Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
40. Bertemu mantan


__ADS_3

Sejak hari pergantian jabatan, Renita seperti menjaga jarak dengan atasannya yang baru. Setiap ada pertemuan Renita selalu hadir terakhir atau sengaja berkumpul bersama rekan kerjanya. Padahal aslinya dia hanya malas bertatap muka langsung dengannya.


Seperti hari ini jadwal piket mingguan, meskipun weekend adalah hari libur ketika sampai giliran piket mau tidak mau kita harus hadir. Memang jam kerjanya tidak seperti hari biasa, tapi tetap saja mengurangi jatah istirahatnya.


Btw saat ini Ardan sudah kembali dari Bali, dan seperti janjinya kemarin dia akan menemui pujaan hatinya itu. Sekaligus ingin mengajak Rei ke suatu tempat. Jadi biar suprise Ardan akan menjemput Rei dikantornya selesai piket nanti.


Rei berangkat diantar oleh supir kakaknya, karena hari ini kedua keponakannya menginap disana. Kakaknya sedang mengikuti sang suami ke luar kota, jadi sementara waktu kedua kakak beradik itu dititipkan disana.


Tapi naas bagi Rei, dia lupa jika hari ini jadwal piketnya bersamaan dengan atasan yang selama ini dia hindari. Dan kali ini Rei tak bisa lagi menghindar.


Saat di toilet secara tak sengaja mereka bertemu. Rei dan temannya menyapa atasannya itu seperti layaknya anak buah pada atasan, canggung.


"Selamat siang" ucap atasan gantengnya, wajahnya terlihat manis dengan senyumannya. Rei mencoba mengacuhkan tapi karena disampingnya ada rekan kerjanya, tak mungkin dia lakukan. Pasti akan timbul pertanyaan, kenapa? Jadi sebisa mungkin Rei berlagak biasa saja.


"Pagi,pak" jawab mereka kompak. Rei buru-buru keluar dari toilet, meninggalkan rekannya yang masih terpesona dengan atasan baru mereka. Entah apa yang kini dia rasakan, senang, marah dan kecewa hadir bersamaan.


"Hei...mau sampai kapan disini?" ucap Rei, sambil menggandeng tangan rekannya.


"iya iya..." Mereka lalu pergi, sedangkan disana seseorang tengah tersenyum melihat kegugupan Rei. Senyum itu masih sama seperti dulu, senyum yang pernah dia damba.


€€€


Seperti janjinya Ardan datang menjemput Rei, setelah menunggu beberapa saat diparkiran, senyum terukir diwajah Ardan, melihat pujaan hatinya melambaikan tangan dan datang menghampiri.

__ADS_1


Rasa kangen keduanya tak terbendung lagi, tak bertemu berapa hari saja rasanya seperti setahun. Keduanya tampak tertawa bersama, mereka kemudian masuk ke mobil. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang menahan geram, tangannya tampak mengepal.


"Aku akan rebut kembali senyum itu Rei. Itu hanya untukku" gumamnya lirih. Meninggalkan pemandangan yang sedikit membuat hatinya panas.


Ardan melajukan mobilnya ke sebuah tempat, Rei tahu ini bukan jalan menuju rumahnya atau pun rumah orangtua Ardan. Tapi kemana, Rei hanya melihat sekelilingnya. Ardan mengatakan ini adalah kejutan jadi Rei hanya bisa menebak saja.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah rumah di komplek perumahan yang sudah tampak ramai dihuni. Ardan membukakan pintu untuknya, mereka lalu masuk ke rumah yang masih baru itu.


Ardan mengajak Rei berkeliling melihat rumah minimalis yang sudah direhab dibeberapa sisinya. Sudah ada beberapa barang disana, tapi belum semuanya terisi. Hanya satu kamar terisi satu bed dan beberapa sofa di ruang tengah.


Meski kecil diluar tapi tampak luas di dalamnya, Rei mengedarkan pandangannya. Seketika senyumnya pudar, teringat akan rumah pemberian almarhum suaminya yang sudah lama Rei tinggalkan.


Rumah penuh kenangan meski hanya sebentar mereka rasakan, sebelum kejadian naas itu terjadi. Rei mengusap air mata nya, tak mau berlarut dalam kesedihan. Dari belakang Ardan memeluknya, dia bukan tak tahu kalau Rei tadi menangis. Tapi dia belum tahu arti air mata itu.


" Tidak ada, aku hanya terharu. Kamu bisa membangun rumah ini" Rei lirih tapi masih bisa didengar. Ardan mencium rambut Rei, wangi lemon dan dia suka itu. Aroma yang menenangkan.


