
Arini masuk ke kamar bayinya, setelah mempersilahkan tamunya masuk. Si cantik Reyna mengikutinya dari belakang, dia penasaran dengan adek bayi tante Arini.
Arini yang tidak tahu jika langkah kakinya diikuti oleh sepasang kaki kecil yang sedari tadi berjinjit agar tidak menimbulkan suara.
Sebelum mengikuti Arini, Reyna sempat minta ijin pada mamanya tapi tidak diperbolehkan. Lalu saat dia sudah mulai memasang wajah kesalnya, Rei mendekatinya dan berbisik.
Seolah menjadi penolong rasa penasaran gadis kecil itu, Rei memperbolehkannya untuk mengikuti tante Arini, asalkan dengan satu syarat.
Reyna tidak boleh membuat keributan agar adik bayi tidak takut dan menangis. Reyna berjinjit agar tidak menimbulkan bunyi.
Tingkah gadis kecil itu sungguh lucu sehingga membuat orang dewasa yang ada disana tertawa.
"Ayo diminum dulu nak Rei, maaf cuma teh hangat dan pisang goreng suguhannya. Ga kayak dikota, segala macam kue ada."
Ibu Rei datang dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring pisang goreng.
Rei lalu menyalami ibu Arini setelah beliau meletakkan nampannya. Ardan, Bayu, dan Ratna mengikuti Rei. Sedangkan bocah laki-laki kembaran Reyna hanya melihat ke sekelilingnya.
Arini dan yang lain berbincang-bincang dengan ibu Arini tentang proses persalinan Arini. Mulai dari kehamilan Arini yang sempat mengalami pendarahan, hingga persalinannya secara caesar.
Rei trenyuh ternyata sahabatnya mengalami banyak kejadian yang menyedihkan seperti itu. Sejak terakhir kali ketemu di acara resepsinya Arini memang tidak banyak mengaktifkan sosial medianya.
Arini lebih banyak beristirahat karena masalah selama kehamilannya. Rei meneteskan air mata tidak tega, dia merasa bersalah karena tidak mengetahui kondisi sahabatnya.
Arini datang dari arah kamar, membawa bayi mungil yang sedang tertidur dipangkuannya. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu menggeliat.
Sedikit terganggu dengan suara disekitarnya, bayi itu terus menggeliat dan merengek, kulitnya memerah.
Arini mencoba menenangkan bayinya, tangisan terdengar dari mulut mungilnya. Arini sudah bisa mengerti gerakan bayinya, dia sudah lebih tenang menghadapi bayinya.
Terbukti bayi itu sudah lebih tenang meski suara tangisnya masih terdengar. Reyna yang sedari tadi diam memperhatikan Arini, berjalan mendekat.
Reyna berdiri disamping Arini lalu mencium adik bayinya, Reyna bahkan mengikuti yang Arini lakukan tadi mengelus lengan bayi itu.
"Cup cup cup...adek jangan nangis ya, mau minum susu ya, bentar ya kakak ambilkan dulu." Reyna berbicara pada adik bayi nya.
"Tante ini susunya adek bayi kan?" tanya Reyna setelah mengambil botol susu yang tadi Arini letakkan di meja.
__ADS_1
"Iya sayang, itu punya adek bayi. Bawa sini sayang."
Arini meminta Reyna mengambilkan botol susu berisi asinya yang sudah dipompa dan dihangatkan lebih dulu.
Reyna membawa botol susunya, dan mendekati adek bayinya lagi. Arini tersenyum, dia sangat menyukai kecekatan Reyna yang begitu antusias.
"Terima kasih sayang, mau bantu kasih adek bayi susunya ga?" ucap Arini.
"Boleh?" Reyna bertanya, sinar matanya menunjukkan bagaimana senangnya gadis kecil itu.
Arini mengangguk dan menyuruh gadis cantik itu mendekat. Bella sedikit berlari hingga kakinya tersandung, untung saja tidak mengenai Arini dan bayinya.
"Ups...pelan-pelan sayang. Nanti kalo jatuh bisa kena adeknya, kasihan."
Kali ini mama Reyna yang bersuara, dia agak kaget ketika anaknya tersandung, takut mengenai ibu dan bayi tersebut.
"iya, ma." Reyna
Reyna berjalan lagi dengan pelan, lalu membuka tutup botolnya, dan memasukkan ujung botol kedalam mulut mungil adik bayi.
