
Ibu hamil dan ngidam itu seperti paket lengkap, meski tidak semua wanita hamil mengidam hal-hal aneh dan diluar nalar.
Bagi wanita hamil bisa memenuhi acara ngidamnya adalah suatu hal yang membahagiakan.
Tapi bagaimana dengan para suami? Jangan bilang mereka menerima dengan senang hati, karena pada kenyataannya banyak sekali para suami yang membuat istrinya sedih karena keinginannya tak terpenuhi.
Kembali ke bumil yang satu ini, Dina dan Miko sedang bersiap untuk mengadakan pengajian bagi kandungannya yang sudah masuk bulan ke empat.
Kalau kata orangtua, ketika kandungan berusia empat bulan disaat itulah roh sang jabang bayi ditiupkan. Acara pengajian yang sederhana karena masih akan ada acara tujuh bulanan nanti.
Mama dan papanya hanya mengundang ibu-ibu kompleks dan juga majelis taklim yang diikuti mama.
"Ma, acara sore kan. Dina mau ke toko kue dulu ambil pesanan kuenya." Dina pamitan.
Saat ingin mencium tangan, mamanya melarang Dina untuk pergi. Tapi sepertinya ibu hamil ini kecewa.
"Kuenya nanti akan diantar, kamu istirahat aja dikamar." ucap mama
"Ma, Dina tuh hamil bukan sakit. Ngapain disuruh istirahat." Dina
"Ya biar kamu ga capek sayang." mama
"Ma...." Dina merajuk, sepertinya percuma karena mamanya tidak mengijinkan nya pergi.
"Tapi Dina pengen jajan ma, makanya sekalian ke toko ambil kue yang buat nanti." Dina
"Kamu kan biasanya pesan online, sampe tukang gojeknya hapal." Mama
"Yah mama, orang Dina maunya jajan diluar ma. Dina pengen beli rujak manis, batagor, pangsit goreng, sama es kacang ijo. Kalau nyuruh kang gojeknya bukan ngidam namanya ma."
Dina menghempaskan dirinya di sofa, mulutnya maju tapi tangannya masih sempat meraih toples berisi kastangel kesukaannya.
Mama menggeleng kepala sambil tersenyum, kelakuan ibu hamil ini memang menggemaskan. Ngambek aja masih bisa makan.
"Ya sudah, kamu boleh pergi, tapi nanti minta temenin Rei aja ya. Miko kan masih kerja." mama
"Yei...makasih ma, tapi kak Rei kan ga boleh pergi sama si abang. Bener-bener bucin dia sekarang, istrinya dikekepin terus." Dina
"Biar nanti mama yang bilang sama kakakmu." mama
Dina mencium mamanya yang sudah duduk disampingnya.
__ADS_1
###
Rei dan Dina sedang berada di area alun-alun kota, mereka langsung menuju ke tempat penjual makanan yang seperti Dina inginkan.
Seperti janji mama tadi akan meminta ijin pada kakaknya yang over protektif pada istrinya itu, akhirnya Dina bisa keluar memenuhi keinginan baby utun nya.
Ada yang dibungkus untuk dimakan dirumah, dan makan ditempat. Dina berbinar melihat semua jajanan yang dia inginkan ada disini.
Meskipun dari keluarga berada tapi Dina tidak malu untuk makan dipinggir jalan seperti ini. Rei yang menemaninya tak habis pikir bagaimana bisa makanan-makanan itu habis dalam sekejap dan masih makan yang lainnya.
Apakah semua ibu hamil seperti itu, dan ketika mengingat ketika kakaknya hamil dulu Rei pun terkekeh.
Kira-kira dirinya akan seperti itu juga kah nanti saat hamil? Rei mulai membayangkan. Pasti akan menyenangkan mengidam dan membuat suaminya heboh seperti bang Heru dulu.
Rei juga menjadi korban Dina karena harus menghabiskan makanan yang dibelinya, mana harus kepedasan.
Rei kurang suka pedas akhir-akhir ini, berbeda dengan dulu ketika belum menikah. Sejak sakitnya tempo hari Ardan benar-benar menerapkan pola makan sehat baginya.
Tidak boleh makan terlalu pedas, tidak boleh makan yang berlemak, dan mengurangi gorengan. Padahal makanan itu sangat menggugah selera.
Meski sempat protes tapi akhirnya Rei mengalah, bosan lama-lama jika selalu kena hukuman dari suami bucinnya itu.
Melanggar sedikit saja langsung dihukum, dicium di depan banyak orang pun pernah, bahkan dihukum enak-enak pun sering.
