Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
15. Sakit hati


__ADS_3

Renita mendengus kesal, sahabatnya ini tak pernah berubah selalu ramai dimanapun dia berada. Ingin sekali Rei mengumpat kelakuannya yang heboh, tapi percuma Anita tetap Anita dia bukanlah tipe orang yang senang berpura-pura menjadi orang lain untuk menarik perhatian.


"Kamu apa kabar?" tanya Anita, memperhatikan Rei yang masih bingung dengan begitu banyaknya menu di meja. Dia tersenyum, sudah pasti tahu apa yang sahabatnya pikirkan.


"Baik, kamu sendiri kelihatannya tambah subur aja. Senang ya bu?"


"Tentu saja, suamiku tak suka istrinya kurus, kayak meluk kayu katanya makanya dia biarkan aku makan terus." candanya membuat Rei terkekeh.


"Mana ada begitu itu, ngadi-ngadi deh."


"Tanya aja sendiri kalo ga percaya, tuh dia orangnya." menunjuk laki-laki yang berjalan bersama balita dan sedang menuju ke arah mereka.


"Ibuuuu.... " teriak balita itu, tubuhnya tambun dengan rambut keriwil dan pipi nyempluk, menggemaskan sekali.


"Sudah, sini salim dulu sama tante Rei." ucap Anita, balita itu mengangguk, tangannya mengambil tangan Rei dan menciumnya.


"Halo cantik, siapa namanya?" Rei mencium pipinya, wangi minyak telon masih mendominasi.


"Cika, tante." jawabnya singkat, tangannya sibuk mengambil udang goreng lalu memakannya.


"Pintar, Cika sudah sekolah?"


"Belum tante, masih menunggu tahun ajaran baru." kali ini Anita yang menjawab, balita itu tampak asyik makan udang.


"Loh sudah datang rupanya, apa kabar Rei" Andi mendudukkan dirinya dikursi dihadapan istrinya.


"Baik, mas. Sepertinya akan jadi keluarga besar ya, saya kira Anita bakalan membuat mas Andi kurus karena tidak bisa melayani, ternyata salah." Rei memperhatikan ketiga orang didekatnya yang bertubuh subur.


"Hus.. sembarangan, gini juga aku pintar loh merawat mereka buktinya.. " Anita menunjukkan hasil karyanya, Rei hanya tertawa.


"Wah dia jagonya, malah bisa dibilang pintar banget menarik nafsu makan kita.. hahaha" tawa sang suami.


"Ya tapi ayah suka kan, daripada kurus nanti dibilang meluk kayu lagi" celoteh Anita.

__ADS_1


"Iya sayangku." Andi menyentuh pipinya, menunjukkan kasih sayangnya. Rei jadi iri, ingatannya pada Anton kembali menyeruak.


"Kapan makannya kalo ngobrol terus keburu dingin, lihat Cika aja udah habis banyak udangnya." Mereka lalu makan dan sesekali tertawa melihat kelakuan bocah kecil itu.


€€€€


Selesai makan mereka kembali melanjutkan obrolannya, menikmati malam. Suasana kafe yang tenang dengan diiringi lagu dari mp3 membuat siapapun betah berada disana, selain itu menu yang disajikan benar-benar memanjakan lidah.


Interior design yang apik juga sangat eye catching, dengan penataan lampu dan tempat duduk dan segala pernak-pernik nya begitu memukau. Pantas saja jika restoran ini sangat direkomendasikan, bahkan termasuk favorit.


Rei memperhatikan seluruh ruangan, dia benar-benar kagum. Saat tak sengaja matanya menangkap seseorang yang dikenalnya. Rei melihat dari jauh, ketika merasa orang yang diperhatikan menoleh kearahnya Rei menunduk.


Sementara itu orang yang menjadi perhatian Rei mengulum senyum tipis. Sambil melanjutkan lagi hal yang tertunda. Sesekali matanya menatap Rei dari kejauhan.


"Rei, hei bengong aja. kesambet loh" Anita membuyarkan lamunannya.


"Apaan sih, nit."


"Kamu ga pengen kah punya yang seperti ini" menunjuk Cika, bocah kecil itu masih asyik mengunyah makanan. Seperti tak ada habis seleranya, ayahnya pun tak mau kalah. Ayah dan anak itu benar-benar doyan makan, pantas saja tubuh mereka sehat.


