Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
109. Aku ingin selamanya begini


__ADS_3

Sinar matahari mulai merambat masuk ke kamar pribadi Ardan yang menjadi satu dengan kantornya dibagian belakang restoran.


Bagian belakang restoran itu sudah dibuat menjadi ruangan yang memang di khususkan bagi keluarga Ardan jika berkunjung kesana.


Sebenarnya tak ada yang istimewa disana, itu hanya sisa lahan yang akhirnya Ardan sulap menjadi sebuah ruangan pribadi.


Ardan yang lebih dulu bangun tak henti menatap wajah lelah istrinya. Bagaimana tidak lelah, setelah melewati dua ronde semalam, dan mereka masih melanjutkan lagi setelah ibadah sholat subuh.


Ya harap maklum lah, namanya juga baru baikan jadi rasanya kayak pasangan yang melepas rindu setelah menjalani hubungan LDR an.


Ardan tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang terlihat lebih kurus saat ini. Saat hamil Rei sempat mengeluh karena semua bajunya sudah tidak muat lagi, karena berat badan nya yang naik drastis.


Tapi setelah musibah itu datang berat badan Rei langsung menyusut bahkan terlihat lebih kurus dari sebelum mereka menikah.


Ardan tahu kejadian itu bukan kesalahan Rei, mungkin mereka masih belum diberikan rezeki untuk menimang buah hati saat ini. Ardan sudah menerimanya dengan ikhlas, tapi tidak dengan Rei yang selalu dibayangi rasa bersalah.


Dan trauma psikis itu secara langsung membuat tubuh Rei kurus. Ardan tidak bisa membayangkan bagaimana Rei melewati masa keterpurukan itu, karena istrinya tidak pernah mau membaginya.


Seolah dia tidak ada artinya bagi Rei, meski itu akhirnya membuat Ardan kesal dan lebih memilih membiarkan istrinya sendiri. Padahal mamanya sudah berkali kali mengatakan bahwa Rei tidak boleh dibiarkan sendiri.


Ardan memilih mengalah, dan dia membuat dirinya sibuk dengan segala pekerjaannya dari pada mengganggu Rei. Dan kini Ardan merasakan rasa bersalah, benar kata papanya di lima tahun pernikahan itu adalah ujian awal rumah tangga.


Pasangan suami istri akan diberikan cobaan baik masalah yang berasal dari keluarga besarnya maupun masalah keturunan. Dan mereka berdua baru saja melewati itu.


Jika salah satu atau keduanya tidak ada yang mau mengerti dan memahami, maka dipastikan konflik rumah tangga itu akan menjadi boomerang bagi mereka berdua.


Tak terasa air matanya menetes, Ardan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti istrinya lagi. Cukup sekali saja kemarin istrinya merasa sendiri. Dan menghadapi masalahnya sendiri.


###


Eengghhh


Rei akhirnya menggerakkan badannya khas orang bangun tidur, dia belum menyadari jika sedari tadi suaminya memperhatikannya. Dan ketika menoleh kesamping, yang pertama matanya tangkap adalah senyum dari sang suami.

__ADS_1


"Good morning, my wife." ucap Ardan sambil tersenyum manis pada Rei. Ardan lalu mendaratkan kecupan dibibir mungil Rei.


"Morning my hubby" jawab Rei juga dengan senyum manisnya. Kemudian membalas kecupan suaminya, dan ternyata kecupan itu berubah menjadi luma*** dan membuat keduanya terhanyut suasana.


Keduanya menghentikan ciuman selamat pagi itu setelah merasakan kehabisan napas. Ardan menyatukan dahinya dan dahi istrinya.


"Maaf..."


Ucap Ardan lirih, Rei masih tak mengerti maksud ucapan suaminya. Kenapa minta maaf.


"Mas..."


Belum juga Rei menyelesaikan perkataannya, mulutnya kembali dibungkam. Ardan kembali menyatukan bibirnya ke bibir Rei.


Menyesap dan melu*** bibir merah yang membuatnya candu. Kecapan dari pertemuan kedua bibir anak manusia itu terdengar jelas.


Hanya ciuman tanpa nafsu, mungkin Ardan ingin meminta maaf dengan cara langsung seperti ini, dan meski masih bingung dengan serangan mendadak yang dilancarkan suaminya Rei juga tak bisa menolak, karena dia juga merasakan yang sama.