Menjengkelkan memang, tapi Rei juga suka tuh jadi ga nolak. Ga mau nolak dan ga bisa nolak, beda tipis lah. Tapi tetep ya bikin capek.
Karena Ardan tidak akan pernah cukup melakukannya sekali, dia akan nambah lagi dan lagi.
###
Setelah semua jajanan yang diinginkan terpenuhi, Rei dan Dina menuju toko kue langganan mama.
Mereka tiba disana sebelum kue pesanan mama diantarkan. Karena mereka pergi bersama supir, jadi selama mereka melihat, dan memilih kue, supir dibantu karyawan toko memasukkan kue pesanan yang sudah siap.
Aneka roti, mulai dari sponge cake, butter cake, bahkan brownies ada disitu. Aneka kue kering bermacam bentuk dan rasa, kue basah dan kue tradisional yang mulai jarang ditemukan tersedia lengkap disini.
Benar-benar surganya penikmat kue, mulai masuk aroma kue dan roti sudah memenuhi toko, belum lagi sepanjang mata memandang tak ada satu sudutpun yang kosong.
Toko ini dilengkapi dapur terbuka jadi pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan roti dan kue.
Tidak semua kue basah dan kue kering dibuat sendiri, beberapa adalah titipan dari rekanan pemilik toko.
__ADS_1
Rata-rata dari ibu-ibu yang memiliki hobi memasak dan membuat kue tapi terbatas biaya jadi memilih bergabung disitu.
Tapi jangan tanya soal rasa, toko kue ini sudah memiliki sertifikat halal dari MUI dan BPOM juga surat ijin dari deperindag, jadi tidak perlu kuatir.
Toko kue dengan dua lantai, lantai pertama adalah area display dan kitchen. Dan lantai dua digunakan sebagai area nongkrong bagi pengunjung toko.
Jika weekend atau libur toko ini akan ramai dan sesak oleh pengunjung baik dalam maupun luar kota. Dengan kata lain, pusat jajan dan oleh-oleh khas kota ini.
Puas makan dan memilih kue untuk disajikan pada tamu dan juga stok makanan dirumah, Rei dan Dina pun pulang dengan perut kenyang.
###
Pengajian sudah dimulai, mengaji surat maryam dan yusuf, membaca sholawat nabi dan diakhiri doa penutup majelis oleh ustadzah di majelis taklim. Setelah itu menikmati hidangan sebelum diakhiri dengan kejadian yang cukup mengundang tawa.
Si ibu hamil lagi-lagi membuat ulah, dia berbisik pada mama tentang keinginannya yang tiba-tiba.
Mama bingung dan malu menyampaikan, tapi jika tidak dituruti anaknya akan ngambek dan nangis seperti yang sudah-sudah.
Akhirnya mama memberanikan diri mendekati ustadzah dan membisikkan keinginan putrinya. Sang ustadzah bingung antara mau menerima tapi sungkan pada pemilik rumah.
Akhirnya, sambil menunggu sang ustadzah mengabulkan permintaan si jabang bayi. Ibu-ibu majelis taklim pun duduk menikmati hidangan yang ada.
Tak lama ustadzah itu kembali, ditemani mama dan juga ibu hamil yang merepotkan ini. Ustadzah duduk ditempatnya, disusul Dina disamping kanan dan mama di kirinya.
Sambil mengucapkan bismillah ustadzah itu memasukkan potongan mie goreng instan yang sudah dilengkapi sosis dan telur goreng, ke mulut ibu hamil itu.
Ya Dina meminta ustadzah untuk memasak mie goreng instan dan menyuapi Dina, benar-benar kan kelakuannya. Ustadzah itu senang, dan mengelus ubun-ubun bumil itu.
Dan tahu apa yang terjadi kemudian, dengan penciuman normal aroma mie goreng itu akhirnya membuat salah satu teman pengajian mama menyeletuk.
"Indomie..."
"Selerakuuuuu..."
Dijawab serempak oleh semua tamu undangan, dan semua yang ada disana tertawa. Dina benar-benar menjadi bintang kali ini.
Dan ustadzah mengungkapkan baru kali ini ada keinginan bumil yang aneh sekaligus mengundang tawa.
Bahkan salah seorang kerabat Ardan sampai terpingkal-pingkal karenanya, semua rangkaian acara hari ini berhasil diabadikan oleh kamera video.
###
__ADS_1
Kira-kira dikehidupan nyata ada ga sih ibu hamil yang ngidam seperti Dina?
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya