Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
66. Aku ingin kita tetap bersama


__ADS_3

Keesokan harinya Rei bangun saat dirinya merasa haus, mungkin efek semalam nangis kejer sampai menguras tenaga. Untung saja sempat makan malam sebelum nangis, jadi tenaganya masih kuat.


Bukankah nangis juga butuh tenaga, dan hasilnya dia jadi sangat lapar pagi ini. Rei mengerjapkan matanya, menyibak selimut yang menutupinya, pasti suaminya yang melakukannya.


Sisi sebelah ranjangnya kosong, suaminya tidak ada disitu. Reza memang tidak ada disana, dia memilih tidur di sofa dari pada mengganggu istrinya.


Rei bangun dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bekas tangisnya semalam meninggalkan bengkak dimatanya. Untung saja hari ini weekend dan dia libur, ada waktu memulihkan tenaga dan juga emosinya sebelum kembali bekerja.


Memilih menenangkan dirinya dengan bersujud dan berdoa pada penciptanya. Mengungkapkan isi hatinya yang terdalam akan rasa sakit dan kecewanya pada sang suami dengan sholat dan dzikir.


Kemudian membereskan tempat tidurnya yang berantakan karena pertengkaran semalam. Rei lalu keluar dari kamarnya, menuju dapur untuk mengambil minum.


Rei melihat Reza meringkuk tidur di sofa dalam kamarnya. Bahkan di saat seperti ini suaminya lebih memilih tidur terpisah dari pada menemaninya.


Rei tersenyum kecut, apa lagi yang harus dia pertahankan dari pernikahan ini. Semuanya hanya berisi kebohongan.


Sabtu pagi disaat yang lain bercengkrama bersama keluarga, Rei hanya bisa melihatnya. Jangankan ikut merasakan kehangatan dari suaminya, memimpikannya saja Rei tidak mau.


Memiliki keluarga kecil adalah impiannya, dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Tapi bagaimana bisa dia memiliki anak jika suaminya saja jarang menyentuhnya.


Miris sekali hidupku, Rei membatin saat keluarga yang lain jalan-jalan dan menikmati quality time, dia justru mencari kesibukan sendiri demi bisa menyenangkan suaminya yang bahkan jarang ada dirumah.


###


Bibi sedang ke pasar membeli keperluan untuk seminggu ke depan, sekalian belanja lauk - pauk buah dan juga sayuran. Rumah tampak sepi hanya Rei yang masih berkutat didapur dengan masakannya.


Nasi goreng, menu favorit bagi sebagian masyarakat Indonesia. Mau yang pakai bumbu lengkap dengan cabe merah, atau yang dibumbui garam dan bawang putih saja pasti enak, bahkan sekarang sudah banyak dijual aneka olahan nasi goreng dengan berbagai inovasi.


Nasi goreng sudah menjadi makanan yang disukai di berbagai belahan dunia, bahkan di beberapa hotel berbintang memiliki menu spesial nasi goreng.


Rei mengambil beberapa bahan yang masih tersedia di kulkas, telur, udang dan sosis. Memotong sosis dan juga udang, membuat orek telur, lalu memasukkan udang dan sosisnya ke dalam wajan bersama nasi putih, memberikan sedikit penyedap, garam dan merica.

__ADS_1


Karena tadi menggunakan margarin saat menumis bawang putih yang sudah di memarkan lebih dulu, jadi Rei tidak terlalu banyak menggunakan garam, mengincip masakannya dengan sendok makan.


Pas...


Rei lalu menatanya di piring saji, dua buah piring sudah dia siapkan. Mengambil telur mata sapi yang tadi sudah dibuatnya sebagai teman nasi gorengnya.


Lalu Rei membuat teh hangat dan juga kopi, karena suaminya setiap pagi selalu minum kopi sebagai kebiasaannya.


Setelah semua beres, Rei membawa semua peralatan kotor yang digunakannya untuk memasak ke tempat cuci piring. Mencuci bersih, dan mengelap kompor dan sekitarnya dari bekas minyak yang cipratan kemana-mana.


Reza sudah bangun dan melihat ranjangnya sudah kosong, bahkan telah dirapikan pertanda istrinya sudah lama bangun. Menyunggingkan senyum, inilah yang dia suka dari Rei meski memiliki pembantu tapi dia tidak pernah menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugasnya, apalagi jika menyangkut wilayah pribadinya.


Mencarinya di seluruh ruangan kamar, tapi tak ada tanda-tanda istrinya disana. Dia lalu keluar mungkin di dapur, area favoritnya selain kamar.


Dan betul dugaannya, Rei sedang membuatkan nya secangkir kopi, aroma kopi hitam menyeruak ke dalam indera penciumannya. Matanya mengedar mencari keberadaan asisten rumah tangganya, tampaknya tidak ada disana.


Reza melihat Rei yang tampak mempesona pagi ini, dia merindukan Rei, aroma tubuhnya yang menenangkan, apalagi saat melihat leher jenjang istrinya yang membuat jakunnya naik turun.


Tapi melihat Rei yang begitu emosi dan menyedihkan, dia mengurungkan niatnya. Meski semalam dirinya harus menahan keinginannya dengan mandi air dingin.


Kali ini dia sudah tidak tahan lagi, Reza mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang, mencium leher dan area belakang telinganya yang membuat Rei mendesah.


Rei tidak munafik sebagai perempuan yang bersuami, dia tentu ingin disentuh. Tubuhnya merespon meski hatinya menolak, tapi dia merindukannya.


Merindukan belaian dan buaian dari suaminya, Rei membiarkan Reza menjamah tubuhnya. Dia berhak untuk itu, bahkan meskipun sudah pisah ranjang beberapa hari tapi dia masih memiliki kewajiban melayani suaminya lahir dan batin, selama belum ada putusan cerai dari pengadilan.


Rei terbuai, melihat tidak ada penolakan, Reza lalu membopong tubuh istrinya ke kamar tamu dan mereka pun melakukannya.


Reza mencumbunya, membelainya, dan membuat Rei berkali-kali mendesah, menikmati setiap sentuhan Reza. Reza melakukan kewajibannya seperti yang Rei minta semalam.


Hatinya tidak bisa bohong kalau Lia sudah menempatinya, tapi melihat Rei seperti ini dia tak ingin melepaskan Rei.

__ADS_1


Beberapa kali Rei mengalami pelepasan tapi tidak dengan Reza dia bahkan masih ingin menikmati istrinya sampai puas. Hingga mereka pun sama-sama mencapai puncak kenikmatan.


"Aku ingin kita tetap bersama seperti ini, aku akan adil pada kalian berdua. Aku tak akan melepaskanmu Rei"


Reza berbisik, masih sempat mengutarakan keinginannya disaat mereka sedang bercinta. Air mata Rei lolos begitu saja, hatinya sakit.


Reza bukan menginginkannya sebagai istri yang mendampinginya tapi istri yang bisa melayani semua kebutuhannya. Hanya nafsu yang dia utamakan, bahkan disaat seperti ini pun.


"Kamu memang egois mas." batin Rei


Memejamkan matanya agar tidak ketahuan jika dia sedang menangis. Sungguh miris


Lepas memenuhi kebutuhan batinnya Reza membaringkan tubuhnya disamping Rei. Dan seketika langsung terlelap karena kelelahan.


Rei memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya, tubuh polosnya ditutupi oleh selimut. Sedangkan Reza masih bertelanjang bulat.


Rei tidak suka ini, dia merasa dirinya tak lebih dari seorang ****** bagi suaminya. Yang datang hanya saat dia butuh dan menginginkan tubuhnya saja.


"Jahat kau mas, kau membuatku tidak ubahnya seperti wanita panggilan. Sedangkan dia, wanita selingkuhanmu kau perlakukan bak ratu."


Lagi-lagi batin Rei menangis dia sudah tak sanggup lagi, baginya sudah tidak ada lagi yang perlu dia pertahankan.


Rumah tangganya tidak sehat, tak seperti rumah tangga orang lain yang selalu jadi impiannya.


Dia harus segera mengakhiri pernikahan ini, sudah cukup dua hari ini dia melihat sendiri bagaimana suaminya memperlakukannya.


###


bersambung


like, komen, dan vote ya. yuk!

__ADS_1


__ADS_2