Ingin mengucapkan kata maaf meski semalam entah berapa banyak kata maaf yang terucap hingga akhirnya berakhir dengan pelepasan dahaga dari nafkah batin keduanya yang sempat terjeda.


Gayung bersambut, tanpa aba aba mereka melanjutkan kembali pergulatan panas semalam.


Kecapan dari pertemuan dua benda kenyal milik keduanya terdengar, tangan Ardan kembali menempati tempat favoritnya.


Memainkan squishy milik istrinya hingga desa*** bak irama merdu ditelinganya, Ardan pun mulai menyusuri daerah leher istrinya dan memberikan banyak tanda kepemilikan disana.


Lenguhan panjang dari mulut Rei tak henti sampai disitu, Rei kembali dibuat terbang menikmati buaian suaminya.


Satu tangan Ardan masih memainkan squishy nya, dan satu tangan lagi bermain dibawah sana.


Ardan tidak memberikan kesempatan istrinya untuk istirahat dari aktivitas panas mereka. Melihat istrinya sudah dibawah kabut gairah, Ardan kembali membuainya hingga keduanya sama sama menikmati pelepasan.


Dan Ardan mengakhirinya dengan menyemburkan lagi benihnya ke dalam rahim istrinya untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Setelah itu keduanya yang sudah lemas, akhirnya merebahkan diri lagi di ranjang yang sudah tak karuan bentuknya.


Ardan dan Rei tersenyum dan saling berpelukan, Ardan mencium pucuk kepala istrinya.


"Terima kasih sayang, aku ingin kita selamanya begini, seperti ini. Jangan lagi memendam masalah sendirian, kamu tahu aku tak sanggup melihatmu terpuruk. Aku ingin kita menyelesaikan masalah kita berdua, aku mencintaimu, sangat mencintaimu."


Ardan mengucapkan kata katanya sambil terus membelai punggung polos istrinya dan mencium kening istrinya dengan sangat dalam.


Rei tersenyum mendengarnya, dia merasa beruntung memiliki suami yang begitu mencintainya. Dan Rei berjanji untuk membagi masalahnya dengan sang suami agar tidak merasa terabaikan seperti kemarin.


Keduanya mengeratkan pelukan dan kembali memejamkan mata. Sinar matahari yang menerobos masukpun seolah mengiringi keduanya diperaduan.


Hingga tak lama kemudian perut Rei berbunyi dan keduanya tertawa, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan itu artinya mereka hampir melewati waktu sarapan pagi.


Keduanya lalu menuju kamar mandi, karena Ardan masih ingin terus menempel pada sang istri. Tak ada aktivitas panas didalam kamar mandi karena mereka ingin segera sarapan dan pulang kerumah.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Rei merapikan kasur yang sudah mereka gunakan untuk kegiatan panas mereka sebelumnya.


Rei menggunakan baju yang memang dia letakkan disana saat dulu sering menemani suaminya bekerja.


Setelah itu Rei mengambilkan kemeja suaminya yang ada di lemari yang sama didalam ruangan itu.


Setelah berpakaian, mereka keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju area dapur restoran. Para karyawan di restoran yang bertugas di shift pagi sedang berkutat dengan aktivitasnya masing masing.


Mereka juga membalas sapaan para karyawannya. Setelah pesta kemarin aktivitas di restoran kembali seperti biasa, karena mereka sudah biasa menerima job besar dan Ardan pun tak segan memberikan bonus pada para karyawannya.


Suasana kerja yang ramah dan kekeluargaan memang sengaja Ardan terapkan disana, setiap karyawannya mulai dari koki, pelayan dan cleaning service baik yang bekerja di shift pagi atau malam sudah terbiasa dengan sikap bos mereka yang ramah.


Makanya mereka betah kerja disana, selain gajinya yang lumayan, suasana kerja yang kondusif, bos mereka juga tak segan memberikan bonus jika ada event besar seperti kemarin.


###


Maafkan baru muncul ya, kesibukan di dunia nyata selain ibu rumah tangga adalah mengajar dan sekarang baru selesai penilaian akhir semester, jadi sibuk korektor.

__ADS_1


Tetap dukung otornya, beri like, komen dan vote. Jika suka beri hadiah, ditunggu ya. Terima kasih


__ADS_2