Bayi mungil itu mulai meminum air susu ibunya dalam botol yang masih dipegang oleh Reyna. Gadis kecil itu tertawa melihat adik bayinya meminum susu.
Bayi Arini sudah mulai tenang, dia juga sudah mulai melepas botol susunya di mulutnya. Reyna segera berlari kearah meja mengambil tisu basah khusus bayi, lalu kembali lagi dan mengelap disekitar mulutnya.
Orang dewasa disana terpana dengan tingkah gadis kecil itu, mereka tersenyum. Ardan tiba-tiba nyeletuk.
"Sepertinya kamu harus membuatkan mereka adik Bay, lihatlah putrimu itu." Ardan.
"Ck..kamu bisa aja Dan. Aku sih terserah mamanya aja. Ya kan yang."
Bayu mengedipkan matanya pada sang istri, dan hanya dibalas dengan pelototan. Rei dan Ardan tertawa melihatnya.
"Ma, aku mau adek bayi kayak gini boleh?" Reyna berkata tanpa memindahkan pandangannya dari bayi Arini.
"Hah..." mama Reyna kaget, hampir saja dia tersedak.
"Boleh ya ma." Reyna merengek
__ADS_1
"Tapi mama..." Ratna, belum sempat dia berucap, suaminya sudah menyela.
"Boleh sayang, nanti kita bikinkan adek buat Reyna ya." Bayu tersenyum, membuat istrinya geregetan.
"Papa ih..." Ratna mendengus. Suaminya hanya tertawa, Reyna berteriak senang.
"Asiiiik, Reyna mau punya adek bayi."
Reyna mencium bayi Arini yang membuatnya gemas. Bayi mungil itu seolah tahu betapa senangnya hati Reyna mendengar orang tuanya akan memberikan dia seorang adik.
Rei dan Ardan tertawa melihat ekspresi keluarga kecil itu. Rey yang sedari tadi diam kemudian turun dari tempatnya duduk.
Dia berjalan kearah Reyna dan mencium bayi laki-laki yang tertidur setelah kenyang meminum susunya.
"Gantian, kamu kan sudah dari tadi main sama adek bayinya. Sekarang aku yang main sama adek"
Rey menyuruh saudara kembarnya untuk minggir. Dia masih belum puas menciumnya, bahkan dia juga ingin memberikan bayi botol susu nya.
Tapi keinginannya urung karena adek bayinya sudah pulas dan tidak sekalipun merasa terganggu meski ramai disekitarnya.
Arini ingin memindahkan bayinya ke dalam box agar bayi itu pulas tidurnya, tapi melihat kedua tamu kecilnya yang berebut mencium bayinya akhirnya Arini membatalkan niatnya.
Biarlah untuk sementara waktu, dia tidurkan bayi nya dalam gendongannya. Rey dan Reyna masih berebut, sampai menimbulkan keributan.
Bayi mungil tampak menggeliat, dia mulai terganggu karenanya. Suara kecilnya terdengar, dan tentu saja melihat bayi itu menangis membuat Ratna akhirnya membuka suara.
"Rey dan Reyna kalau masih ribut, mama ga akan kasih kalian adek loh ya."
Ucapan Ratna membuat kedua anak kembat itu menoleh kearah mamanya. Mereka lalu meninggalkan bayi Arini dan mendekat kearah orang tuanya.
Keduanya duduk dan diam, anak-anak itu sangat patuh bahkan tidak ada satupun dari mereka yang bersuara.
Rei terlihat gemas karena tingkah lucu mereka, Rei lalu mendekat dan mencium kening kedua anak kembar yang berbeda jenis kelamin tersebut.
Rey dan Reyna hanya selisih sepuluh menit, Rey yang lebih dulu lahir dan kemudian Reyna. Wajah mereka sangat mirip, karena mereka adalah kembar identik.
Yang membedakan keduanya bukan hanya jenis kelaminnya, tapi juga warna kulit mereka. Rey berkulit sawo matang seperti ayahnya, sedangkan Reyna berkulit putih seperti ibunya.
__ADS_1
Wajah mereka sangat mirip dengan Bayu papanya, hidung mancung dan mata lebar. Bahkan Rey persis sekali dengan nya, kata orang dia adalah foto copy papanya.