
Ardan tahu kondisinya saat ini sedang tidak memungkinkan untuk membuat perhitungan pada perempuan bernama Anggita.
Meski dia menghormati perempuan sebagai makhluk yang dimuliakan, tapi jika terus berdiam diri, justru akan jadi boomerang baginya.
Apalagi saat ini kondisi rumah tangganya sedang tidak baik baik saja, andaikan boleh meminta dia tak ingin bertemu dan kenal dengan Anggi.
Perempuan yang dikenalnya secara tidak sengaja dan hubungan mereka berlanjut meski tanpa status hingga perempuan itu meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.
Sakit hati kah dia? Tidak, Ardan tidak sampai sejauh itu, bahkan jika dibandingkan dengan pertunangannya yang gagal justru lebih menyakitkan karena melibatkan orang tua dan keluarganya.
Hanya rasa kecewa karena perempuan itu tidak sampai menyentuh sisi hati terdalamnya. Mungkin lebih pada rasa kagum, yang kemudian hari luruh bersama peepisahan yang terjadi dengan ketidakjelasan.
Ardan memijat pangkal hidungnya, kepala tiba tiba terasa pusing mengingat kelakuan perempuan itu pada nya beberapa waktu lalu.
Ardan yakin pasti akan ada hal yang lebih mengerikan yang akan Anggita lakukan mengingat dia sudah terobsesi oleh sesuatu yang tak mungkin dia dapatkan.
Dan kemungkinan besar akan berimbas pada hubungan rumah tangganya. Ardan tak mau berpikiran negatif tapi demi apapun obsesi Anggita padanya, Ardan tak akan pernah mau menukarnya dengan rasa cintanya pada sang istri.
###
Dilain tempat, Anggita sudah mulai mencari cara untuk mendekati Rei. Perempuan itu benar benar tak tahu malu, dengan segudang cara dia lakukan untuk bisa mewujudkan keinginannya bersama lelaki pujaannya.
Bahkan dia juga sudah mempersiapkan kata kata yang pas yang akan dia ucapkan setelah pertemuannya dengan istri lelakinya terlaksana.
Dibutakan oleh cinta sepertinya kurang pas untuk menunjukkan sikapnya saat ini. Karena semakin lama bukan rasa cinta yang Anggi rasakan melainkan ego, untuk menaklukkan hati sang pujaan. Meski tahu itu salah.
Tak masalah dia disebut orang ketiga atau istilah sekarang dikenal dengan sebutan pelakor alias perebut laki orang. Selama dia bisa bersama Ardan, why not.
Anggita lupa jika Ardan yang dulu dikenalnya sudah tidak ada lagi, jika dulu Ardan bisa menyimpan kisah masa lalunya dengan rapat bahkan pada orang tuanya sekalipun. Sekarang Ardan lebih terbuka, bahkan Rei pun sudah tahu tentang siapa Anggi.
__ADS_1
Dan satu lagi, Ardan yang Anggi kenal dulu hanya diam dan pasrah menerima keadaan, sekarang Ardan sudah bertekad untuk mempertahankan miliknya.
Anggi tersenyum membayangkan jika dirinya bersanding dengan lelaki pujaannya di pelaminan. Dengan bangga dia akan mengakui pada dunia bahwa dialah yang pantas berada di sisi Ardan, bukan Rei.
Segala pikiran licik sudah masuk dalam rangkaian adu domba pasangan suami istri itu hingga salah satunya menyerah dan membiarkannya masuk jauh kedalam, sehingga hubungan mereka retak dan berakhir.
Seringai licik tersungging dibibirnya, tapi dia lupa bahwa kekuatan cinta pasangan suami istri yang disahkan dimata Tuhan jauh lebih hebat dari segala tipu daya.
###
Dan benar saja, Anggi terlihat mendatangi kantor Ardan lagi, tak ada kata menyerah dalam kamusnya untuk menaklukkan lelakinya.