"Ga ada niatan untuk menikah lagi?" pertanyaan ini akhirnya Rei dengar lagi, untuk kesekian kalinya. Rei kembali menjawab dengan tersenyum.


"Kalau memang jodoh, aku ditakdirkan menikah lagi, aku ga akan nolak. Tapi... " Rei menghentikan ucapannya, mengambil minumannya dan menyesapnya.


Anita masih setia menunggu jawaban Rei, dia tahu tak ada gunanya memaksa Rei. Tapi paling tidak dia bisa mendengar kembali cerita sahabatnya dari orang nya langsung.


"Kamu ga sakit hati kan? sampai memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan laki-laki lain sejak perceraianmu itu."


"Sakit hati, sempat sih merasakan itu tapi apa gunanya menyimpan lama-lama. Aku sempat menolak untuk dekat lagi dengan laki-laki, tapi orang tua Anton menyadarkanku."


"Mereka memang tidak memaksaku untuk menikah lagi. Tapi mereka tak ingin melihat aku sendiri, bersedih. Bahkan mereka memperlihatkan surat terakhir dari almarhum agar aku mencari kebahagiaan baru. Bisa kamu bayangkan gimana perasaanku saat itu."


Anita tahu Rei pasti merasa bersalah karena kedua orangtua Anton sudah menyayangi nya seperti orang tua kandung nya. Rei bukan tipe wanita yang tega melihat orang disekitarnya bersedih.

__ADS_1


"Aku hanya tak ingin mengecewakan mereka, mereka sudah menganggapku seperti putri mereka sendiri."


"Apa kamu sudah bisa melupakan almarhum?" Rei menggeleng.


"Dia akan selalu ada disini sampai kapanpun" menunjuk dada nya.


"Tapi kamu siap kan, menerima cinta yang lain. Apalagi setelah perceraian itu, aku melihat kamu menutup diri. Mau sampai kapan Rei?"


"Sayang, kamu jangan maksa Rei." cegah Andi sebelum istrinya makin mencecar pertanyaan pada Rei.


"Gapapa mas, aku sudah gapapa kok. Tenang aja, aku sudah melupakan masalah itu dan aku siap membuka hati, meski aku tidak tahu kapan aku bisa menerimanya."


"Kamu masih trauma?" anggukan Rei membuat pasangan suami istri itu saling menatap. Anita merasakan nyeri membayangkan sahabatnya itu. Bukan tidak mungkin trauma itu masih akan tetap dia rasakan.


"Kamu butuh waktu? Kamu bisa menghubungi ku jika butuh teman curhat, aku akan selalu ada untukmu." Anita memeluk sahabatnya. Rei mengusap air matanya, membalas pelukan sahabatnya.


"Udah yuk kita pulang, Cika sudah ngantuk. Kalian bisa lanjutkan lagi ngobrolnya besok." ucap Mas Andi. Kedua wanita cantik itu mengangguk.


"Masih lama kan disini?" tanya Rei.


"Masih sebulan lagi, mas Andi harus melakukan kunjungan ke beberapa tempat." jawab Anita.


"Iya, Rei kalo ada waktu mainlah kerumah, sementara ini kami tinggal dirumah ibuku karena rumah orangtua Anita belum selesai di renovasi."


"Masih ingat kan?" tanya Andi kemudian


"Masih, oiya makasih Mas, Nit atas makan malamnya." melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam sembilan malam, mereka lalu berjalan menuju parkiran.


Sebelum berpisah Rei dan Anita melakukan cipika cipiki seperti yang biasa mereka lakukan. Rei juga tak luput mencium pipi gembul bocah kecil yang sudah terlelap digendongan ayahnya.


Masuk ke mobilnya masing-masing dan menghilang dari pandangan. Rasa lelah menyapa, malam semakin larut waktunya istirahatkan tubuh.


Jalanan yang lengang membuat Rei tak butuh waktu lama untuk sampai dirumahnya. Menghentikan mobilnya dan membuka pagar, lalu memasukkan kedalam garasi. Mengecek kembali semua pintu mobil, pintu pagar dan masuk ke rumah.

__ADS_1


Tampak sepi mungkin mama dan papanya sudah beristirahat, Rei lalu menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.


€€€€


__ADS_2