"Aku menabung banyak untuk membangunnya, mulai dari membeli tanah dan aku rancang sesuai keinginanku. Aku mengumpulkan sedikit demi sedikit uang hasil kerjaku di restoran. Aku ingin membangun rumah kecil yang nyaman buat istri dan anakku kelak." Ardan mengungkapkan isi hatinya, entah kenapa dia merasa Rei perlu tahu itu.


"Dan aku ingin kamu yang menjadi istriku, yang mendampingiku hingga anak kita dewasa dan memberikan kita cucu yang lucu." Ardan membalikkan badan Rei, menatap manik mata yang meneduhkan itu.


Rei melihat kesungguhan dimatanya, Rei tahu tak ada alasan bagi Rei untuk menolaknya tapi entah kenapa sejak kejadian dengan biang kerok itu Rei masih meragukannya.


Haruskah Rei memupuskan harapan yang sudah dibangun oleh lelaki yang dicintainya. Rei tak setega itu, mungkin dia masih perlu meyakinkan hatinya lagi.

__ADS_1


"Dengar, aku tahu apa yang ada dipikiranmu saat ini. Kamu satu-satunya dan aku hanya mau kamu bukan yang lain. Tak peduli mereka berkata apa tentangmu, karena aku yang akan menjalaninya."


"Tapi aku ga mau kamu kecewa, meski nanti mungkin aku yang lebih terluka" Rei mencoba bernegosiasi dengan hatinya, dia sadar jika ucapannya akan melukai perasaan Ardan.


"Aku tahu, tapi bisakah untuk saat ini jangan memikirkannya. Kita jalani saja semuanya seperti air mengalir. Aku tahu resikonya, dan aku sadar aku perlu mempertebal telingaku agar aku tidak panas ketika mendengar mereka menyinggungmu." Ardan


"Aku cuma mau kamu percaya, dan yakin bahwa akan selalu ada pelangi setelah hujan. Meski badai akan selalu menyertai. Kamu mau?"


Rei mengangguk, dia paham Ardan menginginkannya dan Rei mencoba berdamai dengan statusnya saat ini. Ardan masih melihat keraguan dimata Rei, tapi tak mau menanggapinya. Biarlah nanti Takdir yang menentukan, hari ini dia hanya perlu meyakinkan hati kekasihnya untuk selalu percaya padanya.


Ardan meraih dagu Rei, mengangkat dan menyentuh bibirnya. Merasakan manis dibibir mungil yang sudah membuatnya candu. Meraup dan mel***t bibir itu, mengecapi setiap bagiannya. Rei membalasnya, rasa rindu yang membuncah mengalahkan segalanya.


Kedua insan itu terus menikmati ciuman mereka, saling membalas dan Ardan pun mulai memainkan kedua tangannya ditempat favoritnya. Meremas squisy yang membuatnya tak ingin lepas, keduanya sama-sama terbakar gairah. Ardan mulai membuka kancing baju yang Rei pakai, mengeluarkan isinya, dan memainkan dengan lidahnya.


Ahh...******* terdengar, Rei mulai meracau. Ardan kembali mel***t bibirnya, membungkamnya, menciumnya. Merasakan sesuatu menegang dibawah sana, gairah mereka membuncah. Ardan mengarahkan tangan Rei kedaerah sensitifnya. Juniornya seakan tak mau diam, dia meronta ingin dilepaskan dan masuk sarang.


Tapi mereka langsung menghentikannya, meskipun nafsunya tinggi, Ardan tak mau merusak kepercayaan Rei. Dia meninggalkan Rei ke kamar mandi, dia kembali bermain dengan sabun dan menuntaskan hasratnya. Rei hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tahu betapa tersiksanya Ardan bermain solo disana.


Setelah menuntaskannya, Ardan kemabali menemui Rei yang sedang asyik membuka hapenya. Ardan mencium pipi dan puncak kepalanya.


"Sepertinya aku harus segera menemui Papamu sayang, aku tak bisa terus begini. Kamu membuatku tersiksa." Ardan menghela napas.


"Maafkan aku, tapi tak ada maksudku menyiksamu. Mungkin kamu hanya perlu sedikit bersabar sampai tiba waktunya junior memasuki sarangnya." kekeh Rei.

__ADS_1


Ardan merebahkan dirinya di sofa panjang, kepalanya diletakkan dipaha Rei. Menenangkan dirinya sejenak. Rei mengusap pelan kepala kekasihnya, membelai lembut rambutnya. Ingin rasanya Rei melupakan kejadian hari ini, bertemu dengan mantan yang pernah membuatnya terluka. Mereka menikmati kebersamaan mereka sebelum akhirnya kembali ke rumah.


__ADS_2