah dekat dengan abang cuma Dina yang mampu bertahan. Yang bisa mengerti abang dan pekerjaan abang, yang tidak pernah menuntut harus ada setiap waktu untuknya, dan yang bisa menerima keluarga abang. Awalnya abang ragu, tapi setelah berdiskusi dengan ayah dan ibu bahkan ayah sempat menawari untuk membuka usaha saat resign nanti."


"Kalau abang resign nanti bagaimana dengan ku, sedangkan kedua sahabat kita menjalin hubungan dan yang pasti saat mereka menikah nanti salah satunya juga harus resign jika masih tetap ingin bekerja disana. Aku akan sendirian dong"


"Kamu tidak sendiri, kan masih ada abang disini yang akan terus menemani kamu, mau kamu lanjut terus dengan kak Ardan atau tidak. Kamu tetap jadi adik abang selamanya. Sudah ah jangan mewek jelek tahu." Miko mengacak rambut Rei.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka bahkan mendengar apa yang mereka obrolkan. Dia adalah Ardan, awalnya ingin mengajak Rei pulang tapi ketika mendengar obrolan mereka dia jadi tertarik, bahkan ingin tahu sejauh mana hubungan mereka berdua.


Untunglah apa yang dia takutkan tidak terjadi, antara Renita dan Miko tidak lebih hanya sahabat dari mereka kecil, bahkan Miko mengakui kalau dia menganggap Rei sebagai adiknya, begitu pula dengan Rei. Mungkin bagi orang lain yang tidak tahu, akan mengira mereka ada hubungan. Ardan tersenyum, rasanya lega meskipun dia pernah mendengar langsung dari adiknya dan juga dari kekasihnya itu, tapi yang namanya cemburu tak pandang bulu.


__ADS_2