Meski tak ada penolakan pada sikapnya, tapi dalam hatinya Ardan jauh lebih keras dari bongkahan es yang terpahat alami di belakan kutub utara.
Tak mudah membuatnya bertekuk lutut, jika dengan cara halus lemah lembut tak bisa mendapatkannya, maka cara kasarpun sudah siap dia lakukan.
Karena dimatanya hanya ada Ardan, Ardan dan Ardan. Bahkan Anggi sengaja menulikan telinganya meski kedua orang tuanya sudah mempersiapkan calon suami untuknya yang jauh lebih baik dari Ardan.
Pintu kantor itu terbuka, tak ada ucapan salam bahkan Ardan dibuat tercengang dengan penampilan perempuan yang baru saja terlintas dalam pikirannya.
Anggi datang dengan penampilan yang jauh lebih berani dari sebelumnya, bahkan lekuk tubuhnya tercetak jelas.
Ardan bukannya senang, malah semakin ilfiil dibuatnya. Baginya penampilan Anggi saat ini malah jauh dari kesan anggun seperti biasanya, dia jauh lebih terkesan murahan.
Sebagai lelaki normal tentu saja Ardan tak menolak tapi baginya jauh lebih baik penampilan istrinya yang meskipun tanpa berdandan dan berpakaian seksi.
Ardan hanya bisa menggelengkan kepala yang semakin pusing dibuatnya.
"Kali ini apa lagi?" batin Ardan menatap Anggi yang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Hai, aku membawakanmu makan siang karena aku tahu kamu pasti sibuk, jadi sebagai calon istri yang baik, aku siap melayanimu."
Anggi tanpa disuruh sudah meletakkan paperbag berisi berbagai macam makanan kesukaan Ardan yang sebelumnya sudah dia tanyakan pada stafnya di restoran itu.
"Kamu tak perlu repot repot, karena aku akan pulang dan makan siang bersama dengan istriku tercinta. Jadi silahkan bawa kembali semuanya."
Ardan sama sekali tidak mau melihat kearah Anggi yang duduk di sofa persis dihadapannya, yang sengaja memperlihatkan kulit putihnya dibalik dress ketat yang dipakainya.
"Sialan" batin Ardan, dia semakin jengah melihat tingkah Anggi.
"Ardan, kamu tidak boleh menolakku, aku sudah susah payah memasak untukmu semua makanan favoritmu. Cobalah hargai aku."
Anggi berjalan mendekati Ardan dan berniat duduk dipangkuan Ardan, tapi tangan kekar itu terburu menghentikannya.
"Hentikan, sebelum kesabaranku hilang sebaiknya pergi dari sini segera." Ardan berdiri dan menjauh dari Anggi.
Seperti dugaannya, perempuan ini tak mudah menyerah. Masih dengan jurus memaksanya yang mulai membuat Ardan emosi.
Sebelum sempat Anggi mendekati, Ardan pun kembali meluncurkan kata kata pedasnya.
"Aku bilang berhenti bertingkah seperti wanita murahan, dan jika batas kesabaranku sudah habis, jangan salahkan aku jika bertindak kasar padamu."
Ardan melangkah mendekati pintu, dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, mukanya terlihat merah padam karena menahan emosi.
"Cepat pergi dan bawa semua ini. Aku tak butuh perhatian dari wanita sepertimu."
Sedikit membentak hingga Anggi tak bisa berkutik dan segera membereskan bawaannya. Memasukkan kembali ke dalam paper bagnya.
"Ingat Ardan, aku tak akan menyerah membuatmu bertekuk lutut padaku. Aku akan buat kamu menyesal karena telah menolakku."
__ADS_1
Anggi pun berlalu, rasa malu nya benar benar sudah hilang tertutupi obsesi nya.
"Dasar perempuan sinting" gumam Ardan setelah Anggi meninggalkan ruangannya.